
Seperti sample DNA yang lain, milik Hilda pun dikirim masuk ke dalam lab oleh detektif Egan dan Keiko untuk di cek kecocokannya oleh Birdella dengan DNA tang ditemukan pada tubuh Tania.
“Kali milik perempuan atau laki-laki?“ tanya Birdella.
“Kali ini perempuan lagi,” jawab detektif Keiko sambil menyerahkan plastik berisi sampel DNA milik Hilda.
“Siapa nama pemilik sampel ini?“ tanya Birdella lagi mengambil plasrik itu dari tangan detektif Keiko.
“Namanya Hilda, sahabat korban,” jawab detektif Keiko.
Birdella yang semula akan menulis nama di atas plastik itu mendadak terdiam. Berpikir soal Hilda yang merupakan sahabat Tania, yang mungkin menjadi pelaku dalam kasus pembunuhan ini.
“Sahabat Tania?“ tanya Birdella dengan nada khawatir dan kaget.
“lo mengerti maksud gue kan del,” tambah detektif Keiko berusaha menebak isi kepala sahabatnya itu.
“Bukankah kalian, para wanita adalah mahluk menakutkan,” ujar detektif Egan bergidik.
“Kami memang mahluk menakutkan tapi apakah persahabatan bisa terlalu jauh kayak gini?!“ balas Birdella dengan mata yang menerawang entah kemana.
“Cinta!“ ujar detektif Keiko.
__ADS_1
“Cinta adalah sebuah pembodohan,” sela detektif Egan dengan nada menghina.
“Bagaimana mungkin ini cinta. Ini adalah nafsu yang disamarkan dengan kata 'cinta'. Nafsu menghabisi seseorang guna memiliki sesuatu,” ujar Birdella yang seolah tersadar dari lamunannya lalu menulis nama Hilda di atas plastik itu.
“Ini adalah tersangka terakhir kita di dalam daftar kita,” ujar detektif Keiko.
“Maksud lo, kemungkinan dia adalah pelakunya dalam analisa lo?“ tanya Birdella.
“Mungkin aja 'kan?! Itu bisa terjadi bukan!?“ jawab detektif Keiko.
“Tania ngga boleh denger analisa lo itu Kei,” ujar Birdella memelankan suaranya.
“Kenapa begitu?“ tanya detektif Egan.
“Kalian benar-benar mahluk mengerikan,” ledek detektif Egan dan memberi ekspresi ketakutan.
“Mudah-mudahan saja ngga seperti yang kita pikirkan saat ini,” timpal Birdella.
“Siapa pun pelakunya, gue cuma pengen cepet-cepet menyelesaikan kasus ini dan menyeret dia ke dalam penjara,” lanjut detektif Egan yang kali ini memasang ekspresi penuh keyakinan dan bersemangat.
“Gue sama Egan mau makan siang dulu, lo mau ikut kita?“ detektif Keiko menawarkan.
__ADS_1
“Gue udah beli kimbab tadi di kantin. Gue makan ini aja,” jawab Birdella.
“Mau makan bareng kita ngga di luar? Bawa aja kimbab lo itu“ kali ini detekrif Egan yang menawarkan.
“Lebih enak makan kimbab di sini aja,” balas Birdella.
“Lo ngga mungkin kan makan kimbab itu bareng Tania?!“ ujar detektif Keiko.
Birdella tak menjawab pertanyaan detektif Keiko itu dengan sebuah kalimat, hanya senyuman aneh yang terpasang di wajahnya sebagai sebuah jawaban misterius.
Detektif Egan dan Keiko pun keluar, meninggalkan Birdella di dalam ruang kerja kesukaannya, laboratorium forensik.
Birdella berjalan mendekati jasad Tania yang kini berada di dalam peti pendingin, yang menjaga jasadnya tetap utuh.
“Jangan dengarkan apa yang tadi di katakan detektif Keiko. Dia hanya perlu mencurigai seseorang dan memastikan orang itu bersalah atau tidak,” ujar Birdella sambil mengusap rambut Tania.
“Aku juga sama seperti kamu, berharap bukan Hilda pelakunya. Aku akan sangat sedih jika detektif Keiko melakukan ini kepadaku. Kamu juga pasti begitu kan?“ tanya Birdella pada Tania walau pun dia tahu bahwa Tania tidak akan mungkin menjawab pertanyaannya itu.
Birdella bangkit dari jongkoknya saat berbicara dengan jasad Tania. Kini dia membuka alumunium foil yang membungkus kimbab yang dia beli di kantin tadi.
Birdella menyeret sebuah meja kecil dan diletakan dekat jasad Tania. Di atas meja dia letakan kimbab yang telah dibukanya dan segelas es kopi yang juga dibawanya dari kantin tadi.
__ADS_1
Kemudian Birdella menarik kursi dan meletakannya di sebalah meja kecil tadi dan duduk di atasnya.
“Mari temani aku makan Tania. Setelah jam istirahatkh habis, aku akan mengecek DNA milik sahabatmu itu dan kita akan pastikan bahwa bukan dia yang membuat kanu berada di sini dengan kondisi seperti ini,” ujar Birdella sambil menyuap kimbab ke dalam mulutnya.