
“Iya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Yuva semakin nekat saja berbuat yang aneh-aneh seperti ini?” balasku pada Bang Auron yang mengirimiku pesan itu.
“Jangan bertindak gegabah dulu. Kita telusuri lagi aksinya selanjutnya. Kau harus tenang, Eldan.”
Kata-kata saja takkan berpengaruh besar padaku. Rasa ini, rasa yang bernama panik ini mulai menjalar di setiap inci tubuhku. Manusia dari sudut dunia mana yang bisa tahan melihat orang yang dikasihinya berbuat kriminal lantas memakai topeng lain untuk menarik simpati masyarakat? Aku kacau.
“Sudah saatnya berangkat kuliah, Hami. Kau bisa terlambat nanti,” ujar ibuku dari arah belakang. Aku menoleh ke arahnya sambil mengangguk. Dari mata ibu, aku membaca kekhawatiran sedang bertengger di sana.
Kusunggingkan senyum sekedar untuk memecah kekhawatiran ibu. Ia pasti cemas melihatku yang terus memikirkan Yuva. Ranselku kuraih dan kusandangkan di bahuku. Kusambar lembut tangan ibu lalu menciumnya. Kemudian bergegas mengenakan sepatu dan mengambil sepeda motorku untuk pergi ke kampus. Daripada terus memikirkan Yuva, sebaiknya aku segera memikirkan cara untuk membuatnya berhenti.
*
Suasana kampus diramaikan oleh celotehan seputar berita pagi ini. Beberapa orang diantaranya memuji, beberapa diantaranya mencibir. Kutarik diriku untuk menyendiri agar tidak ikut bergabung dalam pembicaraan itu. Hanya mendengarnya saja dari kejauhan, dadaku serasa panas.
__ADS_1
“Kau pasti beruntung punya pacar yang diundang sebagai narasumber di berita pagi ini, Eldan. Dia terlihat berwawasan luas di situ,” komentar salah satu temanku. Aku hanya tersenyum berusaha mengabaikannya.
“Tak kusangka seorang peretas berbakat diundang ke stasiun tv. Cari perhatian mungkin biar orang bersimpati padanya,” kata yang lainnya.
“Hahaha, lucu sekali saat setelah wawancara, kaldier milik teman kita itu langsung memindai si pembawa berita. Benar-benar haus Life Point ya? Seperti pengemis saja,” komentar yang lain lagi.
Pada akhirnya mereka membahasnya untuk kembali menjatuhkan derajat kami sebagai para pengguna kaldier. Telingaku memanas seolah ingin mengusir suara-suara yang bertandang menjengkelkan itu. Paradigma mereka tentang para pengguna kaldier semakin buruk dan cepat menyebar. Andai mereka merasakan apa yang kami rasakan. Andai saja mereka punya penyakit yang sama seperti kami. Apa mereka masih bisa berkata kejam seperti itu? Memang seharusnya para orang berkesehatan normal seperti itu turut mendapat penyakit yang sama seperti kami. Agar mereka tahu rasanya penderitaan mencari angka kehidupan.
Tidak. Aku tak boleh berpikiran seperti itu. Pikiran gelap seperti itu tak boleh merasuki hatiku. Bagaimanapun juga kami harus tetap sabar menghadapi cacian dari mereka. Tidak semua dari mereka seperti itu. Lagipula, kami masih membutuhkan orang-orang tanpa kaldier untuk merdapatkan tambahan Life Point. Bila semua orang memakai kaldier, kaldier takkan bisa memindai siapapun lagi.
Aku duduk di bawah pohon beringin besar di atas akar-akarnya yang muncul di permukaan tanah. Sambil menyentuh kalung yang menjadi penyokong nyawaku saat ini, aku terhempas pada ingatan masa kecilku. Itu adalah saat-saat di mana menolong sesama bisa begitu menyenangkan. Saat orang-orang yang kubantu tersenyum lebar mendapat bantuan dariku. Saat tak ada yang menatap sinis dan berucap kasar setelah dibantu. Kadang-kadang mereka juga melemparkan ucapan pujian seperti “anak pintar” atau “anak baik”. Masa-masa yang indah yang seperti hanya berisi warna hijau, merah, biru, dan putih. Tidak seperti sekarang yang warnanya berubah menjadi kelabu hingga hitam.
“Punya rencana baru ya?”
Yuva tersentak lalu menolehkan pandangannya ke arahku yang sedang terduduk di bawah pohon. Langkah kakinya pun ikut berhenti. “Ini tak ada sangkut-pautnya denganmu,” jawabnya.
Aku menggigit bibir bagian bawahku. Yuva semakin dingin. Jawaban yang dilontarkannya dengan tatapan sinis itu, aku sama sekali tak menyukainya. Aku bangkit dari dudukku dan melangkah mendekatinya. Sengaja aku menunggunya di sini karena aku tahu Yuva akan pergi ke perpustakaan melalui jalan kecil ini.
“Berhentilah. Life Point yang kaukumpulkan sudah cukup banyak, kan? Kita bisa mencarinya lagi dengan cara yang biasa,” usulku dengan nada tidak ingin bertikai. Aku akan menariknya kembali tetap dengan cara yang halus.
__ADS_1
“Masih naif seperti biasa,” balas Yuva padaku. Ia membetulkan posisi tas sandangnya ke arah atas bahunya. “Selagi pandangan buruk tentang para pengguna kaldier masih ada, aku takkan berhenti. Karena takkan ada manfaatnya menolong mereka.”
Sama halnya dengan cara pandang orang normal terhadap para pengguna kaldier, cara pandang Yuva terhadap orang normal pun sudah memburuk. Dari kata-katanya yang tegas itu, Yuva sudah tidak mentolerir lagi orang-orang berkesahatan normal. Ia sudah memukul rata mereka semua dengan menganggap bahwa mereka adalah musuh.
“Tapi, hal ini juga bisa berdampak buruk bagi kita semua. Kalau mereka sampai tahu kaulah dalang dibalik semua tindakan kriminal yang sedang jadi top news saat ini, semua para pengguna kaldier akan dicurigai,” ujarku bersikeras meyakinkannya.
“Semua rencana aku yang mengatur. Aku tidak cukup bodoh untuk bisa diketahui semudah itu. Bila perlu, aku akan mengajak semua pengguna kaldier untuk melakukan hal yang sama denganku. Dengan begitu kita semua bisa mendulang Life Point dalam jumlah besar.”
“Yuva!” bentakku. “Ini sama sekali tidak lucu.”
“Apa aku terlihat bergurau?”
Aku diam. Kepalaku serasa ditusuk-tusuk akibat memikirkan bagaimana caranya menghasut Yuva untuk kembali ke arah yang benar. Rumit sekali. Bahkan Yuva tampak tenang dan tidak terlalu menggubris perkataanku.
“Kumohon hentikanlah Yuva. Aku tidak bisa terus melihatmu bertindak seperti ini. Para perampok yang kautolong itu bahkan tak segan-segan menghabisi orang yang melihat pergerakan mereka. Yang seperti itu sudah keterlaluan. Itu salah, Yuva!”
“Yang dihabisi bukan pengguna kaldier, kan?”
“Yuva?” Tanggapannya itu seolah hantu yang berbaris muncul saat tengah malam. Dingin dan menyeramkan membuat terhenyak. Ia mengatakan hal itu dengan mudahnya tanpa ada sedikitpun penyesalan. Ia seperti tak punya hati nurani lagi. “Kau serius dengan perkataanmu barusan?”
__ADS_1