Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Anak Tiri-Timor


__ADS_3

Kata seseorang jika anda


mengalami kebuntuan dalam menulis. Cobalah untuk menuliskan apa saja, entah


apapun itu tuliskan saja. Jangan berpikir bagaimana nanti juga ini itu.


Tuliskan saja. Menulis bukan ajang untuk mennunjukan kebenaran mana yang paling


suci. Katanya, menulis ibarat membuka keran air. Dengan menulis artinya keran


air sedang anda buka. Lalu, air akan mengalir deras sesaat ketika anda memulai untuk


menulis. Jadi menulislah maka air inspirasi akan mengalir deras di atas  kertas anda. Bagaimana anda bisa menulis


sesuatu hal jika kerannya saja masih tertutup dan enggan untuk anda buka.


Maka  ambil kertasmu, buka laptopmu dan mulailah


untuk menulis. Apa saja. Semua yang ada di dalam dirimu tuliskan saja. Anda


pasti memiliki sesuatu yang layak untuk dibagikan. Berbagila dengan menulis.


Mulai menulis sekarang juga dan aliran inspirasi akan membanjiri kertas kerja


anda. Hal yang semacam itu juga sebetulnya seperti apa yang  sa lakukan malam ini. Ini malam punya serasa


dingin dan bisu, malam yang mati dengan kesepian pikiran. Sa  merasa tak punya sedikit pikiran-pikiran


untuk dibagikan. Maka dari itu sa mencoba menuliskan saja apa yang sa rasakan.


Sa tak mampu untuk memikirkan ingin menulis apa.


Ini punya hari begitu sa


merasakan susah. Tubuh sa serasa membawa beban ribuan kilo. Sa merasa berat


bahkan ketika sa berdiripun sa merasakan tekanan demi tekanan menimpa kepala.


Sa memikirkan apa yang seharusnya tidak sa pikirkan. Barangkali sa berpendapat


sesuatu justru seringkali sa sendiri yang akan menggagalkan pendapat itu. Sa


merasa pusing dengan berbagai macam pikiran yang jika sa pikir ulang juga tidak


sebegitu penting.


Sa berpikir kenapa


saudara-saudara sa di Papua suka sekali untuk memberontak dan sangat


mengidamkan untuk membuat negara sendiri. Sa berpikir apakah saudara sa disana


tidak cinta negara ini, negara republik indonesia ini. Sa berpikir apakah


setelah keluar saudara sa bisa lebih baik nasibnya. Sa berpikir juga tentang


nasionalisme yang dipunya negara kesatuan ini. Sa menjadi bingung dengan


pertanyaan juga mengenai terorisme yang hendak disematkan kepada


saudara-saudara sa yang memberontak di papua. Sa juga belum mayakini


pemberontakan itu dilakukan  murni oleh

__ADS_1


masyarakat sana. Boleh jadi ada pihak-pihak yang sa tidak tahu siapa juga ikut


andil salam pergolakan ini. Di dunia internasional dalam konverensi-konverensi


sa menduga pembicaraan tentang saudara-saudara sa di papua menjadi diskusi dan


perdebatan yang menarik. Papua apakah bagian dari indonesia? bukan. Justru indonesia


bagian dari papua sa kira. Saudara-sauadara sa sudah ada di pulau cendrawasi


itu jauh sebelum adanya Indonesia. bukan papua saja sa kira tetapi juga semua


daerah. Daerah-daerah di Indonesia ini sudah jauh ada sebelum Indoneisa.


Sungguh sa yakin indonesia hanya bagian dari daerah-daerah itu. Indonesia


bagian dari Maluku, Indonesia Bagian dari Bali, Indonesia Bagian dari Nusa


Tenggara, Indonesia Bagian dari Jogja, Indonesia Bagian dari Semarang, Indonesia


Bagian dari Aceh. Kerajaan Tanah Hitu sudah ada sebelum Indonesia. sa yakin


Indonesia sekarang juga masih meraba-raba jalan hidupnya yang masih muda.


Kembali lagi sa


memikirkan saudara-saudara sa yang ada di papua sana. Indonesia bagian dari


Papua. Indonesia juga bagian dari diri sa. Kenapa Indonesia memaksakan agar


Papua terus bersamanya. Tetapi tunggu dulu. Kalau dalam tradisi keluarga sa,


jika ada anak yang paling dimanjakan kelak masa depannya akan yang paling suram


ia suka, ia juga sering diajak jalan-jalan ketimbang sa dan kakak-kakak sa yang


lain. Adik sa yang terakhir ini begitu manja jadinya. Tetapi sa tidak kasihan


dengan masa depan adik sa yang suram Tetapi sa justru prihatin dengan Jawa. Sa


melihat Jawa seperti adik sa yang dimanja. Dimanja infrastruktur, dimanja


harga-harga murah ketimbang kakak-kakak sa yang lain. Sa kasihan jangan-jangan


nasib Jawa sama dengan masa depan adik sa yang suram karena sangat begitu


dimanja oleh mama dan papa sa. Hanya saja sa takut jika hal itu benar nyata dan


apa jadinya Indonesia tanpa Jawa, sa hanya meneruskan kata penguasa.


Kakak-kakak sa yang


bekerja keras dan selalu dianggap menentang oleh mama sa itulah yang paling


kaya sebetulnya. Tetapi lagi-lagi mama sa begitu memanjakan adik sa. Walaupun


kakak sa begitu giat bekerja dan ia juga sangat kaya tetapi kakak sa masih


hidup sengsara dan bahkan tak layak dikatakan hidup. Kakak sa sering kelaparan,


terjangkit penyakit mematikan karena mama sa yang begitu memrioritaskan adik


sa. Kata mama sa, adikmu harus dihidupi dengan kenyamanan, engakau sebagai

__ADS_1


kakak harus berrtanggung jawab dan membatu mama. Tak jarang kakak sa memberikan


semua kekayaannya kepada adik sa saat itu ketika adik sa belum sedewasa ini


juga mama yang belum hidup di dalam peti mati. Ketika itu kakak sa pekerja


keras tetapi sangat miskin karena uang gaji dan kekayaannya dipaksa mama untuk


diberikan kepada adik sa semua. Walaupun mama memaksa tetapi kakak sa juga


tidak menyadari jika itu memaksa. Kakak sa menganggapnya itu berbakti kepada


mama, kakak sa menganggap semua itu kebaikan dan kewajiban yanng layak untuk


dilakukan. Tetapi terkadang kakak sa juga memberontak dan tak mau menuruti apa


yang mama sa katakan. Ketika itu kakak-kakak sa serempak tidak ingin


memberikan  pendapatan dan kepunyaan


kekayaannya untuk adik sa yang sangat dimaja. Ketika itu mama snagat marah dan


begitu kesal kepada kakak-kakak sa. Mereka dipukul, ditendang bahkan ditodong


pistol. Kakak-kakak sa diperlakukan seperti perampok, seperti ******* dan


penghianat keluarga. Kakak sa tak mampu melakukan upaya apa-apa selain pasrah.


Kakak sa bertekuk lutut dihadapan mama dan kembali memberikan kekayaannya untuk


adik sa. Salah satu kakak sa ada yang wajahnya berdarah-darah, kakinya sobek


bahkan ada yang giginya hilang beberapa karena pukulan mama. Barangkali pukulan


itu adalah pukulan cinta mama kepada kakak. Sa juga tidak tahu tetapi adik yang


sangat manja juga sangat pele sa rasa. Adik sa karena dimanja infrastruktur,


kecanggihan, kenyamanan begitu bodoh untuk mengurus harta yang kakak sa


berikan. Adik sa berfoya-foya dengan harta itu. Tak jarang papi juga mengambil


sebagian untuk berjudi juga menyewa PSK dibelakang gang pasar. Semua harta yang


kakak-kakak sa kumpulkan menjadi lenyap dalam beberapa malam saja. Semuanya


dibuat foya-foya papa dan adik sa. Belum lagi papa sa yang suka berjudi


terkadang kalah dan berhutang sana sini dengan jaminan kakak-kakak sa, harta


benda yang kakak sa kumpulan menjadi jaminan hutang papa sa. Tetapi Kakak sa


masih belum sadar. Bukan, benar-benar tidak sadar tetapi takut dengan pukulan


yang mama sa berikan. Belum lagi mama sa juga akan melepaskan anjing penjaga


rumah untuk menyiksa kakak-kakak sa.


Sa sekarang ada di luar


angkasa. Melihat semua kekejaman yang mama sa berikan kepada kakak-kakak sa.


Dan sa ulangi kata-kata sa tadi bahwa sa lebih prihatin dengan Jawa.

__ADS_1


__ADS_2