Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 34. Menemui Ardana


__ADS_3

Detektif Egan dan Keiko sekali lagi berusaha untuk menemui Aditya di desa itu. Mereka kembali menyusuri jalan di desa itu namun mereka hampir tidak menemukan siapa pun.


Kemudian mereka memutuskan untuk memasuki satu satunya warung kopi yang berada di desa itu.


Di dalam warung kopi itu terdapat sedapat seorang yang terlihat seperti pemilik warung itu, sementara di sisi lain terdapat dua orang yang sedang menikmati kopi sambil berbincang dan di sudut lain ada seseorang yang tengah merokok dan menikmati segelas kopi hitam.


“Selamat datang, selamat siang,” sambut pemilik warung kopi itu.


“Anda pemilik warung kopi ini?“ tanya detektif Keiko.


“Betul. Anda mau minum apa?“


“Kopi hitam satu. Kasih teman saya kopi susu,” ujar detektif Egan.


“Ngga mau coba capuccino?“ pemilik warung menawarkan.


“Anda punya?“ tanya detektif Keiko antusias.


“Tentu saja saya punya. Walau ini desa kecil tapi selera orang-orang sini cukup baik,” ujar pemilik warung.


“Kalau begitu berikan saya satu,” timpal detektif Keiko.


Kedua ketektif itu duduk di meja yang menghadap langsung ke tempat pemilik warung kopi itu membuat pesanan mereka.


Tak menunggu lama, kopi pesanan detektif Egan sudah dihantarkan.


“Punya anda tunggu beberapa saat lagi ya,” ujar pemilik wwrung kopi itu kepada detektif Keiko sambil meletakan secangkir kopi hitam pesanan detektif Egan.


“Terima kasih,” ujar detektif Egan.


“Apakah desa selalu sesepi ini?“ tanya detektif Keiko pada pemilik warung kopi yang sedang membuatkan capuccino pesananya.


“Bisa dikatakn seperti itu. Desa ini memang hampir selalu sepi di siang hari seperti ini. Sebagian besar dari penduduk di sini bekerja di desa sebelah sebagai petani dan mereka akan kembali di sore hari,” jawab pemilik warung kopi, mengantarkan pesanan detektif Keiko ke atas meja dihadapannya.


“Bagaimana dengan sore hari?“


“Sore adalah waktu paling ramai di sini. Tapi jika malam hari sudah tiba, desa akan kembali sepi karena mereka cepat sekali tidur. Mungkin mereka sudah kehabisan energi di tempat mereka bekerja.“


Detektif Egan menyeruput kopinya yang masih mengeluarkan asap lalu bertanya pada pemilik warung tersebut, “Apakah anda mengenal Aditya?“


Dua orang yang duduk tak jauh dari mereka menoleh ke arah detektif Egan. Salah satunya bangkit dari duduknya dan kini duduk di sebelah detektif Egan.


“Apakah kalian dari kepolisian?“


“Betul. Saya detektif Egan, ini rekan saya Keiko.“

__ADS_1


Orang ini mendekatkan jarak duduknya dengan detektif Egan lalu berbisik, “Anda lihat orang yng duduk di sana itu?“


Detektif Egan menolehkan wajahnya ke arah yang dimaksud oleh orang tersebut lalu detektif Egan memberi isyarat kepada detektif Keiko untuk juga melihat.


“Bukankah itu orang yang waktu itu ada di tempat kejadian perkara?“ tanya detektif Egan.


“Betul. Dia Ardana,” jawab detektif Keiko.


“Kalian sudah tahu dia?! Jadi kalian tahu bahwa dia pernah ada di tempat kejadian perkara beberapa hari yang lalu?“


“Iya kami tahu. Bahkan kami bertemu dengan dia dan memberikan dia peringatan untuk tak mendekati tempat kejasdian perkara itu lagi,” jawab detektif Keiko.


“Apakah itu bukan sesuatu yang janggal untuk kalian?“


“Tentu saja, bagi kami itu sangat tidak baik.“


“Jadi kalian juga mencurigai dia?“ tiba-tiba orang itu terlihat sangat antusias.


“Bagaimana kalau kita ngobrol lagi dengan dia?!“ usul detektif Egan.


Detektif Keiko bangun dari duduknya mengikuti detektif Egan yang sudah terlebih dahulu menghampiri Ardana yang sedang duduk sendiri di pojok warung kopi.


Detektif Keiko duduk di sebelah Ardana, sementara detektif Egan berdiri di belakang kursi Andara membuat Ardana tidak bisa banyak bergerak.


“Kita bertemu lagi pak Ardana,” ujar detektif Keiko sambil tersenyum.


“Mau kemana kamu?!“ ucapa detekitif Egan.


Wajah Ardana mendadak pucat, “Kalian mau apa?“


“Tenang saja, kami hanya ingin bertanya kepada kamu,” jawab detektif Egan.


“Bukankah kalian sudah bertanya pada aku beberapa hari lalu,” ujarnya gugup.


“Kami ingin tahu alasan anda sebenrnya ada di tempat kejadian perkara hari itu.“


“Aku sudah menjawabnya.“


“Apa anda sengaja ingin merusak tempat kejadian perksra atau barang bukti yang tertinggal di sana?“ tanya dektektif Keiko.


“Omong kosong! untuk apa aku melakukan itu?“


“Agar tak satu pun yang mengarah pada anda baik barang bukti maupun saksi,” tukas detektif Egan.


“Bukan aku yang membunuh wanita itu!“

__ADS_1


“Kalau begitu beritahu kami siapa yang membunuhnya?“


Ardana memutar matanya kemudian melihat keluar warung kopi melalui jendela besar dihadapannya dan bibirnya bergetar.


Ardana kemudian berkata,”Bagaimana jika kalian yang memebritahu aku?!“


Detektif Egan yang menyadari tingkah laku Ardana ikut melihat keluar jendela berusaha mencari tahu apa yang membuatnya terlihat gugup tapi dia tak melihat apa pun.


“Apakah anda mengenal Aditya?“ tanya detektif Keiko.


“Ini desa kecil. Setiap kami pasti saling mengenal.“


“Apa anda kaki tangan Aditya?“ detektif Egan langsung bertanya pada intinya.


“Maksud anda?“


“Anda membantu Aditya untuk merusak barang bukti yang terdapat di tempat kejadian perkara,” jawab detektif Egan.


“Apakah anda minum alkohol di siang haari seperti ini?“ tanya Ardana menaikan nada suaranya.


“Saya tidak mabuk pak Ardana. Tapi saya perlu tahu apakah anda menyembunyikan sesuatu,” balas detektif Egan.


Ardana berdiri lalu berkata, “Saya akan pulang. Badan saya terasa tidak enak.“


Detektif Egan melangkah mundur memberikan ruang untuk Ardana melangkah namun tangan detektif Egan menahannya.


“Kami butuh DNA anda,” ujar detektif Keiko.


“Saya blang saya tidak membunuh wanita itu!“


“Baiklah. Kalau benar seperti itu maka tentu tidak takut memberikan DNA anda,” timpal detektif Egan.


Ardana kembali melirik jendela warung kopi lalu berbisik kepada detektif Egan, “Saya tahu siapa yang melakukannya, yang membunuh wanita itu.“


“Katakan pada kami, siapa?“ detektif Egan mendesak


“Orang yang menyuruh saya datang ke tempat itu. Dia meminta saya mencari barangnya yang hilang. Saya yakin dia adalah orang yang membunuh wanita itu,“ ujarnya sambil terbatuk


“Barangnya yang hilang? Barang apa itu yanga anda maksud?“ tanya detektif Egan.


“Dia tak bilang barang apa, tapi dia mendeskipsikan kepada saya barang yang harus saya ca—” tiba-tiba saja Ardana ambruk, terkulai di lantai setelah batuknya tak berhenti dan wajahnya memerah, membuat semua orang di dalam warung kopi itu kaget.


Dengan cepat detektif Egan memeriksa nafas dan denyut nadi Ardana, “Dia masih hidup.“


“Aku panggil ambulance,” ujar detektif Keiko dan langsung sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Sementara tiga orang lainnya yang berada di dalam warung kopi itu hanya terdiam mematung seolah melihat sesuatu yang amat mengrtikan yang bellum pernah mereka lihat sebelumnya.


__ADS_2