
Detektif Egan dan Keiko melanjutkan perjalan mereka menapaki jalan menuju tempat penemuan jadas Tania Akbar, seorang perempuan muda yang ditemukan dalam kondisi setengah telanjang di pagi buta oleh seorang laki-laki yang tengah mencari tanaman hias untuk dijual.
Tempat kejadian perkara masih dibatasi dengan garis polisi. Walau beberapa hari lalu, tempat itu pernah di masuki oleh seseorang, hari ini kelihatannya tempat itu masih dalam kondisi saat terakhir kali kedua detektif itu tingalkan.
"Kita sudah beberapa kali ke sini, apakah mungkin kali ini bisa menemukan hal baru?" tanya detektif Keiko.
"Kita coba aja dulu. Kalau pun tidak ada bukti baru, paling tidak aku ingin merasakan atmosfer di sini. Siapa tahu jiwa Tania masih tertinggal di sini dan memberi kita hal baru yang bisa membantu kita memecahkan kasus ini," ujar detektif Egan.
Detektif Egan berjongkok di tengah tempat itu. Dia memperhatikan dengan seksama tanah yang dia injak.
Sementara itu, detektif Keiko berjalan mengelilingi tempat itu dan kedua matanya menyapu tiap tanah yang dia lewati guna mencari barang bukti baru yang bisa mereka gunakan.
Detektif Keiko melihat sesuatu yang tertutup dedauan kering. Dia berjongkok dan menepikan tumpukan dedauan itu.
Cahaya matahari memantul dari situ dan memanggil rekannya yang masih berpikir sendirian.
"Apa yang lo temuin?" tanya detektif Egan sambil berjalan mendekatinya.
"Coba lo lihat ini. Kira-kira ini apa?"
Detektif Egan ikut berjongkok. Memandangi benda bulat berkilau terkena sinar matahari.
Detektif Egan memakai sarung tangan karetnya dan berusaha menggali dengan tangannya berusaha meraih benda itu.
"Apa itu?" tanya detektif Keiko.
"Gue ngga yakin. Kita bawa aja ke tempat Birdella buat dia teliti,"
__ADS_1
Detektif Egan mengeluarkan plastik zip dan memasukan temuannya itu ke dalam kantung plastik itu.
Setelah beberapa kali mengelilingi tempat kejadian perkara itu akhirnya detektif Egan dan Keiko memutuskan untuk menuruni bukit.
Di bawah bukit mereka tak menemukan Ivan, begitu pula di ruangan yang biasa dia tempati untuk berjaga.
“Apa kita perlu balik ke desa buat cari Aditya lagi?“ tanya detektif Egan.
“Kalau dia mendatangi seorang dokter atau psikiater rasanya akan memakan waktu yang lama. Lebih baik kita balik aja besok.“
“Oke. Kita balik aja ke kantor dan serahin barang bulat itu ke lab Birdella,” usul detektif Keiko.
Detektif Egan menyetujui usul rekannya itu dan masuk ke dalan mobil, duduk di belakang kemudi dan membawa mobil itu menuju kantor mereka.
Detektif Egan begitu serius dan fokus memandang jalanan dan mengendarai mobil lalu diantara renungannya detektif Egan berkata, “Lo bilang, waktu kejadian pagi itu, Ivan si polisi hutan menghubungi kantor polisi melaluin radio yang ada di kantornya?“
“Menurut daribapa yang dicerita Ivan, begitu kondisinya.“
“Kita langsung ke ruangannya Birdella aja,” uaul detektif Keiko.
“Kita kan emang mau kesana,” tukas detektif Egan yang berjalan terus meninggalkan rekannya yang masih berdiri di samping mobi patroli mereka.
Detektif Keiko yang menyadari bahwa akan ditinggalkan rekannya itu, mengambil langkah lebar agar bisa menyusul dan mengimbangi langkah detektif Egan.
Sesampainya di depan pintu lab, daerah kekuasaan Birdella mereka berhenti sejenak dan mengintip dari jendela kecil di bagian pintu. Memastikan bahwa Birdella tidak sedang ngobrol dengan salah satu jasad yang tersimpan di sana.
“Kalian ngapain?“ suara Birdella dari arah belakang punggung mereka membuat mereka kaget.
__ADS_1
“Ngga lagi napa-ngapain,” jawab detektif Keiko terbata.
“Lo mau cari tahu ya, apa gue lagi ngobrol sama salah satu diantara mereka?“ Birdella bertanya sambil melewati mereka berdua dan membuka pintu ruangannya.
Detektif Egan dan Keiko saling berpandangan, kebingungan bagaimana caranya Birdella bisa tahu tentang apa yang mereka pikirkan.
“Lo beli kopi?“ detektif Egan berusah mengalihkan pembahasan mereka.
“Kopi dengan susu yang lebih banyak tapi gula yang sedikit,” jawab Birdella.
“Selera lo sungguh lain dari yang lain,” timpal detektif Egan.
“Kalian ke sini bukan cuma buat ngintipin gue kan?!“ ujar Birdella.
Detektif Egan dan Keiko teringat alasan sesungguhnya mereka ke tempat kekuasaan Birdella itu.
“Kami menemukan ini di tempat kejadian perkara,” ucap detektif Egan sambil meletakan bebda bulat di dalam plastik itu ke atas meja kerja Birdella.
“Apa ini?“ tanya Birdella mengamati benda bulat yang sebagian besar bagiannya msaih tertutup tanah.
“Coba lo kasih tahu kita,” tukas detektif Keiko.
“Tapi kenapa tim gue waktu di sana ngga lihat benda ini ya?“ tanyanya ragu-ragu.
“Waktu gue nemuin benda ini, gue hanya melihat ujungnya yang betkilau diterpa sinar matahari. Sementara sebagian besar sisi lainnya terkubur di dalam tanah dangkal dan teryutup dedauanan kering,” detektif Keiko berusaha menjawab pertanyaan Birdella.
“Tapi tetap saja mereka melewatkan benda ini begitu saja,” gerutu Birdella.
__ADS_1
“Sekarang kerjakan saja dan cari tahu benda apa itu. Waktu kita semakin banyak yang terbuang,” detektif Egan mengingatkan Birdella soal waktu yang mereka habiskan untuk kasus ini.
Birdella meminum kopi yang tadi dibelinya dan memperhatikan benda di atas mejanya dengan seksama lalu berkata, “Baiklah. Gue akan segera meneliti benda ini dan akan langsung mengabarkan kalian tentang hasilnya.