
Detik-detik puisi merdu
berirama seperti cinta yang dulu telah ada namun sirna. Oleh api-api yang
cemuburu dengan air yang senantiasa memberika kesejukan daripada amarah yang
membara. Suara tetesan air silih berganti menggantikan waktu yang kelam dalam
lamunan panjang seorang gadis yang terus memuja matahari. tidurlah cinta.
Bersama malam dikau terus mendapatkan hujaman kesepian juga rindu yang tak
kunjung dipertemukan. Tutup matamu sayang, sesungguhnya malam ini tak lebih
dari sakit yang dalam. Jangan biarkan matamu engkau manja dengan kabar-kabar
virtual lalu melenyapkan manisnya pertemuan. Biarkan cinta yang dalam terus
mencium sekujur tubuhmu hingga dikau sadar bahwa semuanya hanya singgah dan tak
lama akan pergi meninggalkan bekas kecupan manis darinya. Nyamuk-nyamuk nakal
yang hinggap di daun hati. Tempat cerobong hati mengungkapkan seisi jiwanya,
dengan kata yang lupa untuk diucapkan. Dengan laku yang hanya menjadi gagasan.
Dengan suara yang menyangkut ditenggorokan. Semua belum dan selamanya hanya
akan menjadi mungkin. Juga dikau yang hanya mungkin mencinatinya dalam pikiran
juga khayalan-khayalan.
Tidurlah gadis pemuja
matahari. waktu ini adalah malammu. Pujaanmu belum datang dan masih dalam
perjalanan, jangan menunggunya. Mungkin saja ia masih terjebak dalam kemacetan
hubungan atau mungkin sekali juga dengan keruwetan jalinan. Oh gadisku, belum
cukupkah hamba mengatakan bahwa pujaanmu belum datang. mungkin ia masih
menyangkut dibeberapa pertemuan. Sabarlah. Waktu ini ialah malamu. Nikmati sepi
dengan detik-detik puisi rindu. Sabarlah, hamba tahu ini menyakitkan tetapi apa
yang lebih sakit daripada harapan. Hanya karena matahari senantiasa datang
diwaktu pagi belum menjanjikan bahwa ia juga akan datang diesok hari. Sangat
mungkin ia akan meninggalkanmu. Sangat mungkin bahwa ia akan mencari gadisnya
lagi. Dan sangat mungkin untuk dia meninggalkanmu. Tetapi gadisku jangan lekas
berputus asa, dikau harus yakin bahwa matahari akan datang menemuimu dipagi
ini. Tetapi gadisku, hamba tidak dapat memastikan ia datang sendiri atau dengan
gadis barunya. hamba juga tidak yakin bahwa matahari juga akan selalu datang
menemuimu.
Di tengah-tengah
kerinduan banyak keresahan-keresahan juga harapan. Di tengah-tengah cinta yang
terbuai dalam-dalam. Beberapa kecupan mungkin mewajarkan. Tetapi bukankah bodoh
jika selalu mengharapkan masa depan. Matahari selalu bersinar di kala pagi
tetapi tidak ada jaminanan pasti bahwa ia akan datang lagi di esok hari. Ia
__ADS_1
bisa mati, cintanya. Ia bisa lupa, gadisnya. Ia bisa lelah, dengan sikapnya.
Bulan masih menunggu
bintang-bintang untuk menemaninya malam ini. Bulan datang terlalu awal. Entah
karena ia ingin menyaksikan matahari meninggallkan gadisnya atau bulan memang
mengharapkan kepergiannya. Bulan, pingpong raksasa yang bergantung di tepi
langit yang menawan. Corak dan ukiran-ukiran klasik tertuliskan dalam sisi-sisi
permukaan bulan. Bulan memberikan cahaya kepada semesta juga kepada gadisku. Walau redup, bulan tetap setia
menemani gadisku untuk jalan kemana yang ia mau. Bulan berbinar-binar
memancarkan cahaya diwaktu malam. Gadisku, ini adalah malamu. Nikmati malamu
dengan bulan yang selalu ada untuk dirimu. Gadisku, bisakah dikau tidak terlalu
memuja matahari dan sedikit menyambut bulan di malam ini. Tidakkah engkau
melihat bulan senatiasa ada dikala malam sepimu itu, malam rinndumu bukankah
selalu ditemani bulan yag inndah. Lihatlah Walau tak sebiru siang, langit yang berbinar-binar itu. langit malam
menyambutmu dengan kesunyian. Meskipun malam tak semerdu siang ketika
burung-burung menyanyikan lagu keindahan. Malam menyuguhkan hening dan
kesunyian, Tak sukakah dikau dengan sunyi. Bunyi yang sembunyi. Keramaian yang
matahari suguhkan tidak kah perlu untuk dikau memfilternya dengan sepi. Apakah
dikau mau matahari terus mengajakmu menari dan benrdansa ria hingga dikau lupa
tentang sesuatu yang juga dikau perlukan, yakni merenung. Berpikir dan juga
pipimu. Jangan usap jangan malu. Justru jika dikau terus bergembira, hamba curiga
bahwa dikau mengalami kesedihan yanng medalam, sakit yang terpendam. Saat bait
air mata tak pernah menetes dikelpoak matamu, bukankah dikau sedang memendam
luka dengan tawa. Bersedihlah kekasihku. Dengan bersedih dikau akan tahu dimana
titik lemahmu. Dikau akan tahu bahwa dikau juga memiliki masalah yang mungkin
dengan sengaja atau tidak dikau pendam dalam-dalam. Menangislah dengan segera
pujaanku. Malam ini sunyi dan dikau bisa menikmatinya. Bersama bulan, dikau
akan merasakan bahagia sesungguhnya.
Pagi pun tiba. Setelah
tangis panjang dari gadisku untuk pertama kalinya. Bulan telah berhasil mengeluarkan racun-racun pengekangan,
racun kegembiraan hologram, racun kesenangan-kesenangan semu dan bius cinta
melalui kehangatan jalinan rasa. Matahari datang dipagi ini, ia membawa bunga
yang mekar di taman. Matahari membawa bersamanya hembusan udara segar,
embun-embun air mata malam tadi sedikit demi sedikit menguap meninggalkan
gadisku.
Matahari kembali datang.
burung-burung kembali bernyanyi merdu. Membawakan lagu-lagu bahagia juga
__ADS_1
tentang kepuasan rindu. Cinta yang menggelorakan seisi hati gadisku membawanya
untuk menari bersama bunga-bunga yang mulai bermekar dipagi itu.
Ranting-ranting menyambut meriah, rimba mengepakan dedauanannya. Pojon-pohon
pun juga mengambil bagian. Gadisku benar-benar lupa tentang malam yang
mengajarinya menangis. Ia siang ini benar-benar kembali ceria. Hamba takut
bahwa gadisku akan kembali terlena, semoga tidak.
Keceriaan semu kembali matahari
tampilkan, entah. Seolah hal itu menjadi wajar dan gadisku tak pernah
menyadarinya. Gadisku seperti hidup di bawah ilusi cahaya yang benar-benar menyilaukan.
Namun gadisku tetap percaya. Entah apakahh ia dibutakan cinta. Tapi sepertinya
ia menikmati bahagia dengan air mata.
Di bawah panas membara,
gadisku terus berbahagia. Menari dengan irama kicauan burung angkasa. Langit
biru juga awan putih raksasa angsa, gadisku tak menghiraukan ganasnya cahaya
sian. Keringat bercucuran di pelipis dan seluruh wajahnya. Menetets air itu
sampai membentuk megah danau kehidupan. Oh gadisku, dari jauh hamba tak bisa
menerjemahkan apakah itu keringat atau deruh air mata. Berhentilah menari,
berhentilah tertawa dengan air mata. Sudah, cukup oleh siang engkau berbahagia
dengan tersiksa. Matahari memberikanmu banyak kehidupan tetapi juga sama
banyaknya untuk kematian, kerusakan jiwa dan cinta yang menyiksa. Adakah yang
lebih sengsara darimu oh gadisku. Pergilah segera...
Dipuncak gelisah,
gadisku menikmati senja. Dengan senyum manis gadisku, Ia menyapa senja. mata
berbinar-binar dan raut wajah lelah selepas siang memaksanya untuk berdansa.
Gadisku menyaksikan senja, rona merah raksasa di ufuk cakrawala. Di detik-detik
terakhir keindahan matahari, kerinduan kembali ditabung gadisku untuk
mengantarkan kepergian malamnya. Sungguh hamba mengakui keindahan senja, tetapi
bukankah dia indah karena datangnya yang memang sementara. Adakah keindahan
yang selalu bertahan lama. Dan dikau harus bersyukur gadisku, kepada senja
dikau dapat emnabung kembali rindu dan merasakan kembali rasa sedih. Dan tawa
siangmu kembali meratapi kesedihannya dikala senja. Bersiaplah untuk sunyi yang
dihadirkan bulan malam ini. Gadisku, jangan bertahan dengan tawa bualan, tawa
yang tidak menghadirkan kebahagaiaan, tawa yang hanya memerintahmu untuk menari
di bawah terik siang. Gadisku, engkau juga perlu untuk menangis dan
bersedih....
Mengharapkan akan ada
__ADS_1
waktu untuk bahagia, bagaimana jika bahagialah sekarang juga.