Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 42. Menyerahkan DNA milik Ivan


__ADS_3

“Tunjukan kepada saya surat perintah maka saya akan meberikan DNA saya dengan senang hati,” ujar Ivan, polisi hutan seolah dia menantang dua detektif di hadapannya.


Kali ini detektif Egan yang menyeringai. Memperlihatkan wajah bengis setengah iblisnya mendnegar tantangan dari Ivan.


“Bagaimana mungkin anda mengelak dari permintaan kami untuk meminta sampel DNA anda.“


“Sebagai warga negara, saya berhak menolak berbagai apa pun hal yang membuat saya tidak nyaman,” Ivan kembali beralasan.


“Kita tak bisa memungkiri hal yang dikatakan Ivanbenar adanya,” detektif Keiko mengutarakan hal yang membuat Ivan merasa berada di pihak yang benar.


“Lantas apa yang harus kita perbuat saat ini?“ wajah detektif Egan terlihat begitu kecewa membuat sebuah senyuman jahat tergambar di wajah Ivan.


“Kalau para detektif sudah tidak ada urusan lain, saya izin undur dulu. Masih banyak pekerjaan yang menunggu saya di kantor.“


“Kenapa anda buru-buru sekali,” tukas detektif Egan.


Ivan yang sudah membalikan tubuhnya membelakangi kedua detektif itu menghentikan langkahnya saat detektif Keiko memaggilnya, “Bagaimana pun anda harus memberikan kami DNA anda.“


Ivan memutar lagi tubuhnya dan melihat detektif Egan membuka surat perintah itu dan berkata, “Kalau begitu, sesuai keinginan anda dan keinginan kami. Berikan DNA anda pada kami.“


Melihat surat perintah di tangan detektif Egan membuat Ivan tak mampu berkata apa pun lagi.


Dengan rasa terpaksa yang amat, akhirnya Ivan memberikan sampel DNA miliknya, dibantu oleh detektif Keiko.


Prosesnya pengambilan sampel DNA yang singkat sudah selesai. Detektif Keiko memasukan sampel itu ke dalam tempat khusus dan memberi isyarat kepada rekannya.

__ADS_1


“Mudah dan cepat bukan?! Terima kasih atas kerjasama anda,” ujar detektif Egan sambil mengertlingkan matanya.


Terlihat ekspresi wajah Ivan yang merasa tak nyaman dan kesal yang terlalu nyata di mata kedua detektifitu saat keduanya kembali menaiki mobil dinas mereka.


“Secepatnya akan ku bereskan wajah brengsek itu,” ujar detektif Egan kesal.


“Sabar. Kita harus benar-benar memiliki semua bukti untuk meringkusnya,” detektif Keiko berusaha menenangkan rekannya itu.


Perjalanan membawa sampel DNA Ivan, dari bukit itu ke ruang kerja Birdella terasa amat lama untuk detektif Egan yang sudah tidak sabar menjadikan DNA itu ssbagai bukti terkuat selain tali dan lencana itu.


Ketika mobil baru saja diparkir oleh detektif Keiko, dengan cepat detektif Egan melompat dari dalam mobil dinas itu.


“Mau kemana?“ tanya detektif Keiko yang masih berada di belakang kemudi.


Setelah yakin dengan latak parkirnya, detektif Keiko menyusul rekannya yang sepertinya sudah naik ke lantai ruang kerja Birdella.


“Kenapa dia buru-buru banget sih, sampe lupa sama gue,” gumam detektif Keiko dalam hati.


Lift yang membawa detektif Keiko berhenti langsung di lantai, dimana ruang kerja Birdella berada. Dengan langkah yang dipercepat akhirnya detektif Keiko sampai juga di ruang kerja Birdella.


“Lama amt sih lo,” gerutu detektif Egan ketika pintu ruang kerja itu dibuka detektif Keiko.


“Lho, kenapa emangnya?“ detektif Keiko yang kebingungan menerima perlakuan rekannya itu pun bertanya.


“Sampel DNA Ivan ada sama lo kan,”

__ADS_1


Mendengar ucapan setektif Egan, detektif Keiko pun tertawa terbahak.


“Dih, lo malah ketawa,” gumam detektif Egan.


“Nah itu dia. Waktu gue masih di dalam mobil 'kan gue tanya lo, lo mah kemana. Lo malah jalan terus aja,” timpal detektif Egan.


“Gue bener-bener lupa kalau ternyata sampel DNA Ivan masih sama lo,” detektif Egan merasa sangat bodoh saat itu.


“Sudah, ngga usah pada bertengkar. Sini mana sampel DNA milik Ivan,” ujar Birdella yang akhirnya membungkam dua sahabat yang tengah bertengkar itu.


Detektif Keiko memberikan sampel DNA milik Ivan yang sedari tadi dia bawa di tangan kanannya, “nih!“


“Berapa lama waktu yang lo butuhkan buat dapat hasilnya?“ detektif Egan berusaha mendesak Birdella untuk segera menyelesaikan penelitian dan pencocokan DNA kali ini.


“Lo juga tahu kalau gue pengen kasus ini segera di tutup dengan hasil yang membuat kita semua merasa puas dan lega. Gue juga pengen Tania segera kembali kepada keluarganya fan dimakamkan dengan layak. Percayalah, gue akan bekerja secepat yang gue bisa,” Birdella menjanjikan.


“Ngga usah terlalu terburu-buru, del. Kita harus menemukan jawabannya dengan tepat bukan hanya kita merasa Ivan adalah pelakunya,” detektif Keiko mengingatkan.


“Gue memang menyayangi Tania, Kei. Tapi gue akan tetap profesional,” jawab Birdella dengan percaya diri.


“Jangan lupa—”


“Jangan lupa buat hubungin lo kalau gue udah dapet hasil analisnya. Iya kan?“ ujar Birdella memotong ucapan detektif Egan.


Lalu Birdella kembali tenggelam dalam penelitian dan pencocokan DNA itu tanpa memperdulikan dua detektif yang akhirnya pergi meninggalkan ruangan

__ADS_1


__ADS_2