Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 31. Kasus menemui jalan buntu


__ADS_3

Setelah menfapatkan jawaban dari Birdella, detektif Egan dan Keiko kembali ke meja kerja mereka masing-masing.


Detektif Keiko membawa hasil analisa Birdella di dalam map coklat dan menggabungkannya bersama data lain yang sudah mereka kumpulkan sejak penyelidikan kasus ini dimulai.


Sementara itu, detektif Egan duduk termangu di kursi kerjanya berusaha memikirkan hal apa yang dia lewatkan dari penyelidikan ini. Puzzle yang hilang itu harus segera ditemukan dan mengisi ruang kosong.


“Apa yang akan kita lakukan?“ tanya detektif Keiko sambil menumpuk lagi map-map coklat yang sudah selesai dia baca.


“Kita pasti melewatkanbanyak hal di tempat kejadian perkara,” ucap detektif Egan sambil terus tenggelam dalam pikirannya sendiri.


“Bukannya Birdella udah meriksa semua sudut tempat kejadian perkara?! Apa sekiranya yang kita lewatkan?“


“Catatan apa aja yang ditulis Birdella dalam penyelidikan ini?“ tanya detektif Egan.


Detektif Keiko membuka salah satu map coklat di atas mejanya, “Korban di temukan sekita pukul setengah delapan pagi oleh seorang laki-laki yang sedang mencari tanaman di bukit itu. Dan menurut analisan Birdella, Korban diperkirakan meninggal kurang lebih dua belas jam sebelum ditemukan pertama kali.“


“Siapa nama laki-laki itu?“


“Aditya leon.“ Jawab detektif Keiko setelah mengecek data dalam map.


“Apakah kita pernah mewawancarai dia?“


“Iya. Kita mewawancarai dia tepat di hari jasad korban ditemukan, tertulis di sini.“

__ADS_1


“Kita pernah meminta sampel DNAnya?“


Detektif Keiko membaca laporan di dalam map itu lalu berkata, “Kita belum pernah meminta DNAnya.“


“Jadi kita cuma mewawancarai aja?“


“Statusnya masih sampai hari ini masih saksi,”


“Bagaimana kalau kita masukan dia dalam daftar tersangka?“ tanya detektif Egan.


“Apa pun bisa terjadi tapi apakah tek terlalu dini jika kita masukin dia ke dalam daftar tersangka?,” detektif Keiko mengangkat bahunya lalu detektif Egan menulis nama saksi itu ke dalam daftar orang yang perlu dicurigai.


“Apalagi yang kita temukan?“ lanjut detektif Egan.


Detektif Keiko kembali membacakan hasil penyelidikan awal mereka, “Ketika menemukan jasad korban, Aditya langsung berlari menuruni bukit dan bertemu dengan salah satu penjaga hutan yang sedang bertugas di sana.“


“Ivan Leon. Pagi itu dia baru saja keluar dari ruangannya untuk melakukan patroli saat Aditya menabraknya.“


“Oke. Gue lanjutin lagi ya?! Setelah itu, Ivan langsung menghubungi kepolian lewat radio di dalam ruangannya”


“Berapa lama waktu yang dia butuhkan saat itu?“ tukas detektif Egan.


Detektif Keiko kembali melirik kertas dalam map itu lalu berkata, “Kira-kita lima puluh menit.“

__ADS_1


“Lalu?“


“Setelah itu mereka berdua menunggu kedatangan polisi di tempat parkir mobil di bawah bukit.“


“Adakah yang kita lewatkan?“ tanya detektif Keiko.


“Entahlah, gue juga masih ragu,” ucap detektif Egan.


“Bagaimana kalau kita balik ke tempat kejadian perkara lagi? Siapa tahu lo bisa dapet pencerahan di sana,” detektif Keiko memberikan saran kepada rekannya yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


“Kita kayaknya perlu bicara dengan Ivan untuk mengetahui dan mengecek kebenaran cerita dari Aditya, “ ujar detektif Egan.


“Menurut jadwal patroli yang diberikan pihak kepolisian hutan, hari ini jadwal Ivan berjaga dari sore ke besok pagi,” ucap detektif Keioo setelah melihat data yang masih dia pegang sejak tadi.


“Bagus. Kita jadi punya waktu buat isi perut dulu sebelum mendatangi Ivan dan mewawancarai dia.“


“Bagaimana dengan Aditya?“ tanya detektif Keiko.


“Dia tinggal dimana?“


“Dia tinggal di desa di bawah bukit itu,” jawab detektif Keiko.


“Kalau begitu, kita temui dia dulu untuk mewawancarai dia.“

__ADS_1


“Oke. Ayo kita makan dulu lalu segera pergi ke sana,” detektif Keiko mengarahkan


“Baiknya kayak gitu sih,” jawab detektif Egan yang sebenarnya sih bergelut dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2