
Detektif Egan dan Keiko baru saja akan keluar kantor untuk makan siang saat seorang petugas kepolisian memanggil dan mendekati mereka berdua.
“Detektif Egan!“
“Iya?!“ ujar detektif Egan.
“Perempuan di ruang interogasi dua, mau diapakan?“ tanyanya.
Detektif Egan dan Keiko saling melepar pandangan dan berusaha mengingat siapa yang berada di ruang iterogasi dua.
“Kita bawa orang lain ke sini?“ tanya detektif Egan.
“Wanita yang tadi ada di ruangan Abqari,” ujar detektif Keiko.
“Terima kasih ya,” ujar detektif Egan ke oetugas itu lalu keduanya mempercepat langkahnya menuju ruangan interogasi dua.
Detektif Egan membuka pintu ruang interogasi dan mempersilahkan rekannya masuk terlebih dahulu.
“Selamat siang,” ucap detektif Keiko begitubdia duduk di hadapan wanita itu.
“Siang,” balasnya sambil melihat nakal ke arah detektif Egan.
“Jadi siapa nama anda?“ tanya detektif Egan.
“Saya? Nama saya Berlian,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari detektif Egan.
“Apa yang tadi kamu lakukan di ruangan Abqari?“ tanya detektif Keiko yang berusaha merebut perhatian Berlian dari wajah detektif Egan.
“Tadi saya ada urusan bisnis dengan orang itu,” jawabnya sambil mematahkan harapan detektif Keiko untuk membuatnya menoleh ke detektif Keiko.
“Bisnis apakah yang membuat anda harus membuka sebagian pakaian anda?“ detektif Egan yang mengerti situasinya memanfaatkan dengan baik.
“Sebuah urusan yang mampu membuat laki-laki merasa lupa akan segala hal,” jawab Berlian dengan nada nakal.
“Sepertinya saya jadi penasaran akan bisnis itu,” timpal detektif Egan.
Detektif Keiko yang sudah mengerti siasat detektif Egan hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh rekannya itu dan membiarkan Berlian masuk dalam siasat itu.
“Jangan pura-pura bodoh, tampan,” bakas Berlian.
“Benar. Aku memang tampan tapi juga bodoh. Mau beritahu saya bisnis apa itu?!“ pancing detektif Egan.
“Tadi di ruangan Abqari kami sedang melakukan transaksi lendir. Kasian Abqari, sekarang dia pasti sedang pusing karena transaksi kami tadi belum selesai,” balas Berlian dengan nada menggoda.
“Apakah dia sering menggunakan jasa anda?“ tanya detektif Egan.
“Menggunakan jasa saya? Tentu saja, dia selalu puas dengan pelayanan saya. Tapi bukan berarti dia tak pernah menggunakan yang lain,” jawab Berlian dan terselip nada cemburu pada perkataannya.
__ADS_1
“Apakah anda mengetahui siapa saja yang pernah 'digunakan' Abqari selain anda?“ tanya detektif Egan.
“Setahu saya, ada beberapa tapi terakhir kali dia melakukan transaksi itu justru di ruangannya. Ruangan yang seharusnya hanya untuk dia dan saya,” kekesalan jelas sekali tergambar di wajahnya yang kini dia palingkan ke arah langit-langit ruangan.
“Apakah anda cemburu padanya?“ kali ini detektif Keiko yang bertanya.
“Cemburu? Jangan bodoh. Mana mungkin saya cemburu pada wanita bodoh itu. Mungkin dia pikir dia itu istimewa hanya karena mengandung anak dari Abqari dan berpikir Abqari akan meninggalkan istrinya,” ucapan itu keluar dari mulut Berlian berbarengan dengan tatapan tajam ke arah detektif Keiko.
“Apakah orang yang kamu maksud itu adalah Tania?“ tanya detektif Egan.
“Iya. Si Tania bodoh itu. Dia adalah salah satu karyawan di bank itu dan mereka melakukannga di ruangan milik Abqari. Ruangan yang seharusnya hanya untuk saya dan Abqari,” kali ini Berlian mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke meja.
Detektif Keiko memberi isyarat ke rekannya untuk keluar ruangan interogasi.
“Apa menurut lo, dia bisa kita masukin ke dalam lis tersangka?“ tanya detektif Keiko.
“Benar. Gue juga merasa dia cukup mencurigakan,” balas detektif Egan.
“Detektif Egan! Detektif Keiko!“ Pak Brox memanggil mereka untuk masuk ruangan di sebelah ruangan interogasi.
Ternyata sejak tadi pak Brox ada di ruangan itu dan melihat proses interogasi mereka dari jendela satu arah.
“Saya rasa kalian harus masukan dia ke dalam daftar tersangka. Reaksinya saat bercerita soal korban, kemarahan begitu terlihat,” ujar pak Brox.
“Saya dan detektif Egan pun berpikir hal yang sama pak,” ujar cetektif Keiko.
“Baik pak,” jawab detektif Egan.
Kedua detektif kembali masuk ke dalam ruangan sambil membawa alat pengumpulan sample DNA dan sekaleng minuman bersoda.
“Maaf membuat anda menunggu,” ujar detektif Keiko.
“Ini, saya bawakan anda minuman,” ujar detektif Egan sambil menyerahkan kaleng minuman itu setelah dibukakan oleh detektif Egan.
“Oke. Tak apa-apa dan terima kasih,” balas Berlian sambil mengambil kaleng minuman itu dan meminumnya.
“Cantik, oh maaf. Berlian maksud saya. Bolehkan saya meminta anda melakukan pengambilan sample DNA?“ tanya detektif Egan.
“Mengambil sample DNA? Untuk apa?“ tanya Berlian.
“Kami sedang menangani sebuah kasus dan—”
“Apa maksud anda, saya ini dicurigai?“ tanya Berlian marah.
“Maksud kami—”
“Tidak! Saya tidak mau. Saya punyaa hak untuk menolak,” Berlian semakin marah.
__ADS_1
“Oke, oke. Maafkan saya kalau begitu,” detektif Egan berusaha menenangkan Berlian dan ternyata berhasil.
“Saya masih ada klien yang menunggu saya malam ini dan saya harus bersiap. Apa ada hal lain yang bisa menahan saya di sini?“ ujar Berlian.
“Oh tentu saja tidak. Anda bisa pulang sekarang,” balas detektif Keiko.
“Terima kasih banyak cantik. Biar saya yang buang kaleng ini,” bisik detektif Egan sambil membukakan pintu ruang interogasi untuk Berlian.
Berlian tersenyum nakal dan memberikan kaleng minuman itu kepada detektif Egan dan berlalu begitu saja.
“Kok lo malah biarin dia ngga ngasih sample DNA sih?“ ujar detektif Keiko agak kesal.
“Tenang aja,” balas detektif Egan sambil menangkat dan menggoyangkan kaleng minuman yang tadi dikonsumsi Berlian.
“Lo emang pinter gan,” balas detektif Keiko sambil tersenyum.
Sekarang kedua detektif itu langsung berjalan menuju ruangan Birdella untuk menyerahkan sample DNA dari tersangka kedua dalam kasus ini.
“Belum ada hasilnya,” ujar Birdella saat kedua detektif masuk ke ruangannya.
“Oke. Tapi kami bawa sample lain,” jawab detektif Keiko.
“Cepet banget dapat sample barunya,” ujar Birdella.
“Tadi kami bawa dua orang dari tempat yang sama. Jadi kita langsung interogasi aja dua-duanya,” balas detrktif Egan.
“Mana sample nya?“ tanya Birdella.
“Ini,” ujar detektif Egan sambil menyerahkan kaleng minuman yang dibawanya dalam kantong barang bukti.
“Heh? Di sini?“ tanya Birdella.
“Tadi tersangka ngga mau ngasih sample DNA nya,” ujar detektif Keiko.
“Ide siapa ini?“ tanya Birdella sambil tersenyum.
“Awalnya gue ngga bermaksud mau menggunakan trik ini. Tapi karena tersangka ngga mau kasih sample DNA nya dan udah minum dari kaleng ini, gue pikir lo bisa cek DNA nya dari sini,” jawab detektif Egan.
“Pintar! Anda emang bener-bener pintar deteKtif Egan,” Birdella memuji detektif Egan dam membuat detektif Egan membusungkan dadanya sambil bercanda.
Ketiga orang itu tertawa, menikmati candaan detektif Egan tadi.
“Korban kita pasti juga ikut bahagia karena kalian mengerjakan kasus ini dengan sungguh-sungguh,” ujar Birdella sambil melihat ke arah tubuh Tania.
“Baiklah, kami akan meninggalkan lo di sini biar bisa mengerjakan tugas lo dengan tenang,” ujar detektif Keiko.
“Oke,” jawab Birdella dengan riang.
__ADS_1
Kedua detektif itu lalu meninggalkan laboratorium. Lalu Birdella langsung tenggelam dalam pekerjaannya.