
Suara rindu ialah suara
orang mati. Suara yang tak akan pernah tersuarakan.
Suara kematian ialah
suara kerinduan. Suara yang akan selalu terkubur dalam-dalam.
Sepi adalah kawan rindu
yang paling setia. Berjumpa adalah cita-citanya dan kenangan adalah musuh
tandingnya. Bagaimana rindu yang selalu bersama sepi di setiap malam tanpa ada
perjumpaan yang diidamkan justru hanya lebam oleh kenangan.
Disetiap surya
menenggelamkan dirinya dan rembulan muncul kepermukaan samudra angkasa. Disaat
itulah jiwa kembali merasakan tetesan air mata yang dari siang tertahan oleh
bendungan kelopak mata. Mereka berbicara. Sudah lepaskan saja, tetapi mereka terdiam
dan kau tahu bahwa begitu teririsnya hati ini ketika tahu yang tercinta berjalan
bersamanya.
Menangis tak selalu
melulu soal nestapa dan derita. Apalagi teririrsnya hati bukan tanda sedih.
Bisa saja ia adalah tangis bahagia dan hati yang dibagi untuk dikembalikan
kepemiliknya. Pergilah, seraya berkata sampai jumpa. Semoga diperjumpaan
malam-malam nanti, Kita dapat bertahan untuk tidak saling lebam oleh kenangan.
Begitupun juga malam.
Datangnya yang selalu
membawa sepi. Pun dia mengajak temannya yang bernama rindu.
Mungkin sudah cukup
dengan rindu. Ia hanya menjadi bualan untuk menahan kenyataan yang cukup suram.
Katanya, katamu, kata kawan-kawan setongkrongan.
Cukup sudah dengan
percintaan dan jalinan panggung kolosal yang rumit, mari kita bicarakan hal
yang paling hamba suka sekaligus yang paling membuat hamba sedih. Bagaimana
lingkungan dan alam terus menuju kehancurannya. Pohon-pohon ratusan tahun
tumbuh itu tumbang dengan beberapa menit. Sungai-sungai yang telah menghidupi
berjuta-juta spesies selama puluhan bahkan ratusan tahun kering hanya dalam
kurun waktu beberapa bulan. Ini apa. apa yang sedang dicoba untuk kita tonton
tak kurang dari kerakusan umat kita. Umat manusia.
Seorang bijak pernah
mengatakan. Ikan-ikan tak memenuhi lautan dengan sampah. Juga harimau yang tak
pernah membakar hutan. Tetapi manusia melakukan itu semua. Maka manusia, bertingkahlah seperti hewan.
Hamba kira ini cukup
keras. Di dalam kitaab-kitab agama selalu manusia dijunjung yang paling tinggi
dari apapun makhluk di bumi. Manusia, ialah mempunyai karunia akal yang tak
dimiliki hewan, tetapi bagaimanapun kita tak bisa menafikkan babhwa hewan
bertingkah lebih sopan kepada alam daripada manusia. Jika kita mengandai benar
__ADS_1
bahwa evolusi bumi itu nyata adanya. Dan apakah bukankah bumi lahir jauh
sebelum manusia ada. Tumbuhan dan pohon-pohon itu sudah mennjulang tinggi
jutaan tahun sebelum manusia. Lantas alasan apa yang dapat dibenarkan untuk
merusak saudara tertua kita. Bukankah Tuhan akan melaknat seorang hamba yang
tak patuh kepada orang tua. Lalu kenapa tidak juga dengan hamba yang merusak
ekosistem lingkungan.
Pohon. Jikapun andaian
ini dibenarkan apabila ia dapat lancar berbicara dengan bahasa manusia. Begitu
bodohnya manusia membabat habis hutan yang selama ini ia sendiri hidup
bergantung kepadanya. Manusia itu seperti ikan yang mencoba membendung sumber
mata air. Bagaimanapun ikan akan mati jika tanpa air, pun juga sama dengan
manusia ia tak dapat hidup tanpa pohon.
Masalah lingkungan ini
memang tidak terasa untuk kita yang nyaman dengan sosial media. Yang
menghabiskan waktu untuk scroll trending terkini. Itun isinya semuanya adalah
sampah dan perceraian artis belaka. Manusia seperti ini akan merasa begitu
asing dengan isu-isu kerusakan ekosistem alam bahkan akan menghardik
mereka-mereka yang mencoba untuk menyuarakan. Mereka merasa hidupnya nyaman-nyaman
saja, tertodur pulas di dalam bulu-bulu kelinci yang keluar dari topi pesulap.
Hamba meminjam perkataan Shopie Ambustend. Mereka yang nyaman disana akan sukar
dengan permaslahan-permasalahan yang benar nyata, tetapi masalah itu ada di
wajah sang pesulap. Mereka kesulitan untuk tahu karena harus memanjat jauh ke
dan otaknya sedang diretas oleh kepentinga-kepentingan penguasa. Bagaimanapun
mereka itu adalah kebanyakan dari kita.
Sungai. Pernahkan anda
menjumpai sungai alamia yang tidak meliuk-liuk. Pernahkah anda jumpa bahwa
sungai mengalir lurus dari gunung kangsung ke laut tanpa belokan dan liukan.
Tidak. Karena bentuk alamiah sebuah sungai adalah lengkukannya, liukannya. Dan
manusia seraya berkata untuk menjaga ekosistem merusak itu semua. Aliran sungai
dirubah ritmenya, dari yang meliuk menjadi garis lurus. Sial, banjir taahun ini
datang lagi. Ia datang membawa kawannya sampah juga limbah. Sial lagi, ternyata
sampah bukan kawan sungai justru ia datang kembali kepada manusia.
Tumbuhan.
Hewan.
Pohon. Gunung. Hutan.
Sungai. Teluk. Pesisir. Dan banyak-banyak lagi. Semuanya alam. Semuanya
menjalin hubungan yang erat. Ekosistem
Manusia satu-satunya
makhluk hidup yang memberikan semua hal dengan nama. Terlepas pohon apakah
setuju ia disebut pohon. Terlpeas gunung argopuro apakah ia setuju dengan nama
itu. Terlepas kucing persia setuju atau tidak setuju, manusia tidak peduli.
__ADS_1
Bagaimanapun sejak penamaan, manusia sudah menjadi arogan dan egosentris. Bahwa
ya adalah ya dan tidak bisa tidak.
Lagian, dalam
kitab-kitab agama dan aliran kepercayaan manusia selalu digdaya. Manusia selalu
ada diatas semua makhluk hidup. Manusia memiliki akal, sudah pantaslah apabila
manusia memberikan nama-nama itu untuk setiap makhluk dibawahnya.
Perjalanan manusia. Dari
hewan menuju Tuhan.
Manusia. Dulu jauh
sebelum peradaban maju seperti sekarang. Manusia hidup nomaden dari satu hutan
ke hutan yanng lain. Dari satu wilayah ke wilayah lain. Manuisa. Kala itu masih
berfariasi spesiesnya. Dari Homo Nethertal, Homo Erectus sampai Homo Florensis
dan Homo-homo lainnya. Mereka semua hampir sama dengan kera, dan yang
terpenting ketika itu belum ada Gadged. Homo Sapiens lahir, dan tak lama semua
homo-homo yang lain musnah. Lalu, manusia dari hidup nomaden sekarang hidup
menetap dengan pertanian. manusia bergantung dengan alam. Iklim serta cuaca
untuk pertumbuhan pertaniannya. Manusia memuja dewa-dewi langit. Dewa hujan,
dewa kesuburan dan dewa-dewa alam lainnya. Manusia bergantung hidup pada
mereka.
Pergeseran muncul ketika
ilmu dan berpikir mendalam lahir. Akal pikiran secara rasional pertama kali
ada. Singkat saja, ketika itu filsafat lahir. Filsafat dan kemudian disusul
ilmu-ilmu pengetahuan lainnya mengubah manusia menuju modernisasi dan kemajuan
dibidang teknologi. Ketika itu. Manusia tak lagi membutuhkan dewa bahkan mereka
hanyalah sebuah legenda dan dongeng belaka. Manusia melepas semua
ramalan-ramalan yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Manusia sudah mengenal
ilmu astronomi, matematika, kimia, fisika, biologi. Agroteknologi dan lain
macam ilmu lainnya.
Dengan pengembangan
semua ilmu itu. Manusia mampu merancang
teknologi yang ia butuhkan. Manusia mampu menyuburkan tanah dengan pupuk
pestisida terlepas dari bahayanya terhadap tanah. Manusia mampu mengelola dan
mengambil minyak dari dalam tanah yang berjarak
puluhan kilometer. Manusia ketika itu mampu memaksimalkan semua teknologi untuk
kelangsungan hidupnya. Ketika itu alam menjadi rusak tak tersisa dan
pengembangan ilmu semakin pesat kini membuat manusia tak tertandingi. Manusia
tidak hanya mengelola sumber daya tetapi manusia kini dapa merekayasanya.
Bagaimana rekayasa kode-kode genetik sangat memungkinkan untuk manusia dapat
memilih sifat bawaanya. Bagaimana manusia dapat dengan mudah merekayasa cuaca
dengan hujan buatan bahkan membuat dirinya abadi dengan komputer super canggih.
Rekayasa manusia adalah wujud perlawanan kepada kuasa Tuhan. Terlepas dari
__ADS_1
semua yang dilakukannya juga adalah kuasa-Nya...
Manusia.