Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Kematian


__ADS_3

Kepada malam aku mengadu


tentang ccinta. Yang tulus tak henti untuk memuja. Kepada siang yang tak tau


menahu tentang arti dari perenungan, disibak oleh kesibukan dan kerja yang tak


ada hentinya. Kaya yang katanya akan tiba, sukses yang katanya sebentar lagi


akan dituai juga bahagia yang..., Oh... Tuhaannn tiada kah engkau memberikan


cobaan kepada hamba yang teramat rapuh untuk bisa mencintai-Mu. Cinta dengan


makhlukm-Mu saja aku lapuk. Mendayu-dayukan rasa untuk ciptaan-Mu saja hamba


tak kuasa apa lagi hamba harus mencintai pencipta-Nya. Apakah begitu tak tahu


dirinya aku ini, mencoba mencintai penciptaku sedang memncintai ciptaan-Nya


saja aku tak mampu. Dilema Tuhan. Kekasihmu yang jauh di sudut-sudut kecil


dunia ini merasa tak kuasa untuk melanjutkan hidup lagi. Tidakkah engkau


melihat kawan-kawanku yang telah merenggut nyawanya sendiri. Mereka orang yang


bebas dari ikatan dunia bukankah begitu Tuhan. Tidakkah Tuhan melihat


makhluk-Mu juga ciptaan-Mu berangkat menemuimu dengan kaki-kakinya sendiri ia


terjunkan dari atas gedung. Berangkat dengan tangan-tangannya sendiri menikam


jantung dengan belati, menyayat pembuluh darah dan menusuk masuk ke ulu hati.


Tidakkah Tuhan melihat begitu banyak anak-Mu terbang menuju kepada-Mu dengan


harap temu. Bergelantungan diatas udara, mencumbu tali dengan leher. Wajahnya


membiru malu, menyeka keringat tak mampu bernafas dan akhirnya menderita karena


kecewa. Yah, kecewa mereka kepada-Mu Tuhaann..... tiada engkau mau menemuinya


selepas apa yang telah mereka kurbankan kepada-Mu. Tubuhnya, lihat... membekam


biru dibahu dimata di mana-mana. Menyeka luka dengan darah. Sobekan belati di


dada menusuk meremukan jantung dan Engkau Tuhan begitu tega mengutuknya. Begitu


rela ia yang telah berkurban tubuh kepada-My justru engkau bakar dengan siksa,


engkau lumatkan dalam api, engkau binasakan sebinasa-binasanya. Lihat...  lehernya yang tercekik, menganga


melahap-lahap udara, matanya tiada mau tertutup walau telah dibawah tanah.


Begitu nestapa hidupnya. Manusia-manusia berputus asa, terhimpit oleh


bajingannya dunia, brengseknya kehidupan dan memilih jalan keabadian merek


kepada-Mu namun engkau juga memberikannya hukuman, siksaan. Ahhh tiada tahulah


aku. Semua milikmu, semua kehendakmu. Aku ini apa. sebutir debupun aku tak kuasa.


Tiada apa yang tak engkau punyai Gustiii... semua milikmu dan semua terserahmu.


Aku pasrah. Kepada kehidupan dan dunia yang terlalu keji dan munafik ini. aku


menyerah kepada mati yang Engkaupun mengutuknya.


Tiadakah engkau melihat


nyala api yang tiada henti itu. Begitu nyalanya saja telah mengoyakkan jiwamu.


Rasakan. Apakah tidak meronta-ronta jiwa dalam dirimu itu, melihat nyala api


setiap hari. Panasnya tak hanya terasa dikulit tetapi menembus samapai daging,


otot-ototo, saraf, persendian, tulang dan baagian terdalammu hati. Yah, hatimu

__ADS_1


terasa panas bukan. Hatimu berkobar dengan penuh hebatnyakan. Rasakan hatimu


itu. Hati bagaiakan api yang berkobar hebat, melahap rumah-rumah dan benda yang


rapuh, memusnahkan benda yang kering kerontang. Semuanya engkau ***** dalam


kobaran apimu. Hati yang bagaikan api adalah hati yang akan binasa. Hati yang


bagaikan api hanya akan menyala jika ada yang dibakarnya. Hati yang bagaikan


api adalah hati pembenci, hati perusak dan tiada paling rusak karenya selain


dirinya. Apakah aku salah teman? Bagaikan api yang menyala-nyala. Melahap apa


saja yang ada. Bagaikan api yang membumbungkan asap pekat kesegala arah. Ah


bukan, bukan kesegala arah tetapi kemana angin berlalu disitu asap akan


menganggu... yah, hati yang bagaikan api adalah hati menyelimuti sekelilingnya


dengan kegelapan asap pekat. Yah, hati bagaikan api adalah hati yang tiada


henti menyesatkan orang-orang disekelilingnya. Tiada lebih nesatapa daripada


memeliki kawan yang berhati api. Yang berhati culas tiada mau mengalah dan


hanya mementingkan dirinya. Tiada yang tak ia makan, semua harus patuh


kepadanya. Dan tiada engkau bisa lepas dari genggaman si pemilih hati api.


Karena mereka, ia akan menyelimutimu dengan kegelapan asap pekat. Nafasmu


tersedak-sedak dan tiada yang lebih menyesakkan ketimbang asap dari pemilih


hati api.


Disudut-sudut kota


Tuhan. Seringkali aku melihatmu dikerumunan ramai. Semua manusia disana memakai


jubah serba putih, semua putih Tuhan, mungkinkah juga hatinya seputuh


Tuhan apakah engkau benar ada disana. Suara itu semakin menggema disana Tuhan.


Suara-suara kebesaranmu, keagunganmu sungguh terus digemakan tiada waktu henti,


mereka terus menyebutmu dengan pekikan menyeramkan. Allahhu Akbar! . Allahhu


Akbar! . Allahhu Akbar!.... di sebelah yang lain mereka semua itu Tuhann. Yah,


diantara mereka ada yang memandu. Takbirrr... Takbirr.. dan lalu lagi  Allahhu Akbar! . Allahhu Akbar! . Allahhu


Akbar! Begitu terus Tuhan tak henti-hentinya. Uh aku yang mendengarkan gema


keagungan-Mu terperanjat, hati ini bergetar dengan begitu dahsyatnya. Pikiranku


telah tertancap atas keagungan-Mu. Siapa hamba yang cinta kepada-Mu tiada


bergetar hatinya ketika seru keagungan-keagungan tertuju kepada-Mu. Akupu  demikian Tuhan. Mendengarkan gema Takbir di


sana aku lantas tergerak untuk mengikuti jejak-jejak mereka, berangkat dengan


penuh keyakinan dan gairah. Suara-suara kebesaran tentang-Mu menggema dimana-mana.


Aku yakin engkaupun juga disana. Aku kesana Tuhan dengan bekal seadanya tiada


akku memilik uang,  tiada pula aku


memiliki persiapan, pembendaharaan yang matang aku yakin engkau juga disana


akan menyiapkan segalanya untukku. Asal aku kesana dapat menengokmu aku sudah


bahagia. ingin aku ikut bersama mereka di dalam satu barisan yang utuh. Ah


bukankah itu maumu Tuhan. Berjamaah....

__ADS_1


Aku sudah disini lumayan


lama Tuhan. Dan dimanakah engkau dengan kebesaran-kebesaran yang mereka


Agungkan... kata mereka, Tuhan begitu agung dan besar tiada sembarang orang


yang bisa menemuinya dengan sesuka hati. Merek meyakinkankua apakah aku


benar-benar ingin menjumpai-Mu Tuhan. Dan aku menjawab dengan penuh keyakinan


dan kesungguhan hati bahwa aku benar-benar ingin menemuimu. Setulus hati benar


aku ingin. Aku jawab sedemikian tegasnya agar mereka percaya pula padaku. Dan


lalu mereka itu Tuhan, mereka mengatakan padaku bahwa Tuhan berada jauh disana


dan tiket menujunya hanyalah dari mereka dan hanya dengan satu perintah. Uh


sungguh bahagianya aku Tuhan. Dengan satu perintah dan dari mereka pula yang


hanya engkau terima. Lagian aku juga sudah ada disinia. Betapa tidak bahagianya


hati ini. lantas dengan gairah aku bertanya kepada mereka Tuhan, tugas apakah


itu. Mereka menjawab dengan tak kalah semangatnya. Tugas itu begitu mulia. Di


muka bumi ini sudah terjadi kehancuran moral kehancuran akhlak dan kezoliman


dimana-mana. Di dunia akhir ini bumi menjadi semakin sakit sehingga kita harus


memerangi penyakit-penyakit di bumi itu karena kita yang ditunjuk sebagai khalifatullah.


Kau tahu khalifatullah itu apa. ia adalah pemimpin bumi ini. dan bumi sudah


rusak oleh kezoliman-kezoliman kaum kafir. Maka Tuhan memerintahkan kita untuk


memeranginya, darahnya halal. Antum mengerti? Dengan segera aku mengangguk-aguk


walaupun tak cukup mengerti apa itu semua yang jelas ini perintah Tuhan dan


untuk menujunya akan aku lakukan semua yang aku bisa. Lalu aku bertanya apa


yang harus aku lakukan. Tuhan telah menunjuk kita untuk membunuhnya,


mengahancurkannya. Tuhan pemilik bumi ini dan kita khalifahnya, kita yang


bertanggung jawab terhadap kezoliman ini maka kita harus membasmi semua


kezoliman itu. Antum paham?!! Sebelum aku menjawab semua orang disekelilingku


menggemakan keaagungan-Mu. Dan tak sadar air mata telah membasahi kelopak-kelopak


mataku. Aku menangis, gemetar mendengarkan seruan-seruan kebesaran-Mu Tuhan. Dengan


segera aku mengajukan diri melaksanakan satu perintah itu, satu tugas mulia


untuk mendapatkan tiket menemuimu. Ketika itu aku berpikir pasti menjadi


manusia yang paling berani di muka bumi ini, manusia yang paling perkasa tiada


kira. Dan aku yakin engkau akan mencintaiku.


Hari itu tiba.


Booommm... Gereja di ujung sana hancur berkeping-keping bersamaan dengan tubuh


para jamaah.


Dengan cara apapun bunuh


diri tetaplah bunuh diri.


Dan tiadakah engkau


melihat. Kematian. Tragedi yang terjadi sepanjang sejarah tiada yang suci dari

__ADS_1


kepentingan-kepentingan belaka. Engkau membunuh dirimu atas nama Tuhan. Pada


akhirnya,.. engkau sendiri yang membunuh Tuhan...


__ADS_2