
Detektif Egan sudah menghentikan laju mobil yang dikendarainya dan memarkirkan mobil itu tepat di depan rumah Romeo Soeratman.
Baik detektif Egan maupun detektif Keiko terdiam sesaat di dalam mobil mereka sambil melihat situasi di rumah Julian Soeratman sekaligus anaknya, Romeo.
“Kita langsung masuk atau tunggu Romeo keluar rumah?“ tanya detektif Keiko.
“Kita tunggu sebentar aja dulu di sini,” jawab detektif Egan sambil meneguk kopi yang sempat mereka beli saat menuju ke tempat Romeo tinggal.
Lalu detektif Keiko membuka sebuah novel roman yang dia beli beberapa minggu lalu dan belum sempat dia selesaikan karena terbentur dengan kasus pembunuhan kali ini.
Sementara itu,detektif Egan masih terus menagawasi rumah tempat Romeo tinggal sambil terus menikmati kopinya yang masih hangat.
Detektif Egan melirik jam di tangan kanannya yang menunjukan pukul tiga sore.
“Kita di sini udah hampir setengahjam,” ujar detektif Egan kepada rekannya.
“Kayaknya Romeo ngga akan keluar rumah hari ini,” balas detektif Keiko sambil menutup novelnya.
“Bagaimana kalau kita masuk aja?“ detektif Egan meminta pendapat rekannya.
“Boleh,” jawab detektif Keiko sambil memasukan novel yang juga belum selesai dia baca ke dalam laci mobil.
Kedua detektif itu pun keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah gerbang besar yang tertutup rapat. Detektif Egan memencet bel yang ada di sekitar gerbang.
Seorang laki-laki berbadan tegap dengan wajah sangar dan menggunakan seragam security menemui mereka melalui sebuah pintu kecil di sudut gerbang.
“Ada yang bisa saya bantu?“ tanyanya dengan suara serak.
“Kami ingin bertemu dengan Romeo Soeratman. Apa dia ada di rumah?“ tanya detektif Keiko.
“Ada keperluan apa dengan beliau?“ tanya security itu.
“Kami dari kepolisian. Kami butuh berbicara dengan Romeo,” ujar detektif Keiko.
“Beliau sedang tidak di rumah,” jawab security itu.
“Lalu mobil siapa itu?“ tanya detektif Egan sambil menunjuk sebuah mobil sport yang terparkir di dalam halaman rumah.
“Kenapa anda melihat ke dalam?“ tanya security itu sambil berusaha menutupi pintu dengan tubuhnya yang besar.
__ADS_1
“Saya bisa melihat semua dari sini. Bagaimana mungkin saya tak melihat?!“ detektif Egan mulai kesal.
“Lebih baik kalian pergi dari sini!“ ujar security itu dengan kasar.
Namun detektif Egan tetap tak ingin mengalah dan berusaha untuk menemui Eomeo hingga terjadi keributan antara detektif Egan dan security itu.
Ternyata keributan itu memancing Romeo yang sedang bersiap pergi dan menemui mereka di luar gerbang rumah.
“Ada apa ini? Kenapa ribut di sini?!“ hardik Romeo yang akhirnya menghentikan keributan antara detektif Egan dan security di rumahnya itu.
“Maaf pak Romeo. Orang ini ingin memaksa masuk,” jawab security itu.
“Memaksa masuk? Bohong! Kami hanya ingin bertemu dengan anda tapi security ini menahan kami,” jawab detektif Egan tak ingin kalah.
“Memang saya yang berpesan agar tak ada orang yang sembarangan bisa masuk ke sini,” ujar Romeo membela security yang menjaga rumahnya.
“Anda dengar?!“ ujar security itu merasa jumawa.
“Kami ke sini hanya untuk meminta bantuan anda pak Romeo,” ujar detektif Keiko.
“Bantuan seperti apa?“ tanya Romeo.
“Kami butuh sample DNA anda,” jawab detektif Keiko.
“Tentu saja kamu masuk dalam daftar tersangka,” jawab detektif Egan dengan wajah selengean.
“Apa kalian sudah memeriksa alibi saya?“ tanya Romeo masih dengan nada marah.
“Tentu saja sudah. Tapi mereka bilang anda datang terlambat dalam rapat kali itu,” jawab detektif Egan.
“Apa saya tidak boleh terlambat dalam rapat?“ tanya Romeo.
“Tentu saja tidak masalah jika tidak ada kasus pembunuhan yang melibatkan anda di saat yang bersamaan dengan keterlambatan anda,” jawab detektif Egan.
“Saya punya alibi sekaligus saksi lebih dari satu. Kalian tidak punya alasan untuk mencurigai saya,” ujar Romeo.
“Kalau begitu, beri kami sample DNA anda agar kami benar-benar yakin untuk mencoret anda dari daftar tersangka,” ujar detektif Keiko sambil menyerahkan satu kantung alat pengumpul sampel DNA.
“Bagaimana jika saya tidak mau?“ tanya Romeo angkuh.
__ADS_1
“Kami bisa bawa anda ke kantor kami dan tetap memaksa anda untuk memberi sampel DNA anda di sana,” jawab detektif Egan sambil memperlihatkan surat perintah yang sudah sejak awal dia dapatkan dari atasannya, pak Brox.
Romeo merebut surat perintah itu dan membaca setiap kalimat yang tertulis secara baik-baik lalu akhirnya dia menyerah dengan keadaan yang menekannya kali ini.
“Berikan alat itu,” ujar Romeo.
“Silahkan,” detektif Keiko menyerahkan satu kantung alat pengumpul sampel DNA itu kepada Romeo dan tanpa ragu Roemo ambil lalu dia membalikkan tubuhnya.
“Anda ingin kemana pak Romeo?“ tanya detektif Egan saat Romeo akan melangkahkan kakinya.
“Akan lebih baik jika anda mengambil sampel DNA anda di sini,” ujar detektif Keiko menahan langkah Romeo yang akan masuk ke dalam rumahnya.
“Saya hanya akan mengambilnya di dalam kamar saya. Saya khawatir ayah saya akan melihat,” ujar Romeo.
“Bukankah justru akan membuat ayah anda curiga bila anda masuk ke dalam kamar lalu keluar lagi?“ ujar detektif Keiko.
“Atau anda ingin mengambil DNA orang lain dan memasukannya ke dalam kantung itu?“ ujar detektif Egan seolah meremehkan Romeo.
“Anda jangan berbicara sembarangan ya!“ Romeo kembali meninggikan suaranya.
“Sungguh tidak enak bukan dituduh seperti itu!? Maka untuk menghindari kesalah pahaman di antara kita, akan sangat lebih baik anda mengambil sampel DNA anda di sini, di hadapan kami,” ujar detektif Egan.
“Kami juga bisa membantu anda untuk mengambil sampel DNA anda,” ucap detektif Keiko.
“Maka lakukanlah. Ambil DNA saya,” ucap Romeo sambil melempar kantung berisi alat pengumpul sampel DNA itu ke arah detektif Egan.
Detektif Keiko mengambil kantung itu dari tangan rekannya lalu mulai membuka kantung itu dan mengelurkan isinya dengan hati-hati. Lalu detektif Keiko membanyu Romeo mengabil sampel DNA nya.
“Maaf, buka mulut anda,” detektif Keiko memerintahkan Romeo dan dengan patuh Romeo membuka mulutnya. Membiarkan detektif Keiko menyeka sebagian mulut dan lidah Romeo untuk mengunpulkan DNA.
“Sudah?“ tanya Romeo.
“Sudah pak,” jawab detektif Keiko sambil merapikan kembali kantung yang kini sudah terdapat sampel DNA milik Romeo, tersangka nomor satu mereka.
“Terima kasih atas kerjasamanya pak Romeo Soeratman,” ujar detektif Egan dengan paling sopan.
“Bawalah alat itu dan itu akan menunjukan pada kalian bahwa saya tak persalah atas kematian Tania,” ujarnya penuh kemarahan.
Detektif Egan dan Keiko tersenyum tanpa membalas perkataan Romeo yang terlihat sangat marah.
__ADS_1
Kemudian Romeo masuk ke dalam mobil sport nya mewah dan mobil itu pun langsung keluar dari pekarangan rumahmewah itu setelah security di rumah itu membukan pintu gerbang.
Suara mesin mobil itu menderu seolah ikut marah seperti tuan yang sedang mengendarainya. Dan dalam hitungan detik mobil sport itu sudah menghilang dari pandangan kedua detektif itu walau suaranya masih samar terdengar.