Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit

Kode 810 : Mayat Di Atas Bukit
Bab 32. Mencari Aditya, sang penemu mayat


__ADS_3

Detektif Egan dan Keiko memutuskan untuk mendatangi tempat kejadian perkara dan berusaha menemukan Aditya di desa itu, namun ternyata sulit untuk menemukan Aditya di sana.


Mereka menekusiri desa kecil itu, yang jarak antar rumah lumayan jauh hingga membuat desa itu begitu kosong.


“Anda kenal dengan Aditya?“ tanya detektif Egan ketika bertemu seseorang yang sedang menyirami tanamannya.


Laki-laki itu berhenti dari pekerjaannya lalu menjawab, “Aditya yang beberapa hari lalu menemukan mayat di atas bukit?“


“Betul,” balas detektif Keiko.


“Dia sedang pergi ke kota sebelah.“


“Bukankah selama penyelidikan ngga boleh pergi jauh-jauh?“ bisik detektif Keiko pada rekannya.


“Apakah dia bilang dia sakit apa?“ detektif Egan melanjutkan pertanyaannya pada laki-laki itu.


“Sejak kejadian itu dia sering kali merasa ketakutan. Dia bilang seolah dia selalu diikuti oleh wanita yang jasadnya dia lihat di atas bukit,” jawab laki-laki itu.


“Dia ceritkan itu kepada anda?“ tanya detektif Keiko meraasa aneh.


“Dia tak hanya mencerita itu kepada saya tapi juga kepada semua orang di desa ini,” jawab laki-laki itu.


“Terima kasih atas kerjasamanya,” ucap detektif Keiko.


“Apakah kalian ke sini untuk melakukan penyelidikan tentang wanita yang ditemukan Aditya?“ kali ini laki-laki itu yang penasaran.


“Ya. Kami masih menyelidiki kasus ini,” jawab detektif Egan.

__ADS_1


“Apakah kalian mencurigai Aditya?“ tanya laki-laki itu.


“Bagaimana anda bisa berpikir seperti itu?“ tanya detektif Egan mulai terpancing rasa penasarannya.


“Aditya adalah orang pertama yang menemukan jasad wanita itu, aku pernah menonton sebuah film pembunuhan dan ternyata pelakunya adalah orang yang pertama kali menemukan korban,” kali iniblaki-laki itu berkata dengan serius.


“Ya, itu bisa saja terjadi. Kemungkinan Aditya yang membunuh bisa saja dipertimbangkan tapi penyelidikan secaravmenyeluruh juga wajib kami lakukan,” ujar deetektif Keiko.


“Anda harus lebih sering lagi menonton film drama kriminal. Sepertinya anda bisa jadi detektif seperti kami,” ujar detektif Egan sambil mengedipkan ssebelah matanya kepada laki-laki itu.


Setelah itu, kedua detektif itu kembali menelusuri jalan desa dan terus menuju ke kaki bukit dimana kasus pembunuhan itu dimulai.


Langkah mereka terhenti di belakang mobil yang tadi mereka gunakan untuk sampai di tempat ini. Mobil SUV berwarna hitam itu terparkir di lahan yang memang disediakan oleh pihak polisi hutan bagi siapa pun yang membawa kendaraan untuk melakukan kegiatan di bukit itu.


Bukit ini adalah bukit yang biasa digunakan oleh warga sekitar untuk mencari sumber makanan, kayu bakar dan hal apa pun yang bisa mereka jual. Sementara untuk warga di luar desa di bawah bukit, bukit ini biasa mereka datangi untuk sekedar olah raga atau piknik bersama keluarga atau teman.


Biasanya bukit ini akan didatangi banyak pengunjung saat akhir pekan. Di hari seperti hari ini sudah tentu bukit terlihat sepi bahkan hampir tanpa nengunjung.


Detektif Keiko dan Egan berjalan menuju sebuah bangunan berbentuk pohon dengan jendela dan pintu.


Detektif Keiko mengetuk pintu itu dan beberapa detik kemudian seorang laki-laki keluar dari bahgunan itu.


“Selamat siang!“ ujar detektif Keiko.


“Oh, detektif. Selamat siang,” balasnya dengan ramah dan senyuman di wajanya.


“Anda pak Ivan, betul?“ tanya detektif Keiko.

__ADS_1


“Betul sekali. Kita pernah bertemu dan ngobrol di hari kejadian itu,” balasnya.


“Kami ingin meminta bantuan anda pak Ivan,” ujar detektif Keiko.


“Tentu saja. Eh, tunggu dulu, apakah kasus penemuan jasad kemaein belum diketemukan siapa pelakhnya?“ tanya Ivan, pooisi hutan itu.


“Betul. Kami justru kembali menemukan jalan buntu,” jawab detektif Egan.


“Kasihan sekali perempuan itu. Dia masih muda dan mati dengan cara yang mengenasakan,” ucap Ivan.


“Kami tadi berusaha menemui Aditya, orang yang pertama kali menemukan jasad itu tapi—”


“Dia sedang pergi untuk bertemu psikiater. Menurut warga desa dia sedikit terganggu ininya,” ujar Ivan sambil memutar telunjuk di samping pelipisnya.


“Iya, itulah tadi yang kami dengar dari salah satu warga desa yang kami temui.


“Jika saya jadi dia, mungkin saya juga akan mengalami hal yang sama,” ujar Ivan.


“Pada hari kejadian andalah orang yang pertama kali di temui Ivan?“ tanya detektif Egan.


“Lebih tepatnya dia tak sengaja menabrak saya di sana, saat dia berlari menuruni bukit,” Ivan menunjuk dekat pintu masuk ke bukit.


“Dia terlihat ketakutan dan badannya bergetar,” tambah Ivan.


“Apa dia tak nampak mencurigakan pada saat itu?“


Sebuah panggilan masuk ke dalam walkie talkie yang berada di pinggang Ivan, “Tidak. Dia hanya kelihatan begitu kaget.“

__ADS_1


Kemudian Ivan menjawab panggilan itu sambil sedikit menjauh dari kedua detektif itu.


__ADS_2