
Detektif Egan tak sabar menunggu surat perintah dari pak Brox, terduduk dengan kaki yang terus dia gerakan di balik komputernya yang belum menyala sejak dia sampai tadi pagi-pagi seklai.
Saat itu pun rekannya, detektif Keiko belum juga datang ke kantor padahal jam di dinding ruangan mereka sudah menunjukan pukul delapan pagi lewat.
Berkali-kali detektif Egan memeriksa ponsel dan jam di dinding ruangan secara berkala dan bergantian. Sikap tak sabarnya sangat terlihat jelas kali ini, bahkan semua temannya di ruangan itu dapat menyadarinya dengan mudah ta pa harus bertanya.
Sekitar pukul sembilan pagi, akhirnya detektif Keiko dan pak Brox, atasan mereka datang secara bersamaan. Pak Brox berjalan melewati detektif Egan tanpa menyapa dan langsung masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu serta menutup tirai di jendela yang langsung menghadal ruangan para detektif.
Detektif Egan baru saja bangkit dari duduknya untuk menemui pak Brox namu detektif Keiko menahannya.
“Ngga usah ganggu pak Brox dulu,” ujar detektif Keiko sambil menahan langkah detektif Egan.
“Tapi kita butuh surat perintah itu,” ucap detektif Egan.
“Suratnya udah ada sama gue. Nih,” balas detektif Keiko sambil menunjukan surat perintah yang telah ditanda tangani oleh pihak yang berwenang.
Detektif Egan tersenyum, merasa cukup puas karena kini dia bisa segera menemui Ivan, sang polisi hutan dan memastikan apakah teorinya selama ini benar adanya atau hanya imajinasinya yang menggiring dia kepada Ivan.
“Kita berangkat sekarang?“ tanya detektif Keiko.
“Lebih cepat akan lebih baik juga,” jawab detektif Egan.
Dengan rasa bergelora di dada, yang juga tak bisa diartikan secara seutuhnya oleh detektif Egan, akhirnya dia dan detektif Keiko manaiki mobil dinas mereka dan kembali menelusuri jalan desa di bawah bukit itu.
Seperti biasa, detektif Egan memarkirkan mobil dinas mereka di lahan parkir yang disediakan di bawah bukit dimana kejadian pembunuhan Tania terjadi beberapa minggu lalu.
__ADS_1
Ketika detektif Egan keluar dari mobil, Ivan yang baru saja keluar dari ruangan yang disebutnya sebagai 'kantor' yang berada sedikit di atas lahan parkir.
Dengan santai Ivan menyapa, “Selamat datang pak detektif. Anda datang lagi, bukankah ini hari yang cerah di bulan september ini?!“
Detektif Egan berjalan melangkah mendekati Ivan setelah detektif Keiko turun dari mobil.
“Bayangkan, matari cerah hampir tanpa awan di bulan september. Sungguh sesuatu yang langka ya?!“ ujar detektif Egan.
“Benar. Biasanya di bulan september seperti ini jarang sekali pe gunjung datang ke bukit ini. Membuat suasan sepi yang khas. Bukit akan kembali ramai saat memasuki bulan februari nanti,” Ivan berusaha menjelaskan situasi bukit itu di waktu-waktu tertentu.
“Apakah menurut pengalaman anda, akan sedikit atau hampir tak ada yang akan naik ke bukit di bulan-bulan seperti sekarang ini?“ tanya detektif Egan.
“Kalau menurut pengalaman saya selama berjaga di bukit ini, ya kira-kira seperti itu.“
“Tapi mungkin saja anda juga bisa salah memperediksi bukan?!“
“Apakah ada kesalahan dari ucapan saya,Ivan? tanya detektif Egan ketika dia tahu telah menyentuh sesuatu yang tak ingin Ivan perlihatkan.
“Tentu saja detektif. Kita semua manusia, mungkin saja membuat kesalahan bukan!?“ balas Ivan dengan seringai yang sekilas terlihat begitu mengerikan.
“Kami ke sini untuk meminta bantuan anda, Ivan,” ujar detektif Keiko.
Seringai di wajah Ivan langsung berubah saat dia memalingkan tatapannya daridetektif Egan ke detektif Keiko.
“Bantuan macam apa yang anda inginkqn detektif?“
__ADS_1
“Apakah anda bersedia memberi kami sample DNA anda?“ tanya detektif Keiko dengan ramah.
“Untuk apa kalau saya boleh tahu?“
“Untuk—”
“Apakah kini saya masuk dalam daftar tersangka kalian?“ tanyanya dengan suara pajik yang berusaha disamarkan.
“Kami lihat di database kami, bahwa DNA anda belum ada di sana,” detektif Keiko berusaha memberi alasan yang nampaknya tak berhasil.
“Kenapa anda memintanya sekarang, saat kasus itu terjadi di sekitar tempat saya bekerja? Kemana saja kalian selama ini?“ tanya Ivan dengan nada marah.
“Kenapa nada begitu marah, Ivan?“ tanya detektif Egan.
“Makan coba anda beri tahu saya kenapa saya begitu marah?“ Ivan menanyakan hal sama pada detektif Egan.
Suasana saat itu mendadak sunyi. Baik detektif Egan dan Ivan sama-sama dikuasai oleh amarah di dalam dada masing-masing, mereka butuh menenangkan diri dulu tapi sepertinya detektif Egan yang kesabarannya hanya sebatas tisu tak lagi bisa menahan diri.
“Berikan sample DNA anda!“ teriaknya pada Ivan.
“Saya tidak mau!“ Ivan memjawab dengan tak kalah sengit.
“Bagaimana bila saya memaksa?“
“Berikan saya surat perintah maka saya akan memberikan DNA saya,” jawab Ivan.
__ADS_1
Detektif Egan membuka dan memeprlihatkan surat perintah yang sudah dia dapatkan pagi tadi dari pak Brox lalu dia berkata, “Maka berikan sample DNA anda kepada kami sekarang juga.“