
Setelah mengirim Ardana ke rumah sakit terdekat untuk mendpatkan perawatan, detektif Egan dan Keiko kembali melakukan investigaasi di desa itu.
“Aku yakin, pelakunya berasal dari desa ini,” ujar dteektif Egan.
“Sepertinya dia melihat seseorang dari balik jendela ini. Aku melihatnya seperti ketakutan setelah meihat ke luar jendela,” timpal detektif Keiko.
Detektif Egan menghampiri si pemilik warung kopi dan bertanya, “Apa yang anda masukan ke dalam kopi milik Ardana?“
“Sumpah demi Tuhan saya tak memasukan apa pun yang aneh ke dalam minuman Ardana,” jawab pemilik warung kopi itu tergugup.
“Lantas apa saja komposisi dalam kopi itu?“ tanya detektif Egan lagi.
“Saya memberinya kopi yang selalu dia minum setiap hari di sini. Dengan satu sendok kecil gula seperti yang biasa dia pesan,” jawab pemilik warung.
“Mungkin dia memiliki alergi yang anda ketahui.“
“Iya. Dia memang memiliki alergi terhadap alkohol tapi saya tak pernah menyediakan alkohol di sini. Anda boleh memriksa tempat ini,” ujar pemilik warung.
“Tentu saya akan memeriksa secara seksama. Bukankah anda juga sudah memberi saya ijin,” ujar detektif Egan dengan wajah mengintimidasi.
Sementara di sisi lain detektif Keiko mewawancarai laki-laki yang tadi mendekati detektiff Egan.
“Kenapa anda ingin sekali melaporkan Ardana pada kami?“
“Sejak penemuan mayat itu, keadaan di desa ini semakin berubah. Hampir tak satu pun warga desa berani lagi ke sana. Begitu juga para wisatawan, aku tak menyukai keadaab ini.“
“Lantas apa hubungannya dengan Ardana?“
“Sejujurnya, saya mencurigainya lebih dar orang lain. Saya pernah melihatnya naik ke bukit itu dengan tingkah yang mencurigakan.“
“Apakah anda mendekati rekan saya tadi untuk mengalihkan perhatian kami, agar teman anda yang ada di sana bisa memasukan alkohol pada kopi Ardana?“ tanya detektif Egan sambil membawa cangkir yang tadi digunakan oleh Ardana.
“Alkohol?“
“Iya. Alkohol yang anda masukan ke sini.“
“Maksudnya gimana?“ tanya detektif Keiko yang ikut kebingungan.
“Ternyata Ardana memiliki alergi pada Alkohol. Dan sepertinya aku mencium bau alkohol di sini.“
“Tapi bagaimana mungkin Ardana tidak mencium bau alkohol pada kpoinya?“ tanya laki—laki itu.
“Kemungkinan besar, baunya tersamarkan oleh bau kopi,” balas detektif Egan.
__ADS_1
Detektif Egan menghampiri lak-laki yang satunya dan tanpa aba-aba melakukan penggeledahan pada laki-laki itu.
“Ada apa ini?“ laki-laki itu tersentak.
Setelah mengeledah dengan seksama detektif menghentikan kegiatannya.
“Ada Apa ini?“ tanya laki-laki itu lagi.
“Dimana anda menembunyikan alkohol itu?“ tanya detektif Egam.
“Alkohol apa?“ tanyanya.
“Alkohol yang anda tuangkan sebagian ke dalam kpo milik Ardana.“
Laki-laki itu mengerutkan dahinya dan berkata, “Untuk apa saya melakukan itu?“
“Untuk membuat Ardana menutup mulutnya.“
“Lantas kentungan apa yang saya dapat jika saya melakukan itu?“
“Mungkin anda pelaku pembunuhan wanita yang jasadnya ditemukan beberapa hari lalu.“
Laki-laki itu mengelengkan kepalanya pelan, “Saya bahkan tidak tahu bahwa Ardana memiliki alergi terhadap alkohol.“
“Saya tahu. Tapi apakah itu menjadi alasan kuat untuk menunjuk saya sebagai orang yang berusaha membuat Ardana menutup mulut?“
“Ada apa ini. Saya melihat ambulance ketika sedang patrol di bukit,” ujar Ivan yang baru saja masuk ke dalam warung kopi itu.
“Ardana baru saja di bawa oleh ambulance itu,” jawab sang pemilik warung kopi.
“Ardana dibawa ambulance? memangnya dia kenapa?“ Ivan berbicara dengan nada panik.
“Alerginya, kambuh,” jawab detektif Egan.
“Orang bodoh! Padahal dia tahu kala alerginya terhadap alkohol bisa membunuhnya,” gerutu Ivan.
“Anda juga tahu soal alergi Ardana?“ tanya detektif Keiko.
“Rasanya, setengah dari penduduk desa di sini engetahui soal alergi Ardana soal alkohol itu. Karena hanya dia yang tak pernah menyentuh alkohol di desa ini dalam aacara apapun,” Ivan menjelaskan.
“Kami sedang melalukan investigasi dan mencari tahu siapa yang memasukan alkohol itu pada kopi yang diminum oleh Ardana,” tukas detektif Keiko.
“Mencari siapa yang memasukan lakohol itu k dalam kopi ardana? Jadi menurut anda bukan dia yang melakukan hal itu sendiri?“ tanya Ivan.
__ADS_1
“Menurut anda, kenapa dia melakukan itu?“ tanya detektif Egan.
“Entahlah. Mungkin karena dia merasa bersalah telah membunuh wanita itu?“ balas Ivan.
“Jadi maksud anda, anda juga mencurigainya?' tanya ddetektif Keiko.
“Sejujurnya iya. Saya pernah melihatnya naik ke atas bukit tapi karena ada panggilan dari atasan saya, saya tak jadi mengikutinya ke atas bukit.“
“Anda dengar detektif?! bahkan Ivan pun mencurigai Ardana,” ujar laki-laki yang tadi diwawancarai oleh keduan detektif itu.
“Mungkin dia juga merasa bersalah karena membuat Aditya ikut dicurigai dalam kasus ini,” timpal Ivan.
“Kasihan Aditya. Bahkan kini dia harus mejalani perawatan karena kaget atas temuannya di atas bukit tempo hari,” tukas pemilik warung kopi.
“Betul. Mana di sini ngga ada Psikiater, Aditya harus pergi jauh ke kota untuk berobat,” laki-laki yang tadi diwawaancarai oleh kedua detektif ikut berkomentar.
Detektif Egan berpikir sesaat lalu memberi instruksi kepada rekannya, “Kita belum menggeledah tempat ini.“
“Jadi anda masih mencurigai saya?” tanya pemilik waraung kopi itu.
“Tentu saja!“
Detektif Egan dan Keiko melakukan penggeledahan, mulai dari dapur yang berada di depan, tempat pemilik toko itu menyiapakan pesanan para pelanggan hingga ke dapur dimana terdapat sebuah tempat penyimpanan.
Namun kedua detektif itu tidak menemukan apa pun yang mencurigakan bahkan mereka tak menemukan apa pun yang berrhubungan dengan alkohol.
Detektif Egan mendekati meja tempat tadi Ardana duduk dan mulai memasukan cangkir serta rokok yang tadi dihisap oleh Ardana ke dalam kantung plastik untuk mengumpulkan barang bukti.
“Kita bawa ke lab dan biarkan Birdella memeriksanya,” ujar detektif Egan.
“Baik!“ balas detektif Keiko dan mengambil plastik itu dan membawanya.
Kedua detektif itu keluar dari warung kopi tersebut dan masuk ke dalam mobil dan meninggalkan desa itu.
“Ini gila! Kenapa kita semua di sini menjadi tersangka?“ gerutu pemilik warung kopi.
“Nasibku sial sekali hari ini. Kenapa aku harus bertemu Ardana di sini?!“ gumam salah satu laki-laki itu.
Ivan tersenyum mendengar perkataan dua kali-laki itu dan membalas, “Mereka hanya menjalankan tugas. Mereka itu polisi dan berhak mencurigai siapa pun yang berdekatan dengan dengan tempat kejadian. Aku pun mungkin akan mealkukan hal yang sama jika jadi mereka.“
“Kamu lihat detektif laki-laki tadi? sungguh sombong,” gerutu salah satu laki-laki.
“Iya, berbeda sekali dengan kamu Ivan,” timpal laki-laki yang lain.
__ADS_1
“Sudahlah. Kita bantu saja mereka agar kasus ini segera selesai. Jadi kita bisa membuka garis polisi yang terpasang dan membuat bkit itu kembali ramai seperti biasanya,” ujar Ivan sambil tersenyum dan menepuk bahu salah satu laki-laki yang berada di tempat itu.