Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 28. Berurusan dengan Hildabdi ruang Introgasi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali detektif Keiko dan Egan sudah keluar dari kantor, mengendarai mobil mereka menuju tempat kerja Hilda setwlah mendapatkan surat perintah pemanggilan untuk Hilda.


    "Kemana Hilda?" tanya detektif Keiko kepada rekan kerja Hilda saat tidak menemukan Hilda di tempatnya.


    "Hilda hari ini tidak masuk bu," jawan rekan Hilda.


    "Apakah dia sakit?" tanya detektif Egan menekan.


    "Saya kurang tahu pak. Hilda tak berbicara pada saya,"


    "Lantas dari mana anda tahu bahwa Hilda tak masuk kerja?" detektif Egan kembali menekan.


    "Tadi pak Romeo yang memperitahu saya," jawab rekan Hilda itu.


    "Pak, sepertinya benar, Hilda dan pak Romeo memiliki hubungan khusus," lanjut resepsionis itu setengah berbisik.


    "Wah benarkah?" ujar detektif Egan juga berbisik membuat resepsionis itu semakian bersemangat tentang kabar itu.


    "Apakah jiwamu bergidik, dan ingin menyebarkan rumor ini?" ujar detektif Egan sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke resepsionis itu.


    "Apakah boleh pak?" tanya resepsionis itu


    "Bagaimana menurut kamu?" tanya detektif Egan terus memberi makan rasa penasaran reseptionis itu.


    "Saya hanya penasaran, bagaimana seorang Hilda bisa menarik perhatian pak Romeo," ujar resepsionis itu.


    "Sama, saya juga penasaran. Mungkin kamu bisa membantu saya untuk cari tahu," ujar detektif Egan.


    "Bagaimana caranya pak?" tanya reseptionis itu penuh rasa ingin tahu.


    "Bagaimana jika anda mencari tahu untuk saya alamat rumah Hilda?" tanya detektif Egan.


    "Alamat rumah Hilda?" tanyanya.


    "Iya. Coba anda cari di dalam komputer anda. Mungkin alamat rumah Hilda terselip diantara daftar alamat para pegawai," ujar detektif Egan.


    Resepsionis itu terdiam sebentar, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mencoba menerka apa yang akan jadi konsekuensi baginya bila memberi informasi seperti itu.


    "Bagaimana?" tanya detektif Egan berusaha memecah lamunan resepsionis itu.


    Kemudian resepsionis itu langsung memainkan jarinya di atas keyboard dan dalam beberapa menit kemudian terdengar mesin printer bergerak mencetak sesuatu.


    "Ini pak. Tapi seharusnya saya tak melakukan ini," ujar resepsionis itu.


    Detektif Egan mengambil kertas yang dilipat rapih oleh resepsionis itu. Detektif melirik kertas yang terlipat itu dan di sana tertulis sebuah alamat yang diyakini sebagai alamat rumah Hilda.


Detektif Egan melirik rekannya lalu tersenyum merasa hebat karena umpannya berhasil mendapatkan hasil sesuai dengan harapannya.


    "Tenang. Anda melakukan ini demi sebuah kebaikan. Tuhan pasti melindungi kamu," ujar detektif Keiko sambil mengedipkan sebelah matanya kepada resepsionis itu setelah ikut melirik isi kertas itu.

__ADS_1


    Kedua detektif itu pun akhirnya meninggalkan lobbi gedung itu penuh dengan rasa puas.


    "Gila. Lo emang hebat kalau berurusan dengan perempuan," ujar detektif Keiko membanggakan rekannya.


    "Pokoknya serahin aja sama gue kalau gitu," ujar detekrif Egan tersenyum sombong.


                                *********


    Detektif Egan membuka kertas yang bertuliskan alamat Hilda lalu mencocokannya depan alamat yang ada di hadapan mereka.


    "Jadi ini rumahnya?" tanaya detektif Keiko.


    "Ini sih alamat yang tertulis di sini," jawab detektif Egan.


    Kini mereka berdiri di depan sebuah gedung berlantai lima. Sebuah Gedung yabg lebih mirip kos-kosan bergaya modern.


    Mereka masuk ke dalam gedung itu dan ternyata di sana terlihat daftar nama para penghuni serta kotak surat dengan mana para penghuni.


    "Itu, Hilda tinggal di lantai dua," ujar detektif Egan sambil menunjuk nama Hilda.


    "Ini, ada bel di sini," ujar detektif Keiko.


    "Kayaknya sistem di gedung ini, one gate. Kita ngga bisa masuk kalau dia ngga bukain kita pintu," tambah detektif Keiko.


    "Dia harus menerima kita karena kita udah punya surat perintah pemanggilan untuk dia," ujar detektif Egan sambil memencet bel dengan nama Hilda di sebelahnya.


“Hilda? Ini kami dua detektif kesukaan kamu dari kepolisian,” ujar detektif Egan.


“Hilda, buka pintunya. Kami ingin bicara,” lanjut detektif Keiko setelah beberapa menit Hilda tak mrnjawab mau pun membuka pintunya.


“Bagaimana jika saya tidak membukakan pintu buat kalian?“ tanya Hilda dengan nada menentang.


“Kamu bukakan kami pintu atau tidak, kamu tetap harus ikut kami ke kantor polisi,” ujar detektif Egan.


“Kenapa seperti itu?“


“Karena kami menuruti perintah dan keinginan kamu, ksmi bawakan surat perintah pemanggilan atas nama kamu,” jawab detektif Egan.


“Hilda, buka pintunya atau kami masuk secara paksa?“ detektif Keiko memberi pilihan.


Lima belas menit telah berlalu tapi Hilda belum juga membuka pintu. Detektif Egan berencana membuka paksa pintu lobbi menuju kamar Hilda namun ketika detektif Egan akan melakukannya, Hilda keluar menuju lobbi dengan pakaian formal.


“Sudah saya katakan, saya hanya akan berbicara di kantor polisi jika kalian membawa surat perintah. Karena kalian sudah membawa surat perintah untuk saya maka saya akan ikut kalian ke kantor polisi,” ujar Hilda sambil berdiri di ambang pintu.


Detektif Egan dan Keiko membawa Hilda ke kantor polisi dan dalam beberapa menit ketiganya sudah ada di dalam ruang intogasi.


“Bisa kita mulai Hilda?“ tanya detektif Keiko.


“Silahkan,” jawab Hilda dengan sangat tenang.

__ADS_1


“Dimana anda pada tanggal dua puluh satu agustus?“ tanya detektif Keiko.


“Di tempat tadi kalian menemui saya,” jawab Hilda masi dengan nada yang sama.


“Anda punya saksi?“tanya detektif Egan.


“Bagaimana saya punya saksi jika saya hanya tinggal sendiri di sana,” jawab Hilda begitu percaya diri.


Hilda yang kini duduk di hadapan detektif Egan dan Keiko sungguh berbeda dengan Hilda yang mereka temui beberapa hari lalu. Hilda kini terlihat dingin namun juga terlihat begitu angkuh.


“Apakah anda tahu bahwa kekasih anda, Romeo adalah mantan kekasih dari sahabat anda, Tania?“ tanya detektif Keiko.


“APA? Anda pasti sedang bercanda,” ujar Hilda dengan raut wajah kaget.


“Jadi anda tidak mengetahui hal itu?“ detektif Egan berusaha menegaskan pernyataan Hilda.


“Tidak mungkin Tania dan Romeo pernah saling kenal apalagi sampai berpacaran,” ujar Hilda.


“Anda boleh coba bertanya pada orang-orang disekeliling Romeo. Mereka semua tahu bahwa Romeo dan Tania pernah menjadi sepasang kekasih,” ujar detektif Egan seolah memainkan emosi Hilda.


“Apa anda cukup kesal mengetahui kenyataan itu?“ tanya detektif Keiko.


Hilda terdiam menatap ke arah meja di hadapannya tapi tatapannya begitu kosong.


“Mungkin kali ini diantara Roemo dan Tania kembali ada percikan cinta yang pernah padam hingga membuat anda begitu kesal dan merasa perlu menyingkirkan cinta masa lalu kekasih anda itu,” ujar detektif Egan membuat sebuah teori.


“Karena mungkin jika Romeo dan Tania kembali bersama, maka sumber dana anda selama ini bisa menghilang begitu saja,” tambah detektif Keiko.


“Lalu anda harus kembali lagi ke desa yang membosankan itu, semetara Tania bisa hidup bahagia dalam kehidupan yang selama anda mimpikan,” detektif Egan kembali menambahkan.


“IYA! Aku memang tak ingin Tania kembali dalam kehidupan Romeo. Apa kalian tahu rasanya tinggal di desa yang sepi dan membosankan? Apa kalian tahu bagaimana susahnya keluar dari sana dan melepaskan diri dari kesulitan?“ teriak Hilda kepada kedua detektif itu.


“Tentu kami tahu. Bahkan kami tahu bahwa hal itu bisa menjadi alasan bagi kamu untuk tega membunuh sahabat kamu sendiri, Tania Akbar,” ujar detektif Egan merendahkan suaranya.


“Mungkin aku rela melakukan apa pun untuk menjauhkan Tania dari Romeo tapi tidak untuk membunuhnya,” jawab Hilda.


“Buktikan pada kami,” ujar detektif Keiko memprofokasi.


“Bagaimana caranya saya membuktikannya?“ tanya Hilda.


“Mudah saja sebenarnya. Cukup anda memberikan sampel DNA anda. Bagaimana Hilda?“ detektif Keiko terus menekan Hilda berusaha sebisanya agar Hilda mau memberikan sampel DNA miliknya.


Hilda terdiam beberapa saat mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Hilda tidak ingin salah mengambil keputusan dia juga tidak bisa bertanya pada siapapun saat ini karena dia sedang berada di ruang introgasi. Sementara itu detektif Egan dan Keiko terus menekan Hilda dengan tatapan tajam dan membuat Hilda merasa tidak nyaman di dalam ruangan itu.


“Di dalam sini terdapat alat untuk mengumpulkan sampel DNA yang bisa kamu gunakan. Saya bisa membantu anda untuk mengambil sampel DNA milik anda atau anda bisa mengambilnya sendiri silahkan saja manapun pilihannya Kami tetap menunggu ujar,” detektif Keiko.


Hilda memilih untuk meminta bantuan detektif Kiko untuk mengambilkan sampel DNA miliknya, dia sudah tidak bisa lagi berkutik dan hanya bisa mengikuti perintah kedua detektif itu .


Dan tentu saja kedua detektif itu merasa senang karena kini mereka bisa memberikan sampel DNA milik Hilda ini kepada Birdella untuk di uji di lab.

__ADS_1


__ADS_2