Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Obrolan Keadilan


__ADS_3

Asep dan Fadhil sedang


duduk disebuah warung kopi di persimpangan kiri jalan. Ditemani kopi juga gorengan


mereka berdua asik menyaksikan simpang siur orang-orang berkendara. Hilir mudik


berlalu lalang orang pergi kesana kemari entah tanpa tujuan, pikir Asep dengan


bergaya sambil mengepulkan asap rokok yang membuat Fadhil tak bisa menahan


batuk-batuknya itu. Nyaring keras suara batuk Fadhil sampai ibu-ibu yang ingin


menyebrang jalan menengoknya sampai ibu itu sendiri tak menyadari bahwa ia sudah


ada di seberang.


Sore ini mereka berdua


bagaikan pasangan kekasih yang sedang kencan dipinggir jalan. Mereka nongkrong


hanya berdua tanpa siapa-siapa di warung itu selain mereka dan penjaga


warungnya. Bagaikan pasangan LGBT yang sedang beranjak menuju ranum-ranumnya. Tetapi


untung sekali Asep masih berfikir waras, burungnya sedikit berkontraksi sesaat


setelah seorang sales cantik menawarkan produk penggemuk badan kepadanya. Sales


tersebut menawarkan berbagai macam obat penggemuk dengan standart operasional


presentasi sebagai sales. Ia memandangi raut wajahnya yang lelah. Proses


perbudakan dan eksploitasi kini benar-benar Asep saksikan di depan mata. Asep


memang kurus tetapi bukan berarti membuhtuhkan produk kapitalis ini mbak,


tungkas Fadhil kepada sang sales. Mbak-mbak sales pun merasa malu sendiri


lantas pergi meninggalkan mereka berdua dengan kehampaan pikirannya. Terutama


Asep, terlintas dipikirannya tadi untuk membeli seolah merasa iba dengan raut


wajah mbak-mbak yang lelah. Entahlah, Asep benar-benar ingin membeli dan peduli


atau hanya termakan iklan dan rayuan mbak-mbak sales itu.


Kepulan asap rokok Asep


dan keheningan suasana yang mereka ciptakan membuka cakrawala pikiran Asep


untuk memikirkan proses perbudakan yang barusan ia saksikan. Apakah itu memang


sebuah perbudakan, apakah sales itu telah dijajajh dan direbut kebebesannya.


Apakah mbak-mbak sales yang aduhai itu tadi tidak merdeka dan apakah


ketidakadilan sedang menimpanya. Pertanyaan demi pertanyaan ia ajukan kepada


Fadhil.


Fadhil mencoba memproses


dan sedikit mengorek ingatannya tentang pertanyaan yang Asep ajukan barusan


Tunggu dulu sep, pertanyaanmu itu terlalu muluk-muluk untuk aku yang hanya sebatas bocah yang tak tahu


apa-apa ini. Alangkah baiknya kita perjelas satu-satu tentang apa yang kamu


maksut dengan perbudakan, penjajahan dan kebebasan bahkan keadilan itu. Jawab


Fadhil.


Hmm.. perbudakan menurutku ialah sebuah kegiatan untuk pemenuhan atau


keperluan seseorang dengan kata lain ada dua kubu disana yakni tuan dan budak.


Budak itu sendiri ialah orang yang diberdaya atau dimanfaatkan untuk keperluan dan


atau keuntungan Tuan. Kata Asep


Nah, sekarang apakah sales tadi juga termasuk budak, sep?


Jelas iya, jika apa yang ia lakukan hanya untuk kepentingan bosnya saja


atau dengan kata lain bahwa mbak-mbak itu repot-repot berdandan dengan


cantiknya menarik perhatian khalayak, berbicara dengan bahasa merayu agar


produk yang ia tawarkan bisa di beli. Semua itukan untuk keuntungan bosnya


saja.


Tetapi sekarang gini sep. Lalu kenapa mbak sales tadi mau untuk melakukan

__ADS_1


itu semua jika saja ia juga memperoleh keuntungan dari yang ia lakukan sep.


            Maksut kamu apa Dhil, tolong diperjelas jangan


setengah-setengah kalau bicara bikin pusing aja kamu.


Kata Asep Sambil kembali


menghisap rokok yang sudah hampir habis tembakaunya.


            Yah, maksutku jika kegiatan perbudakan itu hanya


menguntungkan satu pihak seperti apa yang kamu katakan tadi sep, sales tadi


jugakan diuntungkan dengan gaji yang ia peroleh.


            Gaji yang kecil bagaimana bisa memenuhi kebutuhan


hidupnya dhil. Jika ia hanya digaji yang kebutuhan pokoknya saja kurang lalu


apakah itu bukankah termasuk penindasan dhil.


            Tetapi antara bos dan pekerja kan ada kontrak kerjanya


dulu. Lagian jika gajinya tidak sesuai kenapa dulu kontrak kerjanya di


sepakati.


Tungkas Fadhil kepada


Asep yang kini rokoknya sudah berganti.


Kamu kali ini benar dhil, tetapi bukankah kontrak kerja itu yang membuat si


bosnya juga. Dan kontrak kerja itukan sebuah regulasi yang bos atau perusahaan


berikan kepada pekerja. Jika tidak mau yah pasti tidak diterima sebagai sales.


Tetapi jika diterima bukankah ini sebuah pengekangan dari kebebasan dhil. Dan


jika iya maka ini sebuah penjajahan atas kebebasan dan terutama sebuah kegiatan


perbudakan modern.


Maksutku begini sep. Gaji walaupun sedikit itukan tetap saja menjadi sebuah


prasyarat sehingga kedua kubu yang kamu maksut tadi mendapatkan keuntungannya


sep. Sehingga sales itu tadi mendapatkan manfaat dari pekerjaannnya berupa gaji


salah sep.


Eksploitasi dhil. Sales itu telah dieksploitasi oleh bosnya. Apakah kamu tadi


tidak melihat bagaimana mbak-mbak sales itu berpenampilan sangat aduhai, pakaiannya


begitu melihatkan lengkuk tubuh yang eksotis. parasnya dipoles begitu menawan.


Burungku saja berkontraksi dhil, ini bukan hanya ketertarikan biologis tetapi


cantiknya ituloh membuatku grrr...


Lalu mana eksploitasinya, bukankah sales memang wajar berpenampilan seperti


itu, yah kan untuk menarik pelanggan.


Kamu berpikir tidak melihat dari sudut pandang mbak-mbak tadi dhil. Coba


bayangkan dia yang juga manusia seperti kita apakah nyaman dengan penampilannya


itu, dijadikan objek perhatian, mbak-mbak itu mungkin sangat malu dengan rok


mini dan juga baju ketat yang tak sampai menutup lubang pusarnya itu dhil.


Pikirkan tentang perasaan dari mbak-mbak itu betapa ia tidak nyaman dengan


penampilannya sendiri dan belum lagi ia juga harus dituntut bisa merayu agar


pembeli tertarik dan membeli yang ia jajakan. Itu eksploitasi dhil bagaimanapun


yang mbak-mbak sales lakukan tadi dipenuhi rasa terpaksa dan semuanya ia


lakukan hanya demi kepuasan dan kerakusan bosnya. Aku yakin itu.


Tetapi jika mbak-mbak di seluruh Negara ini berpikiran sepertimu aku yakin


tidak akan ada sales di Negara ini sep. Dan bagaimanapun perekonomian Negara


akan merosot karena perputaran uang untuk gaji sales menjadi hilang.


Tidak bisa begitu dhil, tertutupnya satu keran bukan berarti tertutupnya


kemungkinan-kemungkinan yang lain. Bisa saja ada alternatif yang baru

__ADS_1


bermunculan. Negara seharusnya memiliki kewenangan untuk sebuah keadilan Nah,


sekarang Apakah keadilan menurutmu dhil. Tanya Asep.


Keadilan itu seharusnya diperuntukan untuk sebuah kemanfaatan yang


sebesar-besarnya sep. Jika itu menguntungkan bukan hanya untuk satu individu


tetapi juga kepada banyak orang sehingga kenikmatan yang dicapai ialah


kenikmatan atau kebahagiaan yang lebih besar.


Hmm... kenapa begitu dhil?


            Yah, ketika kita membicarakan sesuatu hal itu bisa


dikatakan adil harusnya ditujukan untuk kegunaan atau kemanfaat yang lebih


besar. Keadilan untuk terpidana semestinya bukan sekedar untuk menghakimi dan


pemuasan balas dendam korban tetapi bagaimana penghukuman itu juga bisa


berdampak baik atau ada manfaat yang jauh lebih besar kepada terpidana itu


sendiri, misalkan hukuman itu harus paling tidak membuat ia untuk tidak dapat


melakukan kejahatannya lagi atau ia bisa berubah dan menyadari bahwa apa yang


ia lakukan itu salah.


            Jadi keadilan menurutmu harus berpihak kepada sesuatu


yang orang banyak perlukan atau keadilan itu untuk kebahagiaan orang banyak


atau mayoritas.


            Iya, dan di sini Negara bisa dikatakan adil bila ia


mengupayakan agar sebagian besar masyarakat dapat merasakan kebahagiaan.


            Wah, kalau begitu aku kurang sependapat dengan apa yang


kamu kemukakan dhil. Menurutku kebahagiaan adalah prefentif atau selera setiap


individu artinya bahwa setiap individu itu memiliki cara pandangnya


masing-masing tentang kebahagiaan dhil. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan


kebahagiaan mayoritas maysrakat karena yah setiap individu memiliki


kebahagiaanya masing-masing.


            Lalu keadilan menurutmu bagaimana. Tanya Fadhil kepada


Asep yang sedang menyeruput kopinya.


            Seperti tadi yang telah aku jelaskan bahwa kebahagiaan


adalah selera setiap individu sehingga jika keadilan tujuannya ialah


kebahagiaan maka keadilan tidak bisa dihitung secara kuantitatif seperti yang


kamu jelaskan dengan mayoritas tadi dhil. Seharusnya keadilan itu dinilai


dengan kualitas dari kacamata setiap individu itu sendiri.


            Tetapi kan susah menilai kualitas setiap individu sep.


Tanya Fadhil


            Maka dari itu dhil, Negara harus dapat menjamin kebebasan


setiap individu agar tercipta keadilan. Justru sangat sulit menilai kebahagiaan


yang mayoritas tawarkan. Itu adalah bentuk penghianatan dari keotentikan


individual setiap manusia.


            Nah, tetapi jika setiap individu berlaku bebas lalu


bagaimana bisa tercipta kedamaian. Bukankah malah akan menimbulkan anarkisme.


            Kamu mungkin salah dalam mengartikan kebebesan dhil.


Apakah kamu lupa bahwa kebebsan kita ini dibatasi oleh kebebasan orang lain.


Ah sudahlah, aku tutup


saja obrolan tentang teori keadilan utilitarianism dan libertarianism yang


garing dan membosankan ini. Lagian siapa peduli tentang keadilan jika kerakusan


masih dapat dijalankan dengan bebas...

__ADS_1


“Individu yang bebas tidak tunduk pada kehendak orang lain” ­– Pakde John Lock


__ADS_2