Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Senandung Waktu


__ADS_3

Detik-detik puisi merdu


berirama seperti cinta yang dulu telah ada namun sirna. Oleh api-api yang


cemuburu dengan air yang senantiasa memberika kesejukan daripada amarah yang


membara. Suara tetesan air silih berganti menggantikan waktu yang kelam dalam


lamunan panjang seorang gadis yang terus memuja matahari. tidurlah cinta.


Bersama malam dikau terus mendapatkan hujaman kesepian juga rindu yang tak


kunjung dipertemukan. Tutup matamu sayang, sesungguhnya malam ini tak lebih


dari sakit yang dalam. Jangan biarkan matamu engkau manja dengan kabar-kabar


virtual lalu melenyapkan manisnya pertemuan. Biarkan cinta yang dalam terus


mencium sekujur tubuhmu hingga dikau sadar bahwa semuanya hanya singgah dan tak


lama akan pergi meninggalkan bekas kecupan manis darinya. Nyamuk-nyamuk nakal


yang hinggap di daun hati. Tempat cerobong hati mengungkapkan seisi jiwanya,


dengan kata yang lupa untuk diucapkan. Dengan laku yang hanya menjadi gagasan.


Dengan suara yang menyangkut ditenggorokan. Semua belum dan selamanya hanya


akan menjadi mungkin. Juga dikau yang hanya mungkin mencinatinya dalam pikiran


juga khayalan-khayalan.


Tidurlah gadis pemuja


matahari. waktu ini adalah malammu. Pujaanmu belum datang dan masih dalam


perjalanan, jangan menunggunya. Mungkin saja ia masih terjebak dalam kemacetan


hubungan atau mungkin sekali juga dengan keruwetan jalinan. Oh gadisku, belum


cukupkah hamba mengatakan bahwa pujaanmu belum datang. mungkin ia masih


menyangkut dibeberapa pertemuan. Sabarlah. Waktu ini ialah malamu. Nikmati sepi


dengan detik-detik puisi rindu. Sabarlah, hamba tahu ini menyakitkan tetapi apa


yang lebih sakit daripada harapan. Hanya karena matahari senantiasa datang


diwaktu pagi belum menjanjikan bahwa ia juga akan datang diesok hari. Sangat


mungkin ia akan meninggalkanmu. Sangat mungkin bahwa ia akan mencari gadisnya


lagi. Dan sangat mungkin untuk dia meninggalkanmu. Tetapi gadisku jangan lekas


berputus asa, dikau harus yakin bahwa matahari akan datang menemuimu dipagi


ini. Tetapi gadisku, hamba tidak dapat memastikan ia datang sendiri atau dengan


gadis barunya. hamba juga tidak yakin bahwa matahari juga akan selalu datang


menemuimu.


Di tengah-tengah


kerinduan banyak keresahan-keresahan juga harapan. Di tengah-tengah cinta yang


terbuai dalam-dalam. Beberapa kecupan mungkin mewajarkan. Tetapi bukankah bodoh


jika selalu mengharapkan masa depan. Matahari selalu bersinar di kala pagi


tetapi tidak ada jaminanan pasti bahwa ia akan datang lagi di esok hari. Ia

__ADS_1


bisa mati, cintanya. Ia bisa lupa, gadisnya. Ia bisa lelah, dengan sikapnya.


Bulan masih menunggu


bintang-bintang untuk menemaninya malam ini. Bulan datang terlalu awal. Entah


karena ia ingin menyaksikan matahari meninggallkan gadisnya atau bulan memang


mengharapkan kepergiannya. Bulan, pingpong raksasa yang bergantung di tepi


langit yang menawan. Corak dan ukiran-ukiran klasik tertuliskan dalam sisi-sisi


permukaan bulan. Bulan memberikan cahaya  kepada semesta juga kepada gadisku. Walau redup, bulan tetap setia


menemani gadisku untuk jalan kemana yang ia mau. Bulan berbinar-binar


memancarkan cahaya diwaktu malam. Gadisku, ini adalah malamu. Nikmati malamu


dengan bulan yang selalu ada untuk dirimu. Gadisku, bisakah dikau tidak terlalu


memuja matahari dan sedikit menyambut bulan di malam ini. Tidakkah engkau


melihat bulan senatiasa ada dikala malam sepimu itu, malam rinndumu bukankah


selalu ditemani bulan yag inndah. Lihatlah Walau tak sebiru siang,  langit yang berbinar-binar itu. langit malam


menyambutmu dengan kesunyian. Meskipun malam tak semerdu siang ketika


burung-burung menyanyikan lagu keindahan. Malam menyuguhkan hening dan


kesunyian, Tak sukakah dikau dengan sunyi. Bunyi yang sembunyi. Keramaian yang


matahari suguhkan tidak kah perlu untuk dikau memfilternya dengan sepi. Apakah


dikau mau matahari terus mengajakmu menari dan benrdansa ria hingga dikau lupa


tentang sesuatu yang juga dikau perlukan, yakni merenung. Berpikir dan juga


pipimu. Jangan usap jangan malu. Justru jika dikau terus bergembira, hamba curiga


bahwa dikau mengalami kesedihan yanng medalam, sakit yang terpendam. Saat bait


air mata tak pernah menetes dikelpoak matamu, bukankah dikau sedang memendam


luka dengan tawa. Bersedihlah kekasihku. Dengan bersedih dikau akan tahu dimana


titik lemahmu. Dikau akan tahu bahwa dikau juga memiliki masalah yang mungkin


dengan sengaja atau tidak dikau pendam dalam-dalam. Menangislah dengan segera


pujaanku. Malam ini sunyi dan dikau bisa menikmatinya. Bersama bulan, dikau


akan merasakan bahagia sesungguhnya.


Pagi pun tiba. Setelah


tangis panjang dari gadisku untuk pertama  kalinya. Bulan telah berhasil mengeluarkan racun-racun pengekangan,


racun kegembiraan hologram, racun kesenangan-kesenangan semu dan bius cinta


melalui kehangatan jalinan rasa. Matahari datang dipagi ini, ia membawa bunga


yang mekar di taman. Matahari membawa bersamanya hembusan udara segar,


embun-embun air mata malam tadi sedikit demi sedikit menguap meninggalkan


gadisku.


Matahari kembali datang.


burung-burung kembali bernyanyi merdu. Membawakan lagu-lagu bahagia juga

__ADS_1


tentang kepuasan rindu. Cinta yang menggelorakan seisi hati gadisku membawanya


untuk menari bersama bunga-bunga yang mulai bermekar dipagi itu.


Ranting-ranting menyambut meriah, rimba mengepakan dedauanannya. Pojon-pohon


pun juga mengambil bagian. Gadisku benar-benar lupa tentang malam yang


mengajarinya menangis. Ia siang ini benar-benar kembali ceria. Hamba takut


bahwa gadisku akan kembali terlena, semoga tidak.


Keceriaan semu kembali matahari


tampilkan, entah. Seolah hal itu menjadi wajar dan gadisku tak pernah


menyadarinya. Gadisku seperti hidup di bawah ilusi cahaya yang benar-benar menyilaukan.


Namun gadisku tetap percaya. Entah apakahh ia dibutakan cinta. Tapi sepertinya


ia menikmati bahagia dengan air mata.


Di bawah panas membara,


gadisku terus berbahagia. Menari dengan irama kicauan burung angkasa. Langit


biru juga awan putih raksasa angsa, gadisku tak menghiraukan ganasnya cahaya


sian. Keringat bercucuran di pelipis dan seluruh wajahnya. Menetets air itu


sampai membentuk megah danau kehidupan. Oh gadisku, dari jauh hamba tak bisa


menerjemahkan apakah itu keringat atau deruh air mata. Berhentilah menari,


berhentilah tertawa dengan air mata. Sudah, cukup oleh siang engkau berbahagia


dengan tersiksa. Matahari memberikanmu banyak kehidupan tetapi juga sama


banyaknya untuk kematian, kerusakan jiwa dan cinta yang menyiksa. Adakah yang


lebih sengsara darimu oh gadisku. Pergilah segera...


Dipuncak gelisah,


gadisku menikmati senja. Dengan senyum manis gadisku, Ia menyapa senja. mata


berbinar-binar dan raut wajah lelah selepas siang memaksanya untuk berdansa.


Gadisku menyaksikan senja, rona merah raksasa di ufuk cakrawala. Di detik-detik


terakhir keindahan matahari, kerinduan kembali ditabung gadisku untuk


mengantarkan kepergian malamnya. Sungguh hamba mengakui keindahan senja, tetapi


bukankah dia indah karena datangnya yang memang sementara. Adakah keindahan


yang selalu bertahan lama. Dan dikau harus bersyukur gadisku, kepada senja


dikau dapat emnabung kembali rindu dan merasakan kembali rasa sedih. Dan tawa


siangmu kembali meratapi kesedihannya dikala senja. Bersiaplah untuk sunyi yang


dihadirkan bulan malam ini. Gadisku, jangan bertahan dengan tawa bualan, tawa


yang tidak menghadirkan kebahagaiaan, tawa yang hanya memerintahmu untuk menari


di bawah terik siang. Gadisku, engkau juga perlu untuk menangis dan


bersedih....


Mengharapkan akan ada

__ADS_1


waktu untuk bahagia, bagaimana jika bahagialah sekarang juga.


__ADS_2