Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 23. Bertemu dengan komisaris ketiga, Bian


__ADS_3

Dengan langkah yang cukup cepat detektif Egan melangkah mendekat ke arah pak Bian yang hanya dikawal oleh satu orang pengawal.


“Pak Bian, boleh saya minta waktu bapak sebentar?!” ujar detektif Egan sambil menahan langkah pengawal pak Bian dengan menarik salah satu lengannya.


“Ada apa ini? Anda siapa?“ tanya pengawal itu berusaha melepaskan legannya dari detektif Egan.


“Saya dari kepolisian. Harus berbicara dengan pak Bian,” jawab detektif Egan kepada pengawal itu.


“Ada masalah apa ini?“ tanya pak Bian menghentikan langkahnya dan kini berdiri menghadap ke arah detektif Egan.


“Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan ke bapak,” ujar detektif Egan sambil melepaskan tangannya dari pengawal pak Bian.


“Silahkan saja,” ujar pak Bian dengan percaya diri.


“Apakah tak masalah bila saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut di sini pak?“ tanya detektif Egan berusaha mengecilkan volume suaranya.


“Tentu saja tak akan jadi masalah. Silahkan anda bertanya di sini,” jawab pak Bian.


“Di tempat ini?“ tanya detektif Egan sambil melirik ke arah pengawal pak Bian yang masih berdiri tegap di samping detektif Egan.


“Tenang saja, Yoyo ini sangat bisa dipercaya,” ujar pak Bian sambil menepuk lengan pangawalnya yang tinggi besar itu.


“Baik kalau begitu pak, saya langsung pada pertanyaannya. Apakah benar pada tanggal dua puluh satu agustus kemarin, anda hadir dalam rapat di perusahaan ini?“ tanya detektif Egan langsung pada intinya.


“Yoyo, tolong lihat agenda saya. Coba kamu cek di tanggal dua puluh satu bulan agustus ini, apa saja acara saya?“ tanya pak Bian ke pengawal yang ternyata merangkap sebagai ajudannya itu.


Yoyo sang pengawal membuka buku agenda yang sejak tadi ada di tangannya dan berusaha mencari halaman yang memuat tanggal yang diminta oleh pak Bian.


“Di tanggal dua puluh satu agustus, pagi hari bapak ada pertemuan dengan CEO perusahaan Cahaya Abadi guna membicarakan jual beli saham pada perusahaannya. Setelah itu bapak menonton turnamen Golf anak pertama bapak di daerah Bogor, lalu dari sore hingga malam bapak ada rapat bersama pak Atep dan pak Reno di gedung ini,” Yoyo membacakan semua yang tertulis di halaman yang telah dia buka.


“Iya benar. Ternyata hari itu saya ada dalam rapat itu. Rapat yang membahas tentang rencana pergantian CEO di perusahaan ini. Dari pak Julian yang akan berpindak ke Romeo Soeratman, anaknya,” ujar pak Bian.


“Sepertinya saat itu pak Julian dan Romeo Soertaman tidak hadir dalam rapat tersebut?!“ ujar detektif Egan.

__ADS_1


“Tentu saja mereka berdua hadir pada saat rapat itu. Untuk apa kami melakukan rapat bila orang-orang yang akan dibahas dan dibicarakan tidak hadir dalam rapat,” ucap pak Bian.


“Oh, ternyata pak Julian dan Soeratman hadir. Saya pikir mereka tidak hadir karena Yoyo barusan tidak menyebutkan kedua nama itu,” detektif Egan berusaha mencari alasan beusaha mengorek info lebih banyak dan memastikan keberadaan Romeo dari mulut pak Bian secara langsung.


Pak Bian terlihat memandang sinis pada detektif Egan yang masih berdiri di hadapannya. Seolah dia merasa bahwa detektif Egaan bukan orang yang cukup pandai dan tak cukup kompeten untuk mejadi anggota dari kepolisian.


“Apakah saat rapat hari itu Romeo datang terlambat?“ tanya detektif Egan lagi tak menghiraukan pandangn sinis dari pak Bian.


“Seingat saya dia tidak datang terlambat,” ucap pak Bian dengan yakin.


“Maaf pak. Saat rapat hari itu pak Romeo memang datang agak terlambat,” Yoyo berusaha mengingatkan atasannya itu dengan nada yang sangat sopan.


“Benarkah begitu, yo?“ pak Bian berusaha bertanya tentang keyakinan perkataan pengawalnya itu.


“Iya pak. Pak Romeo terlambat datang ke rapat selama beberapa menit,” jawab Yoyo masih dengan nada yang sama sopannya.


“Oh iya benar. Saya baru ingat saat itu pak Julian marah besar pada Romeo karena datang terlambat. pak Julian menganggap Romeo meremehkan rapat yang sangat penting itu,” lanjut pak Bian yang mendadak teringat kejadian di dalam rapat beberapa hari lalu.


“Apakah kamu ingat Romeo memberi alasan atas keterlambatannya hari itu?“ tanya pak Bian kepada Yoyo.


“Pak Romeo bilang dia terlambat karena harus mengantar salah satu temannya ke bandara untuk pulang kembali ke Maroko dan dia terjebak macet di jalan menuju kantor,” jawab Yoyo.


“Ya, kira-kira seperti itulah alasan yang diberikan Romeo kepada ayahnya dan kami pada saat itu,” ujar pak Bian.


“Cukup masuk akal,” gumam detektif Egan.


“Memang masuk akal. Kita semua tahu bahwa di Ibu kota saat ini, kemacetan adalah hal yang sangat lumrah terjadi,” jawab pak Bian yang ternyata mendengar gumaman detektif Egan.


“Kalau begitu terima kasih banyak atas kerjasamanya pak Bian dan Yoyo,” ujar detektif Egan sambil tersenyum lebar yang malu sekaligus kagum pada pendengaran pak Bian.


Walau pun daya ingatnya sangat buruk hingga perlu seoranga ajudan yang harus membantu dia mengingat banyak hal namun dia bisa mendengar sebuah gumaman dari mulut detektif Egan.


“Baiklah, kalau begitu saya bisa melanjutkan perjalanan pulang saya bukan?“ tanya pak Bian kepad detektif Egan.

__ADS_1


“Oh, tentu saja pak,” jawab detektif Egan.


“Saya senang bisa membantu pihak kepolisian,” timpal Yoyo sambil tersenyum ramah.


Setelah itu pak Bian dan Yoyo kembali berjalan keluar dari gedung perusahaan itu. Detektif Egan pun kembali ke detektif Keiko yang masih berdiri di depan meja reseprionis dan Hilda masih menjalankan tugasnya.


“Hilda, kami permisi,” ujar detektif Egan lalu Hilda membalasnya dengan senyuman ramah karena dia sedang meneria telepon.


Detektif Edan dan Keiko berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di basement gedung itu.


“Jadi, bagaimana?“ tanya detektif Keiko saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


“Ketiga komisaris di perusahaan ini mengatakan bahwa Romeo datang saat rapat itu berlangsung,” jawab detektif Egan sambil menyalakan mesin mobilnya.


“Oke. Lalu?“ tanya detektif Keiko lagi.


“Tapi ketiganya mengkonfirmasi bahwa Romeo datang terlambat dari jadwal yang seharusnya. Dia terlambat selama beberapa menit,” jawab detektif Egan.


Kini mobil mereka sudah kembali melaju di atas aspal kendaraan.


“Jadi sebenarnya, alibinya tidak bisa bisa dikatakan valid seratus persen?“ detektif Keiko meminta pendapat rekannya.


“Menurut gue sih begitu. Dia tetap berada di daftar paling atas sebagai tersangka,” jawab detektif Egan.


“Berarti kita bisa menemui dia dan meminta sample DNA miliknya,” ujar detektif Keiko bersemangat.


“Betul! Kita harus bertemu dengannya lagi dan meminta sample DNA miliknya. Ah… gue ngga tahu kenapa gue begitu bersemangat,” ujar detektif Egan.


“Sama, gue juga. Rasanya aku akan bertemu dengan pelaku,” jawab detektif Keiko.


Kini keduanya begitu fokus memperhatikan jalan raya. Egan pun mengendarai mobil dengan fokus menuju rumah Romeo untuk memintanya memberi sample DNA miliknya.


Kali ini pun detektif Egan dan Keiko memiliki surat perintah yang bisa mereka gunakan untuk memaksa Romeo Soeratman untuk memberikan sample DNa miliknya.

__ADS_1


__ADS_2