
Kepada malam aku mengadu
tentang ccinta. Yang tulus tak henti untuk memuja. Kepada siang yang tak tau
menahu tentang arti dari perenungan, disibak oleh kesibukan dan kerja yang tak
ada hentinya. Kaya yang katanya akan tiba, sukses yang katanya sebentar lagi
akan dituai juga bahagia yang..., Oh... Tuhaannn tiada kah engkau memberikan
cobaan kepada hamba yang teramat rapuh untuk bisa mencintai-Mu. Cinta dengan
makhlukm-Mu saja aku lapuk. Mendayu-dayukan rasa untuk ciptaan-Mu saja hamba
tak kuasa apa lagi hamba harus mencintai pencipta-Nya. Apakah begitu tak tahu
dirinya aku ini, mencoba mencintai penciptaku sedang memncintai ciptaan-Nya
saja aku tak mampu. Dilema Tuhan. Kekasihmu yang jauh di sudut-sudut kecil
dunia ini merasa tak kuasa untuk melanjutkan hidup lagi. Tidakkah engkau
melihat kawan-kawanku yang telah merenggut nyawanya sendiri. Mereka orang yang
bebas dari ikatan dunia bukankah begitu Tuhan. Tidakkah Tuhan melihat
makhluk-Mu juga ciptaan-Mu berangkat menemuimu dengan kaki-kakinya sendiri ia
terjunkan dari atas gedung. Berangkat dengan tangan-tangannya sendiri menikam
jantung dengan belati, menyayat pembuluh darah dan menusuk masuk ke ulu hati.
Tidakkah Tuhan melihat begitu banyak anak-Mu terbang menuju kepada-Mu dengan
harap temu. Bergelantungan diatas udara, mencumbu tali dengan leher. Wajahnya
membiru malu, menyeka keringat tak mampu bernafas dan akhirnya menderita karena
kecewa. Yah, kecewa mereka kepada-Mu Tuhaann..... tiada engkau mau menemuinya
selepas apa yang telah mereka kurbankan kepada-Mu. Tubuhnya, lihat... membekam
biru dibahu dimata di mana-mana. Menyeka luka dengan darah. Sobekan belati di
dada menusuk meremukan jantung dan Engkau Tuhan begitu tega mengutuknya. Begitu
rela ia yang telah berkurban tubuh kepada-My justru engkau bakar dengan siksa,
engkau lumatkan dalam api, engkau binasakan sebinasa-binasanya. Lihat... lehernya yang tercekik, menganga
melahap-lahap udara, matanya tiada mau tertutup walau telah dibawah tanah.
Begitu nestapa hidupnya. Manusia-manusia berputus asa, terhimpit oleh
bajingannya dunia, brengseknya kehidupan dan memilih jalan keabadian merek
kepada-Mu namun engkau juga memberikannya hukuman, siksaan. Ahhh tiada tahulah
aku. Semua milikmu, semua kehendakmu. Aku ini apa. sebutir debupun aku tak kuasa.
Tiada apa yang tak engkau punyai Gustiii... semua milikmu dan semua terserahmu.
Aku pasrah. Kepada kehidupan dan dunia yang terlalu keji dan munafik ini. aku
menyerah kepada mati yang Engkaupun mengutuknya.
Tiadakah engkau melihat
nyala api yang tiada henti itu. Begitu nyalanya saja telah mengoyakkan jiwamu.
Rasakan. Apakah tidak meronta-ronta jiwa dalam dirimu itu, melihat nyala api
setiap hari. Panasnya tak hanya terasa dikulit tetapi menembus samapai daging,
otot-ototo, saraf, persendian, tulang dan baagian terdalammu hati. Yah, hatimu
__ADS_1
terasa panas bukan. Hatimu berkobar dengan penuh hebatnyakan. Rasakan hatimu
itu. Hati bagaiakan api yang berkobar hebat, melahap rumah-rumah dan benda yang
rapuh, memusnahkan benda yang kering kerontang. Semuanya engkau ***** dalam
kobaran apimu. Hati yang bagaikan api adalah hati yang akan binasa. Hati yang
bagaikan api hanya akan menyala jika ada yang dibakarnya. Hati yang bagaikan
api adalah hati pembenci, hati perusak dan tiada paling rusak karenya selain
dirinya. Apakah aku salah teman? Bagaikan api yang menyala-nyala. Melahap apa
saja yang ada. Bagaikan api yang membumbungkan asap pekat kesegala arah. Ah
bukan, bukan kesegala arah tetapi kemana angin berlalu disitu asap akan
menganggu... yah, hati yang bagaikan api adalah hati menyelimuti sekelilingnya
dengan kegelapan asap pekat. Yah, hati bagaikan api adalah hati yang tiada
henti menyesatkan orang-orang disekelilingnya. Tiada lebih nesatapa daripada
memeliki kawan yang berhati api. Yang berhati culas tiada mau mengalah dan
hanya mementingkan dirinya. Tiada yang tak ia makan, semua harus patuh
kepadanya. Dan tiada engkau bisa lepas dari genggaman si pemilih hati api.
Karena mereka, ia akan menyelimutimu dengan kegelapan asap pekat. Nafasmu
tersedak-sedak dan tiada yang lebih menyesakkan ketimbang asap dari pemilih
hati api.
Disudut-sudut kota
Tuhan. Seringkali aku melihatmu dikerumunan ramai. Semua manusia disana memakai
jubah serba putih, semua putih Tuhan, mungkinkah juga hatinya seputuh
Tuhan apakah engkau benar ada disana. Suara itu semakin menggema disana Tuhan.
Suara-suara kebesaranmu, keagunganmu sungguh terus digemakan tiada waktu henti,
mereka terus menyebutmu dengan pekikan menyeramkan. Allahhu Akbar! . Allahhu
Akbar! . Allahhu Akbar!.... di sebelah yang lain mereka semua itu Tuhann. Yah,
diantara mereka ada yang memandu. Takbirrr... Takbirr.. dan lalu lagi Allahhu Akbar! . Allahhu Akbar! . Allahhu
Akbar! Begitu terus Tuhan tak henti-hentinya. Uh aku yang mendengarkan gema
keagungan-Mu terperanjat, hati ini bergetar dengan begitu dahsyatnya. Pikiranku
telah tertancap atas keagungan-Mu. Siapa hamba yang cinta kepada-Mu tiada
bergetar hatinya ketika seru keagungan-keagungan tertuju kepada-Mu. Akupu demikian Tuhan. Mendengarkan gema Takbir di
sana aku lantas tergerak untuk mengikuti jejak-jejak mereka, berangkat dengan
penuh keyakinan dan gairah. Suara-suara kebesaran tentang-Mu menggema dimana-mana.
Aku yakin engkaupun juga disana. Aku kesana Tuhan dengan bekal seadanya tiada
akku memilik uang, tiada pula aku
memiliki persiapan, pembendaharaan yang matang aku yakin engkau juga disana
akan menyiapkan segalanya untukku. Asal aku kesana dapat menengokmu aku sudah
bahagia. ingin aku ikut bersama mereka di dalam satu barisan yang utuh. Ah
bukankah itu maumu Tuhan. Berjamaah....
__ADS_1
Aku sudah disini lumayan
lama Tuhan. Dan dimanakah engkau dengan kebesaran-kebesaran yang mereka
Agungkan... kata mereka, Tuhan begitu agung dan besar tiada sembarang orang
yang bisa menemuinya dengan sesuka hati. Merek meyakinkankua apakah aku
benar-benar ingin menjumpai-Mu Tuhan. Dan aku menjawab dengan penuh keyakinan
dan kesungguhan hati bahwa aku benar-benar ingin menemuimu. Setulus hati benar
aku ingin. Aku jawab sedemikian tegasnya agar mereka percaya pula padaku. Dan
lalu mereka itu Tuhan, mereka mengatakan padaku bahwa Tuhan berada jauh disana
dan tiket menujunya hanyalah dari mereka dan hanya dengan satu perintah. Uh
sungguh bahagianya aku Tuhan. Dengan satu perintah dan dari mereka pula yang
hanya engkau terima. Lagian aku juga sudah ada disinia. Betapa tidak bahagianya
hati ini. lantas dengan gairah aku bertanya kepada mereka Tuhan, tugas apakah
itu. Mereka menjawab dengan tak kalah semangatnya. Tugas itu begitu mulia. Di
muka bumi ini sudah terjadi kehancuran moral kehancuran akhlak dan kezoliman
dimana-mana. Di dunia akhir ini bumi menjadi semakin sakit sehingga kita harus
memerangi penyakit-penyakit di bumi itu karena kita yang ditunjuk sebagai khalifatullah.
Kau tahu khalifatullah itu apa. ia adalah pemimpin bumi ini. dan bumi sudah
rusak oleh kezoliman-kezoliman kaum kafir. Maka Tuhan memerintahkan kita untuk
memeranginya, darahnya halal. Antum mengerti? Dengan segera aku mengangguk-aguk
walaupun tak cukup mengerti apa itu semua yang jelas ini perintah Tuhan dan
untuk menujunya akan aku lakukan semua yang aku bisa. Lalu aku bertanya apa
yang harus aku lakukan. Tuhan telah menunjuk kita untuk membunuhnya,
mengahancurkannya. Tuhan pemilik bumi ini dan kita khalifahnya, kita yang
bertanggung jawab terhadap kezoliman ini maka kita harus membasmi semua
kezoliman itu. Antum paham?!! Sebelum aku menjawab semua orang disekelilingku
menggemakan keaagungan-Mu. Dan tak sadar air mata telah membasahi kelopak-kelopak
mataku. Aku menangis, gemetar mendengarkan seruan-seruan kebesaran-Mu Tuhan. Dengan
segera aku mengajukan diri melaksanakan satu perintah itu, satu tugas mulia
untuk mendapatkan tiket menemuimu. Ketika itu aku berpikir pasti menjadi
manusia yang paling berani di muka bumi ini, manusia yang paling perkasa tiada
kira. Dan aku yakin engkau akan mencintaiku.
Hari itu tiba.
Booommm... Gereja di ujung sana hancur berkeping-keping bersamaan dengan tubuh
para jamaah.
Dengan cara apapun bunuh
diri tetaplah bunuh diri.
Dan tiadakah engkau
melihat. Kematian. Tragedi yang terjadi sepanjang sejarah tiada yang suci dari
__ADS_1
kepentingan-kepentingan belaka. Engkau membunuh dirimu atas nama Tuhan. Pada
akhirnya,.. engkau sendiri yang membunuh Tuhan...