
Jum’at, 23 Maret 2046, pukul dua belas siang lebih sepuluh menit, Yuva mengajakku makan siang bersama di kantin kampus. Otot-otot wajahnya bekerja dengan baik untuk memasang tampang ceria. Wanita yang kuat. Peti yang ia buat untuk menyembunyikan masalah dan kesedihannya itu tampak kokoh untuk dibobol. 137 hari – sisa Life Point yang terlihat pada kaldiernya. Setiap hari – tiap kali aku bertemu dengannya di kampus, tiap hari pula kulihat Life Point-nya terus berkurang. Dan tiap kali pula tubuhku gemetaran melihat pengurangan pada Life Point-nya. Yuva tak membantu atau menolong siapa pun semenjak kencan kami seminggu lalu.
Ketakutan akan kehilangan Yuva karena Life Point-nya habis itu sekarang membuntutiku seperti penguntit yang haus darah. Maka dari itu, kusampaikan apa saja yang telah kubicarakan dengan ibu tadi malam padanya.
“Dengan kata lain, aku kurang tulus dalam memberikan bantuan, ya?” gumam Yuva sedih.
“Maaf, bukan bermaksud menghakimimu. Tapi itu hanya masukan dari Ibu. Siapa tahu kau bisa lebih termotivasi,” ujarku takut bila Yuva sampai tersinggung.
“Nggak, justru aku senang. Mungkin kata-kata ibumu benar. Aku memang terlalu bernafsu untuk menambah Life Point-ku, bukan bernafsu untuk membantu orang lain,” pungkasnya. “Jadi begitu ya? Hmmm ....”
Bila kuingat-ingat, ada seseorang yang kisahnya mirip sekali dengan Yuva. Belakangan Life Point-nya juga tak bertambah dan terus berkurang. Ia sering mengeluh tak punya waktu menjadi relawan karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sudah lama tak berjumpa dengannya. Mungkin bila menemuinya, kami bisa mendapat solusi tambahan mengenai kasus ini.
“Tante Viola. Kau ingat? Katanya dia juga punya kendala seperti ini beberapa tempo lalu. Mungkin dia bisa membantuku,” usul Yuva. Aku sumringah saat mendengarnya mengatakan hal itu. “Kenapa? Ada yang lucu?” tanyanya.
“Nggak, aku baru saja memikirkan hal yang sama.”
“Kalau begitu sudah diputuskan! Malam ini kita ke rumahnya. Aku ada kelas sampai jam enam sore ini. Bisa?”
“Iya, aku akan bilang Ibu kalau akan pulang telat.”
Mungkin kalau Yuva lebih giat semenjak ia pertama kali memasang kaldiernya, Life Point-nya takkan sekecil ini. Itu adalah hal yang sering dibahas tiada henti oleh sekumpulan aku yang berukuran mikro yang ada dalam kepala. Ada yang berteriak-teriak kesal. Ada yang selalu menyalahkan. Adapula yang cuma tidur seperti dalam rapat yang sering disiarkan di televisi. Padahal tidak ada yang didapat kalau terus memikirkannya.
Tepat pukul enam, ponselku berdering mendapat panggilan dari Yuva. Mata kuliah terakhirnya sudah selesai. Kusuruh dia agar langsung menemuiku di tempat parkir sepeda motor. Tak berselang lama, dengan langkah kaki yang terlihat tergesa-gesa, Yuva mendatangiku. Segera kuserahkan sebuah helm untuk dipakainya. Ia naik ke boncengan dan aku segera menyalakan mesin sepeda motorku. Kami segera keluar dari area kampus dan bergerak ke arah Utara menuju Bunut – kelurahan di perbatasan Kisaran. Bila tidak macet, rumah tante Viola bisa kami tempuh dalam waktu kurang dari dua puluh menit dari kampus.
Tante Viola adalah seorang janda yang mengidap penyakit pernapasan. Kaldier yang digunakannya mencegah terjadinya perkembangan gejala penyakitnya yang lebih parah. Virus penyebab penyakit pernapasan yang ada pada tubuhnya akan tertahan aktivitasnya tetapi tidak mati. Juga ia selalu memakai masker supaya virus yang keluar dari mulut maupun hidungnya tidak menyebar ke mana-mana. Dengan demikian orang-orang sekitar tak perlu khawatir akan tertular.
Sebagai seorang janda beranak tiga, mau tak mau ia harus menghidupi keluarganya dengan bekerja ekstra keras sebagai buruh di suatu perusahaan. Ketiga anaknya masih sangat kecil. Anak tertua masih berada di kelas dua sekolah dasar.
__ADS_1
Kami tiba di depan sebuah rumah kecil di suatu komplek perumahan sederhana. Jam tanganku menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Yuva mengucap salam beberapa kali sambil mengetukkan tangannya pada daun pintu. Kenop pintu bergerak memutar, dan pintu tertarik ke dalam. Dari balik pintu muncullah seorang wanita yang ingin kami temui itu. Dia mempersilakan masuk dengan wajah yang terlihat murung dengan rambut yang lebih mirip sarang laba-laba ketimbang sapu ijuk. Dan yang lebih mengejutkan adalah saat kami melihat angka Life Point pada kaldiernya.
“Maaf, kalau soal itu aku juga tak bisa membantu. Aku masih terpaut dengan masalah itu. Kalian bisa lihat sendiri Life Point-ku kan?” ujar Tante Viola cepat begitu mendengarkan permasalahan kami.
Sisa Life Point yang tertera adalah 25 hari. Lebih mengkhawatirkan dan sangat jauh dari yang dibayangkan. Wajar bila ia terlihat begitu uring-uringan dengan rambut yang teracak dan kantung mata yang menggelantung kehitaman. Di sudut-sudut rumahnya juga berserakan kaleng-kaleng minuman keras yang amat banyak.
“Kalian cukup beruntung hari ini karena bisa bertemu denganku. Biasanya aku pergi bekerja dari pagi dan pulang hingga larut malam. Semua itu karena kesibukanku bekerja untuk menafkahi anak-anakku, juga menggunakan waktu luang yang tersisa untuk mengumpulkan Life Point,” lanjutnya dengan nada bicara yang terdengar lemas. “Dan sudah beberapa hari ini aku menitipkan anak-anakku pada kerabat karena aku hampir tak punya waktu untuk mengurus mereka. Jahat, kan? Orang tua macam apa aku ini?”
Aku dan Yuva dihanyutkan dalam situasi pilu yang mengiris. Bibir-bibir kami seperti dijahit rapat hingga tak bisa melepaskan kata-kata. Tante Viola pasti sangat kesulitan membagi waktunya antara bekerja untuk menghidupi keluarganya dan menolong orang-orang yang butuh bantuan demi memperpanjang usianya. Sebagai buruh biasa, pastilah jika ia bekerja tanpa mengambil lembur, kebutuhannya takkan terpenuhi.
“Aku sangat mengerti perasaan Tante,” kata Yuva mencoba menghibur. “Tapi, jangan menyerah, Tante. Aku juga belum menyerah.”
Tante Viola hanya mengulas senyum mendengar perkataan Yuva. “Aku rasa kau belum benar-benar mengerti masalah yang kita hadapi, Yuva. Kau masih belum melihat sosok orang-orang itu yang sebenarnya.”
“Maksudnya?” tanya Yuva langsung.
Tante Viola tak menjawab. Seolah ia meninggalkan hal itu sebagai misteri yang perlu kami pecahkan sendiri. “Rasanya aku ingin pindah ke suatu tempat yang orang-orangnya belum mengerti tentang sistem kerja kaldier. Tapi itu tak mungkin. Alat ini sudah beredar di seluruh dunia,” lanjut Tante Viola.
“Ah, apa aku tak boleh hidup normal seperti kebanyakan orang?” tante Viola memotong kalimatku. Pertanyaan itu serupa udara kotor yang terhirup ke dalam hidung lalu membuat aliran darah ke otak menjadi tidak lancar. Kepalaku pusing. “Ini seperti Tuhan sudah meninggalkanku. Tuhan seperti tak menginginkanku lagi untuk hidup di dunia ini. Tak peduli seberapa kerasnya aku berusaha untuk bertahan hidup, Dia tak memedulikanku.”
“Tidak tante Viola. Tante nggak boleh bicara seperti itu,” kataku cepat.
“Cepat atau lambat kalian pasti akan mengalaminya sendiri, kok,” sambung wanita berusia sekitar tiga puluh akhir itu seolah tak menggubris perkataan kami dari tadi. “Maaf kalau aku tak sopan, selagi aku tidak sibuk hari ini, aku ingin mengunjungi anak-anakku di rumah kerabat malam ini. Kalian bisa pulang dulu hari ini?”
Kami keluar dari rumah Tante Viola sambil membawa buah tangan berupa tanda tanya berwarna gelap pekat di kepala. Yuva menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan keras saat sudah berada di luar rumah Tante beranak tiga itu.
“Tante Viola seperti sudah pasrah dengan kondisinya. Aku seperti tak melihat lagi pancaran sinar kehidupannya,” komentar Yuva seolah bicara dengan diri sendiri. Kutuntun sepede motorku atas perintah Yuva karena ia masih ingin bicara sambil berjalan menjauh.
“Mungkin karena tak ada yang menyemangatinya. Aku rasa yang dibutuhkan Tante Viola saat ini adalah seorang suami yang bisa menafkahi dirinya dan anaknya. Hingga ia bisa fokus untuk membantu sesama,” tanggapku.
__ADS_1
“Tidak sesederhana itu, Eldan,” potong Yuva. “Kau dengar sendiri yang diutarakannya tadi kan? Itu seperti serangan mental yang berat. Pasti ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikirannya selain masalah mata pencahariannya. Sesuatu yang lebih kompleks.”
“Begitukah? Kira-kira apa itu?”
“Dia bilang, ‘kalian akan mengalaminya nanti’. Mungkin keterkaitannya di situ. Dia sengaja tak memberitahu karena ia takut dicap sebagai orang yang mudah putus asa. Dia ingin agar kita memahaminya sendiri.”
Situasi serius merambat ke tatapan mata Yuva, ke wajah, hingga nada bicaranya. Aku mulai menyadari satu hal. Karena tak pernah mengalami kesulitan mendapatkan Life Point, rasa empati yang kumiliki seakan-akan memudar. Aku seperti tidak bisa memahami apa yang dirasakan Yuva saat ini. Hatiku memang panik dan kepikiran dengan masalah yang dihadapi Yuva, namun aku masih terlalu santai menanggapinya. Mengingat Life Point Yuva yang tinggal sedikit itu, seharusnya aku sudah memaksanya setiap hari untuk membantu orang yang dalam kesusahan.
“Lalu, bagaimana menurutmu?” Yuva melayangkan pertanyaan dan membuat lamunanku buyar.
“Ah, kurasa aku akan menemanimu besok untuk patroli mencari orang-orang yang butuh bantuan,” usulku tiba-tiba.
“Ha?” keningnya berkerut. “Tapi bukan itu yang kutanya.”
“Pokoknya masalah itu kita pikirkan nanti saja. Kali ini kita harus fokus untuk menambah Life Point milikmu.”
Tak peduli dengan tugas, makalah, kerja kelompok, praktek, ujian, dan segala macam *****-bengek kuliah seperti biasa. Aku akan meninggalkannya untuk sementara waktu.
Kening gadis berambut ikal ini masih bertahan dalam kerutannya. Dengan arah mata yang juga masih ditautkan padaku. Dia mendengus lagi. Suaranya tak seberat yang tadi dan tak lebih panjang. Tetapi sedikit berbeda karena ia menambahkan gaya baru dalam dengusan napasnya. Ia berkecak pinggang.
Kemudian kedua tangan yang tadi berada di pinggang berpindah ke atas kepalanya. Ia melakukan gerakan seperti sedang berkeramas sambil sedikit menundukkan kepala ke bawah. Dengan mata terpejam. Dengan mulut yang mengeluarkan suara dengung yang pelan. Lalu dilepaskan kedua tangan sekaligus dengungannya sambil melempar tatapan ke arahku.
“Nah. Kalau malam ini kita akan hunting di mana? Kita jarang melakukannya saat malam, kan?”
Kusunggingkan senyuman. Kemudian sebelah tanganku kutepuk-tepukkan ke atas jok belakang motorku. Yuva mengerti dan segera naik ke atas sepeda motor setelah sepeda motor kunyalakan. Kami berdua mulai menyisir malam. Menuju ke sebuah tempat yang baru saja terbersit di benak.
__ADS_1