
Asep dan Fadhil sedang
duduk disebuah warung kopi di persimpangan kiri jalan. Ditemani kopi juga gorengan
mereka berdua asik menyaksikan simpang siur orang-orang berkendara. Hilir mudik
berlalu lalang orang pergi kesana kemari entah tanpa tujuan, pikir Asep dengan
bergaya sambil mengepulkan asap rokok yang membuat Fadhil tak bisa menahan
batuk-batuknya itu. Nyaring keras suara batuk Fadhil sampai ibu-ibu yang ingin
menyebrang jalan menengoknya sampai ibu itu sendiri tak menyadari bahwa ia sudah
ada di seberang.
Sore ini mereka berdua
bagaikan pasangan kekasih yang sedang kencan dipinggir jalan. Mereka nongkrong
hanya berdua tanpa siapa-siapa di warung itu selain mereka dan penjaga
warungnya. Bagaikan pasangan LGBT yang sedang beranjak menuju ranum-ranumnya. Tetapi
untung sekali Asep masih berfikir waras, burungnya sedikit berkontraksi sesaat
setelah seorang sales cantik menawarkan produk penggemuk badan kepadanya. Sales
tersebut menawarkan berbagai macam obat penggemuk dengan standart operasional
presentasi sebagai sales. Ia memandangi raut wajahnya yang lelah. Proses
perbudakan dan eksploitasi kini benar-benar Asep saksikan di depan mata. Asep
memang kurus tetapi bukan berarti membuhtuhkan produk kapitalis ini mbak,
tungkas Fadhil kepada sang sales. Mbak-mbak sales pun merasa malu sendiri
lantas pergi meninggalkan mereka berdua dengan kehampaan pikirannya. Terutama
Asep, terlintas dipikirannya tadi untuk membeli seolah merasa iba dengan raut
wajah mbak-mbak yang lelah. Entahlah, Asep benar-benar ingin membeli dan peduli
atau hanya termakan iklan dan rayuan mbak-mbak sales itu.
Kepulan asap rokok Asep
dan keheningan suasana yang mereka ciptakan membuka cakrawala pikiran Asep
untuk memikirkan proses perbudakan yang barusan ia saksikan. Apakah itu memang
sebuah perbudakan, apakah sales itu telah dijajajh dan direbut kebebesannya.
Apakah mbak-mbak sales yang aduhai itu tadi tidak merdeka dan apakah
ketidakadilan sedang menimpanya. Pertanyaan demi pertanyaan ia ajukan kepada
Fadhil.
Fadhil mencoba memproses
dan sedikit mengorek ingatannya tentang pertanyaan yang Asep ajukan barusan
Tunggu dulu sep, pertanyaanmu itu terlalu muluk-muluk untuk aku yang hanya sebatas bocah yang tak tahu
apa-apa ini. Alangkah baiknya kita perjelas satu-satu tentang apa yang kamu
maksut dengan perbudakan, penjajahan dan kebebasan bahkan keadilan itu. Jawab
Fadhil.
Hmm.. perbudakan menurutku ialah sebuah kegiatan untuk pemenuhan atau
keperluan seseorang dengan kata lain ada dua kubu disana yakni tuan dan budak.
Budak itu sendiri ialah orang yang diberdaya atau dimanfaatkan untuk keperluan dan
atau keuntungan Tuan. Kata Asep
Nah, sekarang apakah sales tadi juga termasuk budak, sep?
Jelas iya, jika apa yang ia lakukan hanya untuk kepentingan bosnya saja
atau dengan kata lain bahwa mbak-mbak itu repot-repot berdandan dengan
cantiknya menarik perhatian khalayak, berbicara dengan bahasa merayu agar
produk yang ia tawarkan bisa di beli. Semua itukan untuk keuntungan bosnya
saja.
Tetapi sekarang gini sep. Lalu kenapa mbak sales tadi mau untuk melakukan
__ADS_1
itu semua jika saja ia juga memperoleh keuntungan dari yang ia lakukan sep.
Maksut kamu apa Dhil, tolong diperjelas jangan
setengah-setengah kalau bicara bikin pusing aja kamu.
Kata Asep Sambil kembali
menghisap rokok yang sudah hampir habis tembakaunya.
Yah, maksutku jika kegiatan perbudakan itu hanya
menguntungkan satu pihak seperti apa yang kamu katakan tadi sep, sales tadi
jugakan diuntungkan dengan gaji yang ia peroleh.
Gaji yang kecil bagaimana bisa memenuhi kebutuhan
hidupnya dhil. Jika ia hanya digaji yang kebutuhan pokoknya saja kurang lalu
apakah itu bukankah termasuk penindasan dhil.
Tetapi antara bos dan pekerja kan ada kontrak kerjanya
dulu. Lagian jika gajinya tidak sesuai kenapa dulu kontrak kerjanya di
sepakati.
Tungkas Fadhil kepada
Asep yang kini rokoknya sudah berganti.
Kamu kali ini benar dhil, tetapi bukankah kontrak kerja itu yang membuat si
bosnya juga. Dan kontrak kerja itukan sebuah regulasi yang bos atau perusahaan
berikan kepada pekerja. Jika tidak mau yah pasti tidak diterima sebagai sales.
Tetapi jika diterima bukankah ini sebuah pengekangan dari kebebasan dhil. Dan
jika iya maka ini sebuah penjajahan atas kebebasan dan terutama sebuah kegiatan
perbudakan modern.
Maksutku begini sep. Gaji walaupun sedikit itukan tetap saja menjadi sebuah
prasyarat sehingga kedua kubu yang kamu maksut tadi mendapatkan keuntungannya
sep. Sehingga sales itu tadi mendapatkan manfaat dari pekerjaannnya berupa gaji
salah sep.
Eksploitasi dhil. Sales itu telah dieksploitasi oleh bosnya. Apakah kamu tadi
tidak melihat bagaimana mbak-mbak sales itu berpenampilan sangat aduhai, pakaiannya
begitu melihatkan lengkuk tubuh yang eksotis. parasnya dipoles begitu menawan.
Burungku saja berkontraksi dhil, ini bukan hanya ketertarikan biologis tetapi
cantiknya ituloh membuatku grrr...
Lalu mana eksploitasinya, bukankah sales memang wajar berpenampilan seperti
itu, yah kan untuk menarik pelanggan.
Kamu berpikir tidak melihat dari sudut pandang mbak-mbak tadi dhil. Coba
bayangkan dia yang juga manusia seperti kita apakah nyaman dengan penampilannya
itu, dijadikan objek perhatian, mbak-mbak itu mungkin sangat malu dengan rok
mini dan juga baju ketat yang tak sampai menutup lubang pusarnya itu dhil.
Pikirkan tentang perasaan dari mbak-mbak itu betapa ia tidak nyaman dengan
penampilannya sendiri dan belum lagi ia juga harus dituntut bisa merayu agar
pembeli tertarik dan membeli yang ia jajakan. Itu eksploitasi dhil bagaimanapun
yang mbak-mbak sales lakukan tadi dipenuhi rasa terpaksa dan semuanya ia
lakukan hanya demi kepuasan dan kerakusan bosnya. Aku yakin itu.
Tetapi jika mbak-mbak di seluruh Negara ini berpikiran sepertimu aku yakin
tidak akan ada sales di Negara ini sep. Dan bagaimanapun perekonomian Negara
akan merosot karena perputaran uang untuk gaji sales menjadi hilang.
Tidak bisa begitu dhil, tertutupnya satu keran bukan berarti tertutupnya
kemungkinan-kemungkinan yang lain. Bisa saja ada alternatif yang baru
__ADS_1
bermunculan. Negara seharusnya memiliki kewenangan untuk sebuah keadilan Nah,
sekarang Apakah keadilan menurutmu dhil. Tanya Asep.
Keadilan itu seharusnya diperuntukan untuk sebuah kemanfaatan yang
sebesar-besarnya sep. Jika itu menguntungkan bukan hanya untuk satu individu
tetapi juga kepada banyak orang sehingga kenikmatan yang dicapai ialah
kenikmatan atau kebahagiaan yang lebih besar.
Hmm... kenapa begitu dhil?
Yah, ketika kita membicarakan sesuatu hal itu bisa
dikatakan adil harusnya ditujukan untuk kegunaan atau kemanfaat yang lebih
besar. Keadilan untuk terpidana semestinya bukan sekedar untuk menghakimi dan
pemuasan balas dendam korban tetapi bagaimana penghukuman itu juga bisa
berdampak baik atau ada manfaat yang jauh lebih besar kepada terpidana itu
sendiri, misalkan hukuman itu harus paling tidak membuat ia untuk tidak dapat
melakukan kejahatannya lagi atau ia bisa berubah dan menyadari bahwa apa yang
ia lakukan itu salah.
Jadi keadilan menurutmu harus berpihak kepada sesuatu
yang orang banyak perlukan atau keadilan itu untuk kebahagiaan orang banyak
atau mayoritas.
Iya, dan di sini Negara bisa dikatakan adil bila ia
mengupayakan agar sebagian besar masyarakat dapat merasakan kebahagiaan.
Wah, kalau begitu aku kurang sependapat dengan apa yang
kamu kemukakan dhil. Menurutku kebahagiaan adalah prefentif atau selera setiap
individu artinya bahwa setiap individu itu memiliki cara pandangnya
masing-masing tentang kebahagiaan dhil. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan
kebahagiaan mayoritas maysrakat karena yah setiap individu memiliki
kebahagiaanya masing-masing.
Lalu keadilan menurutmu bagaimana. Tanya Fadhil kepada
Asep yang sedang menyeruput kopinya.
Seperti tadi yang telah aku jelaskan bahwa kebahagiaan
adalah selera setiap individu sehingga jika keadilan tujuannya ialah
kebahagiaan maka keadilan tidak bisa dihitung secara kuantitatif seperti yang
kamu jelaskan dengan mayoritas tadi dhil. Seharusnya keadilan itu dinilai
dengan kualitas dari kacamata setiap individu itu sendiri.
Tetapi kan susah menilai kualitas setiap individu sep.
Tanya Fadhil
Maka dari itu dhil, Negara harus dapat menjamin kebebasan
setiap individu agar tercipta keadilan. Justru sangat sulit menilai kebahagiaan
yang mayoritas tawarkan. Itu adalah bentuk penghianatan dari keotentikan
individual setiap manusia.
Nah, tetapi jika setiap individu berlaku bebas lalu
bagaimana bisa tercipta kedamaian. Bukankah malah akan menimbulkan anarkisme.
Kamu mungkin salah dalam mengartikan kebebesan dhil.
Apakah kamu lupa bahwa kebebsan kita ini dibatasi oleh kebebasan orang lain.
Ah sudahlah, aku tutup
saja obrolan tentang teori keadilan utilitarianism dan libertarianism yang
garing dan membosankan ini. Lagian siapa peduli tentang keadilan jika kerakusan
masih dapat dijalankan dengan bebas...
__ADS_1
“Individu yang bebas tidak tunduk pada kehendak orang lain” – Pakde John Lock