Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Hasrat Kerinduan


__ADS_3

Suara rindu ialah suara


orang mati. Suara yang tak akan pernah tersuarakan.


Suara kematian ialah


suara kerinduan. Suara yang akan selalu terkubur dalam-dalam.


Sepi adalah kawan rindu


yang paling setia. Berjumpa adalah cita-citanya dan kenangan adalah musuh


tandingnya. Bagaimana rindu yang selalu bersama sepi di setiap malam tanpa ada


perjumpaan yang diidamkan justru hanya lebam oleh kenangan.


Disetiap surya


menenggelamkan dirinya dan rembulan muncul kepermukaan samudra angkasa. Disaat


itulah jiwa kembali merasakan tetesan air mata yang dari siang tertahan oleh


bendungan kelopak mata. Mereka berbicara. Sudah lepaskan saja, tetapi mereka terdiam


dan kau tahu bahwa begitu teririsnya hati ini ketika tahu yang tercinta berjalan


bersamanya.


Menangis tak selalu


melulu soal nestapa dan derita. Apalagi teririrsnya hati bukan tanda sedih.


Bisa saja ia adalah tangis bahagia dan hati yang dibagi untuk dikembalikan


kepemiliknya. Pergilah, seraya berkata sampai jumpa. Semoga diperjumpaan


malam-malam nanti, Kita dapat bertahan untuk tidak saling lebam oleh kenangan.


Begitupun juga malam.


Datangnya yang selalu


membawa sepi. Pun dia mengajak temannya yang bernama rindu.


Mungkin sudah cukup


dengan rindu. Ia hanya menjadi bualan untuk menahan kenyataan yang cukup suram.


Katanya, katamu, kata kawan-kawan setongkrongan.


Cukup sudah dengan


percintaan dan jalinan panggung kolosal yang rumit, mari kita bicarakan hal


yang paling hamba suka sekaligus yang paling membuat hamba sedih. Bagaimana


lingkungan dan alam terus menuju kehancurannya. Pohon-pohon ratusan tahun


tumbuh itu tumbang dengan beberapa menit. Sungai-sungai yang telah menghidupi


berjuta-juta spesies selama puluhan bahkan ratusan tahun kering hanya dalam


kurun waktu beberapa bulan. Ini apa. apa yang sedang dicoba untuk kita tonton


tak kurang dari kerakusan umat kita. Umat manusia.


Seorang bijak pernah


mengatakan. Ikan-ikan tak memenuhi lautan dengan sampah. Juga harimau yang tak


pernah membakar hutan. Tetapi manusia melakukan itu semua.  Maka manusia, bertingkahlah seperti hewan.


Hamba kira ini cukup


keras. Di dalam kitaab-kitab agama selalu manusia dijunjung yang paling tinggi


dari apapun makhluk di bumi. Manusia, ialah mempunyai karunia akal yang tak


dimiliki hewan, tetapi bagaimanapun kita tak bisa menafikkan babhwa hewan


bertingkah lebih sopan kepada alam daripada manusia. Jika kita mengandai benar

__ADS_1


bahwa evolusi bumi itu nyata adanya. Dan apakah bukankah bumi lahir jauh


sebelum manusia ada. Tumbuhan dan pohon-pohon itu sudah mennjulang tinggi


jutaan tahun sebelum manusia. Lantas alasan apa yang dapat dibenarkan untuk


merusak saudara tertua kita. Bukankah Tuhan akan melaknat seorang hamba yang


tak patuh kepada orang tua. Lalu kenapa tidak juga dengan hamba yang merusak


ekosistem lingkungan.


Pohon. Jikapun andaian


ini dibenarkan apabila ia dapat lancar berbicara dengan bahasa manusia. Begitu


bodohnya manusia membabat habis hutan yang selama ini ia sendiri hidup


bergantung kepadanya. Manusia itu seperti ikan yang mencoba membendung sumber


mata air. Bagaimanapun ikan akan mati jika tanpa air, pun juga sama dengan


manusia ia tak dapat hidup tanpa pohon.


Masalah lingkungan ini


memang tidak terasa untuk kita yang nyaman dengan sosial media. Yang


menghabiskan waktu untuk scroll trending terkini. Itun isinya semuanya adalah


sampah dan perceraian artis belaka. Manusia seperti ini akan merasa begitu


asing dengan isu-isu kerusakan ekosistem alam bahkan akan menghardik


mereka-mereka yang mencoba untuk menyuarakan. Mereka merasa hidupnya nyaman-nyaman


saja, tertodur pulas di dalam bulu-bulu kelinci yang keluar dari topi pesulap.


Hamba meminjam perkataan Shopie Ambustend. Mereka yang nyaman disana akan sukar


dengan permaslahan-permasalahan yang benar nyata, tetapi masalah itu ada di


wajah sang pesulap. Mereka kesulitan untuk tahu karena harus memanjat jauh ke


dan otaknya sedang diretas oleh kepentinga-kepentingan penguasa. Bagaimanapun


mereka itu adalah kebanyakan dari kita.


Sungai. Pernahkan anda


menjumpai sungai alamia yang tidak meliuk-liuk. Pernahkah anda jumpa bahwa


sungai mengalir lurus dari gunung kangsung ke laut tanpa belokan dan liukan.


Tidak. Karena bentuk alamiah sebuah sungai adalah lengkukannya, liukannya. Dan


manusia seraya berkata untuk menjaga ekosistem merusak itu semua. Aliran sungai


dirubah ritmenya, dari yang meliuk menjadi garis lurus. Sial, banjir taahun ini


datang lagi. Ia datang membawa kawannya sampah juga limbah. Sial lagi, ternyata


sampah bukan kawan sungai justru ia datang kembali kepada manusia.


Tumbuhan.


Hewan.


Pohon. Gunung. Hutan.


Sungai. Teluk. Pesisir. Dan banyak-banyak lagi. Semuanya alam. Semuanya


menjalin hubungan yang erat. Ekosistem


Manusia satu-satunya


makhluk hidup yang memberikan semua hal dengan nama. Terlepas pohon apakah


setuju ia disebut pohon. Terlpeas gunung argopuro apakah ia setuju dengan nama


itu. Terlepas kucing persia setuju atau tidak setuju, manusia tidak peduli.

__ADS_1


Bagaimanapun sejak penamaan, manusia sudah menjadi arogan dan egosentris. Bahwa


ya adalah ya dan tidak bisa tidak.


Lagian, dalam


kitab-kitab agama dan aliran kepercayaan manusia selalu digdaya. Manusia selalu


ada diatas semua makhluk hidup. Manusia memiliki akal, sudah pantaslah apabila


manusia memberikan nama-nama itu untuk setiap makhluk dibawahnya.


Perjalanan manusia. Dari


hewan menuju Tuhan.


Manusia. Dulu jauh


sebelum peradaban maju seperti sekarang. Manusia hidup nomaden dari satu hutan


ke hutan yanng lain. Dari satu wilayah ke wilayah lain. Manuisa. Kala itu masih


berfariasi spesiesnya. Dari Homo Nethertal, Homo Erectus sampai Homo Florensis


dan Homo-homo lainnya. Mereka semua hampir sama dengan kera, dan yang


terpenting ketika itu belum ada Gadged. Homo Sapiens lahir, dan tak lama semua


homo-homo yang lain musnah. Lalu, manusia dari hidup nomaden sekarang hidup


menetap dengan pertanian. manusia bergantung dengan alam. Iklim serta cuaca


untuk pertumbuhan pertaniannya. Manusia memuja dewa-dewi langit. Dewa hujan,


dewa kesuburan dan dewa-dewa alam lainnya. Manusia bergantung hidup pada


mereka.


Pergeseran muncul ketika


ilmu dan berpikir mendalam lahir. Akal pikiran secara rasional pertama kali


ada. Singkat saja, ketika itu filsafat lahir. Filsafat dan kemudian disusul


ilmu-ilmu pengetahuan lainnya mengubah manusia menuju modernisasi dan kemajuan


dibidang teknologi. Ketika itu. Manusia tak lagi membutuhkan dewa bahkan mereka


hanyalah sebuah legenda dan dongeng belaka. Manusia melepas semua


ramalan-ramalan yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Manusia sudah mengenal


ilmu astronomi, matematika, kimia, fisika, biologi. Agroteknologi dan lain


macam ilmu lainnya.


Dengan pengembangan


semua ilmu itu.  Manusia mampu merancang


teknologi yang ia butuhkan. Manusia mampu menyuburkan tanah dengan pupuk


pestisida terlepas dari bahayanya terhadap tanah. Manusia mampu mengelola dan


mengambil  minyak dari dalam tanah yang berjarak


puluhan kilometer. Manusia ketika itu mampu memaksimalkan semua teknologi untuk


kelangsungan hidupnya. Ketika itu alam menjadi rusak tak tersisa dan


pengembangan ilmu semakin pesat kini membuat manusia tak tertandingi. Manusia


tidak hanya mengelola sumber daya tetapi manusia kini dapa merekayasanya.


Bagaimana rekayasa kode-kode genetik sangat memungkinkan untuk manusia dapat


memilih sifat bawaanya. Bagaimana manusia dapat dengan mudah merekayasa cuaca


dengan hujan buatan bahkan membuat dirinya abadi dengan komputer super canggih.


Rekayasa manusia adalah wujud perlawanan kepada kuasa Tuhan. Terlepas dari

__ADS_1


semua yang dilakukannya juga adalah kuasa-Nya...


Manusia.


__ADS_2