Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Sua Rasa


__ADS_3

Suara pemotong kayu


menderuh. Burung-burung berterbangan semburat tak karuan, tupai-tupai gagang


kelangkang berlarian, telur-telur disarang ditangisi ibunya darijauh menunggu


ajal untuk jatuh atau dibuat santapan manusia. Deruh pemotong kayu terus


menderuh, deruh penumbang pohon yang kukuk berpuluh tahun berserah diri hanya


untuk beberapa jam, deruh kehancuran bagi semesta kecil, kehidupan berjuta


makhluk didetiap dahan-dahannya, suara pemotong kayu suara kiamat, suara


kematian, pemusnahan pabrik oksigen untuk kehidupan.


Berbicara tentang


oksigen, alam ini ternyata dipenuhi dengan berbagai  paradoks-paradoks, kita mengetahui dan


mngatakan bahwa oksigen adalah senyawa kehidupan kita namun disisi lain oksigen


membuat kulit-kulit kita menjadi keriput menua. Ia kehidupan sekaligus


kematian. Ataukah memang demikian alam ini, selalu memiliki dua sisi yang


berbeda, mungkin untuk berimbangan, untuk keselarasan. Bagaimanapun dunia ini


tak ada  yang diisi oleh keabadian


kecuali ubur-ubur ... aku lupa namanya, namun ia bisa hidup abadi, hiudpnya


bagaikan siklus, dari benih, lalu tumbuh menua dan menjadi benih kembali. Ah,


benar dia abadi itupun jika tidak dimangsa oleh predatornya. Tetapi


bagaimanapun inilah tanda-tanda adanya kebadian di dunia ini, dengan siklus dan


proses yang dituunjukan oleh ubur-ubur itu mungkin kita  bisa meniru. Dan bukankah mansuia itu


demikian, makhluk peniru yang ulung. Tidakkah pesawat dan sayap-sayapnya itu


tiruan dari burung-burung yang berterbangan, dan lain-lain hal yang kita boleh


katakan mengambil dari alam untuk kita transformasikan bagi kepentingan kita


sendiri. Manusia bilang itu adalah Inspirasi.


Aku butuh berlibur,


bermerenung di hamparan sabana yang luas attau diketinggian beribu kaki dari


permukaan air laut atau ditengah hutan yang lebat dipenuhi kicauan burung dan


hembusan angin. Aku ingin berdiam diri menatap kota dari ketinggian yang benar


tinggi, melihatnya dengan batas mata, terdiam diri sendiri, aku ingin merasakan


sunyi, meraskan kesendirian dan sepi. Aku ingin melakukannya untuk diriku,


benar-benar diriku sendiri, untuk berpergi jauh entah kemana. Asal sepi, asal


sendiri. Akan ada hal yang mungkin aku dapatkan, perasaan, ingatan bahkan


mungkin kerinduan yang selama ini terpendam, mungkin pikiran yang selama ini


terkesampingkan. Aku inginn pergi, sendiri. Menyingkir dari peradaban untuk

__ADS_1


sementara. Ah entahlah tetapi itu juga yang aku suka. Hari ini untuk kau tahu


saja, banyak hal yang beranak pinak di dalam pikiranku, memulai dngan satu


pertanyaan dan sialnya tak berakhir hanya dengan stau jawaban, jawaban-jawaban


itu memulai pertanyaannya yang baru, memulai rasa penasarannya, lagi... lagi


dan lagi sampai semuanya tertumpuk menjadi gunung yang harus didaki, harus


digali, pertanyaan awal dan esensi tertelan bumi, dihimpit bebatuan dan mennhilang


untuk sementara... dan atau bahkan selamanya.


Beberapa puluh hari


telah kulewati, baru kali ini sepanjang hidup ini diriku benar bersungguh-sungguh


hati untuk menyelesaikannya, atau mungkin tidak juga akan selesai. Selama


hidupku akan menulis sepanjang hari, sepanjang hidupku mungkin. Yah, sekedar


tulis-tulisan semacam ini yang aku bacai sendiri. Biarkan ia beranak-pinak


disini, tersimpan rapat-rapat hanya untukku sendiri. Bagaimanapu aku tak tahu


harus diapakan lagian pula aku masih belum terpikir ingin diapakan. Aku


menulis, menulis saja sesuka hati, beriang gembira menumpahkan segala rasa, tak


biarkan ia terpendam dalam hati, tumbuh didalam hati, terbunuh oleh kenyataan


lalu busuk, membusuk menjadi bau disanubari. Biarkan aku tumpahkan disini, untuk


tumbuh tak ditubuhku. Terlalu banyak yang akan nanti berbenih dan tubuh ini


awan, seperti sungai yang mengalir, biarkan hukum-hukum alam yang membawaku


kemana dan untuk apa. di dunia ini tak ada keebetulan. Jikapun ada maka semua


kejadian addalah kumpulan kebetulan-kebetulan... dan kesabaran. ada yang


mengatakan jadilah seperti air, yang selalu mengalir tak berhenti, yang selalu


mencari celah untuk terus mengalir. Karena itulah bersabar, seperti air jangan


berhenti mengalir, jangan berhenti bersabar. air yang yang menggenang tak akan


bisa selamanya selamat dari kesucian.


Menulis puisi. Aku suka,


namun tak pula pandai mendalaminya. Bukuku itu, ah sudahlah ia hanyalah


kumpulan-kumpulan kata. Lalu ada yang bertanya padaku, apa motivasinya. Tak ada


kiranya sungguh!, Tapi... Jawabku mungkin hanya ingin mengeluarkan gelisah didalam


tubuh ini, kucurahkan kegelisahan, perasaan, emosi dan segalanya didalamnya.


Aku tak ingin ia terus ada didalam diriku maka keluarlah dia dengan sepucuk


kata ini. kau tahu, rencanaku adalah seribu satu puisi. Entahlah aku tak begitu


mengerti antara sajak dan puisi, dengan bemacam jenis gayanya. Benar-benar aku


tak pandai. Harus terus belajar. baik, mari kita saling sharing saja mengenai

__ADS_1


hal itu. tetapi dulu aku ingin menulis seribu satu puisi. Caranya yah, satu


hari satu puisi...aku memulainya pada.. uh aku lupa tetapi aku ingat ada


diantara hari-hari itu, satu hari aku menulis lebih dari satu puisi. Dan kala


semua sudah mencapai seratus lebih aku melihat-lihat ada sebuah tawaran untuk


menerbitkan. Dah, yah aku kirim saja puisi-puisi jelek ini dan ternyata mereka


menerima. Di terbitkan oleh penerbit A di kota Y. Yah, semuanya mengalir


bagaikan air, selalu mencari sela terkecil untuk terus dapat megalir. Air yang


tergenang tak selalu selamanya suci. Dan lagi, buku itu bisa dikatakan adalah


kepinga-kepingan perjalanan, kepingan-kepingan cerita menjadi satu. Satu


asupan  kepingan diksi. Berawal ketika


aku menjumpai satu buku yang cukup indah, cukup asbstrak. Isinya kumpulan


puisi-puisi pendek, kata-kata... namun sangat absurd dan penuh teka-teki. Aku


lupa bukunya, namun kiranya mungkin saat ini masih ada ditempat dimana aku


menjumpainya. Di warung C. Itulah buku yang membuatku untuk bergerak


mengikutinya. Lalu ada juga buku karya B judulnya  R... buku itu yang membuatku membagi-bagi


tiap bagiannya semacam ini. yah, buku itu juga yang kata orang,


meng-inspirasi... lalu isinya. Setiap kata dari buku ini aku temukan dari


kehidupan sehari-hari, dari kepingan-kepingan perjalanan, kepingan-kepingan


pengalaman, kepingan-kepingan literatur.... yah, banyak buku yang menginspirasi.


Diantaranya buku Spiens di puisi ini (....), buku Ilmu Negara  di puisi ini (....), buku dunia Shophie di


puisi ini (...) dan lain-lain buku yang memberikanku pengalaman menakjubkan.


Aku tuliskan satu hari


satu puisi. Untuk mengalirkan kegelisahan agar ia tak tergenang dan berubah


menjadi racun bagi tubuh.


Lalu, diriku. Selama


berpuluh hari ini, aku temukan diriku yang masih belum utuh. Yah, kutemukan


ritme dalam diriku, jejak aliran yang menjadi kecenderunganku. Pada dasarnya


keberpihakanku ada pada alam, pada semesta, pada lingkungan dan ekosistem. Satu


bagian dari semesta ini merupakan bagian lain yang menyeluruh, istilahnya ialah


holistic. Yah, tentu aku menempatkan keberpihakanku untuk alam, walau masih


belum sutuhnya tetapi inilah ritme dan jalan aliran kehidupanku. Dan ada satu


lagi yang menjadi ketertarikanku untuk saat ini...


Cerdas dalam menempatkan


diri

__ADS_1


__ADS_2