
Ponsel detektif Egan yang berada di dalam kantung jaketnya berbunyi saat dia dan detektif Keiko sedang menikmati makan siang mereka kali ini di luar kantor.
“Hallo del,” ucap detektif Egan saat menjawab telepon yang ternyata dari Birdella itu.
“Lo lagi dimana sekarang gan? Lagi bareng sama detektif Keiko ngga?“
“Ini gue lagi makan siang di luar bareng detektif Keiko. Ada apa, del? Apa hasil analisa lo udah keluar?“
“Kalian coba buruan deh ke ruangan gue. Gue udah mecahin misteri di ketiga barang bukti kita di ddalam kasus pembunuhan kali in,“ jawab Birdella dengan nada bangga seolah dia sudah mencapai sesuatu yang dia tergetkan sejak awal.
“Oke. Gue ke sana sekarang bareng Keiko.“
“Baiklah. Eh, bisa ngga sekalian kalian bawain gue makan siang. Gue belum sarapan sama sekali nih.“
“Baik tuan putri. Chat aja lo mau dibawain apa kali ini.“
Detektif Egan memberi isyarat kepada detektif Keiko yang duduk di hadapannya untuk sesegera mungkin menyelesaikan makan siangnya.
“Apa kata Birdella?“ tanya detektif Keiko masih menikmati nasi dan lauk ikan goreng.
“Kayaknya dia udah dapet hasil dari analisis di barang bukti ke tiga kita.“
“Wah berarti kita dapet berita baik kali ini! Mungkin kita bakal menemukan siapa pelaku pembunuhan kali ini,” detektif Keiko merasakan seolah adrenalinenya terpacu cepat mendengar jawaban dari detektif Egan.
“Gue juga sama, berharap kayak gitu. Cepet deh selesain makan lo, supaya kita bisa segera ke ruang kerjanya si Birdella.“
Tidak membeutuhkan waktu yang lama bagi detektif Egan dan Keiko untuk sampai kembali ke gadung kantor mereka dan dengan bergegas pula mereka naik menuju lantai khusus forensik dan masuk ke ruang kerja Birdella.
“Ini pesenan lo buat makan siang,” tukas detrktif Egan dan meletakan makan siang milik Birdella.
“Makasih banyak lho detektif Egan,” ujar Birdella berbarengan dengan dia membuka kotak kemasan makan siang miliknya.
“Jadi, gimana hasilnya?“ tanya detektif Egan tanpa basa-basi.
Birdella menciur aroma masakan dihadapannya lalu berkata dengan nada mecewa, “Boleh ngga sih kalsu gue makan dulu. Sesuaaappp aja.“
__ADS_1
“Iya sih, gan. Kasih Birdella kesempatan makan dulu. Mukanya udah pucet gitu,” sambung detektif Keiko.
“Maaf, maaf. Ya udah lo makan aja dulu. Kita bisa nunggu kok,” tukas detektif Egan merasa bersalah.
Birdella tersenyum kemudian dia mengambil sendok dan segera menyuap dan menguyah sendokan pertama makan siang sekaligus sarapannya hari ini.
Birdella menyelesaikan suapan ketiganya dan meneguk air putih di dalam gelasnya yang unik.
“Gue udah periksa barang bukti ketiga kita.“
“Jadi hasilnya gimana?“ detektif Egan mengulang pertanyaannya.
“Sudah gue dan Aris pastikan bahwa ada satu DNA seseorang diketiga barang bukti dalam kasus kali ini. Namun sayangnya kita belum bisa menemukan milk siapa itu.“
“Jadi benar, ketiga benda itu saling berkaitan satu sama lain,” ujar detektif Keiko.
“Betul. Siapa pun pemilik DNA ini pasti adalah pelaku pembunuhan dalam kasus kita kali ini.“
“Gue tahu siapa dia,” ujar detektif Egan.
“Menurut lo siapa lagi selain Ivan?“ detektif Egan menguji sahabatnya itu.
Detektif Keiko terdiam seolah tak mempunya jawaban dari rekannya itu dan menyetujui analisa rekannya itu.
“Hanya ada satu polisi hutan di tempat itu selama beberapa bulan.“
“Mungkin ngga kalau mantan polisi hutan yang melakukan itu?“ detektif Keiko mulai berspekulasi.
“Apa keuntungan buat dia?“ tanya detektif Egan.
“Mungkin dia menginginkan kembali posisinya di sana. Dia ingin kembali jadi polisi hutan,” jawab detektif Keiko.
Detektif Egan kembali merenung, mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam kasus ini.
“Lagi pula selama ini Ivan selalu berusaha membantu kita dalam penyelidikan,” tamabha detektif Keiko menambahkan teorinya.
__ADS_1
“Tapi gue maaih meyakini bahwa Ivan adalah pelakunya,” detektif Egan masih bersikukuh pada pendiriannya sementara di sisi lain, detektif Keiko pun tak ingin menyerah begitu saja dengan hasil yang dikemukakan oleh detektif Egan.
Birdella yang mendengar perdebatan diantara detektif Egan dan Keioo berusaha memeberi jalan tengah untuk keduanya, “Bagaimana kalau kalian minta sampel DNA ke Ivan, si polisi hutan itu. Dengan gitu gue bisa cek kecocokannya dan membuktikan siapa yang benar diantara kalain berdua.“
Detektif Egan dan Keiko menyetujui usulan dari Birdella itu dan berjanji akan membawa sample DNA dari Ivan ke ruang kerja Birdella untuk diteliti dan dicocokan.
“Bagus. Jadi kalian ngga perlu berdebat lagi dan bonusnya kita bisa mendapatkan kemungkinan siapa pelaku kejahatan kali ini serta membuat Tania beristirahat dengan tenang,” ucap Birdella dengan nada kelegaan.
Selesai dari ruang kerja Birdella di lantai tujuh, detektif Egan dan Keiko kembali turun ke lantai ruang kerja mereka guna menemui pak Brox.
Lift mereka terbuka di lantai empat, dimana ruanga kerja mereka berada. Pintu lift itu terbuk berbarengan dengan lift di sebelahnya. Begitu mereka melangkah keluar, pak Brox yang naik di lift sebelah pun keluar.
“Pak!“ Sapa detektif Egan.
“Bagaimana, apa ada perkembangan dari kasus pembunuhan mayat di atas bukit itu?“ tanya pak Brox sambil mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja ketiganya.
“Kami baru saja dari lab milik Birdella pak. Birdella berhasil menemukan DNA yang kemungkinan adalah milik sang pelaku pembunuhan,” detektif Keiko mulaj bercerita.
“Bagus! Kalau begitu apa lagi yang kalian tunggu. Tangkap pelaku secepatnya,” perintah pak Brox.
“Masalahnya pak, DNA itu tidak ada di dalam data base kantor kita,” jawab detektif Egan.
Pak Brox menghentikan langkahnya mendengarvperkataan detektif Egan dan berbicara sambil keheranan, “Bagaimana bisa begitu? Apakah pelaku tidak pernah membuat sebuah kejahatan?“
“Kami sendiri kurang tahu soal itu. Namun ada kemungkinan dia belum terdaftar di data base kita atau mungkin dia sengaja tak ingin masuk dalam data base kita,” detektif Keiko berusaha menjawab pertanyaan atasannya itu.
“Lantas, langkah apa yang akan kalian ambil berikutnya?“ tanya pak Brox.
“Sebenanya kami sudah mencurigai seseorang namun kami sadar bahwa kami belum bisa meminta dibuatkan surat perintah penangkapan terhadap orang tersebut, tapi jika minta dibuatkan surat perintah seperti dulu apakah boleh pak?“ taya detektif Egan agak ragu.
“Surat perintah pengumpulan sample DNA?“ pak Brox berusaha menebak.
“Betul pak,” detektif Egan mengiyakan ucapak atasannya itu.
“Baiklah, kalian tunggulah. Besok pagi saya akan berikan surat perintah itu pada kalian dan segera bisa kalian pakai. Semoga ini akan jadi lanhkah terakhir kita dan menangkap pelaku pembunuhan itu,” ujar pak Brox dengan semangat.
__ADS_1
“Terima kasih banyak pak,” uajr detektif Egan dan Keiko berbarengan sebelum akhirnya pak Brox menghilqng di balik pintu ruangannya.