
Kutolehkan pandanganku ke arah sumber suara. Lantas aku menyunggingkan senyum. Seorang wanita yang kukenal berdiri tepat di sisi kiriku sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Baru pulang kerja, Kak?” balasku padanya.
“Anak muda zaman sekarang makin nggak sopan. Bisa-bisanya balik bertanya sebelum menjawab pertanyaanku,” umpatnya sedikit kesal.
Suara tawaku berlarian ke udara. Kemudian aku menceritakan sedikit hal tentang bagaimana aku bisa duduk di tempat seperti ini. Kak Alma beranjak ke ayunan sebelah yang tiang penyangganya masih satu dengan ayunan yang kunaiki. Ini adalah ayunan gantung sederhana yang hanya terdapat satu dudukan dengan potongan-potongan besi kecil melingkar yang saling terhubung untuk menggantungnya.
“Ini adalah tempat favoritku untuk menghilangkan penat,” gumam Kak Alma. “Kau lihat sendiri, kan? Dengan duduk di sini, kau bisa langsung melihat ke arah matahari senja meskipun sedikit terhalang oleh daun-daun yang lebat itu. Tapi tetap tidak menghalangimu untuk melihat langit dan mega yang ikut berwarna keemasan.”
Aku mengiyakan. Kak Alma mulai memainkan ayunannya. Sambil duduk di atas ayunan, kakinya mundur ke belakang beberapa langkah, lalu mendorongnya ke belakang dengan kuat. Ia pun meluncur ke depan dengan cepat dengan posisi kaki terjulur lurus ke depan. Dengan senyum di wajah, ia mengajakku untuk ikut berayun juga. Kepalaku mengangguk, dan aku melakukan apa yang dipintanya.
“Bagaimana? Apa yang kaurasakan saat menikmati ayunan ini?” tanya Kak Alma yang masih berayun senang.
“Senang, Kak. Tubuhku juga serasa sejuk karena kubenturkan langsung dengan udara,” balasku yang juga masih berayun bersamanya.
“Hanya itu? Nggak ada merasakan hal yang lain?”
“Maksudnya?”
“Haha, iya, memang seharusnya begitu. Kau hanya cukup merasa senang.”
Kata-katanya menempel pada dahiku dan membuatnya berkerut. Kak Alma yang peka dengan perubahan raut wajahku itu menghentikan ayunannya. Seirama dengannya aku pun turut berhenti berayun. Dengan menggerakkan kakinya, Kak Alma kembali berayun tanpa mendorong dan menghempaskannya. Ia hanya seperti terlihat bermain dengan memaju-mundurkan ayunan itu.
__ADS_1
“Ngerti?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Ia membuka mulutnya makin lebar.
“Dengar suara nggak, saat aku berayun seperti ini?”
“Suara deritan ayunannya?”
Kak Alma mengangguk. “Saat kita berayun tadi, sebenarnya suara ini juga terdengar jelas, kan? Apa kau menyadarinya?”
“Iya,” jawabku. “Tapi aku mengabaikannya. Suaranya tetap tak sebanding dengan kesenangan yang kita dapatkan.”
“Tepat!” sahut Kak Alma. Kemudian ia menghentikan ayunannya itu. “Bukankah ini sama seperti kita?” tanyanya lagi.
“Para pengguna kaldier adalah ayunan ini, sedangkan orang yang menaiki ayunan adalah mereka yang hidup normal tanpa penyakit. Tugas kita sebagai ayunan adalah membahagiakan mereka yang normal dengan bantuan. Namun deritan kita, sama sekali tak didengar oleh mereka. Mereka hanya terbuai dengan kesenangan yang kita berikan tanpa peduli untuk merawatnya. Bila ayunan sudah rusak, barulah mereka memperbaikinya. Atau lebih buruknya ayunan itu akan dibuang begitu saja dan diganti dengan yang baru. Bedanya,” kak Alma mengambil jeda untuk menghirup napas sesaat. “Kalau kita sudah rusak, kita tak bisa diperbaiki lagi. Itu sama artinya kita dibuang, kan?”
Perkataan perempuan dewasa dengan dandanan mencolok ini meresap dengan baik ke dalam pikiranku. Aku benci mengakui dan ingin beralasan naif, namun ucapannya benar dan tak bisa kutampik.
“Akan tetapi,” lanjut Kak Alma lagi. “Bagaimanapun pandangan mereka terhadap kita, kita harus tetap bersyukur. Bila tak ada kaldier ini, kita pasti sudah mati sejak lama. Para penemu kaldier juga merancang sistem ini bukan untuk menjadikan kita sebagai sapi perah mereka. Mereka punya niat mulia untuk memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup lebih lama tanpa harus berbaring tak berdaya di rumah sakit. Aku percaya itu, kok.”
Kadang-kadang aku berpikir, apa semua orang yang terlihat dari luar menyeramkan itu memiliki hati yang baik seperti Kak Alma ini? Sepintas bila dilihat begitu saja, penampilan Kak Alma ini terkesan angker. Dengan pakaian berwarna gelap dan jaket kulit tebal. Sepatu but selutut dan celana jins hitam. Ditambah dengan make-up ala penyanyi rock dan sepuntung rokok yang sering dihisapnya, pasti orang-orang akan berpikir dia adalah orang yang buruk. Namun kenyataannya, dia benar-benar orang yang baik.
Sang waktu menggeser warna lagit yang kemerahan menjadi gelap. Tanpa terasa kami berdua sudah menghabiskan waktu untuk mengobrol hingga matahari benar-benar sudah tenggelam ke peraduannya. Lampu jalanan dan lampu di taman ini pun sudah menyala. Namun jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.
__ADS_1
“Sepertinya sudah waktunya aku kembali bekerja, aku pergi dulu ya?” ujarnya berpamitan.
“Masih mau kerja lagi?” tanyaku heran.
“Justru pekerjaan utamaku ada di malam hari. Aku kan harus bernyanyi di tempat-tempat tertentu dengan anggota band-ku.”
Mulutku ternganga seketika. Ternyata Kak Alma memang seorang vokalis band. Pantaslah penampilannya selalu mencolok seperti itu.
“Berhati-hatilah dalam perjalanan pulang. Kau lihat berita, kan?”
Aku mengangguk membenarkan. Sepintas aku teringat kembali dengan berita kriminal yang terjadi belakangan ini setiap hari. Dan semua kejadian itu berlangsung di kota ini. Aku juga mengatakan hal yang sama pada Kak Alma untuk memperingatkannya juga.
“Oh, ya,” Kak Alma berujar lagi sebelum ia beranjak meninggalkanku. “Dua hari lalu aku pernah melihat Yuva turun dari sebuah mobil di satu sudut jalan di malam hari. Larut malam, atau mungkin kusebut dini hari – sekitar pukul tiga dini hari. Belum sempat aku menyapanya, dia langsung menyetop taksi. Janggal, ya?”
Mendengar ucapan itu aku tersentak. Lantas aku bangkit dari posisiku yang masih duduk di atas ayunan untuk mendekati Kak Alma. “Kakak yakin yang Kakak lihat itu Yuva?”
Kak Alma mengangguk. “Ada apa? Kok tumben sekali kalian tidak bersama? Sedang dalam masalah, ya?” terkanya.
Aku menggeleng. Lalu pikiranku meloncat lagi kesana-kemari.
Kak Alma yang terlihat seolah mengerti dengan yang aku pikirkan mencoba menghiburku. “Masa muda,” katanya. “Bila ada masalah, segeralah selesaikan. Masalah itu kalau digantung-gantung malah bisa menimbulkan masalah lain loh.”
Dari kata-katanya itu, masalah yang ada di pikirannya itu pasti berbeda dengan yang terjadi sesungguhnya. Dia hanya akan menduga kami memiliki masalah seperti remaja pada umumnya. Padahal lebih pelik dari itu. Niat untuk mengatakan yang sebenarnya juga belum bisa aku ungkapkan. Ini masih dugaan. Belum tentu juga kecurigaanku benar adanya.
__ADS_1
“Terima kasih, Kak, atas infonya. Aku akan mengeceknya sendiri.”