Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 37. Detektif Egan mulai mengumpulkan potongan yang tercecer


__ADS_3

Detektif Egan dan Keiko kembali ke desa di bawah bukit itu, mereka masih berusaha menemukan Aditya setelah sebelumnya mereka mengunjungi rumah sakit untuk mengecek keadaan Ardana yang masih berada di ruang ICU untuk perawatan yang lebih intensif.


“Apa kabar detektif?“ Ivan menyapa mereka ketika mereka sedang menapaki jalan di desa itu.


“Kabar baik,” jawab detektif Keiko.


“Apakah kalian belum mendapatkan pelaku pembunuhan itu? Atau paling tidak perkembangan dalam kasus ini?“


“Sayangnya begitu. Kami masih harus bertemu dengan Aditya,” timpal detektif Egan.


Ivan mengimbangi jalan kedua detektif dan memberi mereka informasi, “Kemarin Aditya pulang tapi setahu saya pagi-pagi sekali dia sudah pergi lagi.“


Detektif Egan menghentikan langkahnya dan bertahya pada Ivan, “Aditya pergi lagi?“


“Iya. Menurut tetangganya dia kembali ke tempat dia berobat kemarin karena dalam mimpinya, dia merasa dihantui oleh perempuan itu. Sementara jika dia berada di dekat psikiater itu, dia merasa semua aman-aman saja,” cerita Ivan.


“Apakah di sini ada keluarga Aditya?“ tanya detektif Keiko.


“Dia sebatang kara di sini. Satu-satunya saudaranya sudah lama bekerja di luar negri.“


“Apakah anda masih berrpatroli?“ tanya detektif Egan.


“Tentu saja. Sejak beberapa bulan lalu, rekanku mengundurkan diri aku menajdi satu-satunya polisi hutan di sini dan sejak saat itu saya melakukan patroli setiap hari.“


“Berarti saat kejadian itu anda sedang bertugas?“

__ADS_1


“Seharusnya saya memang sedang bertugas, namun karena malam itu ada panggilan dari atasan saya maka saya tidak bertugas. Tapi pada pagi hari berikutnya saya langsung kembali ke sana.“


“Jadi dengan kata lain saat kejadian anda tidak berada di lokasi?“


“Betul sekali.“


“Apakah setelah kejadian ada orang yang lalu lalang ke bukit?“


“Satu-satunya yang naik ke bukit setelah kejadian hanya Ardana, dia ke sana untuk mencari sesuatu.“


Detektif Egan melepar pandangnnya ke arah rekannya dan kemudian dia berkata, “Jika Aditya kembali, katakan bahwa kami ingin berbicara dengannya.“


“Tentu. Saya akan menyanpaikan hal itu pada Aditya begitu dia kembali ke sini. Atau jika memang perlu, saya akan membawa Aditya ke kantor polisi untuk bertemu kalian,” usul Ivan.


“Wah itu ide yang sangat bagus. Kami akan sangat berterima kasih jika anda mau membantu kami membawa Aditya ke kantor,” sambut detektif Egan.


Namun baru sampai di lahan parkir di bawah bukit, detektif Egan meminta rekannya untuk masuk kembali ke dalam mobil mereka yang memang sedang terparkir di situ.


“Ada apa?“ tanya detektif Keiko begitu dia menutup pintu mobil.


Detektif Egan terdiam kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tak memperdulikan pertanyaan dari rekannya.


“Apa sebaiknya kita balik aja ke kantor ya?“ ujar detektif Egan.


“Kita ngga jadi naik ke bukit itu?“ tanya detektif Keiko.

__ADS_1


“Gue pengen ngobrol sama si Birdella,” jawabnya.


“Jadi kita ngga perlu naik lagi nih ke atas bukit itu?“ detektif Keiko mengulang pertanyaannya.


“Ngga usah lah. Kita balik aja ke kantor,” kali ini detektif Egan menjawab pertanyaan dari rekannya tersebut.


Setelah mendapat jawaban dari detektif Egan, detektif Keiko pun menyalakan mesin mobil dan mengendarai mobil itu menuju ke kantor mereka.


Di sepanjang jalan, detektif Keiko memperhatikan rekannya yang hanya termenung, diam hampir tak mengeser posisi duduknya sama sekali. Walau detektif Keiko merasa khawatir namun dia tetap membiarkan rekannya itu menikmati hal yang paling disukainya itu, mengumpulkan potongan-potongan yang tercecer darisetiap kasus yanng mereka tangan, termasuk di kasus yang sekarang ini.


Sesampainya di gedung kantor, detektif Egan dan detektif Keiko langsung pergi menuju lantai dimana ruangan kerja Birdella berada.


“Selamat datang!“ sambut Birdella saat meilhat dua sahabatnya ketika pintu lift terbuka di latai khusus forensik.


“Kok lo bisa tahu kalau yang ada di dalam lift itu gue sama detektif Egan?“ tanya detektif Keiko merasa keheranan.


“Oh, itu Ilmu kebatinan,” jawab Birdella.


“Ilmu kebatinan?“ detektif Keiko dibuat semakin bingung oleh Birdella.


Detektif Egan hanya tersenyum kecil mendengar jawaban singkat dari Birdella ditambah dengan wajah bingung yang ditunjukan oleh detektif Keiko.


“Sudah, sudah. kalian berdua mending ke ruangan gue aja dulu sekarang,” ujar Birdella berusaha mengalihkan perhatian detektif Keiko yang masih jeals kebingungan terlihat di wajahnya.


“Apa lo udah punya hasil dari analisa lo terhadap kumpulan benda dan sample DNA yang gue dan detektif Keiko kumpulin kemarin-kemarin itu?“ tanya detektif Egan langsung pada intinya.

__ADS_1


“Iya, Sudah!“ jawab Birdella dengan sangat yakin nada yang mantap.


__ADS_2