
Beberapa hari ini, detektif Egan dan Keiko sibuk meneliti setiap map yang berisi data dan pernyataan dari para saksi dan tersangka dalam kasus pembunuhan kali ini.
Mereka pun belum bisa menanyai para saksi lagi karena masih menunggu hasil pengecekan kecocokan DNA antara milik Hilda dan pelaku yang tertinggal di jasad Tania.
Kali ini sepertinya Birdella tidak memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil kecocokan DNA milik Hilda dan dengan DNA pelaku yang ada di tubuh Tania saat ditemukan.
“Cepet kalian ke ruangan gue,” ujar Birdella lewat sambungan telepon dengan detektif Keiko mengalihkan fokus detektif Keiko dari data yang sedang dai teliti di dalam map.
“Oke, gue dan Egan ke tempat lo sekarang,” jawab detektif Keiko dengan cepat dan memutus sambungan telepon diantara keduanya.
“Gimana? Apa kata Birdella?“ tanya Egan penasaran.
“Kita disuruh ke tempat dia sekarang,” jawab detektif Keiko, merapikan map yang dia baca tadi dan memasukannya ke dalam laci meja kerjanya.
“Apa udah ada hasilnya?“ detektif Egan makin penasaran.
“Dia belum kasih tahu. Kita ke sana aja dulu buat cari tahu apa dia udah dapet hasilnya atau belum,” jawab detektif Keiko bangkit dari duduknya.
“Lo ngga mau es kopi dulu di kantin?“ detektif Egan menawarkan.
“Ke ruangan Birdella bawa minuman? Oh tentu aja ngga,” jawab detektif Egan sambil menggelangkan kepalanya kencang.
“Apa masalahnya? Bukankah Birdella juga makan minum di dalam ruangannya?!“ tanya detektif Egan.
“Bukan Birdella yang ngelarang tapi gue ngga sanggup memasukan apa pun ke dalam tenggorokan gue tiap ada di ruangan Birdella. Apalagi kalau lagi ada jasad yang berbaring di tengah ruangan itu,” jawab detektif Keiko memberikan alasan.
“Lo itu polisi. Masa begitu aja bikin lo mual. Kan kita udah sering lihat jasad di tempat kejadian perkara!?“ ujar detektif Egan.
__ADS_1
“Apa lo ngga tahu gan, kalau Birdella selalu menganggap mereka yang berbaring di dalam ruangannya itu seolah masih hidup. Dia kadang mengajak mereka ngobrol dan itu adalah hal yang membuat gue merinding dan jadi sulit untuk memasukkan apa pun ke dalam tenggorokan tiap kali gue ada di dalam sana,” jawab detektif Keiko bergidik.
“Masa sih Birdella sampai segitunya sama jasad-jasad itu?“ detektif Egan kaget dan tak percaya mendengar apa yang barusan detektif Keiko katakan.
“Percaya deh sama gue, apa yang gue bilang itu bukan kebohongan dan khayalan,” jawab detektif Keiko berusaha meyakinkan rekannya.
Detektif Egan membuka pintu ruangan khusus milik Birdella dan mereka berdua menemukan Birdella tengah menikmati sarapannya. Beberapa potong Roti lapis di atas sebuah piring berukuran sedang berwarna putih dan dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul bertanda baru saja di buat. Sarapan Birdella diletakan di sebuah meja kecil yang berada tak jauh dari jasad Tania yang terbaring di peti pendingin.
“Apa gue bilang?“ bisik detektif Keiko ke rekannya yang bersidi mematung di sebelahnya sementara itu detektif Egan bergidik melihat pemandangan di depannya.
“Kalian udah dateng toh?! Kalian udah pada sarapan?“ tanya Birdella begitu melihat detektif Egan dan Keiko berada di ambang pintu ruang kerjanya.
“Udah. Kita berdua tadi udah sarapan di ruangan. Iya kan gan?!” ujar detektif Keiko berusaha menguasai dirinya danmemberi isyarat kepada rekannya.
“Padahal hari ini gue bikin banyak roti lapis lho. Gue pikir kalian belum sarapan dan mau gabung sama gue sarapan di sini,” ujar Birdella.
“Tania ngga bantuin lo ngabisin roti lapis itu kah?“ ujar detektif Egan setengah meledek dan detektif Keiko membulatkan matanya kepada detektif Egan.
Melihat hal itu detektif Egan dan Keiko sama-sama bingung.
“Padahal dia tahu bahwa orang mati ngga mungkin bisa makan minum tapi dia melakukan tetap menyediakan makanan di sebelah jasad itu,” bisik detektif Egan pada rekannya.
“Entahlah. Mungkin begitulah caranya bekerja dan merasa dekat dengan korban dan seolah bisa berkomunikasi dengan mereka,” ujar detektif Keiko berbisik.
“Jadi bagaimana del?“ tanya detektif Egan.
“Apanya yang gimana gan?!“ tanya Birdella yang baru selesai menyeruput kopinya dan meletakan kembali cangkir cantik itu ke atas piring kecil khusus cangkir.
__ADS_1
“Tadi kan lo yang nelpon gue dan nyuruh kita ke sini,” jawab detektif Keiko.
“Ya Tuhan! Gue sampai lupa kalo mau kasih tahu hasilnya sama kalian,” ujar Birdella memukul dahinya dengan telapak tangan.
“Jadi apa hasilnya?“ tanya detektif Egan.
“Apakah DNA Hilda cocok dengan DNA pelakunya?“ tanya detektif Keiko.
“Sabar… pasti gue jawab kok,” jawab Birdella sambil berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sebrang peti pendingin.
Birdella memberikan map coklat yang tadi berada di atas meja kerjanya dan berisi hasil pekerjaannya selama beberapa hari ini meneliti kecocokan antara DNA pelaku dan milik Hilda.
“Sayang banget Kei, hasilnya ngga sesuai keinginan lo,” ujar Birdella.
“Jadi bukan Hilda pelakunya?“ tanya detektif Egan sementara itu detektif Keiko membuka dan membaca hasil penelitian Birdella.
“Bukan. Ngga ada kecocokan antara DNAnya dengan DNA pelaku,” ujar Birdella tersenyum seolah merasa lega.
“Tapi dia benar-benar mencurigakan,” ujar detektif Keiko sambil menutup map itu.
“Gue mungkin ngga pengen persahabatan Tania dan Hilda berakhir menyedihkan hingga salah satunya meninggal dan salah satu adalah pelakunya. Tapi gue juga mencintai pekerjaan gue dan ngga akan membiarkan perasaan gue mengganggu pekerjaan gue Kei,” ujar Birdella.
“Gue tahu seprofesional apa lo, maafin gue,” ujar detektif Keiko.
“Maaf? Kenapa harus minta maaf? Kita sedang kerja sekarang, semua boleh mengemukakan pendapat demi memesahkan kasus ini bukan!?“ balas Birdella.
“Tapi dengan tercoretnya Hilda dari dalam daftar pelaku, berarti daftar pelaku kita kosong lagi,” ujar detektif Egan.
__ADS_1
“Dan berarti kita bakal mulai semua dari nol lagi,” ujar detektif Keiko menghela nafas.
“Kalau begitu kalian harus bergerak lebih cepat lagi. Kasihan Tania masih menunggu di sini dalam kedinginan,” ujar Birdella sambil memandang jasad Tania yang setengah badannya berada di dalam peti pendingin.