
“Jadi gimana del, apa lo udah berhasil ngedapetin hasil analisa dari sample DNA dan kumpulan barang yang udah gue dan Keiko kumpulkan beberapa hari yang lalu itu?“ tanya detektif Egan begitu mereka bertiga bertemu di lorong lantai khusus forensik itu.
Ketika ketiganya telah memasuki ruangan kerja Birdella, Birdella pun berjalan menyebrangi ruangan itu dan memberi isyarat agar detektif Egan dan Keiko mengikuti langkahnya. Kini mereka berdiri tepat di depan salah satu meja kerja milik Birdella yang di atas meja itu masih berserakan jajaran map berwarna coklat serta dua buah komputer yang masih terbuka dengan beberapa data terpampang di dalamnya dan dengan leluasa dapat dilihat oleh semua orang.
Lalu Birdella menyerahkan salah satu map coklat itu kepada detektif Egan dan berkata, “Hasil analisa ada di dalam sini.“
Tertulis di atas kertas dalam map itu, 'Kecocokan DNA' dan detektif Egan yang membaca tulisan itu dibuat kebingungan.
“Maksud dari tulisan ini gimana sih del?“ tanya detektif Egan berusaha mencari jawaban.
“Menurut analisa yang udah gue lakuin beberapa hari ini, ternyata emang ada kecocokan antara DNA yang kita temukan pada Tania serta yang ada di puntung rokok yang kemarin lo bawa itu. Bahkan kecocokan itu lebih dari sembilan puluh lima persen,” jawab Birdella dengan nada datar.
“Jadi bener dong, pelaku pembunuhan kali ini si Ardana itu? Kurang ajar!“ semangat detektif Keiko mendadak meningkat sekaligus merasa kesal.
“Tapi di rokok itu juga ternyata terdapat dua buah DNA dari orang yang berbeda pula. Salah satunya udah gue pastikan bahwa itu memang milik Ardana namun DNA yang lainnya lagi yang masih jadi misteri, gue belum bisa memastikan DNA itu milik siapa,” terdengar suara Birdella yang melemah seolah sudah merasa gagal dalam pekerjaannya.
“Jadi sekarang ini, kita sudah harus langsung coret Ardana dari orang yang patut kita curigai dalam kasus ini?“ kini detektif Keiko yang menurun semangatnya setelah mendengar penjelasan dari Birdella barusan.
“Kenapa lo ngga coba buat cocokin DNA yang kedua itu ke dalam data base yang kantor punya?“ tanya detektif Egan.
“Gue udah coba nyocokin DNA itu bahkan saat pertama kali gue nemuin DNA itu pada tubuh Tania tapi sayangnya ngga ada satu pun yang cocok.“
“Apakah karena orang tersebut belum pernah melakukan kejahatan, makanya DNA dia ngga ada di data base kantor kita ini?“ tanya detektif Keiko.
“Kayaknya, menurut gue data base kita emang belum lengkap deh. Kemungkinan besar belum semua orang melaporkan diri dan menyerahkan DNA milik mereka untuk masuk ke dalam data base milik kepolisian,”
“Atau mungkin ngga sih kalau si pelaku adalah orang dari luar wilayah kita ini?!“ detektif Keiko mulai memperluas kemungkinan dalam kepalanya.
“Itu juga bisa jadi kemungkinan dengan peluang yang cukup besar,” jawab Birdella.
“Apakah kita kali ini kembali ke titik nol?“ detektif Keiko kelihatan makin lesu.
Detektif Egan kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. mencoba beberapa kemungkinan dan teori yang mungkin bisa dia pakai.
“Gimana dengan benda bulat yang waktu itu kita kasih ke lo del,” detektif Egan teringat benda itu ketika dia melihat penutup gelas milik Birdella yang tergeletak di atas meja kerjanya.
“Soal benda itu—”
__ADS_1
TOK! TOK!
“Permisi kak,” terdengar suara seseorang dari balik pintu.
“Aris?“ Birdella berusaha memastikan.
“Benar kak,” jawabnya.
“Masuk ris.“
“Ini kak saya mau laporan.“
“Udah bereskah?“
Aris yang merupakan junior dari Birdella masuk dan langsung mendekat ke arah Birdella dan meletakan sesuatu ke atas meja kerja Birdella.
“Setelah membersihkan dan meneliti benda itu dengan seksama, bisa aku pastikan kalau benda ini adalah sebuah lencana,” Aris berusaha menerangkan hasil kerjanya.
Detektif Egan erkejut dan berkata, “Sebuah lencana? Milik polisi?“
Detektif Egan meraih lencana di atas meja itu dan memperhatikannya dari luar plastik pembungkusnya.
“Ini…”
“Apakah itu lencana dari polisi hutan?!“ ujar Birdella setelah ikut mengamati benda tersebut.
“Apakah mungkin pelakunya—”
“Apa lo nemuin DNA di lencana ini?“ tanya detektif Egan kepada Aris.
“Iya, saya memang menemukan dua DNA di lencana itu,” jawab Aris.
“Apa kamu udah meneliti DNA milik siapa itu dan mencocokannya di data base kantor?“ tanya Birdella.
“Proses pencocokan DNA sedang saya lakukan di ruangan saya tapi belum menunjukan hasil,” jwab Aris dengan percaya diri.
“Dimana ruangan lo?“ tanya detektif Egan tergesa.
__ADS_1
“Tunggu di sini aja gan. Nanti Aris bakal ngabarin ke kita kok hasilnya,” tukas Birdella.
“Ngga apa-apa. Gue nunggu di ruangan Aris pun ngga masalah,” jawab detektif Egan.
“Tapi ruangan kerja sama sempit detektif karena saya harus berbagi ruangan dengan rekan saya yang lain,” Aris berusaha menerangkan.
“Berapa lama, waktu yang lo butuhin buat dapet kecocokan?“ tanya detektif Egan.
“Paling cepat setengah jam dari sekarang. Karena proses itu sudah saya mulai sejak sekitar satu jam lalu,” jawab Aris.
“Oke. Gue tunggu di sini aja. Lo nanti bawain ya hasilnya begitu keluar,” detektif Egan menekannkan pada Aris.
“Baik detektif.“
Setelah itu, Aris pun kembali ke ruangannya sendiri yang berada di lantai yang sama namun jaraknya agak jauh dari ruangan Birdella.
“Apa mngkin pelakunya Ivan?“ tanya detektif Keiko mengumakakan analisanya.
“Siapa Ivan?“ tanya Birdella.
“Polisi hutan yang bertugas di bukit itu,” jawab detektif Egan dengan mata yang masih terlihat kosong tapi ternyata masih merespon.
“Dia adalah orang yang menghubungi pihak kepolisian pada pagi hari penemuan mayat itu,” detektif Keiko menambahkan.
Birdella terdiam sejenak, ikut berpikir tentang kemungkinan dan hal-hal yang mungkin bisa dia kaitkan satu sama lain.
“Lo mau kemana?“ tanya detektif Keiko saat melihat Birdella bangkit dari duduknya.
Birdella membuka sebuah loker berisi barang-barang yang berhubungan dengan kasus mayat di atas bukit itu, lalu dia mengeluarkan tali yang mereka temukan di atas bukit.
“Mungkin gue harus muali cocokin DNA yang ada di tali ini,” ujar Birdella.
“Emang belum lo coba cek?“ tanya detektif Egan.
“Udah tapi gue ngga teliti dengan sungguh-sungguh. Salah gue emang.“
Setelah itu Birdella langsung seperti berada di dimensi yang berbeda dengan detektif Keiko dan Egan padahal merreka bertiga berada di satu ruangan yang sama. Birdella langsung tenggelam dalam pekerjaannya, meneliti dengan seksama apa saja yang tertinggal di atas tali yang dia simpan sejak beberapa hari lalu itu di dalam loker ruangannya bersama mayat Tania Akbar yang masih menunggu kasusnya diselaikan dan pelakunya di hukum dengan ganjaran yang setimpal.
__ADS_1