KORONA

KORONA
30. HARPY


__ADS_3

Tempat yang dituju adalah sebuah perumahan kumuh yang berada di kawasan pabrik bekas, Kisaran Barat. Perumahan kumuh itu dulunya adalah perumahan yang digunakan sebagai tempat tinggal para karyawan pabrik. Namun sudah ditinggalkan karena pabrik itu sudah lama bangkrut. Kadang kala kami berlima – aku, Yuva, Arfi, Bang Auron, dan Kak Alma pergi ke tempat ini untuk mencari suasana segar. Meski perumahan ini kumuh dan kotor dengan daun-daun kering, namun lingkungan di sekitarnya asri. Banyak pepohonan dengan jalan yang masih cukup bagus, dan bersih dari sampah anorganik karena jarang dikunjungi orang. Kami biasa menyebut tempat ini dengan Harpy. Karena tempat ini berhasil merenggut hati dan membuat kami menyukai tempat ini.


 


“Kau yakin orang yang kau sebut Auron itu ada di sini?” tanya Dawn ragu.


“Kalau pesan yang ditinggalkannya itu benar, seharusnya dia ada di sini,” jawabku yang juga belum yakin. “Dulu, kami sangat sering ke tempat ini,” imbuhku.


Deretan rumah berukuran minimalis kudatangi satu per satu. Kuketuk-ketuk pintunya sambil memanggil-manggil nama mereka berdua. Aku tak perlu takut berteriak-teriak memanggil nama mereka. Takkan ada orang di sekitar sini. Aku yakin.


“Sssttt!” terdengar desisan dari arah sebelah kananku. Kutolehkan pandangan dan mataku menangkap sesosok orang yang kucari muncul dari pintu rumah sebelah.


Bibirku sumringah. Tiba-tiba raut wajahnya berubah dan dengan langkah yang cepat ia melesat ke arahku. Lengannya langsung mencengkeram tubuh Dawn hingga Dawn kesulitan untuk bernapas. Melihat itu, tubuhku langsung tergerak untuk melerai cengkeraman Bang Auron, dan lekas menjelaskannya.


“Kenapa kau lama sekali? Aku pikir kau sudah ditangkap oleh mereka.” Bang Auron segera membuka percakapan begitu kami bertiga sudah masuk ke dalam rumah yang saat ini dihuninya. Di dalam sedikit remang. Tak ada satu pun daun jendela yang dibuka.

__ADS_1


“Aku memang sudah tertangkap,” jawabku pendek. Mata Bang Auron mendelik. “Namun aku diselamatkan oleh Yuva.”


“Bagaimana bisa?” tanyanya makin heran. Kemudian matanya berkedip beberapa kali dengan memandangi leherku. “Apa yang terjadi dengan life point-mu? Kenapa bisa hilang begitu banyak?”


Sekali lagi harus kujelaskan hal yang kualami dengan sedikit waktu sekaligus perihal life point-ku. Setelah mendengar semuanya, Bang Auron pun mulai bercerita. Polisi menyergap Kak Alma saat ia sedang manggung bersama personil band-nya. Tetapi sebelum polisi sempat menangkapnya, Kak Alma berhasil meloloskan diri. Di tengah pelariannya, wanita bergaya rocker ini menyempatkan dirinya untuk menghubungi Bang Auron melalui telepon. Bang Auron yang belum sempat dihampiri polisi segera meninggalkan pesan di depan rumah kontrakannya, lalu bergegas menyembunyikan diri.


“Sebenarnya aku hampir tak berniat meninggalkan pesan itu. Karena aku pikir baik kau ataupun Arfi akan menuju ke tempat ini saat kalian juga dikejar.”


Aku menggeleng. Mungkin karena aku sudah keburu tertangkap, makanya aku tak kepikiran tentang Harpy. Beruntung Bang Auron punya inisiatif untuk meninggalkan pesan itu. Dan beruntung juga, Bang Auron masih bersembunyi di tempat ini. Aku sangat-sangat bersyukur. Debu, bau-bau tak sedap, hawa yang lembap, tak lagi kupedulikan. Untuk sementara aku harus berteman dengan keadaan ini. Sambil mencari solusi. Memikirkan jalan keluar yang sampai sekarang tak kunjung kudapat, dan malah semakin terkubur di dalamnya.


“Kita sudah kehabisan waktu, tak bisa terus-menerus menjadi buronan.” Suara seorang wanita yang tak asing tiba-tiba berbaur. Sosok yang sudah sangat kukenal muncul dari balik pintu yang perlahan terbuka, kemudian ditutup lagi. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan yang isinya terlihat cukup banyak. Tentu, ia juga merubah penampilannya agar tak dikenali. Gaya rock-nya berganti menjadi gaya wanita normal tanpa make-up, memakai gaun panjang, berkacamata, dan menata gaya rambutnya lebih rapi.


“Nah, lalu siapa anak asing ini? Bukan mata-mata, kan?” tanya Kak Alma santai.


“Bukan.”

__ADS_1


“Dawn!” jawab Dawn cepat. “Aku sahabat Eldan. Mungkin kalian masih belum percaya sepenuhnya padaku. Tetapi aku janji, aku takkan membocorkan tempat persembunyian ini pada siapapun. Aku akan membantu Eldan-.”


“Itu memang salah satunya,” potong Bang Auron. Bang Auron melirik padaku, lalu kembali menatap Dawn untuk melanjutkan perkataannya. “Kau sadar bahwa kau sudah melibatkan dirimu sendiri dalam masalah ini? Kau juga bisa terjerat bahaya. Kau bisa dituduh melakukan persekongkolan.”


Dawn dan aku bungkam.


“Maaf kalau menyinggung. Tapi dari yang kuamati, sepertinya kau memang tak berpikir panjang untuk menghubunginya, Eldan. Kau masih saja tidak peka dalam masalah ini. Meski dia sahabat yang baik, tak seharusnya kau ikut melibatkannya,” ujar Bang Auron menceramahi. Tetapi dia salah. Aku sudah tahu bahwa hal ini akan ikut menjerumuskan Dawn. Tetapi dengan aku yang tak bisa berbuat apa-apa sendiri ini membuatku tak punya pilihan.


“Eldan tidak salah,” bantah Dawn cepat. “Sedari dulu aku sering menawarkan diri. Agar Eldan tak lupa menghubungiku kalau dia terhimpit masalah. Eldan orang yang baik. Dia memang kurang peka, tapi dia sangat baik. Aku senang bila bisa menolongnya,” lanjutnya dengan wajah dan pandangan mata serius seolah dialah penyelamat dunia.


Kedua orang yang usianya lebih tua dariku itu terlihat saling bertatapan. Alih-alih menunjukkan wajah yang senang, raut wajah mereka tidak menunjukkan bahwa mereka lega dengan pengakuan Dawn. Dari kerut-kerut tipis yang halus di dahi mereka itu sudah menunjukkan bahwa masih ada kekhawatiran yang sepintas tercuat dari mereka berdua.


“Segala konsekwensi akan kutanggung. Kalian tidak perlu cemas padaku,” kata Dawn yang merasa yakin.


Suara helaan napas berat keluar dari mulut Kak Alma. Sedang Bang Auron merebahkan tubuhnya pada sandaran potongan sofa bekas yang ada di belakangnya. Aku yang bodoh ini sudah bisa menangkap bahwa Dawn memenangkan perdebatan ini. Senyumku ingin mengembang, tetapi rasanya tidak pantas kulakukan. Aku senang, tetapi juga cemas dan merasa bersalah atas keterlibatan Dawn.

__ADS_1


“Sepertinya orang bodoh akan bertemu orang bodoh lainnya,” tiba-tiba pria yang masih merebahkan diri di potongan sofa itu nyeletuk. “Satu orang bodoh lagi bertambah di kelompok kita. Entah apa yang akan terjadi aku tidak akan ambil pusing lagi.”


 


__ADS_2