Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Memaknai Arti


__ADS_3

Diperputaran senja.


Rembulan dan bintang sudah siap untuk menggantikannya. Di ujung pertigaan sore,


matahari yang sayup menyapa kepada semesta yang ia datangi hari ini. di sana


ada manusia-manusia yang berpikir dan tidak. Berpikir tentang alam, tentang


tumbuhan, hewan, berpikir tentang sesama manusia sampai Tuhan. Ada juga manusia


yang pasrah dengan kehidupan mengikuti arus perjalanan. Melewati jalan yang


ramai. Berhenti jikapun mereka juga berhenti dan lanjut berjalan jika


orang-orang disekitar juga memulai perjalanan. Manusia satu ini begitu taat


dengan rambu-rambu lalu lintas. Jalan memutarpun tidak apa asalkan tidak


melawan arus yang telah ditentukan, asalkan tidak melanggar rambu-rambu,


manusia ini sudah akan sangat merasa puas dengan kehidupannya. Mereka tidak


pernah berpikir kenapa ada rambu-rambu. Kenapa harus kita taati rambu-rambu


itu. Kenapa dilarang berbalik untuk melawan arah. Kenapa tidak boleh ini itu.


Apakah kita dilarang untuk tidak mengikuti jalan ini. kenapa jalan yang luas


ini begitu terasa sempit. Kiri-kanan berdesakan dikelilingi banyak orang-orang


hingga tiada ada jalan selain mengikuti mereka berjalan atau berhenti. Ketika


yang lain berhenti dan kita masih bersikeras jalan, apa daya orang yang ada didepanku


pasti akan ku gilas. Jika semuanya berjalan dan aku bersikeras berhenti apa


jadinya aku pasti akan tetap terdorong maju.


Malam yang masih muda


adalah hal yang mengasyikan bagi Sela. Seorang gadis 14 tahun yang suka dengan


rembulan yang masih segar diujung Timur. Di atas rumahnya kala senja ketika


bulan datang dari Timur masih berwarna merah ia saksikan seksama. Sela


menikmati menit demi menit rembulan merah sebelum ia berubah menjadi putih dan


melesat menuju barat. Bersama Anggun ia menyaksikan rembulan merah malam ini.


Anggun adalah kawan sebangkunya di sekolah. Begitu lekat mereka berdua bagaikan


bulan dan bintang. Jika tidak mendung bulan dan bintang selalu menerangi


kesunyian malam. Bulan dan bintang mereka selalu menerangi bait-bait kegelapan


malam. Sela dan Anggun pun sama. Mereka yang tak perna berpisah. Tiadanya


Anggun pun juga artinya adalah ketiadaan Sela. Anggun sakit Maka Sela akan


menemaninya sepanjang waktu. Bulan tiada maka bintang pun juga tiada hadir.


Malam ini rembulan merah telah datang. Sela dan Anggun menikmatinya dengan


khidmat, mereka menyerap energi yang rembulan pancarkan. Untung sekali bahwa


Anggun dan Sela termasuk golongan manusia pertama yakni golongan


manusia-manusia yang berpikir.


Anggun bertanya kepada Sela


Indah sekali bulan hari ini. siapakah gerangan yang menciptakannya.


Sela sebagai seorang


agamawan yang taat menjawab bahwa segala sesuatu yang ada di semesta ini adalah


ciptaan Tuhan. Maka rembulan malam ini yang begitu indah juga adalah ciptaan


Tuhan. Sela menambahkan bahwa tiada hal yang luput dari Tuhan.


            Begitu ya.  Jadi


siapakah Tuhan itu Sel


            Aku tidak tahu, tetapi Tuhan itu tidak bisa kita pikirkan


gun. Tidak ada logika yang mampu menjelaskannya. Sedangkan Hati nurani adalah


jalan menujunya bukan usaha untuk menjelaskannya


            Bukankah Tuhan diciptakan oleh Agama yah...?

__ADS_1


            Tuhan itu tidak diciptakan, tidak beranak pun juga Tidak


diperanakan Sel. Jangan ngawur kamu. Mana mungkin Tuhan diciptakan yang ada


Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu.


            Tetapi sebelum adanya agama kita tidak menyembah Tuhan


bukan.


            Kamu  salah Gun.


Kita tetap menyembah Tuhan tetapi mungkin dengan penyebutan yang berbeda dan


dengan tata cara yang berbeda.


            Ooohh... artinya Tuhan itu Jamak?


            Tidak gun. Tuhan itu tidak berjumlah. Jamak itu adalah


penyebutan kita untuk sebuah jumlah atau bilangan. Tuhan itu juga tidak satu.


Jika kita menyebut satu itu sudah bukan Tuhan.


            Eh, gimana-gimana?


            Tuhan itu tidak satu. Karena ketika kita menyebut satu


numerik maka masih dapat dibagi ataupun ditambah bukan. Tuhan itu Tunggal, Esa


bukan satu bukan jamak bukan numerik bukan jumlah. Tunggal Gun


            Kalo begitu semua Agama benar dong. Eh eh tunggu,


menurutmu agama itu apa...?


            Agama itu apa ya. Kamu kok membingungkan gini sih gun.


Lebih baik melihat bulan itu saja menyejukan hati dan mata. Kalau membahas


Agama kan bisa di masjid-masjid, Gereja atau tempat pengajian, pesantren saja.


            Justru itu Sel. Aku ingin bertanya tentang agama


menurutmu. Jika agama hanya dibahas di tempat-tempat ibadah saja itu menurutku


tidak. Agama itu yah melingkupi semua dinamika kehidupan. Kamu memandang


rembulan merah itu juga kejadian agama. kamu menikmati keindahan rembulan merah


rembulan itu pun juga kejadian agama loh....


            Tidak gun. Kamu salah. Agama yah agama. kalo ini sih aku


menyukainya saja bukan berarti aku menyembah bulan.


            Ah Sel. Apakah agama hanya diperuntukan untuk meyembah


Tuhan.


            Loh lalu untuk apa lagi.


            Aduhh Sela kasihan sekali dengan Tuhanmu yang hanya kamu kurung


di dalam tempat-tempat ibadah saja. Kamu hanya memandanga agama untuk ibadah-ibadah


formal saja bukan.


            Eh tidak begitu maksutku. Tetapi yah kalau kejadian


seperti ini itu biasa saja tidak ada bau-bau agamanya.


            Jadi agama itu apa sel?


            Agama itu keyakinan kita untuk menuju Tuhan. Kira-kira


seperti itu. Yah iya sih dengan ibadah. Hm agama untuk ibadah dong ya kan....


            Artinya Agama itu alat begitu? Alat yang mengantarkan


kita kepada Tuhan. Intinya gitu kan


            Iya. Tetapi agama itu kan juga  sebagai pedoman hidup di dunia dan agar


selamat di akhirat. Oh iya intinya juga agar kita dapat menuju Tuhan. Ah kamu


jangan bahas-bahas Tuhan, sudahlah.


            Bukan Sel. Kita membicarakan agama bukan Tuhan Yang Maha


Esa.


            Iya lalu apa gun?

__ADS_1


            Katamu tadi bahwa agama adalah alat menuju Tuhan lalu apa


bedanya semua agama yang bermacam-macam di dunia ini. toh mereka jugakan


sama-sama alat. Sama-sama benarnya juga dong.


            Mungkin iya juga semua agama sama-sama alat menuju Tuhan.


            Kalau begitu sesama umat beragama seharusnya kita tidak


saling membenci bukan.


            Iya kali ini aku benar-benar setuju denganmu.


            Tetapi Sel. Dan apakah kamu juga setuju tidak hanya sesama


umat beragama tetapi juga kepada mereka yang tidak percaya agama pun harus kita


hargai.


            Kalau dia tidak memiliki Agama kan artinya tidak memiliki


alat donng Gun. Yah, mereka itu sesat dan perlu diselamatkan.


Kenapa begitu sel.


Iya kan tadi gun, kalau gak punya agama artinya apa dong? Gak bisa menuju


Tuhan lah Gun. Mungkin mereka ini perlu lah kita kasih ajaran-ajaran agama.


Agama apa?


Kalau aku sih yah menurut agamaku.


Kalau agama yang lain bagaimana


aku kan ga percaya dengan agama yang lain. Di dalam agamaku ada kata-kata


bahwa cukup bagimu agamamu dan cukup bagiku agamaku.


Artinya setiap agama mengklaim kebenrannya masing-masing. Dan pun juga yang


tidak beragama juga mereka akan disesat-sesatkan karena ketidak percayaannya


dengan agama.


Hah. Maksut kamu gimana. Orang Atheis begitu?


            Eh, bukan Sel. Atheis dan Agnostik Itu Berbeda. Tidak


percaya Tuhan itu Atheis sedangkan Agnostik ia percaya akan adanya Tuhan tetapi


tidak dengan salah satu agama.


Oke aku mengikuti, lanjutkan dulu gun.


Anggun menjelaskan Dunia


ini tidak lebih hanya dikuasai oleh oligarki orang-orang sholeh. Orang beragama


mengklaim kebenarannya dan mengklaim kesesatan orang-orang yang tak percaya


dengan agama. padahal bukankah agama diperuntukan sebagai alat menuju Tuhan?


Lalu apakah jika tidak memiliki alat juga tidak dapat bersatu kembali dengan


diri-Nya. Apakah Tuhan hanya membatasi akses menuju-Nya, yakni akses-akses yang


telah dikuasai oleh oligarki umat sholeh?


....


Mungkin boleh dilanjut


nanti.


Kita akan membicarakan


sejauh mana keikhlasan itu. Bisa dikatakan tidak ikhlas jika kita masih


menginginkan sebuah pengakuan. Iya kan. Tetapi menurut kami bahwa pengakuan


terkicil adalah pengakuan dari diri sendiri. Dan ketika diri sendiri mengakui


bahawa dirinya ikhlas apakah artinya ketika itu dia sendiri sudah mengkhianati


keikhlasan.


Juga tenntang kebebasan.


Sudah pernah kita bahas tetapi bagaimana kebebasan itu. Benat-benar ada kah.


Apakah ketika kita mnecoba merangkai sebuah definisi tentang kebebasan artinya

__ADS_1


kita sendiri sudah membatasi kebebasan yang sebenarnya.


__ADS_2