
Diperputaran senja.
Rembulan dan bintang sudah siap untuk menggantikannya. Di ujung pertigaan sore,
matahari yang sayup menyapa kepada semesta yang ia datangi hari ini. di sana
ada manusia-manusia yang berpikir dan tidak. Berpikir tentang alam, tentang
tumbuhan, hewan, berpikir tentang sesama manusia sampai Tuhan. Ada juga manusia
yang pasrah dengan kehidupan mengikuti arus perjalanan. Melewati jalan yang
ramai. Berhenti jikapun mereka juga berhenti dan lanjut berjalan jika
orang-orang disekitar juga memulai perjalanan. Manusia satu ini begitu taat
dengan rambu-rambu lalu lintas. Jalan memutarpun tidak apa asalkan tidak
melawan arus yang telah ditentukan, asalkan tidak melanggar rambu-rambu,
manusia ini sudah akan sangat merasa puas dengan kehidupannya. Mereka tidak
pernah berpikir kenapa ada rambu-rambu. Kenapa harus kita taati rambu-rambu
itu. Kenapa dilarang berbalik untuk melawan arah. Kenapa tidak boleh ini itu.
Apakah kita dilarang untuk tidak mengikuti jalan ini. kenapa jalan yang luas
ini begitu terasa sempit. Kiri-kanan berdesakan dikelilingi banyak orang-orang
hingga tiada ada jalan selain mengikuti mereka berjalan atau berhenti. Ketika
yang lain berhenti dan kita masih bersikeras jalan, apa daya orang yang ada didepanku
pasti akan ku gilas. Jika semuanya berjalan dan aku bersikeras berhenti apa
jadinya aku pasti akan tetap terdorong maju.
Malam yang masih muda
adalah hal yang mengasyikan bagi Sela. Seorang gadis 14 tahun yang suka dengan
rembulan yang masih segar diujung Timur. Di atas rumahnya kala senja ketika
bulan datang dari Timur masih berwarna merah ia saksikan seksama. Sela
menikmati menit demi menit rembulan merah sebelum ia berubah menjadi putih dan
melesat menuju barat. Bersama Anggun ia menyaksikan rembulan merah malam ini.
Anggun adalah kawan sebangkunya di sekolah. Begitu lekat mereka berdua bagaikan
bulan dan bintang. Jika tidak mendung bulan dan bintang selalu menerangi
kesunyian malam. Bulan dan bintang mereka selalu menerangi bait-bait kegelapan
malam. Sela dan Anggun pun sama. Mereka yang tak perna berpisah. Tiadanya
Anggun pun juga artinya adalah ketiadaan Sela. Anggun sakit Maka Sela akan
menemaninya sepanjang waktu. Bulan tiada maka bintang pun juga tiada hadir.
Malam ini rembulan merah telah datang. Sela dan Anggun menikmatinya dengan
khidmat, mereka menyerap energi yang rembulan pancarkan. Untung sekali bahwa
Anggun dan Sela termasuk golongan manusia pertama yakni golongan
manusia-manusia yang berpikir.
Anggun bertanya kepada Sela
Indah sekali bulan hari ini. siapakah gerangan yang menciptakannya.
Sela sebagai seorang
agamawan yang taat menjawab bahwa segala sesuatu yang ada di semesta ini adalah
ciptaan Tuhan. Maka rembulan malam ini yang begitu indah juga adalah ciptaan
Tuhan. Sela menambahkan bahwa tiada hal yang luput dari Tuhan.
Begitu ya. Jadi
siapakah Tuhan itu Sel
Aku tidak tahu, tetapi Tuhan itu tidak bisa kita pikirkan
gun. Tidak ada logika yang mampu menjelaskannya. Sedangkan Hati nurani adalah
jalan menujunya bukan usaha untuk menjelaskannya
Bukankah Tuhan diciptakan oleh Agama yah...?
__ADS_1
Tuhan itu tidak diciptakan, tidak beranak pun juga Tidak
diperanakan Sel. Jangan ngawur kamu. Mana mungkin Tuhan diciptakan yang ada
Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu.
Tetapi sebelum adanya agama kita tidak menyembah Tuhan
bukan.
Kamu salah Gun.
Kita tetap menyembah Tuhan tetapi mungkin dengan penyebutan yang berbeda dan
dengan tata cara yang berbeda.
Ooohh... artinya Tuhan itu Jamak?
Tidak gun. Tuhan itu tidak berjumlah. Jamak itu adalah
penyebutan kita untuk sebuah jumlah atau bilangan. Tuhan itu juga tidak satu.
Jika kita menyebut satu itu sudah bukan Tuhan.
Eh, gimana-gimana?
Tuhan itu tidak satu. Karena ketika kita menyebut satu
numerik maka masih dapat dibagi ataupun ditambah bukan. Tuhan itu Tunggal, Esa
bukan satu bukan jamak bukan numerik bukan jumlah. Tunggal Gun
Kalo begitu semua Agama benar dong. Eh eh tunggu,
menurutmu agama itu apa...?
Agama itu apa ya. Kamu kok membingungkan gini sih gun.
Lebih baik melihat bulan itu saja menyejukan hati dan mata. Kalau membahas
Agama kan bisa di masjid-masjid, Gereja atau tempat pengajian, pesantren saja.
Justru itu Sel. Aku ingin bertanya tentang agama
menurutmu. Jika agama hanya dibahas di tempat-tempat ibadah saja itu menurutku
tidak. Agama itu yah melingkupi semua dinamika kehidupan. Kamu memandang
rembulan merah itu juga kejadian agama. kamu menikmati keindahan rembulan merah
rembulan itu pun juga kejadian agama loh....
Tidak gun. Kamu salah. Agama yah agama. kalo ini sih aku
menyukainya saja bukan berarti aku menyembah bulan.
Ah Sel. Apakah agama hanya diperuntukan untuk meyembah
Tuhan.
Loh lalu untuk apa lagi.
Aduhh Sela kasihan sekali dengan Tuhanmu yang hanya kamu kurung
di dalam tempat-tempat ibadah saja. Kamu hanya memandanga agama untuk ibadah-ibadah
formal saja bukan.
Eh tidak begitu maksutku. Tetapi yah kalau kejadian
seperti ini itu biasa saja tidak ada bau-bau agamanya.
Jadi agama itu apa sel?
Agama itu keyakinan kita untuk menuju Tuhan. Kira-kira
seperti itu. Yah iya sih dengan ibadah. Hm agama untuk ibadah dong ya kan....
Artinya Agama itu alat begitu? Alat yang mengantarkan
kita kepada Tuhan. Intinya gitu kan
Iya. Tetapi agama itu kan juga sebagai pedoman hidup di dunia dan agar
selamat di akhirat. Oh iya intinya juga agar kita dapat menuju Tuhan. Ah kamu
jangan bahas-bahas Tuhan, sudahlah.
Bukan Sel. Kita membicarakan agama bukan Tuhan Yang Maha
Esa.
Iya lalu apa gun?
__ADS_1
Katamu tadi bahwa agama adalah alat menuju Tuhan lalu apa
bedanya semua agama yang bermacam-macam di dunia ini. toh mereka jugakan
sama-sama alat. Sama-sama benarnya juga dong.
Mungkin iya juga semua agama sama-sama alat menuju Tuhan.
Kalau begitu sesama umat beragama seharusnya kita tidak
saling membenci bukan.
Iya kali ini aku benar-benar setuju denganmu.
Tetapi Sel. Dan apakah kamu juga setuju tidak hanya sesama
umat beragama tetapi juga kepada mereka yang tidak percaya agama pun harus kita
hargai.
Kalau dia tidak memiliki Agama kan artinya tidak memiliki
alat donng Gun. Yah, mereka itu sesat dan perlu diselamatkan.
Kenapa begitu sel.
Iya kan tadi gun, kalau gak punya agama artinya apa dong? Gak bisa menuju
Tuhan lah Gun. Mungkin mereka ini perlu lah kita kasih ajaran-ajaran agama.
Agama apa?
Kalau aku sih yah menurut agamaku.
Kalau agama yang lain bagaimana
aku kan ga percaya dengan agama yang lain. Di dalam agamaku ada kata-kata
bahwa cukup bagimu agamamu dan cukup bagiku agamaku.
Artinya setiap agama mengklaim kebenrannya masing-masing. Dan pun juga yang
tidak beragama juga mereka akan disesat-sesatkan karena ketidak percayaannya
dengan agama.
Hah. Maksut kamu gimana. Orang Atheis begitu?
Eh, bukan Sel. Atheis dan Agnostik Itu Berbeda. Tidak
percaya Tuhan itu Atheis sedangkan Agnostik ia percaya akan adanya Tuhan tetapi
tidak dengan salah satu agama.
Oke aku mengikuti, lanjutkan dulu gun.
Anggun menjelaskan Dunia
ini tidak lebih hanya dikuasai oleh oligarki orang-orang sholeh. Orang beragama
mengklaim kebenarannya dan mengklaim kesesatan orang-orang yang tak percaya
dengan agama. padahal bukankah agama diperuntukan sebagai alat menuju Tuhan?
Lalu apakah jika tidak memiliki alat juga tidak dapat bersatu kembali dengan
diri-Nya. Apakah Tuhan hanya membatasi akses menuju-Nya, yakni akses-akses yang
telah dikuasai oleh oligarki umat sholeh?
....
Mungkin boleh dilanjut
nanti.
Kita akan membicarakan
sejauh mana keikhlasan itu. Bisa dikatakan tidak ikhlas jika kita masih
menginginkan sebuah pengakuan. Iya kan. Tetapi menurut kami bahwa pengakuan
terkicil adalah pengakuan dari diri sendiri. Dan ketika diri sendiri mengakui
bahawa dirinya ikhlas apakah artinya ketika itu dia sendiri sudah mengkhianati
keikhlasan.
Juga tenntang kebebasan.
Sudah pernah kita bahas tetapi bagaimana kebebasan itu. Benat-benar ada kah.
Apakah ketika kita mnecoba merangkai sebuah definisi tentang kebebasan artinya
__ADS_1
kita sendiri sudah membatasi kebebasan yang sebenarnya.