Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Religituil


__ADS_3

Bagaikan


sore-sore yang damai. Matahari bersinar terang di barat menyisihkan secerca


cahaya yang hangat untuk para pemain bola di lapangan atau menyilaukan


gelombang laut di pesisir pantai. Seperti sore-sore yang lainnya hari ini aku


bersepeda melewati jalan-jalan penuh kendaraan menuju ke barat tepat matahari


sedang terik-teriknya. Dengan kayuhan sepeda sederhanaku menyapa sekumpulan


orang di trotoar yang sedang asyik berbincang. Melewati pasar yang ramai oleh


pedangan asongan, buah-buah segar pun masih ada di kala sore hari ini. Kayuhan


sepedaku semakin kencang. Aku melewati masjid dan tempat ibadah lainnya yang


ternyata sepi dan suram.


Tak


berhenti di sana aku menuju tempat paling favorit. Pantai. Mendengar deruhan


ombak dan suara camar laut membuat telingaku terasa nyaman bahkan ketika gunda


sedang melanda pikiran-pikiranku. Aku duduk di tepi dermaga melihat matahari di


ujung barat yang mulai terbenam juga para nelayan yang mulai kembali dari


tengah laut untuk mengangkat jaring. Beraneka ikan pun tertangkap dan kemudian


di pinggir pantai sudah banyak pengepul yang menunggu hasil tangkapan. Sebuah


proses ekonomi sederhana. Namun aku menikmatinya. Sore itu sepeertinya hari


yang benar-benar indah. Para nelayan mendapatkan begitu banyak ikan yang memenuhi


perahunya setelah beberapa pekan kemarin para nelayan mengeluh dengan hilangnya


ikan-ikan mereka, mungkin karena kian banyak kapal-kapal tongkang pembawa batu


bara itu yang singgah. Lepas dari itu tangkapam sore ini begitu banyak dan


mungkin bapak nelayan itu sangat senang karena pulang nanti dapat membelikan


sepatu roda yang sudah lama diinginkan anaknya. Semoga.


Memikirkan


nasib nelayan yang kian hari semakin susah aku juga mulai berpikir mengenai


kebiasaan masyarakat modern dewasa ini. Sepanjang jalan tadi pemuda dan begitu


banyak orang disibukan pergi ke pasar untuk berbelanja dan juga


kelompok-kelompok orang yang duduk manis di trotoar membicarakan sesuatu yang


tak benar-benar penting, mungkin. Namun jauh berbeda dengan tempat-tempat


ibadah yang sepi bahkan suram. yah, mungkin ramai ketika ada perayaan-perayaan


ke agamaan seperti Maulidan, Natal


atau peringatan Haul seoarang Kiai. Tetapi ketika perayaan-perayaan itu tiba,


yang menyambutnya bukan hanya para jamaah atau santri yang ingin pergi ke pengajian


dan ziarah namun juga ada banyak pedagang dan penjual berbagai macam jenis

__ADS_1


barang di pinggir-pinggir jalan. Malah ada beberapa kasus mungkin yang datang ke


acara yang lebih banyak bukan dari golongan peziarah atau jamaah justru para


pedagang yang ingin mengais rezekinya. Barang tentu juga niat dari banyak


peziarah dan jamaah datang bukan untuk acara keagamaan tetapi justru untuk


membeli barang yang tersedia di sana. Aku pun tak tahu dengan pasti, tetapi aku


kurang yakin dengan niat yang murni. Begitu pun ketika natal tiba para pemilik


toko memasang diskon besar-besaran. Yang terjadi adalah ketika peayaan Natal


tiba begitu banyak orang yang bergegas untuk berbelanja daripada pergi ke Gereja


untuk meminta pengampunan. Mungkin berbelanja adalah salah satu metode baru


dalam upaya pengampunan dosa oleh masyarakat modern.


Suara-suara


camar semakin sepi. Hari memang mulai gelap. Matahari juga sudah mulai


terbenam. Para nelayan yang tadi di tengah laut tadi kini sudah bertransaksi


dengan para pengepul dan siap bergegas untuk pulang. Aku pun juga demikian. Aku


ambil sepedaku dan ku kayuh lagi menuju rumah. Suara adzan maghrib menggema


ketika aku kayuh sepedaku di sepanjang jalan yang sama ketika berangkat tadi.


Aku temui pasar-pasar dan trotoar sudah mulai sepi dan melihat masjid di sana


mulai dipenuhi manusia. Ah, ternyata tempat-tempat ibadah tidak benar-benar


mati. Masih banyak orang-orang yang peduli dengannya. Sebagai muslim aku pun


Selepas


semua ritual yang aku lakukan sudah selesai, aku mengambil kembali sepedaku dan


ingin lekas aku kayuh menuju rumah namun nampak di gerbang masjid ada sesuatu


hal yang menarik perhatianku. Seorang wanita lanjut yang kira-kira berusia 70


atau 80’an tahun sedang duduk bersandar di dinding gerbang ssambil


menengadahkan tangannya kepada para jamaah yang keluar dari masjid. Wajahnya


pucat, bibirnya kering dan sangat ringkih mungkin ia sangaat kelelahan sehingga


tubuhnya sampai-sampai disenderkan ke dinding gerbang itu. Aku memandanginya


begitu banyak orang yang hanya lewat begitu saja seolah tak memperdulikan ibu


itu. Padahal ibu itu sangat jelas di depan mata dan mungkin banyak dari mereka


yang menunjukan gelagat memang tidak ingin melihatnya. Mungkin merasa jijik


melihat Si Ibu itu. Tetapi aku yang melihat dari sini merasa jijik kepada


orang-orang itu. Bagaimana tidak bahkan setelah ibadah pun banyak orang yang


masih angkuh. aku bergegas menemui Ibu itu menanyakan keadaannya dan melakukan


apapun yang bisa aku perbuat untuk membantunya. Tentu tidak hanya dengan doa


semoga ibu baik-baik saja dan sehat selalu. Tentu tidak.

__ADS_1


Di


jalan menuju rumah yang sudah petang. Lampu-lampu jalan yang terang ini sangat


membantu menuntunku menuju rumah tetapi juga mungkin menghabiskan banyak uang


hanya untuk membayar tagihan listriknya. Juga jalan mulus ini sangat membantu


roda-roda sepedaku untuk berjalan dengan baik meskipun juga harus memakan


banyak biaya untuk membangunnya, mengaspalnya dan bahkan merawatnya ketika ada


yang berlubang. Begitu banyak uang yang digelontorkan untuk memenuhi fasilitas


orang-orang yang memiliki moda transportasi. Sepeda salah satunya. Sedangkan di


sisi lain juga ada seorang Ibu tua yang dengan terpaksa harus meminta-minta


hanya demi memenuhi makannya untuk hari ini. Ketika banyak orang yang meminta


kepada Tuhan di dalam tempat ibadah Ibu itu justru sebaliknya. Mungkin ia sudah


pasrah dan lelah.


Kebanyakan


orang pergi beribadah dengan kepercayaan bahwa ketika ia menjalankan semua


ritual-ritual keagaamnnya dengan taat maka semua keinginannya di dunia dan


bahkan di akhirat kelak yakni masuk surga akan segera terpenuhi semuanya. Hal


ini menandakan bahwa ibadah tak lebih hanya pemuas ego kita belaka. Sedangkan


di luar sana begitu banyak orang-orang yang membutuhkan saluran bantuan dari


kita. Justru kita mengabaikannya dan lagi-lagi hanya mementingkan ego. Nafsu


dan keinginan material semata. Fenomena demikian menimbulkan penghakiman dan


klaim yang mengatas namakan agama yang tak mendasar. Ketika sudah merasa paling


taat menjalankan ritual-ritual keagamaan. Kebanyakan dari kita juga mengklaim


dekat dengan Tuhan lebih dari siapa pun. Yang kemudian membuat kita semakin ego


dan mulai menyalahkan kelompok-kelompok lain dengan kekufuran karena menganggap


dirinya yang paling taat dan benar. Tak heran ketika Ibu itu sedang


meminta-minta bahkan ketika yang diminta baru saja selesai beribadah pun tak


ada yang menghiraukan dan buang muka begitu saja. Bukan berniatan untuk


membantunya, yang ada mungkin malah menasehati Si Ibu dengan fatwa dan dalil


bahwa meminta-minta itu haram dan tidak boleh oleh hukum agama lalu


menakut-nakuti dengan kekufuran dan neraka. Padahal yang dibutuhkan Si Ibu


bukan itu. Yang ia butuhkan ialah saluran bantuan.


Dalam


perjalanan pulang ini. Kembali dalam benakku memikirkan tentang agamaku


sendiri. Apakah benar agamaku mengajarkan hal yang keebanyakan orang lakukan.


Beribadah dengan sangat taat lantas mengabaikan masalah-masalah sosial.

__ADS_1


Kemiskinan misalkan.


__ADS_2