
“Tentu saja saya akan datang ke kantor kalian dengan senang hati jika saya mendapatkan surat perintah pemanggilan secara resmi oleh kepolisian,” ujar Hilda dengan penuh percaya diri.
“Sepertinya anda semakin pintar sekarang Hilda,” ujar detektif Egan.
“Tentu saja pak,” balas Hilda.
“Dari mana anda mendapatkan kepintaran itu Hilda?“ tanya detektif Keiko.
“Apa mungkin dari kekasih anda, siapa namanya, Romeo Soeratman, ya itu?“ ujar detektif Egan berusaha mengintimidasi.
“Saya tak akan menjawab pertanyaan apa pun dan dari siapa pun jika tidak di kantor polisi,” nada bicara Hilda kini sudah sedikit melemah tapi sepertinya tetap dia tak ingin memperlihatkannya kepada detektif Egan dan Keiko
“Baiklah kalau begitu Hilda, sampai bertemu lagi di tempat kami nanti,” ujar detektif Keiko tersenyum.
Setelah tak berhasil mewawancarai Hilda saat itu, detektif Egan dan Keiko akhirnya berjalan meninggalkan lobbi gedung itu dan kembali ke dalam mobil mereka.
“Kita harus secepatnya minta surat perintah pemanggilan buat Hilda ke pak Brox,” ujar detektif Egan geram.
“Sesampainya di kantor kita langsung ke ruangan pak Brox dan minta surat perintah pemanggilan Hilda,” ujar detektif Keiko berusaha menenangkan rekannya itu.
“Itu semua pasti Romeo yang ajarin. Dia berusaha melindungi dirinya sendiri dan menyuruh Hilda mrnghindari kira,” detektif Egan masih kesal.
“Jadi lo masih yakin kalau pelaku pembunuhan ini adalah Romeo?“ tanya detektif Keiko.
“Seratus persen pasti dia pelakunya,” detektif Egan masih bersikukuh dengan pemikirannya sendiri walau detektif Keiko pernah mengemukakan pandangannya tentang orang lain yang mungkin juga jadi tersangka.
Bahkan bagi detektif Egan, dua tersangka lain, Abqari dan Berlian tak pernah dia perdulikan secara sungguh-sungguh. Berbeda denga detektif Keiko yang merasa semus tersangka memiliki pesentasi ysng sama untuk terus dicurigai.
Sesampainya di kantor, sesuai rencana keduanya untuk mendatangi pak Brox untuk meminta surat perintah pemanggilan terhadap Hilda.
Baru saja mereka akan mengatuk pintu dan masuk ke dalam ruangan pak Brox, namun ponsel milik detektif Keiko berbunyi.
“Iya del,”
“Kalian dimana sekarang?“ tanya Birdella.
“Di kantor,” jawab detektif Keiko.
“Kalau gitu, kalian bisa cepet ke sini dong ya,”
“Kenapa? Apa udah keluar hasilnya?“ tanya detektif Keiko antusias.
“Udah, makanya kalian cepet deh ke sini,”
__ADS_1
“Oke, gue sama Egan sekarang juga ke sana,” ujar detektif Keiko lalu segera memutus hubungan telepon itu.
“Kenapa?“ tanya detektif Egan.
“Kita nanti aja ke pak Brox nya,” ujar detektif Keiko.
“Apa Birdella udah punya hasilnya?“ tanya detektif Egan.
“Iya, dia bilang dia udah punya hasil dari DNA yang kita berikan ke dia kemarin,” jawab detektif Keiko.
“Bagus. Ayo cepat kita ke sana. Gue udah ngga sabar,” balas detektif Egan panuh ketertarikan seolah adrenalinnya terpacu.
Mereka pun berusaha secepat mungkin untuk sampai di ruang kerja Birdella.
“Menurut lo siapa? Romeo? Berlian?“ tanya detektif Egan ketika mereka berada di dalam lift yang melaju turun ke ruangan Birdella.
“Bisa jadi Abqari,” jawab detektif Keiko.
Begitu pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju, kedua detektif itu mempercepat langkah mereka.
“Jadi DNA siapa yang cocok?“ tanya detektif Keiko saat mereka membuka pintu lab kekuasaan Birdella.
“Sayang sekali, ngga ada satu pun DNA yang cocok,” jawab Birdella denga wajah murung.
“Ngga mungkin. Pasti DNA Romeo cocok,” detektif Egan begitu kecewa ketika tahu analisa dan kecurigaannya kepada Romeo ternyata salah.
“Intuisi kalian sebagai detektif memang tajam. Biasanya intuisi itu pula yang menuntun kalain hingga akhirnya sebuah kasus bisa terpecahkan. Tapi apakah adil jika bahkan DNA pun tak membuktikan kesalahan seseorang dan kita tetap memaksakan toeri yang kita percayai,” ujar Birdella.
“Tapi ini berarti kami harus mulai dari awal lagi. Semua tersangka dalam daftar kita harus kita coret semua,” ujar detektif Egan penuh amarah.
“Kita masih punya satu tersangka yang masih harus kita selidiki,” ujar detektif Keiko.
“Maksud lo Hilda?“ tanya detektif Egan.
“Iya. Sebenanya dia punya motif untuk melakukan pembunuhan ini kepada Tania,” detektif Keiko semakn bersemangat.
“Motifnya karena berebut perhatia Romeo?“ tanya detektif Egan.
“Kalian laki-laki tak bisa mengerti jalan pikiran kami para wanita, ujar detektif Keiko.
“Misalnya?“ tanya detektif Egan lagi.
“Seperti rasa cemburu pada mantan kekasih darinke kekasih kita,” detektif Keiko memberi jawaban.
__ADS_1
“Tapi namanya mantan pasti masih ada sisanya perasaanyang tertinggal dalam nati,” ujar detektif Keiko.
“Semua yang jadi mantan berarti segala urusan sudah selesai dong,” ujar detektif Egan.
“Itu menurut kalian para lelaki,” Birdella menyela.
“Lantas menurut kalian para perempuan, bagaimana?“ tanya detektif Egan.
“Bagi kami para perempuan, mantan adalah racun. Meski pun sang mantan tak melakukan apa pun, tak berusaha menarik perhatian kekasih kita sekalipun, namun keberadaannya di sekitar kekasih kita adalah sebuah ancaman,” jawab Birdella.
“Nah itu dia maksud gue. Bisa aja Hilda merasa bahwa Tania adalah ancaman besar untuk hubungannya dan Romeo,” ujar detektif Keiko.
“Maka Hilda menghabisi nyawa Tania, agar dia merasa aman dan nyaman kembali untuk melanjutkan hubungannya denga Romeo,” tambah Birdella.
“Seseram itukah isi kepala kalian, para perempuan,” ujar detektif Egan bergidik.
“Ini hanya sebuah teori pak detektif,” ujar Birdella sambil tersenyum namun detektif Egan sudah terlanjur merinding.
Seteleh selesai ruangan Birdella, kedua dtektif itu kembali keruangan mereka dan menemui pak Brox untuk meminta surat perintah oemanggilan untuk Hilda.
“Apakah dia tersangka baru?“ tanya pak Brox.
“Betul pak,” jawab detektif Egan.
“Bagaimana denga tiga tersangka kita di awal? tanya pak Brox.
“Birdella sudah mengecek dan mencocokan DNA mereka dengan DNA yang ditemukan di tubuh korban tapi sayang sekali tak ada satu pun yang cocok,” jawab detektif Keiko.
“Berarti sekarang kita mulai dari nol lagi? tanya pak Brox.
“Semoga Hilda bisa menjadi jalan kita,” ujar detektif Keiko penuh harap.
“Kenapa Hilda ini bisa kalian curigai? Apa motifnya?“ tanya pak Brox penasaran.
“Dia adalah sahabat korban namun juga sekaligus mantan kekasih Romeo, kekasih Hilda saat ini,” jawab detektif Egan.
“Oh baik, masuk akal dan cukup menjanjikan,” ujar pak Brox.
“Selama ini sudah mewawancarainya di kantornya, namun hari ini tiba-tiba saja dia tak ingin bicara lagi dengan kami,” ucap detektif Keiko.
“Dia hanya mau bicara jika ada surat petintah pemanggilan dan dibawa ke sini,” tambah detektif Egan
“Jadi bagaimana pak?“ tanya detektif Keiko.
__ADS_1
“Baik kalau begitu. Kalian akan mendapatkan surat perintah itu besok dan bawa Hilda besok ke sini,” pak Brox meyakinkan detektif Edan dan Keiko.