Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 45 Semua hal menuju Ivan


__ADS_3

Cukup kewalahan juga detektif Egan saat berusaha mengejar Ivan yang larinya seperti cheetah itu. Andai saja tak ada dua polisi desa itu, mungkin Ivan kali ini sudah lolos dari pengejaran mereka.


Kini kedua detektif itu dan Ivan sedang dalam perjalanan menujuvke kantor polisi.


“Lo masih sering olah raga?“ tanya detektif Keiko.


“Hampir setengah tahun ini aku tak sempat berolah raga.“


“Tapi lari lo cepet juga,” puji detektif Keiko.


“Ini berkat kopi Toraja kiriman sepupu gue. Gue harus mengucapkan terima kasih sama dia,” jawab detektif Egan.


Ketika mereka bertiga sampai di kantor polisi,nmereka segera menempatkan Ivan di ruangan Interogasi. Dia ditingkalkan di sana terduduk sendirian.


“Jadi dia pelakunya?“ tanya pak Brox yang memperhatikan dari balik cermin satu arah.


“Semua hal menjurus padanya,” jawab detektif Keiko.


“Dan bukti terpenting, DNA itu juga miliknya”sambung detektif Egan.


“Kalau begitu, tugas kalian hanya tinggal membuatnya mengakji perbuatannya,” perintah pak Box.


“Baik pak,” jawab kedua deteketif itu bersamaan.


Setelah menerima perintah dari pak Brox, detektif Egan dan Keiko kembali masuk menemui Ivan di dalam ruang interogasi.


“Jadi bagaimana anda akan menjelaskan ini semua, Ivan?“ tanya detektif Egan.


Ivan tak mengeluarkan sepatah kata pun namun dia duduk dengan tegap, dadanya pun dia busungkan serta dagunya mengarah ke atas.


“Sepertinya anda bangga sekali dengan apa yang sudah anda lakukan ya?!“ sambung detektif Egan mengintimidasi.


“Ivan, beritahu kami. Kenapa anda melakukan ini?“ suara lembut detektif Keiko terdengar namun Ivan belum juga bereaksi.


“Tak apa-apa. Anda hanya perlu mengatakan kepada kamu alasan anda mengakhiri hidup Tania,” detektif Keiko berusaha mencoba lagi.


“Anda itu polisi, bertugas membantu masyarakat. Walau polisi hutan sekali pun tugas anda melindungi mereka yang membutuhkan bantuan bukan jutru mengabil nyawa mereka,” ujar detektif Egan.

__ADS_1


“Apakah anda sadar bahwa seragam yang anda kenakan itu pun menjadi tanggung jawab besar bagi anda?“ sambung detektif Egan.


“Maka sebagai sesama polisi, bantu kami. Berikan kami alasan mengapa anda melakukan itu kepada Tania. Apa anda mengenal Tania?“ ujar detektif Keiko.


Ivan tak menjawab dengan kata-kata namun dia menggelang pelan.


“Jika kalian tak saling kenal, bagaimana kalian bisa bertemu?“ detektif Keiko kembali bertanya dan kembali, Ivan tak memberi jawaban dan tetap dalam posisinya.


Detektif Egan dan Keiko saling melempar pandangan berusaha mengatur strategi karena yang kali ini mereka gunakan sepertinya tak berhasil.


Tiap detik berlalu tanpa pengakuan dari ivan dan Detektif Egan sudah mulai kehabisan kesabaran, melihat reaksi yang diberikan oleh Ivan.


Pintu ruang interogasi di ketuk dan pak Brox muncul, “Ada yang ingin bert3mu dengan kalian.“


Kembali kedua detektif itu meninggalkan Ivan di ruang interogasi dan mengikuti langkah pak Brox.


“Mereka mengaku membantu kalian menangkap Ivan,” ujar pak Brox.


Di hadapan mereka kini berdiri dua polisi yang bertugas di desa di bawah bukit tempat kejadian perkara tempo hari.


“Ada apa, pak?“ tanya detektif Keiko.


“Sebenarnya saat itu kami memang akan mendatangi tempat Ivan bekerja. “


“Dalam rangka?“ tanya detektif Egan.


“Kami hendak menangkap Ivan,” jawab salah satu polisi itu.


“Atas kejahatan apa?“ kini detektif Keiko yang bertanya.


“Atas laporan seseorang karena percobaan pembunuhan yang dilakuakan Ivan terhadap pelapor.“


“Apakah orang yang anda maksud, adalah Ardana?“ tanya detektif Keiko lagi berusaha menebak.


“Betul sekali,” kedua polisi itu kemudian terdiam dan bertanya, “Apakah ada kaitan dari dua kasus yang kalian tangani?“


“Iya. Kami memang sudah menyelidiki siapa yang meletakan alkohol dalam rokok yang dihisap Ardana,” jawab detektif Egan.

__ADS_1


“Dalam rokok? Jadi bukan di kopi yang diminum oleh Ardana?“ tanya salah satu polisi itu.


“Awalnya kami pikir juga begitu tapi setelah tim forensik kami di sini memeriksa, ternyata alkohol itu dimasukan ke dalam rokok yang dihisap Ardana.“


“Bagaimana Ardana tahu kalau Ivan yang berusaha membunuhnya?“ detektif Egan kebingungan.


“Menurut pengakuan Ardana, dia meyakini bahwa Ivan yang mencoba membunuhnya dengan alkohol itu karena dia menyimpan sebuah rahasia yang tak boleh terungkap. Karena akhir-akhir ini Ardana sering didatangi detektif, yang saya percaya itu adalah kalian, maka kemungkinan besar Ivan takut kalau Ardana membongkar semua,” salah satu polisi menjabarkan.


“Ini pasti soal mayat di atas bukit itu,” gumam detektif Keiko.


“Setelah mendengar cerita dari Ardana, kami juga jadi berpikir bahwa mungkin Ivan adalah orang yang bertanggung jawab dalam kasus penemuan mayat di atas bukit itu,” polisi yang lain juga mengemukakan pendapatnya.


“Kemungkinan saat kami menemukan Ardana di tempat kejadian perkara tempo hari, dia sedang dimintai bantuan oleh Ivan untuk mencari barang milik Ivan yang tercecer dan akan langsung mengarah kepada dirinya,” ujar detektif Egan mencoba untuk menganalisa.


“Namun sayangnya Ardana tak bisa menemukan benda yang dimaksud dan justru kami yang menemukannya,” sambung detektif Keiko.


“Jadi bagaimana sekarang?“ tanya detektif Keiko.


“Kita harus desak Ivan untuk mengakui perbuatannya dan memberi tahu kepada kita apa motif dia melakukan itu,” ujar detektif Egan.


“Bagus. Kami akan membantu apa pun sebisa kami,” polisi desa itu menawarkan diri.


“Tentu saja pada akhirnya kami butuh bantuan kalian. Saya minta tolong agar anda bisa meminta pernyataan tertulis dari Ardana dan serahkan kepada kami sebagai barang bukti,” pinta detektif Egan.


Setelah kedua detektif dan dua polisi dari desa itu berdiskusi dan sepakat untuk saling membantu dalam proses pemecahan masalah mayat di atas bukit itu, akhirnya mereka berempat berpencar.


Kedua polisi dari desa itu segera kembali ke desa untuk menemui Ardana kembali dan meminta Ardana untuk membuat surat pernyataan atas keterlibatan dirinya dengan Ivan dengan sebua jaminan dia tak akan dipenjara walau secara tidak langsung sebagai kaki tangan pelaku, sesuai permintaan detektif Egan.


Sementara detektif Egan dan Keiko kembali ke ruang interogasi dan kembali mewawancarai Ivan yang masih terduduk dengan posisi wajah yang masih mendongak penuh kepercayaan diri.


Detektif Egan yang melihat Ivan yang seperti itu merasa darahnya mendidih. Andai tak ada undang-undang yang melarang tindakan kekerasan di dalam ruanb interogasi, ingin rasanya dia menghajar Ivan habis-habisan.


“Bagaimana cara anda menghabisi wanita tak berdosa ini!“ ujar detektif Egan sambil memperlihatkan foto Tania yang terbaring di meja otopsi.


“WANITA TAK BERDOSA APANYA?“ balas Ivan tak kalah sengit.


Detektif Keiko berusaha menenangkan keduanya, dia membawa Ivan kembali duduk setelah berdiri dan hampir menyerang detektif Egan.

__ADS_1


__ADS_2