KORONA

KORONA
26. KABUR


__ADS_3

 


Sirine tanda peringatan melengking panjang. Dengan memanfaatkan malam hari yang jumlah polisinya lebih sedikit. Juga memanfaatkan rasa kantuk, para polisi pasti kewalahan mengatasi hamburan ratusan tahanan yang berusaha meloloskan diri. Aku pun mulai menyadari satu hal. Dengan memanfaatkan penerangan yang berkedip\-kedip ini, polisi akan kesulitan mengenali siapa tahanan dan siapa rekannya. Mereka takkan bisa asal pukul seenaknya.


“Ayo, Eldan! Kita cepat keluar dari tempat ini. Untuk sementara kita ikuti kerusuhan ini lalu ambil jalur lain. Aku yakin Yuva juga sudah membuka pintu gerbangnya.”


Aku menurut dan mengikuti langkah Arfi. Menyandang status sebagai tahanan yang kabur itu sama sekali tidak kusukai. Namun hal itu jauh lebih baik daripada berdiam di sini tanpa bisa melakukan apa-apa. Untuk kali ini aku berhutang pada Yuva.


Kami berdua berhasil keluar dari ruangan tahanan dengan memanfaatkan kericuhan. Kini kami sudah berada di area halaman tempat ini. Arfi menarikku ke sisi lain yang lebih gelap dan jauh dari dua pintu gerbang utama. Dua pintu gerbang itu pasti juga sudah dijaga oleh beberapa anggota polisi yang lain dengan membawa senjata api.


“Bantu aku menaiki pagar ini, setelah itu aku akan menarikmu,” ujar Arfi.


“Tak mungkin, kau lihat di atas pagar ini ada tiga baris kawat berduri?” sangkalku.


“Lakukan saja. Akan kubuka jalannya nanti.”


Untuk saat ini, kutitipkan kepercayaanku padanya. Dinding pagar ini kira-kira setinggi tiga meter. Kubiarkan ia menaiki pundakku dan berdiri di atasnya. Arfi berhasil mencapai pucuk pagar. Dengan hati-hati ia melawati barisan kawat berduri itu lalu melompat ke seberang. Tak lama kemudian, dari atas pagar, terjulurlah celana dan baju Arfi yang diikatnya menyatu. Aku menahan geli. Kuraih ikatan itu dan segera memanjatnya cepat-cepat. Baju ini bisa saja segera koyak bila terlalu lama menahan berat tubuhku.


Aku berhasil memanjat. Kemudian melompat ke seberang pagar. Dalam suasana yang gelap dikelilingi oleh rimbun pohon, aku hampir tak bisa melihat Arfi.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, aku sedang memakai pakaianku lagi. Setelah ini kita cepat lari lagi,” ujarnya pelan. Kudekati sumber suara Arfi dan kusentuh tubuhnya agar tak jauh darinya.


“Kita ke arah mana?” tanyaku begitu Arfi sudah selesai mengenakan pakaiannya kembali.


“Pegang tanganku!” serunya. Sedikit kumeraba dalam kegelapan untuk mencari tangannya. Kemudian ia mengajakku berlari menembus semak dan pepohonan ini.


“Kau tahu?” kata Arfi tiba-tiba sambil berlari. “Sebenarnya aku sengaja mengorbankan diri untuk tertangkap demi melakukan ini.”


“Maksudmu?” tanyaku heran. Berlari dalam kegelapan seperti ini di dalam sebuah perkebunan sambil mengobrol kurasa bukan ide yang baik. Bisa saja kami menabrak atau tersandung sesuatu. Atau lebih parahnya terjatuh ke lubang yang dalam. Tetapi perkataan Arfi barusan berhasil membuatku mengabaikan pikiran seperti itu.


“Ini semua strategi Yuva,” lanjutnya. “Dia sengaja menyuruhku ikut merampok bersama kawanan perampok lain agar aku tertangkap dan dibawa ke sini. Salah seorang suruhan Yuva yang juga pengguna kaldier seperti kita selalu mengawasi jalannya persidangan di markas polisi itu untuk mengecek kapan aku akan dibawa ke rumah tahanan ini. Kemudian dia akan menginformasikan kepada Yuva.”


“Lalu apa tujuannya?” potongku cepat.


“Gila!” umpatku dalam hati. Aku kira Yuva sengaja meloloskan semua tahanan sebagai pancingan pada para polisi agar Arfi bisa keluar secara leluasa. Ternyata Yuva memikirkan hal yang lain yang belum bisa kumengerti.


“Tapi membuat para tahanan itu lepas malah akan menimbulkan kerusuhan. Keamanan kota kita bakal terancam!”


“Yuva memanfaatkan momen ini untuk kepentingan para pengguna kaldier. Kita kekurangan pelaku kriminal. Dengan bertambahnya para pelaku kriminal dari tahanan yang lepas, para pengguna kaldier yang terdiskriminasi dan sulit mendapatkan life point akan terjamin hidupnya. Mereka semua bisa membantu para pelaku kriminal itu dan memperoleh life point. Meski belum tentu bahwa semua tahanan itu bisa meloloskan diri dari sana,” jelas Arfi mengakhiri.

__ADS_1


Jadi itu tujuan Yuva yang sebenarnya. Dia sudah merencanakan semua sampai sejauh ini tanpa khawatir dengan resiko yang diterimanya. Padahal dia hanya seorang perempuan yang baru akan beranjak dewasa. Dengan otakku yang lambat, aku masih belum tahu maksudnya kenapa dia harus melakukan hal sampai seperti ini. Apa sebegitu pedulinya ia pada sesama para pengguna kaldier hingga ia tega mengorbankan para non pengguna kaldier untuk jadi santapan para penjahat?


Jduk! Aku tersandung akar pohon dan terjatuh. Peganganku terlepas dari Arfi. Beberapa bagian di lenganku terasa perih. Pasti terluka karena membentur akar pohon yang lain. Arfi tampaknya banyak bergerak dan menimbulkan banyak suara. Kemudian segera meraihku untuk berdiri.


“Yuva sudah ada di depan. Di pinggir jalan di ujung tempat ini. Ikutlah! Dia sedang menunggu kita,” seru Arfi.


“Dia sedang menunggumu, bukan aku,” sangkalku.


Tak kubiarkan diriku berlama-lama mencium bumi. Aku bangkit dan kembali berlari bersama Arfi. Ya, sudah terlihat ruas jalan di depan sana. Jalanan tak begitu sepi. Masih ada beberapa lampu dari kendaraan bermotor yang terlihat berseliweran. Setelah beberapa langkah kemudian, kami sampai ke jalan itu. Dan sosok wanita yang sangat kukenal wajahnya itu kini terlihat berdiri tegak. Dengan raut wajah datar. Dengan tatapan mata yang tegas. Seolah-olah ia seperti pemimpin dunia. Memang tidak salah. Memang ialah pemimpin dari operasi ini.


Arfi mengucapkan kata-kata padanya untuk berbasa-basi. Tepat di belakang Yuva sudah ada mobil mpv yang kurasa bersiaga untuk membawa mereka. Yuva diam saja, tak menggubris ocehan Arfi. Dia justru cenderung menatapku dengan tatapannya yang tak mampu kuterjemahkan untuk saat ini.


“Kau tak bisa melakukan apa-apa, kan? Ya, kau memang tak pernah bisa melakukan apapun,” ujar Yuva tiba-tiba dengan sinis. Aku diam saja tanpa menanggapinya. “Cepat masuk ke dalam mobil!” serunya. Lalu ia berbalik untuk masuk ke dalam mobil.


“Yuva?”


Ajakan Yuva barusan seolah hujan nutrisi yang turun untuk menumbuhkan tunas-tunas kalimat tanya. Rasanya aneh bila ia menawarkan tumpangan padaku. Padahal bisa dikatakan saat ini aku adalah pengganggunya. Aku penentangnya. Seharusnya – ya menurut sudut pandangku, seharusnya ia bisa membiarkanku begitu saja dan membuatku tertangkap lagi. Dengan begitu pengganggunya bisa berkurang seorang.


Yuva yang menyadari kebingunganku menghentikan langkah kakinya. “Biar bagaimanapun operasi ini aku yang merencanakan. Anggap saja aku bertanggung jawab karena sudah membuatmu terlibat. Kita akan mencari jalan-jalan kecil untuk menghindari pemeriksan di jalan.”

__ADS_1


Itu yang dikatakannya. Kulihat Arfi melambai-lambai menyuruh naik ke dalam mobil. Mengingat situasi yang tidak mendukung, akhirnya aku menerima tawarannya.


 


__ADS_2