Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 22. Menemui Atep Ceceng, komisaris kedua


__ADS_3

Setelah selesai berbincang dengan Abqari, kali ini detektif Egan dan Keiko mengalihkan perhatian mereka untuk mengecek kebenaran alibi milik Romeo.


    Dan kini kedua detektif ini sudah berada di lobbi kantor Romeo lagi.


    Di meja resepsionis itu terlihat Hilda yang tengah terduduk dengan seragamnya yang rapih dan tataan rambut yang apik yang membuat dia terlihat makin cantik.


    "Halo Hilda. Kita bertemu lagi," ujar detektif Keiko sambil melemparkan senyuman.


    "Selamat sore pak Egan, bu Keiko. Ada yang saya bisa bantu kali ini?" ujar Hilda juga melepar senyuman ramah.


    "Kami mau ketemu sama pak Reno dan komisaris yang lain hari ini," jawab detektif Keiko.


    "Tapi para komisaris sedang menemui tamu di ruangan mereka masing-masing," jawab Hilda.


    "Kapan kami bisa bertemu dengan mereka?" tanya detektif Egan.


    "Maaf, tapi saya tak bisa memastikan pak. Karena mereka sudah berpesan untuk tak diganggu," jawab Hilda.


    "Tapi sepertinya kami bisa mengganggu mereka karena hari ini kami membawa surat perintah," ujar detektif Keiko.


    Belum juga Hilda memberi jawaban lain dari kalimat yang dikeluarkan oleh detektif Keiko, seseorang dengan kawalan ketat keluar dari lift menuju lobbi.


    "Dia itu siapa?" tanya detektif Keiko.


    "Beliau itu pak Atep, salah satu komisaris di perusahaan ini," jawab Hilda.


    Mendengar jawaban dari Hilda, detektif Egan dan Keiko langsung berlari menghampiri orang tersebut yang masih mantap melangkah menuju pintu keluar penuh kawalan.


    "Pak Atep?!" ujar detektif Egan mengikuti langkah salah satu komisaris itu.


Dengan sigap, para pengawal yang sejak tadi berjalan di sekililing pak Atep menahan detektif Egan.


    "Kami dari kepolisian," ujar detektif Keiko sambil memperlihatkan lencana miliknya.


    Pak Atep menghentikan langkahnya dan memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk melepaskan detektif Egan.


    "Ada urusan apa ini?" tanya pak Atep.


    "Kami ingin minta bantu dari pak Atep," jawab detektif Keiko.


    "Bantuan apa yang saya bisa berikan kepada pihak kepolisian?" tanya pak Atep.


    "Kami ingin memastikan alibi seseorang pak," ujar detektif Egan.


    "Baik," pak Atep membimbing detektif Egan dan Keiko ke sebuah ruangan dan memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk tetap pada posisinya masing-masing dan tidak mengikuti mereka.


    Detektif Egan, Keiko dan pak Atep memasuki sebuah ruangan kecil di salah satu pojok lobbi, yang di dalamnya terdapat dua buah kursi dan sebuah meja kecil di tengahnya.


    "Jadi, alibi siapa yang kalian ingin konfirmasi? Dan ada masalah apa sebenarnya?" tanya pak Atep.


    "Ada kasus pembunuhan yang sedang kami berusaha untuk ungkapkan pak. Mungkin anda kenal korbannya?!" ujar detektif Egan memberi informasi.


    "Siapakah korbannya?" tanya pak Atep dengan rasa penasaran.


    "Tania Akbar, salah satu pegawai di sini," jawab detektif Egan.

__ADS_1


     Mendengar jawaban itu, air muka pak Atep mendadak berubah seolah mendengar kabar buruk.


    "Tania Akbar?" tanyanya berusaha meyakinkan apa yang telah didengarnya.


    "Betul pak," jawab detektif Keiko.


    "Apakah anda kenal dengan korban?" tanya detektif Egan.


    "Saya mengenalnya… tapi bukan sebagai salah satu pegawai di sini," jawab pak Atep.


    "Lantas dimana anda mengenal korban?" tanya detektif Egan.


    "Saya mengenal Tania sebagai mantan kekasih dari anak pemilik saham terbesar sekaligus anak dari CEO di perusahaan ini," jawab pak Atep.


“Jadi benar, bahwa Tania dan Romeo pernah menjalin hubungan?“ tanya detektif Egan.


    "Betul. Jadi apakah benar bahwa Tania sudah meninggal?" tanya pak Atep.


    "Betul pak. Kami menemukan korban di sebuah bukit dalam keadaan sudah tak bernyawa,” jawab detektif Keiko.


    "Jadi anda tak tahu bahwa Tania bekerja di sini?" detektif Keiko masih berusaha mengkonfirmasi.


    "Tidak. Selama ini yang saya tahu bahwa Tania adalah mantan kekasih dari Romeo. Hanya itu," ujar pak Atep.


    "Maksud anda Romeo Soeratman?" tanya detektif Keiko.


    "Apaka Kalian sudah kenal dengan Romeo?" tanya pak Atep.


    "Kami pernah menemui dia sejak awal kasus ini terkuat," detektif Egan memberitahu.


    "Tapi yang saya tahu bahwa mereka sudah lama tak saling berhubungan," ujar pak Atep.


    "Seingat saya, mereka sempat bertengkar besar sebelum berpisah,"


    "Masalah apa yang membuat mereka bertengkar hebat?" detektif Egan mulai mengorek informasi lagi.


    "Saya tidak tahu pasti, masalah apa yang mereka pertengkarkan saat itu. Saya tak berani berspekulasi," pak Atep menjawab pertanyaan itu.


    "Kami juga ingin bertanya soal alibi Romeo," ujar detektif Keiko.


Raut wajah pak Atep berubah menjadi sedikit pucat dan mulai bersikap kikuk ketika detektif ingin bertanya banyak soal Romeo.


“Apakah pada tanggal 21 Agustus lalu, benar ada rapat yang melibatkan para komisaris?“ tanya detektif Egan.


“Betul sekali,” jawab pak Atep.


“Pembahasan apa yang dilakukan pada rapat saat itu?“ tanay detektif Keiko.


Pak Atep terdiam seolah tak ingin menjawab pertanyaan itu.


“Ingat pak, kami memiliki kewenangan untuk mengajukan pertanyaan itu karena kami punya surat perintah,” ujar detektifEgan berusaha menekan pak Atep.


“Rapat kemarin itu membahas tentang rencana pergantian CEO dalam perusahaan,” jawab pak Atep setelah beberapa saat terdiam berusaha menimbang-nimbang.


“Apakah CEO sebelumnya adalah ayah dari Romeo?

__ADS_1


“Benar. CEO saat ini adalah pak Julian Soeratno,” jawab pak Atep.


“Jadi, ada rencana paj Julian akan digantikan oleh anaknya, Romeo?“ tanya detektif Egan.


“Benar. seperti itulah rencana awalnya,” jawab pak Atep.


“Apakah pada saat itu Romeo Soeratman hadir dalam rapat hari itu?“ tanya detektif Keiko.


pak Atep kembali terdiam berusaha menghindari pertanyaan itu. Namun tentu saja detektif Egandna Keiko tak akan membiarkan pak Atep tak memberi jawaban sama sekali.


“Bagaimana pak Atep?“ tanya detektif Egan masih berusaha menekan.


“Seinget saya… Romeo hadir saat itu tapi memang terlambat,” menjawab pak Atep dengan nada ragu-ragu.


“Apakah anda yakin pak?“ tanya detektif Egan.


“Iya. saya yakin,” kali ini pak Atep menjawab dengan yakin.


Mereka bertiga terdiam sesaat mengelolah situasi hingga akkhirnya pak Atep berkata,”saya masih ada urusan penting. Saya harus pergi.“


“Baik pak Atep. terima kasih banyak atas kerjasama anda,” ujar detektif Keiko kepada pak Atep sambil menyalaminya.


Pak Atep berdiri dari salah satu kursi dan merapikan pakaiannya, lalu dia pergi meninggalkan detektif Egan dan Keiko yang masih berada di dalam ruangan itu.


“Jadi menurut lo, apa alibi Romeo bisa kita benarkan?“ tanya detektif Keiko pada rekannya.


“Kita harus bertanya kepada satu komisaris yang tersisa,” ujar detektif Egan.


“Kita temui dia sekarang?“ tanya detektif Keiko.


“Gue sih pengennya bisa ketemu sekarang. Coba kita tanya Hilda, apakah komisaris itu sudah selesai dengan tamunya,” balas detektif Egan.


Kedua detektif itu keluar dari ruangan dan berusaha mencari Hilda di tempatnya bekerja. Namun ternyata Hilda tak berada di sana.


“Kemana Hilda?“ tanya detektif Keiko kepada rekan kerja Hilda.


“Hilda sedang bertemu temannya,” jawabnya.


“Dimana?“ tanya detektif Keiko lagi.


“Saya kurang tahu. tadi dia hanya ijin pergi sebentar,” jawab rekannya Hilda.


Baru saja detektif Egan melangkah menuju ruang ganti pekerja, Hilda sudah memangilnya dari arah depan lobbi.


“Kalian mecari saya?“ tanya Hilda.


“Anda dari mana?“ tanya detektif Keiko.


“Saya habis bertemu dengan teman,” jawab Hilda sambil masuk kembali ke ruang kerjanya.


“Siapa teman anda itu?“ tanya detektif Egan.


“Anda ingin bertemu dengan pak Bian Hararjo kan?!“ tanya Hilda sambil berbisik ke detektif Keiko.


“Siapa?“ balas detektif Keiko ikut berbisik.

__ADS_1


“Komisaris terakhir yang ingin kalian temui. Itu, pak Bian sedang berjalan keluar dari Lift,” balas Hilda.


Detektif Egan dan Keiko memutar tubuh mereka dan melihat seorang laki-laki berpakaian rapih sedang melintasi lobbi.


__ADS_2