
Tanpa basa-basi lagi Bu Anis mama Dave meminta di antarkan ke rumah Zee. Sebenarnya Dave menolak karena jika mereka mengantar mama nya ke rumah Zee berarti rencana nge-date mereka batal. Tapi karena ancaman mama Dave yang tak ingin melamar Zee untuk nya membuat Dave tak ada pilihan lain, lagian pula Zee masih ingin berdua dengan mama nya membuat Dave semakin tak ada teman.
Di perjalanan ke rumah Bi Ratih, Dave duduk di depan mengendarai mobil nya sedangkan Zee dan mama nya duduk di belakang sambil mengobrol cantik. Dave seperti seorang supir yang sedang mengantar dua nyonya ke mall.
''Ma.. Harusnya Zee duduk di samping Dave, nemenin Dave kan aku nggak ada temen.'' Dave dengan manja merayu mama nya.
''Jadi kamu lebih milih mama yang nggak ada teman? Zee aja lebih seneng duduk dan ngobrol dengan mama ya kan sayang?'' Zee hanya tersenyum menganggukkan kepala nya melihat perdebatan konyol dari ibu dan anak di dekat nya ini.
''Zee awas ya ntar kamu aku hukum.'' Dave berbicara lewat kaca spion yang kebetulan tatapan mereka menyatu.
''Oh iya sayang, kalian tinggal berdua ya?'' Tanya Mama Dave.
''Nggak kok ma, kami di rumah tinggal bertiga aku sama ibu dan Sari.'' Jawab Zee sopan.
''Oh Sari yang kamu ceritain itu ya Dave?'' Mama melirik ke arah anak nya.
''Iya ma, Sari juga udah jadi kekasih Kelvin ma.'' Dave seperti emak-emak komplek.
''Kamu tenang aja Zee, calon suami kamu ini orang nya jujur kok semua pasti di ceritain tapi hanya dengan orang yang dia sayang dan dia percaya. Pasti Dave sering kan cerita ke kamu tentang keluarganya?'' Ucap mama Dave.
''Iya ma, Dave sering cerita ke aku soal mama dan papa. Kata Dave mama sama papa baik banget, sabar ngadepin sikap dan sifat jelek Dave. Dave juga cerita soal mama yang selalu jodohin Dave dengan anak-anak temen mama.'' Zee tersenyum sangat manis.
''Iya sayang, kamu juga ya tolong jagain Dave. Dave itu bukan cowok yang penyabar dia juga egois kamu harus ekstra sabar ya. Nanti kalau Dave macem-macem kamu bilang ke mama ya sayang.'' Bu Anis membelai pucuk kepala Zee dengan sayang.
__ADS_1
Meskipun ini pertemuan yang pertama untuk Bu Anis dengan Zee entah mengapa ada rasa percaya dan nyaman yang di rasakan Bu Anis terhadap Zee. Bu Anis percaya kalau Zee lah yang mampu membuat Dave menjadi lebih baik seperti sekarang.
Semenjak menjadi kekasih Zee, Dave selalu menghubungi Bu Anis dan tanpa malu menceritakan hubungan asmara dengan Zee.
''Iya ma.'' Jawab Zee.
''Kita udah sampai, ayo turun ma, Zee..'' Dave sungguh merusak moments keharuan di antara kedua wanita yang amat di cintai nya itu.
''Assalamualaikum Bu..'' Zee mengucapkan salam masuk ke dalam rumah.
''wa'alaikumsalam.. Ya Allah Zee kok pulang nya cepat banget katanya kalian mau nge-date ala-ala anak muda.'' Bi Ratih menerima salim Zee dan Dave bergantian.
''Maaf bu saya mama nya Dave.'' Bu Anis mengenalkan dirinya dan bersalaman dengan Bi Ratih.
Bi Ratih yang melihat dari atas ke bawah semua yang di gunakan oleh mama Dave bukan lah barang murah, ia yakin kalau keluarga Dave orang terpandang. Bi Ratih hanya takut kalau keluarga Dave menolak hubungan Zee dan Dave.
''Iya bu terima kasih banyak, mari bu duduk dengan saya. Nggak perlu cemas gitu. Oh iya panggil saja saya besan jangan nyonya, oke.'' Bu Anis mengajak Bi Ratih duduk di samping nya.
''Hah.. Hehe.. Nampak ya nyon eh besan maksud saya.'' Bi Ratih menjadi kik-kuk sendiri.
''Ga pa-pa kok besan lagian juga saya salah nggak ngabarin dulu kalau mau ketemu.'' Ucap Mama Dave.
''Bu, ma.. Zee buatkan minuman dulu ya.'' Zee berdiri ke arah dapur dan tanpa malu nya Dave mengikuti Zee ke dapur.
__ADS_1
''Lho mas kok ikutin aku ke dapur sih, aku kan cuma bentar. Mas kan bisa temenin mama sama ibu di ruang tamu.'' Zee yang melihat Dave tepat di belakang nya sedikit terkejut.
''Nggak pa-pa kok sayang lagian mereka lagi asyik ngobrol juga, mama tuh emang nggak tau kondisi orang anak nya lagi mesra-mesra dateng lagi.'' Dave memeluk Zee dari belakang menciumi leher samping Zee.
''Mas geli ih.. Udah ah.. Mas nggak malu apa nanti di lihat mama atau ibu, tadi aja pas di lihat mama aku malu banget. Mas lepasin ih..'' Zee sedikit menggeser kepala Dave dengan bahu nya.
''Zee, aku masih kangen tau.'' Rengek Dave seperti anak kecil.
''Iya, nanti ya.'' Zee benar-benar di buat Dave seperti seorang ibu yang mendiamkan anaknya.
''Janji ya.. Janji dulu.'' Dave sudah membalik tubuh Zee menghadap ke arah nya, Dave memegang kedua pinggang Zee.
''Iya janji. Udah..'' Zee sedikit geram.
''Tapi kamu harus di hukum dulu soal di mobil tadi.'' Belum lagi Zee ingin menjawab ucapan Dave, Dave dengan sigap mencium bibir Zee bahkan Dave sengaja menggigit pelan bibir bawah Zee memaksa Zee membuka mulutnya. Dave memainkan lidah nya di mulut Zee, melu*at bahkan membelit. Permainan Dave benar-benar seperti seorang pemain handal.
________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Salam sayang selalu dari ai..
💞💞💞
__ADS_1
HAPPY READING ♥️♥️♥️