
Segera setelah detektif Egan dan Keiko menyelesaikan urusannya dengan Romeo dan mendapat sample DNA milik Romeo, keduanya bergegas beranjak dari tempat tinggal Romeo dan secepatnya mendatangi laboratorium forensik, tempat kerja Birdella.
“Gue belom dapet hasil daribpemeriksaan DNA yang kemarin karena tadi daya listrik di lab ini mati,” ujar Birdella saat melihat detektif Egan dan Keiko masuk ke ruangannya.
“Wah kacau lo del. Lama banget kerja lo kali ini,” ejek detektif Keiko sambil tersenyum kecil.
“Maaf tuan putri yang sangat saya hormati dan cintai, tapi masalah listrik yang tadi terjadi di sini itu diluar kewenangan saya,” ujar Birdella dengan nada menyindir namun sesungguhnya mereka berdua hanya saling melempar candaan.
“Nih kami bawain sampel DNA baru buat lo teliti del,” ujar detektif Egan.
“Lagi? Ya ampun,“ ujar Birdella dan berakting seolah sampel DNA sungguh sangat membebaninya padahal sesungguhnya dia sangat menikmati pekerjaan itu.
Detektif Egan memberikan sampel DNA milik Romeo Soeratman ke Birdella. Birdella pun membubuhkan nama Romeo di atas plastik pembungkus alat pengumpul sampel itu agar tak saling tertukar satu sama lain.
“Gue bakal usahakan, besok akan keluar hasil dari pengecekan semua kumpulan sample ini,” Birdella berjanji kepada kedua detektif yang masih terus berusaha mengungkapkan kasus ini.
“Bagus kalau bener besok udah keluar hasilnya. Makin cepat maka akan lebih baik buat kita semua,” ujar detektif Egan.
“Iya. Gue juga kasihan sama Tania, dia pasti belum bisa pergi dengan tenang karena kita belum menemukan siapa pelaku yang melakukan ini pada dia. Dia juga pasti ingin pelakunya dihukum setimpal. Menenangkan untuk Tania dan juga keluarganya pasti,” ujar Birdella penuh rasa sedih.
Birdella mungkin satu-satunya dokter forensik yang sebegitu menghargai setiap korban yang masuk ke dalam ruang otopsinya. Birdella juga selalu memperlakukan para korban yang sudah meninggal dengan baik bahkan Birdella tak pernah ingin menyebut mereka yang terbaring di dalam laboratorium tempatnya bekerja sebagai korban, namun memanggilnya dengan nama sesungguhnya.
__ADS_1
“Kita ngga mau ganggu pekerjaan lo kali ini del. Kita keluar dulu ya. Kabarin kita begitu hasil pengecekannya udah keluar, gue udah ngga sabar mau nangkep siapa pelakunya,” ujar detektif Egan penuh ambisi.
“Bye del,” ujar detektif Keiko sambil menutup pintu laboratorium dan berlalu meninggalkan Birdella.
“Bye,” balas Birdella melambaikan tangan dan langsung kembali tenggelam dalam pekerjaan yang selalu membuatnya merasa bersemangat.
************
“Kok hati gue masih ganjel ya soal kekasihnya Hilda,” ujar detektif Egan ditengah pekerjaan mereka memeriksa barang bukti dan kesaksian yang mereka sudah kumpulkan.
“Maksud lo, dia bisa aja jadi salah satu tersangka kita?“ tanya detektif Keiko.
“Kenapa ngga? Kenapa dia bisa tahu kalau Tania udah meninggal? Kenapa juga dia ingin Hilda buat berhenti mencari tahu lagi soal Tania?“
“Iya, benar. Tapi gue masih penasaran. Pengen tahu siapa orang itu,” tambah detektif Egan sakan memiliki firasat.
“Jadi lo masih mau nemuin Hilda lagi?“ tanya detektif Keiko.
“Menurut lo gimana?“ tanya detektif Egan menunggu persetujuan rekannya.
“Kalau gue sih oke aja. Kapan pun berangkat gue ikut,” jawab detektif Keiko.
__ADS_1
“Tapi kelihatannya emang hubungan Hilda dan kekasihnya itu terlihat amat privat sampe mereka harus sembunyi-sembunyi untuk sekedar bertemu. Bahkan Hilda ngga berani menyembut nama kekasihnya bahkan pada kita,” tambah detektif Keiko.
“Nah itu adalah salah satu alasan yang bikin gue penasaran. Kayaknya dia pacaran dengan salah satu atasan di perusahaan itu. Dan seperti kita tahu, ketiga komisaris di perusahaan itu seolah membantu membentuk alibi untuk Romeo,” ujar detektif Egan.
“Menurut lo, Hilda berpacaran dengan salah satu komisaris itu?“ tanya detektif Keiko membulatkan kedua matanya.
“Itu mungkin aja kan!? Mungkin juga pacar Hilda itu, paling tidak mengetahui soal kematian Tiara.“
“Tapi bukan kah ketiga komisaris itu sudah memiliki keluarga?“
“Justru di sana letak tantangannya bagi kedua orang itu. Laki-laki beristri senang memacu adrenalin dengan memacari seseorang di luar pernikahan mereka. Begitu pula wanita seperti Hilda, sepertinya dia butuh uang untuk gaya hidupnya di kota besar macam di sini,” balas detektif Egan.
“Gue kemarin emang lihat dia pake cincin berlian yang cukup besar. Kalau kita lihat dari latar belakang keluarganya dan pekerjaannya saat ini, agak tidak mungkin dia bisa membeli cincin itu semahal itu,” detektif Keiko memaparkan apa yang selama ini dia pikirkan.
“Kalau menurut lo, siapa yang paling mungkin jadi pacaranya Hilda?“
“Kemarin dia langsung menunjukan kita pak Bian pada kita. Padahal seperti kita sama-sama tahu, selama ini kita sulit sekali bertemu dengan salah satu komisaris di perusahaan itu,” ujar detektif Keiko.
“Apa mungkin dia sengaja menunjukan kita pak Bian supaya kita fokus terhadap pak Bian dan meninggalkan kekasihnya, komisaris yang lain?“ detektif Egan mulai menerka.
“Atau mungkin justru Hilda dan pak Bian sedang bertengkar hebat, entah tentang apa itu. Hingga Hilda gelap mata dan kesal, lalu dia merasa bahwa ini bisa menjadi sebuah balas dendam dan pelampiasan kekesalannya. Dia justru ingin menyerahkan pak Bian kepada kita yang mungkin benar berhubungan dengan kasus kita ini?“ detektif Keiko juga memberi analisanya.
__ADS_1
“Kita akan bisa menemukan jawaban dari pertanyaan ini kalau kita bisa menemukan siapa sebenarnya kekasih Hilda itu,” ujar detektf Egan penuh semangat.