Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 26. Mengetahui identitas kekasih Hilda


__ADS_3

Setelah bersepakat, hari itu detektif Egan dan Keiko memutuskan untuk menemui Hilda di tempatnya bekerja.


Tapi sesampainya kedua detektif itu di lobi, tempat mereka biasanya melihat Hilda duduk manis bekerja menerima tamu untuk perusahaan ini.


“Hilda hari ini masuk atau tidak?“ tanya detektif Keiko kepada salah seorang resepsionis.


“Dia sedang dipanggil oleh atasan kami,” jawab rekannya itu.


“Dipanggil kemana?“


“Saya kurang tahu pak. Tadi Hilda ditelepon dan dia langsung pergi. Dia hanya bilang dipanggil oleh atasan kami,” jawab resepsionis itu lagi.


“Kalian adalah polisi yang kemarin kan?“ lanjut resepsionis itu bertanya.


“Betul,” jawab detektif Egan.


“Apakah kalian sedang menyelidiki sesuatu?“ tanya resepsionis itu.


“Apakah kamu kenal Tania Akbar?“ tanya detektif Keiko.


“Tania? Dia yang baru masuk beberapa bulan lalu?“


“Betul. Apa yang kamu tahu soal Tania?“ tanya detektif Egan.


“Ngga banyak yang saya tahu soal Tania. Saya hanya tahu dia teman dekat dari Hilda. Saya dengar dia menjajakan dirinya dan saya rasa Tuan Romeo mengenalnya. Apa mungkin tuan Romeo salah satu pelanggannya?“ resepsionis itu terlihat sangat penasaran.


“Bisa jadi benar namun juga bisa salah,” detektif Egan sengaja membuat resepsionis itu menerka-nerka. Terlihat pula wajah bingung resepsionis itu membuat detektif Egan tersenyum puas.


“Wah ngaco lo gan,” bisik detektif Keiko.


“Biar aja,” balas detektif Egan juga berbisik.


“Gue mau ke toilet dulu lah,” ujar detektif Keiko dan dia langsung berlalu begitu saja meninggalkan rekannya yang masih menikmati wajah bingung resepsionis itu.


Detektif Keiko kembali keluar dari toilet terdekat dari meja resepsionis itu karena di depan pintunya tertulis 'Toilet dalam perbaikan'.


“Ada toilet lain bu. Di dekat taman belakang gedung,” ujar salah satu petugas yang melihat detektif Keiko yang baru saja keluar dari toilet.

__ADS_1


“Baik. Terima kasih banyak,” balas detektif Keiko dan langsung berjalan ke toilet yang dimaksud karena memang sudah sangat kebelet.


Di taman belakang ada sepasang manusia yang sedang saling berbincang. Detektif Keiko bisa melihat dari ekor matanya namun karena sudah tak tahan, dia tak perduli sama sekali.


Setelah selesai dengan urusannya di toilet, detektif Keiko segera keluar dan kembali melewati taman itu. Kedua manusia itu masih di posisi yang sama, saling berhafapan dan mengobrol, lalu tak lama saling berpelukan.


Detektif Keiko akhirnya menyadari bahwa dia mengenali kedua orang itu. Hilda dan laki-laki yang bersamanya adalah Romeo.


Detektif Keiko bergegas kembali menemui rekannya di dalam lobi gedung perusahaan itu.


“Aku menemukan Hilda,” ucap detektif Keiko begitu bertemu denga detektif Egan.


“Dimana?“


“Lo pasti ngga akan percaya sama apa yang gue lihat,” balas detektif Keiko bersemangat.


Wajah detektif Egan terlihat begitu penasaran. Namun sebelim detektif Egan sempat mengajukan pertanyaannya, mereka melihat Hilda berjalan masuk ke dalam lobbi.


“Itu Hilda,” ujar detektif Egan sambil menunjuk ke arah belakang tubuh rekannya.


Detektif Keiko memutar tubuhnya dan melihat Hilda yang sudah duduk di kursinya.


“Benarkah? Siapa?“ detektif Egan semakin penasaran.


“Apakah benar pak Bian?“ tanbah detektif Egan.


“Kita salah soal itu. Kekasih Hilda bukan pak Bian tapi Romeo Soertman,” jawab detektif Keiko.


“Hilda berpacaran dengan mantan kekasih sahabatnya?“ ujar detektif Egan kaget.


“Bukankah kini Hilda jadi mencurigakan juga?“


“Maksud lo, mungkin dia membunuh Tania karena dia tahu bahwa Tania adalah mantan kekasih Romeo?“ tanya detektif Egan.


“Iya,” jawab detektif Keiko.


“Ngga masuk akal. Kenapa Hilda harus membunuh Tania hanya karena Romeo dan Tania pernah berpacaran,” detektif Egan menyanggah teori temannya itu.

__ADS_1


“Bagaimana jika Hilda merasa bahwa Tania adalah ancaman untuk posisinya sekarang!? Hilda takut Romeo jatuh cinta lagi kepada Tania,” detektif Keiko masih bersikukuh pada teori miliknya.


“Bagaimana jika ternyata Romeo yang membunuh Tania dengan alasan dia tak ingin Tania cerita kepada Hilda bahwa mereka dulu adalah sepasang kekasih,” detektif Egan mengemukakan teori yang muncul dalam kepalanya.


Kedua detektif itu terdiam, tenggelam dalan teori dan analisa mereka masing-masing. Mencoba mencocokkan teori mereka dengan fakta yang sudah mereka kumpulkan walau pun pada akhirnya masing-masing dari mereka menemukan jalan buntu.


“Kita jadi introgasi Hilda?“ tanya detektif Keiko, menyadarkan rekannya dari pikirannya sendiri.


“Jadi dong. Nanggung udah di sini, ditambah kita menemukan fakta baru hari ini,” jawab detektif Egan dengan percaya diri.


Kedua detektif itu mendekati meja resepsionis dan seperti biasa Hilda menyambut mereka denga senyuman ramah dan manis.


“Selamat sore detektif Egan, detektif Keiko. Ada yang bisa saya bantu kali ini?“ tanya Hilda penuh keramahan.


“Tentu saja. Ada pertanyaan yang perlu kami tanyakan kepada anda,” jawan detektof Keiko tak kalah ramah.


“Masih ingin bertanya kepada saya? Apakah masih soal Tania?“ tanya Hilda lagi.


“Sayangnya begitu,” jawab detektif Keiko dengan wajah murung.


“Jadi, kalian belum menemukan siapa pelakunya?“ tanya Hilda yang wajahnyabiktu murung.


“Sayahgnya belum,”jawab detektif Keiko.


“Kami ingin bertanya soal kekasih anda. Apakah kekasih anda adalah Romeo Soeratman?“ tanya detektif Egan.


Mendengar pertanyaan dari detektif Egan itu, mendadak air muka Hilda berubah pucat karena kaget sekaligus kaget karena detektif Egan sudah mengetahui kekasihnya itu.


“Apa yang anda katakan?“ tanya Hilda berusaha mengelak, apalagi percakapan itu terjadi di hadapan rekan kerjanya yang kini terlihat sangat kaget.


“Ada banyak pertanyaan yang ingin kami tanyakan kepada anda terkait hubungan anda dan Romeo,” ujara detektif Egan.


“Saya tak ingin menjawab pertanyaan anda,” jawab Hilda dengan tegas.


“Bagaimana jika kita ngobrol di kantor kami,” ujar detektif Keiko sambil melirik ke sebelah Hilda.


“Tentu saya akan datang jika di panggil ke kantor kalian,” balas Hilda.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu,” ujara detektif Egan.


“Namun tentu jika saya dipanggil menggunakan surat perintah,” balas Hilda dengan percaya diri.


__ADS_2