
Setelah semalam detektif Egan sempat tersulut emosinya karena terjegat oleh surat izin yang tidak bisa ditanda tangani oleh pihak yang berwaenang malam itu juga, pagi ini kondisi detektif Egan sudah jauh lebih tenang.
Detektif Egan duduk memandangi jendela dari ruangan kerjanya sambil menikmati kopi hitam hangat yang dibuatnya sendiri, saat dia baru sampai di tempat itu.
“Kopi apa tuh?“ tanya detektif Keiko yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
“Kopi Toraja, hadiah dari kakak sepupu gue yang baru balik tugas. Lo mau ngga?“
“Mau dong, gan.“
“Gue taruh di dapur tuh. Lo tahu kan toples yang biasa gue pakai!?“
Tanpa pikir panjang lagi detektif Keiko langsung melangkah menuju pantry khusus divisi mereka untuk membuat kopi yang ditawarkan oleh detektif Egan.
Tak berapa lama kemudian, detektif Egan melihat pak Brox yang baru saja keluar dari lift dan mengacungkan amplop coklat di tangan kanannya.
“Cepat sana, tangkap si manusia tak beradab itu,” ujar pak Brox sambil menyerahkan amplop itu kepada detektif Egan.
“Siap pak!“ balas detektif Egan sambil berdiri dengan sikap sempurna sebagai bentuk terima kasih dirinya karena pak Brox sudah mengusahakan surat perintah itu dengan sungguh-sungguh.
“Kopi Tojara?“ tanya pak Brox.
“Betul pak.“
“Buatin saya satu. Bawa ke ruangan saya ya,” pinta pak brox.
__ADS_1
“Tentu saja pak.“
Detektif Egan langsung berjalan menuju ke pantry dan dan membuatkan kopi untuk pak Brox.
“Lo bikin lagi?“ kaget juga detektif Keiko melihat rekannya itu membuat lagi secangkir kopi.
“Bukan buat gue. Buat pak Brox,” jawab detektif Egan.
“Itu surat perintah?“
“Iya. Setelah gue nyerahin kopi ini ke pak Brox kita langsung ke bukit itu lagi.“
Kedua detektif itu segera menyerahkan kopi milik pak Brox itu dan segera berangkat menuju bukit itu untuk menangkap Ivan.
Detektif Keiko memindahkan kopi yang diseduhnya tadi ke dalam tumbler agar bisa dia bawa dan nikmati dalam perjalan mereka kali ini.
Detektif Egan melangkah menaiki anak tangga menuju gedung tempat yang biasa digunakan oleh Ivan untuk ruang kerjanya.
Detektif Egan mengintip ke dalam namun ruangan itu dan menemukan bahwa ruangan itu kosong walau pun segala peralatan elektronik di sana masih dalam keadaan menyala.
“Bagaimana?“ teriak detektif Keiko dari lahan parkiran di bawah.
“Ngga ada siapa-siapa di sini,” jawab detektif Egan juga berteriak.
Namun sejurus kemudian keduanya mendengar seseorang yang berlari menuruni bukit dan detektif Egan melihat Ivan berusaha menjauhi mereka.
__ADS_1
“Kei… Ivan lari ke arah desa,” kembali detektif Egan berteriak namun sembari mengejar Ivan terus menuruni bukit menuju ke desa.
Lari Ivan cukup cepat membuat jaraknya dengan detektif Egan lumayan jauh juga namun walu hampir kehabisan nafas, detektif Egan tak ingin membiarkan buruannya lepas begitu saja. Detektif Egan terus berhari hingga tak punya kesempatan untuk mencabut pistolnya.
“Ivan, berhenti… “ teriak detektfit Egan tapi Ivan sama sekali tak merespon, justru larinya lebih kencang.
Hingga Ivan bertemu dengan dua polisi yang biasa berpatrolindi desa itu berdiri di tengah jalan, “Minggir kalian, jangan halangi aku.“
Namun kedua polisi itu justru menghadang laju lari Ivan dan menangkapnya.
“Lepaskan saya,” teriak Ivan.
Dengan terengah-engah deketif Egan berkata kepada kedua polisi itu, “terima kasih.“
“Atas nama hukum di negara ini, kamu saya tangkap dengan tuduhan pembunuhan terhadap Tania Akbar. Segala bentuk pembelaan bisa kamu lqkukan di kantor polisi dan kamu berhak atas pengacara,” detektif Egan membacakan hak dan kewajiban dari Ivan yang kini berstatus Tersangka kuat.
Bahkan kali ini detektif Egan tak perlu menunjukan surat perintah penangkapan kepada Ivan.
Tentu saja Ivan masih saja terus berontak berusaha melepaskan diri namun dia harus melawan dua detektif dan satu orang detektif, pasti dia akan tetap kalah.
Ivan terus saja berkata, “LEPASKAN AKU!“
“Tolong diam sedikit, yang terhormat polisi hutan!“ gertak detektif Egan.
Tak lama kemudian detektif Keiko juga datang ke tempat itu dan juga berterima kasih kepada kedua polisi di desa itu.
__ADS_1
Kemudian kedua detektif itu membawa Ivan menuju ke kantor polisi guna kembali melakukan serangkaian interogasi selanjutnya.