Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 36. Menyerahkan barang bukti (lagi)


__ADS_3

Detektif Egan dan Keiko tidak sengaja bertemu dengan Birdella sang ahli forensik di kantin gedung tempat mereka bekerja saat kedua detektif itu berencana untuk membeli makan siang mereka hari ini setelah mereka pulang dari desa di bawah kaki bukit tempat kejadian perkara itu dalam misi penelusuran kasus mayat di atas bukit itu.


Mereka terpaksa menunda makan siang mereka karena tidak berhasil menemukan sebuah kedai makanan yang buka di desa itu hari ini.


Sejak kejadian penemuan mayat di atas bukit itu, desa manjadi semakin sepi. Kedai-kedai yang biasa menyediakan makanan untuk para wisatawan yang datang untuk mendaki bukit tutup karena memang sejak saat itu bukit itu di tutup terutama untuk para wisatawan dengan tujuan melindungi tempat kejadian perkara hingga kasus itu terpecahkan.


“Birdella! kita malah ketemu di sini ternyata,” ujar detektif Keiko menepuk bahu Birdella.


“Ada apa emangnya?“ tanya Birdella bersemangat sambil menyeruput Es Americano yang baru saja dia beli di kantin gedung itu.


“Kita bawain ini buat lo dong,” jawab detektif Egan sambil memamerkan kantong barang bukti berisi cangkir dan setengah batang rokok yang sebagiannya lainnya sudah habis terbakar, barang-barang yang dia bawa dari warung kopi di desa itu.


“Wah, apa lagi ini?“ tanya Birdella dengan nada riang sambil menyentuh kantung itu.


“Ini oleh-oleh yang gue bawa dari penyelidikan kita hari ini,” jawab detektif Egan ikut riang.


Detektif Keiko pun berkata, “Kita tunda dulu makan siang kita aja deh gan. Sekarang mending kita ke tempat Birdella dulu aja.“


“Kalian makan aja dulu. Ngga apa-apa, gue bisa nunggu kalian sampai selesai makan kok.“


“Udahlah. Langsung ke ruangan kerja lo aja del,” ujar detektif Egan tak sabar.


“Atau kalian beli aja dulu makan siang kalian di sini, terus kita makan bareng di ruang kerja gue sambil kita berdiskusi soal kasus kita ini. Ini gue beli spagethi juga buat makan di ruangan gue.“


Kemudian Birdella berbisik, “Spagethi di sini enak banget lho, makannya ditemenin Es Americano, beehh...“


Dengan cepat detektif Keiko berkata, “Ngga usah! Kita langsung aja ke ruangan kerja lo del.“


Detektif Egan tertawa kecil meliihat ekspresi rekan yang panik itu.

__ADS_1


Ketiga rekan kerja itu pun berjalan beriringan menuju ruang kerja Birdella yang berada di lantai delapan gedung itu. Walau bukan hanya Birdella yang bekerja di lantai khusus lab itu, namun semua orang di lantai delapan itu mengenal dan sangat menghormati Birdella karena memang dia diakui karena kinerjanya yang baik. bahkan di lantai itu, Birdella memiliki banyak anak didik dan junior dalam bidang forensik ini.


Setelah menyapa hampir setiap orang yang berada di lantai itu, akhirnya Birdella dan kedua detektif itu sampai di ruang kerja milik Birdella.


“Kalian nemuin barang-barang ini di bukit itu?“ tanya Birdella setelah mengemati secara singkat isi dalam kantung yang diletakan detektif Egan di atas meja kerja milik Birdella.


“Ngga. Bukan di sana kami nemuin barang-barang ini,” balas detektif Keiko.


“Lantas dimana kalian menemukan mereka?“ tanya Birdella lagi masih mengamati benda itu dari jarak yang agak jauh.


“Di satu-satunya warung kopi di desa di kaki bukit itu,” kini detektif Egan yang menjawab.


“Lalu apa kaitannya dengan kasus kita kali ini?“


Detektif Egan duduk di kursi depan meja kerja Birdella dan memulai bercerita, “Lo ingat ngga sama orang yang kita pernah ceritain datang ke tempat kejadian perkara setelah di pasangi garis polisi tempo hari?“


“Iya. Gue inget, kenapa?“


“Lalu?“


“Karena beberapa orang di sana ternyata curigai Ardana juga, lalu akhirnya kami putuskan untuk berbicara dengan dia yang tengah terduduk sendiri di pojok warung kopi itu sambil merokok dan menikamati secangkir kopi.“


“Hampir aja kita dapet siapa nama pelakunya, saat tiba-tiba aja Ardana jatuh ke lantai,” sambung detektif Keiko bercerita.


“Kok? Gimana bisa dia terjatuh?“


“Menurut kesaksian beberapa orang di sana, Ardana memiliki alergi terhadap alkohol,” jawab detektif Keiko.


“Kami minta lo buat cari tahu, apakah dia benar pingsan karena alerginya terhadap alkohol,” ujar detektif Egan.

__ADS_1


“Apakah kalian akan membuka kasus Ardana juga?“ Birdella penasaran.


“Bisa saja, kalau Ardana juga meninggal,” ujar detektif Egan setengah bercanda.


“Mungkin di dua benda itu atau di salah satunya, kita bisa menemukan sesuatu yang mengarahkan kita kepada pembunuh Tania,” ujar detektif Keiko penuh harap.


“Kenapa lo bepikir begitu?“ tanya Birdella.


“Karena kemungkinan terbesar yang melakukan ini pada Ardana, dia ingin agar Ardana tak menyebutkan namanya,” jawab detektif Egan dengan nada berat dan serius.


“Bagaimana dengan benda yang kami bawa kemarin?“ tanya detektif Keiko.


“Masih dalam tahap pembersihan oleh salah satu junior gue. Hari ini harusnya udah selesai dan akan gue lanjutin pemeriksaannya,” jawab Birdella dengan yakin.


“Jangan terlalu lama ya del. Lo juga kan pengen supaya Tania cepet-cepet diserahkan kembali ke keluarganya supaya dia bisa dimakamkan dengan layak,” detektif Egan berusaha mengingatkan.


“Iya. Gue akan kumpulin setiap data yang gue punya dan gue serahin ke kalian secepatnya, begitu semua hasilnya udah keluar,” balas Birdella mantap.


“Oke kalau begitu. Gue sama Keiko mau turun dulu buat makan siang. Kita belum sempet makan sama sekali,” ujar detektif Egan memelas.


“Makan siang di sini aja kalian. Gue beli banyak makanan nih sebenernya, ngga akan habis kalau gue makan sendirian,” Birdella menawarkan sambil membuka satu persatu kotak makanan yang dia beli di kantin kantor di lantai dasar gedung itu.


“Gimana Kei?“ tanya detektif Egan sambil tersenyum kecil, meledek.


“NO! terima kasih banyak. tapi hari ini gue lagi ngga pengen makan spagethi,” balas detektif Keiko dengan cepat berusaha menghindari tawaran makan sahabatnya itu.


“Lo mau makan apa Kei? Biar gue minta tolong junior gue buat beliin di kantin.“


“Ya udah sih Kei. Kita mkan di sini aja,” detektif Egan tak berhenti meledek rekannya itu.

__ADS_1


“Katanya lo mau teraktir gue gan. Lo pasti lagi berusaha mengelak dari janji lo itu kan?! Jangan gitulah gan.“


Mata detektif Keiko membulat mengarah ke detektif Egan, seolah dia memarahi rekannya yang sengaja menjebaknya di situasi yang tidak dia sukai itu, makan di ruangan Birdella bersebelahan dengan jasad-jasad yang berada di lemari pendingin adalah situasi yang membuat bulu kuduknya berdiri dan selera makannya hilang sama sekali.


__ADS_2