Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 46. Pengakuan Ivan


__ADS_3

"APANYA YANG WANITA BAIK2!" teriak Ivan saat detektif Egan terus mendesaknya sekaligus memperlihatkan foto Tania yang terbaring di meja otopsi.


    Tentu saja kedua detektif itu kaget mendengar perkataan dari Ivan tersebut.


    "Kenapa anda berkata demikian?" tanya detektif Keiko.


     "Hari itu, perempuan itu yang bahkan saya tak tahu siapa nama aslinya, mengirimi saya pesan singkat tentang kedatanganya di desa. Tentu saya harus menjembutnya," Ivan memulai ceritanya.


    "Dari mana anda mengenal Tania?" detektif Keiko kembali bertanya.


    "Dimana saya mengenalnya? Ehm... saya mengenalnya dari sebuah aplikasi penyedia jasa pemuas kenikmatan," jawab Ivan.


    "Jadi maksud anda, anda menyewa jasa korban?" detektif Keiko masih berusaha mengorek keterangan dari Ivan.


    "Iya. Saya menyewanya untuk memberikan saya kepuasan yang tentu akan saya bayar dengan sebagian gaji saya," mata Ivan terlihat penuh dengan kemarahan.


    "Lanjutkan cerita anda," detektif Egan mendesak.


    "Setelah saya mendapatkan pesan singkat itu saya langaung menjemputnya di desa, saya berniat membawanya ke ruangan tempat saya biasa bekerja. Namun karena saya ingat bahwa di sana ada kamera pengawas maka saya mengurungkan rencana untuk melakukannya di ruang kerja saya," lanjutnya.


    "Lalu..." kembali deketif Egan bersuara.


    "Akhirnya sama memutuskan membawa, siapa tadi nama perempuan itu?"


    "Tania. Tania Akbar," jawab Detektif Keiko.


    "Iya, siapa pun namanya itu. Saya membawanya naik ke atas bukit. Sejujurnya saat itu dia terlihat gembira dan cantik, bahkan dia sempat menelepon keluarganya memberi tahu soal kabarnya hari itu dengan riang."


    Mendengar ucapan itu, sebenarnya detektif Egan sudah sangat marah. Namun menyadari hal itu, detektif Keiko berusaha menahannya.

__ADS_1


    "Lalu apa yang terjadi selanjutnya yang terjadi?" detektif Keiko kembali memancing.


    "Kami hampir saja melakukannya. Bahkan dia memuji foreplay yang saya lakukan pada dirnya. Dia bilang belum ada yang melakukan itu kepadanya, biasanya siapa pun yang menyewa jasanya hanya memperdulikan diri mereka sendiri sementara dia sering kali merasa tersiksa dan kesakitan," Ivan kini menceritakan semua dengan wajah yang penuh rasa bangga.


    "Kalau memang semua berjalan lancar seperti yang anda katakan, kenapa Tania harus berakhir di meja otopsi saat ini?" detektif Egan berusaha sekali melawan amarahnya.


    "Perempuan itu, yang membuat saya bangga pada diri saya sendiri dalam beberapa menit lalu kemudian menertawakan saya," ekspresi bangga Ivan berubah menjadi amarah kembali.


    "Apa sebenarnya yang terjadi Ivan?" detektif Keiko berusaha mengambil alih, khawatir detektif Egan dan amarahnya mengacaukan sesuatu yang hampir saja berhasil mereka pecahkan.


    "Perempuan itu tiba-tiba saja tertawa kencang seraya menghinaku. Suara tawanya begitu menyakiti hatiku," masih jelas tergambar amarah di jawah dan kedua mata Ivan saat mengatakan hal itu.


    "Bagaimana bisa Ivan? Kenapa Tania menertawakan kamu?" kesempatan itu tak disia-siakan oleh detektif Keiko. Dia terus menekan dengan lembut.


    "Dia menertawakan aku saat baru saja alat tempur milikku hampir saja menyentuh lubang *********** sudah langsung mengeluarkan amunisi bahkan sebelum masuk," kini wajah dan ekspresi Ivan kembali berubah seakan dinaungi rasa malu.


    "Aku memang laki-laki yang tak memiliki daya, saya tahu itu. Sering kali hubungan yang aku miliki berakhir karena kelemahan aku yang satu ini. Tapi perempuan itu, dia aku bayar untuk memberikan kenikmatan yang aku bayar dengan sebagian gajiku. Bagaimana dia bisa menertawakan kelemahanku padahal dia akan aku bayar," amarah kembali mengusai Ivan.


    "Saat dia terbahak, aku memintanya untuk berhenti namun dia justru mengejekku terang-terangan. Dia bilang baru saya laki-laki lemah yang dia layani. Laki-laki lemah katanya, cih."


    "Lalu... "


    "Lalu karena dia tidak juga mau berhenti, saya mengambil tali yang memang ada di seragam saya yang biasa digunakan oleh para polisi hutan untuk menggantung pluit. Saya mencekik perempuan itu hingga tawanya yang terbahak berubah jadi jeritan yang mengerikan. Sekarang dia tahu bahwa saya bukan laki-laki lemah," ujar Iva dengan wajah seolah menghina Tania.


    "Tapi kami tidak menemukan ****** di tubuh korban, apakah cerita kamu bisa kami percaya?" tanya detektif Egan.


    "Bukankah sudah saya katakan tadi, bahwa amunisi saya sudah keluar bahkan sebelum masuk alat tempur saya masuk? Saat itu ****** saya berceceran di atas ****** ********," ujar Ivan.


     "Tapi kami juga sudah memeriksa ****** ***** Tania, kami tak juga menemukan ada cairan itu di sana," ujar detektif Keiko.

__ADS_1


    "Tentu saja kalian tak akan menemukan di ****** ***** yang dia gunakan karena saya mengganti ****** ******** dengan yang baru saat dia sudah tak bergerak dan bernafas lagi. Ternyata wanita itu sudah bersiap dengan membawa pakaian dalam lengkap di tas yang dia bawa," pengakuan Ivan.


    "Lalu dimana kamu meletakan ****** ***** itu? Apakah tugas Ardana kematin adalah menemukan ****** ***** itu?"tanya detektif Egan sambil menahan amarahnya.


“Bukan, bukan itu tugas yang aku berikan pada si bodoh Ardana itu. “


“Lantas apa yang harusnya dia cari hari itu?“ detektif Egan kembali bertanya.


“Seharusnya dia menemukan lencana polisi hutan milik saya yang secara tak sengaja aku jatuhkan entah dimana. Aku merasa mungkin di tempat kejadian itu lencana itu jatuh setelah saya sudah berusaha mencarinya kemana-mana.“


“Jadi ****** ***** milik Tania tak kamu tinggalkan di bukit tempat mayat Tania ditemukan?“ tanya detektif Keiko.


“Bukan.“


“Kalau bukan di sana, dimana kamu taruh ****** ***** milik korban yang melekat ****** kamu di sana,” detektif Keiko kembali menekan dengan nafa yang lembut.


    "Saya meletakan ****** ***** itu di dalam kamar saya. Bahkan saya belum mencucinya."


“Ngomong-ngomong, lencana yang dicari oleh Ardana ada di kami. Detektif Keiko yang menemukannya. Kamu benar, lencana itu memang jatuh di tempat kejadian perkara,” ujar detektif Egan sambil menutup pintu ruang interogasi dan kembali meninggalkan Ivan sendirian dengan wajah yang tertunduk lesu.


    Dengan pengakuan dari Ivan dan semua barang bukti yang terkumpul, termasuk ****** ***** yang dia simpan di dalam kamarnya dan tentunya masih dengan bukti DNA di atasnya, status Ivan kini resmi menjadi pelaku.


    Dan dengan melalui sidang yang tentu saja memberatkan Ivan, maka Ivan akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan.


Namun sayangnya Ardana tak bisa memberi hukuman untuk Ivan untuk usaha pembunuhan terhadap dirinya, karena telah dia tukar dengan surat pernyataan yang diganjar dengan tak ada tuntutan hukum pada dirihya.


    Keluarga Tania Akbar yang selama ini menunggu pengunggapan kasus ini dan siapa pelaku kejahatan atas anak perempuan pertama mereka pun akhirnya dapat mengangkat beban di hati mereka sebenuhnya.


    Kini Tania pun sudah bisa mendapatkan pemakaman secara layak yang dilakukan oleh pihak keluarganya di dampingi oleh Birdella yang sama bahagianya dengan keluarga Tania.

__ADS_1


    "Akhirnya kamu bisa beristirahat dengan tenang ya Tania. Aku ikut merasa merasa bahagia untuk pemakamanmu yang layak ini," ujar Birdella di atas makam Tania Akbar.


TAMAT


__ADS_2