
“Tuan Eldan Wihami. Anda dituduh melakukan tindakan kejahatan yang membahayakan keselamatan banyak orang,” kata seorang yang tak memakai seragam – yang hanya memakai kemeja yang kerahnya tak dikancing itu. Ia juga tidak ikut mengunci gerakanku.
“Tuduhan dari mana itu?! Aku tak pernah melakukan apapun!” bantahku kuat.
“Beberapa hari lalu anda menemui pimpinan medis di kota ini untuk melayangkan keluhan mengenai sistem kaldier. Hal itu kami tafsirkan sebagai ancaman. Oleh karena itu anda ditahan untuk sementara waktu,” jelasnya.
“Pak Fredi?” gumamku pelan. Aku langsung mengingat wajahnya saat polisi tersebut mengungkitnya. “Tapi, aku tak melakukan hal apa pun!” ujarku membela diri.
“Anda bisa jelaskan itu nanti di pengadilan.”
Mulutku ternganga sekejap. Aku masih berusaha meronta untuk melepaskan diri. Tetapi sia-sia saja. Tubuhku benar-benar terkunci. Dari arah yang lain, suara ibu menggema keras memenuhi isi ruangan. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman salah satunya untuk segera meraihku. Dia berteriak-teriak memanggil namaku.
“Tenanglah, Bu. Anda tidak kami tangkap. Yang kami amankan hanya putera anda,” jelas salah satu polisi yang menghalau ibuku. Namun ucapan itu malah membuatnya semakin berang. Ibu terlihat tidak terima.
__ADS_1
“Lepaskan dia!” jeritnya. Seketika aku melihat ke arah ibu. Dan tubuhnya mendorong, memukul, menerjang polisi itu sekuat tenaga. Tetapi polisi yang menghalau ibu bisa bertahan.
Ibu menjadi semakin berang seperti induk ayam yang sedang melindungi anaknya. Melihatnya seperti itu membuat hatiku bagai dijepit benda-benda keras. “Ibu, hentikanlah. Tidak boleh ada keributan di rumah sakit. Semua akan baik-baik saja. Akan kubuktikan aku tidak bersalah.” kata-kata ini kulontarkan dengan maksud untuk menyentuh dan menenangkan ibu. Aku berusaha tegar untuk tidak lagi melawan dan mengikuti arus yang sedang menyeretku saat ini sambil perlahan-lahan memulihkan tenaga.
Akhirnya ibu tenang. Dia menurut sesuai yang kupinta. Meski air matanya tak menunjukkan hal yang demikian. Dan akhirnya ia merelakanku pergi dibawa oleh ketiga polisi ini. Aku sudah tenang sambil menjernihkan pikiran untuk memikirkan sesuatu. Dasar otak yang tidak mau menurut. Bukannya berusaha memikirkan cara menghadapi persoalan ini, pikiranku malah dilempar lagi ke arah yang lain. Otak ini malah menunjukkan bayangan tentang Bang Auron dan Kak Alma. Bisa jadi mereka berdua juga diperlakukan hal yang sama. Mereka berdua juga ada bersamaku saat menjumpai Pak Fredi. Semoga mereka tidak mengalami hal ini.
“Apa anda juga memikirkan kedua rekan anda yang lain?” terka salah satu polisi yang tadi bicara denganku. Terkaannya berhasil menamparku barang sekejap. Dilihat dari sikapnya yang tenang, kemungkinan dia adalah ketuanya. Aku tak menjawab pertanyaanya dan mengunci rapat-rapat mulutku. “Tenang saja mereka berdua juga sedang diringkus hari ini.”
Lalu aku diterjang lagi dengan pernyataan barusan. Seperti ada hantaman ombak yang kuat yang menggetarkan dada lalu menjalar ke seluruh tubuhku. Kaki dan tanganku jadi lemas. Aku nyaris roboh. Isi-isi kepalaku terus saja berharap supaya mereka berdua tidak tertangkap dan berhasil meloloskan diri. Biarlah aku saja yang akan berjuang sendiri di pengadilan nanti bahwa aku – beserta Kak Alma dan bang Auron – tidak bersalah.
“Bungkusan apa yang kau pegang itu?” tanya seorang polisi yang duduk mengapitku dari sebelah kanan. Polisi yang masih terlihat agak lebih muda. Belum sempat kumenjawab, ia langsung merampasnya dan membuka isinya.
“Hanya sarung tangan bermotif,” jawabku bersamaan saat si polisi melihat isinya.
Polisi itu menaruh plastik dan pembungkusnya di bagian pintu mobil dan memeriksa sarung tangan itu dengan teliti. Setelah dirasanya tak menemukan hal yang ganjil, diserahkannya kembali padaku. Katanya aku boleh menyimpannya. Dengan tangan terborgol, dan kondisi yang diapit rapat, kuselipkan sarung tangan bermotif Hitameong itu ke saku celanaku dengan usaha yang sedikit keras.
__ADS_1
“Tepat setelah penangkapan Arfi – si pengguna kaldier yang ikut terlibat dalam perampokan itu – pemimpin perusahaan medis di kota ini segera menghibungi kami,” Pak polisi dengan dasi longgar itu – yang seperti ketuanya itu mulai berbicara lagi. Ia duduk di sebelah kiriku. Dikeluarkannya sebungkus rokok dan diambilnya sebatang. Lalu dinyalakannya dengan pemantik api yang diambilnya di dekat setir mobil. “Katanya dia baru-baru saja ditemui oleh tiga orang pengguna kaldier yang melayangkan keluhan. Kami segera melacak dan mengonfirmasinya pada pimpinan itu,” lanjutnya.
“Bedebah pak tua itu!” umpatku dalam hati.
“Kau tahu? Sebenarnya kami ingin meringkus kalian saat itu juga. Namun mendengar anda sedang dirawat di rumah sakit, kami urungkan untuk sementara. Jika kami langsung menangkap dua lainnya, kemungkinan berita itu tercium oleh anda itu besar. Dan anda bisa melarikan diri dari rumah sakit. Meski kalau anda melakukan itu anda bisa saja mati karena kaldier anda tak sanggup mengatasi penyakit baru anda. Tapi kami masih punya hati. Kami akan bergerak setelah anda benar-benar sudah menjalani perawatan dan pembaharuan kaldier.”
Pak polisi itu kemudian menghentikan penjelasannya. Diisapnya rokok yang berada di tangan kirinya itu agak lama. Lalu dihembuskannya. Asapnya mengepul cukup banyak. Cukup untuk membuatku terbatuk\-batuk.
“Merokok di dalam mobil sepertinya tidak baik, Pak,” komentar polisi yang ada di sebelah kananku.
“Yang namanya merokok mau dimanapun juga tidak baik,” balas pak polisi yang merokok itu. Lantas ia membuka kaca jendela mobil yang ada di sebelahnya.
Udara luar pun masuk dan mengambil asap rokok untuk dibawanya keluar dari mobil. Sementara mobil ini membawaku ke markas polisi untuk ditahan sementara. Menuju waktu persidangan. Seingatku, semenjak hari penangkapan Arfi, aku belum mendengar hasil persidangannya. Itu artinya Arfi masih berada di markas yang sedang kutuju ini. Bila beruntung, mungkin saja aku bisa menghajar dan berbincang-bincang dengannya. Bukan untuk bertegur sapa atau bernostalgia. Tetapi untuk menggali informasi. Atau setidaknya mencari bukti kuat untuk membuktikan bahwa aku tak bersalah.
__ADS_1