
Suara pemotong kayu
menderuh. Burung-burung berterbangan semburat tak karuan, tupai-tupai gagang
kelangkang berlarian, telur-telur disarang ditangisi ibunya darijauh menunggu
ajal untuk jatuh atau dibuat santapan manusia. Deruh pemotong kayu terus
menderuh, deruh penumbang pohon yang kukuk berpuluh tahun berserah diri hanya
untuk beberapa jam, deruh kehancuran bagi semesta kecil, kehidupan berjuta
makhluk didetiap dahan-dahannya, suara pemotong kayu suara kiamat, suara
kematian, pemusnahan pabrik oksigen untuk kehidupan.
Berbicara tentang
oksigen, alam ini ternyata dipenuhi dengan berbagai paradoks-paradoks, kita mengetahui dan
mngatakan bahwa oksigen adalah senyawa kehidupan kita namun disisi lain oksigen
membuat kulit-kulit kita menjadi keriput menua. Ia kehidupan sekaligus
kematian. Ataukah memang demikian alam ini, selalu memiliki dua sisi yang
berbeda, mungkin untuk berimbangan, untuk keselarasan. Bagaimanapun dunia ini
tak ada yang diisi oleh keabadian
kecuali ubur-ubur ... aku lupa namanya, namun ia bisa hidup abadi, hiudpnya
bagaikan siklus, dari benih, lalu tumbuh menua dan menjadi benih kembali. Ah,
benar dia abadi itupun jika tidak dimangsa oleh predatornya. Tetapi
bagaimanapun inilah tanda-tanda adanya kebadian di dunia ini, dengan siklus dan
proses yang dituunjukan oleh ubur-ubur itu mungkin kita bisa meniru. Dan bukankah mansuia itu
demikian, makhluk peniru yang ulung. Tidakkah pesawat dan sayap-sayapnya itu
tiruan dari burung-burung yang berterbangan, dan lain-lain hal yang kita boleh
katakan mengambil dari alam untuk kita transformasikan bagi kepentingan kita
sendiri. Manusia bilang itu adalah Inspirasi.
Aku butuh berlibur,
bermerenung di hamparan sabana yang luas attau diketinggian beribu kaki dari
permukaan air laut atau ditengah hutan yang lebat dipenuhi kicauan burung dan
hembusan angin. Aku ingin berdiam diri menatap kota dari ketinggian yang benar
tinggi, melihatnya dengan batas mata, terdiam diri sendiri, aku ingin merasakan
sunyi, meraskan kesendirian dan sepi. Aku ingin melakukannya untuk diriku,
benar-benar diriku sendiri, untuk berpergi jauh entah kemana. Asal sepi, asal
sendiri. Akan ada hal yang mungkin aku dapatkan, perasaan, ingatan bahkan
mungkin kerinduan yang selama ini terpendam, mungkin pikiran yang selama ini
terkesampingkan. Aku inginn pergi, sendiri. Menyingkir dari peradaban untuk
__ADS_1
sementara. Ah entahlah tetapi itu juga yang aku suka. Hari ini untuk kau tahu
saja, banyak hal yang beranak pinak di dalam pikiranku, memulai dngan satu
pertanyaan dan sialnya tak berakhir hanya dengan stau jawaban, jawaban-jawaban
itu memulai pertanyaannya yang baru, memulai rasa penasarannya, lagi... lagi
dan lagi sampai semuanya tertumpuk menjadi gunung yang harus didaki, harus
digali, pertanyaan awal dan esensi tertelan bumi, dihimpit bebatuan dan mennhilang
untuk sementara... dan atau bahkan selamanya.
Beberapa puluh hari
telah kulewati, baru kali ini sepanjang hidup ini diriku benar bersungguh-sungguh
hati untuk menyelesaikannya, atau mungkin tidak juga akan selesai. Selama
hidupku akan menulis sepanjang hari, sepanjang hidupku mungkin. Yah, sekedar
tulis-tulisan semacam ini yang aku bacai sendiri. Biarkan ia beranak-pinak
disini, tersimpan rapat-rapat hanya untukku sendiri. Bagaimanapu aku tak tahu
harus diapakan lagian pula aku masih belum terpikir ingin diapakan. Aku
menulis, menulis saja sesuka hati, beriang gembira menumpahkan segala rasa, tak
biarkan ia terpendam dalam hati, tumbuh didalam hati, terbunuh oleh kenyataan
lalu busuk, membusuk menjadi bau disanubari. Biarkan aku tumpahkan disini, untuk
tumbuh tak ditubuhku. Terlalu banyak yang akan nanti berbenih dan tubuh ini
awan, seperti sungai yang mengalir, biarkan hukum-hukum alam yang membawaku
kemana dan untuk apa. di dunia ini tak ada keebetulan. Jikapun ada maka semua
kejadian addalah kumpulan kebetulan-kebetulan... dan kesabaran. ada yang
mengatakan jadilah seperti air, yang selalu mengalir tak berhenti, yang selalu
mencari celah untuk terus mengalir. Karena itulah bersabar, seperti air jangan
berhenti mengalir, jangan berhenti bersabar. air yang yang menggenang tak akan
bisa selamanya selamat dari kesucian.
Menulis puisi. Aku suka,
namun tak pula pandai mendalaminya. Bukuku itu, ah sudahlah ia hanyalah
kumpulan-kumpulan kata. Lalu ada yang bertanya padaku, apa motivasinya. Tak ada
kiranya sungguh!, Tapi... Jawabku mungkin hanya ingin mengeluarkan gelisah didalam
tubuh ini, kucurahkan kegelisahan, perasaan, emosi dan segalanya didalamnya.
Aku tak ingin ia terus ada didalam diriku maka keluarlah dia dengan sepucuk
kata ini. kau tahu, rencanaku adalah seribu satu puisi. Entahlah aku tak begitu
mengerti antara sajak dan puisi, dengan bemacam jenis gayanya. Benar-benar aku
tak pandai. Harus terus belajar. baik, mari kita saling sharing saja mengenai
__ADS_1
hal itu. tetapi dulu aku ingin menulis seribu satu puisi. Caranya yah, satu
hari satu puisi...aku memulainya pada.. uh aku lupa tetapi aku ingat ada
diantara hari-hari itu, satu hari aku menulis lebih dari satu puisi. Dan kala
semua sudah mencapai seratus lebih aku melihat-lihat ada sebuah tawaran untuk
menerbitkan. Dah, yah aku kirim saja puisi-puisi jelek ini dan ternyata mereka
menerima. Di terbitkan oleh penerbit A di kota Y. Yah, semuanya mengalir
bagaikan air, selalu mencari sela terkecil untuk terus dapat megalir. Air yang
tergenang tak selalu selamanya suci. Dan lagi, buku itu bisa dikatakan adalah
kepinga-kepingan perjalanan, kepingan-kepingan cerita menjadi satu. Satu
asupan kepingan diksi. Berawal ketika
aku menjumpai satu buku yang cukup indah, cukup asbstrak. Isinya kumpulan
puisi-puisi pendek, kata-kata... namun sangat absurd dan penuh teka-teki. Aku
lupa bukunya, namun kiranya mungkin saat ini masih ada ditempat dimana aku
menjumpainya. Di warung C. Itulah buku yang membuatku untuk bergerak
mengikutinya. Lalu ada juga buku karya B judulnya R... buku itu yang membuatku membagi-bagi
tiap bagiannya semacam ini. yah, buku itu juga yang kata orang,
meng-inspirasi... lalu isinya. Setiap kata dari buku ini aku temukan dari
kehidupan sehari-hari, dari kepingan-kepingan perjalanan, kepingan-kepingan
pengalaman, kepingan-kepingan literatur.... yah, banyak buku yang menginspirasi.
Diantaranya buku Spiens di puisi ini (....), buku Ilmu Negara di puisi ini (....), buku dunia Shophie di
puisi ini (...) dan lain-lain buku yang memberikanku pengalaman menakjubkan.
Aku tuliskan satu hari
satu puisi. Untuk mengalirkan kegelisahan agar ia tak tergenang dan berubah
menjadi racun bagi tubuh.
Lalu, diriku. Selama
berpuluh hari ini, aku temukan diriku yang masih belum utuh. Yah, kutemukan
ritme dalam diriku, jejak aliran yang menjadi kecenderunganku. Pada dasarnya
keberpihakanku ada pada alam, pada semesta, pada lingkungan dan ekosistem. Satu
bagian dari semesta ini merupakan bagian lain yang menyeluruh, istilahnya ialah
holistic. Yah, tentu aku menempatkan keberpihakanku untuk alam, walau masih
belum sutuhnya tetapi inilah ritme dan jalan aliran kehidupanku. Dan ada satu
lagi yang menjadi ketertarikanku untuk saat ini...
Cerdas dalam menempatkan
diri
__ADS_1