
Pengumuman singkat ditutup. Dialihkan kembali pada reporter dari stasiun tv yang menyiarkannya. Entah itu pantas disebut pengumuman atau tidak, yang kudengar itu hanyalah ancaman sepihak. Ancaman diskriminatif pada pengguna kaldier. Pada para pengidap penyakit yang menggantungkan hidupnya oleh sebuah alat pemancar gelombang radio aktif. Pikiranku kacau.
“Bagaimana ini? Dia mengancam, kan? Menonaktifkan sistem kaldier? Dia ingin membunuh kita semua?” Aku panik seperti anak ayam yang mencari ekor induknya.
Dan hanya Dawn yang berusaha menghentikan kepanikanku. Wajah Bang Auron, Kak Alma, bahkan Krista yang tadinya optimis menjadi pucat. Tanpa kaldier sudah tentu kami akan binasa. Ini berada di luar prediksi. Pengumuman tadi bukannya memberi solusi, malah semakin menyudutkan kami. Prinsipnya seperti seorang buronan yang harus menyerahkan buronan lain untuk menyelamatkan diri. Itu pun kalau memang selamat. Dan biasanya bagi para penguasa, yang namanya janji itu tak perlu ditepati.
“Bahkan aku yang sangat dekat dengan kematian masih tetap merasa takut dengan kematian,” sindir Kak Alma pada dirinya sendiri.
Semua terlihat panik. Dan kepanikan itu tak bisa disembunyikan karena terlukis jelas di raut wajah masing-masing.
“Aku bisa mengerti ketakutan kalian. Meski kalian tak menganggapku demikian. Tetapi masih ada tiga hari, kan? Kita masih punya harapan untuk mencari solusinya,” kata Dawn.
“Kau yang tidak menggantungkan hidupmu pada alat bodoh ini tahu ap-.”
“Dia hanya berusaha menenangkan kita,” potong Kak Alma meredam emosi Bang Auron yang tiba-tiba muncul.
“Aku akan terus memantau perkembangan keadaan lewat media ini. Kalian tenangkan dulu diri kalian.”
Seperti kata Dawn, ia terus memantau keadaan lingkungan perkotaan yang semakin buruk. Diberitakan bahwa demonstran dadakan langsung berkumpul di depan kantor penelitian medis. Mereka menyayangkan keputusan yang diambil pimpinan perusahaan itu secara sepihak. Mereka – para pengguna kaldier yang tidak ada sangkut-pautnya dengan tindakan kriminal itu merasa ikut dirugikan. Mereka memohon, meminta, menuntut keadilan. Namun seperti berteriak di dalam air. Suara mereka tak didengar. Aku mengikuti perkembangan itu bersama Dawn karena aku juga sudah turut frustrasi untuk melakukan sesuatu.
Memang sudah jadi tradisi. Bila penguasa berlaku tak adil, maka yang merasa tertindas akan berunjuk rasa. Baik penguasa maupun rakyatnya memang sulit sekali berpikir. Yang penting masalah cepat selesai dengan tindakan. Karena bila dengan berpikir pun, pemikiran penguasa dan rakyatnya takkan pernah bertemu. Karena masing-masing hanya memandang dari sudut pandang pribadinya saja.
__ADS_1
Lalu di tengah-tengah berlangsungnya pemberitaan itu, tiba-tiba saja terjadi gangguan pada siarannya. Layar bergoyang. Membentuk garis-garis vertikal-diagonal seperti dipaksa untuk beralih menayangkan siaran lain.
“Sepertinya aku sudah memicu kerusuhan di kota ini.”
Seorang wanita yang diduga dalang dari rentetan peristiwa kriminal muncul di layar dengan raut wajah arogan. Bola mataku membelalak. Yuva meretas siaran tv. Lagi-lagi otot tubuhku dibuatnya melemas akibat ulahnya. Dawn memanggil tiga orang lainnya untuk berkumpul, dan menyaksikan siaran itu bersama.
“Sesuai perkiraan dari seorang yang sudah punya banyak pengalaman, aku kecolongan start untuk memulai pertikaian ini,” Yuva tersenyum mengejek. “Mengancam orang lain untuk menangkapku. Ah, dasar sifat kalian yang tak bisa berubah itu. Apa semua petinggi yang ada di sana adalah sekumpulan orang-orang malas yang tak mau berusaha sendiri untuk menangkap pelaku? Kemudian mengerahkan orang lain dengan melayangkan ancaman? Yah, baiklah. Begitu pun tak masalah. Karena sebenarnya dari jauh hari aku telah menyiapkan teror juga untuk kalian.”
Leherku tercekat. “Apa yang akan kauperbuat Yuva? Kau mengibarkan bendera perang?” teriakku. Dawn menenangkanku dan menyuruhku mendengarkan Yuva sampai habis.
“Kau memberi batas waktu sampai tiga hari? Oh, ayolah, itu terlalu lama. Karena ancamanku hanya punya batas waktu hingga jam enam petang nanti. Aku dapat informasi dari rekanku yang bertambah penyakitnya bahwa ia perlu membayar biaya yang sangat mahal untuk tetap bisa menggunakan kaldier tanpa mengalami potongan life point. Bukankah itu artinya life point bisa dibeli dengan uang kan? Kenapa kalian menyembunyikan hal ini? Kalau kami tahu hal ini sedari awal, kami tak perlu bersusah payah menjadi budak modern kalian. Para pengguna kaldier bisa fokus bekerja keras dan membayar sejumlah uang demi memperpanjang usia. Untuk itu, berikan sejumlah life point pada kami secara merata sekurangnya untuk jatah hidup tiga puluh tahun lagi. Kalau tidak, aku akan menyebarkan virus beragam penyakit mematikan yang telah kupersiapkan di seluruh penjuru kota ke udara. Agar kalian sendiri tahu rasanya menjadi seorang pengidap penyakit. Batas waktunya hingga jam enam sore ini. Tetapi apabila di antara kalian yang mencoba keluar dari kota ini, aku akan langsung menekan tombol penyebarnya. Setiap kamera di sudut kota ini sudah aku kuasai. Tidak ada yang bisa lari dari pengawasanku. Dan bila kau – pak tua pimpinan perusahaan berniat menghentikan sistem kaldier-.”
Yuva menghentikan ucapannya. Sambil membuka sedikit bagian atas bajunya, “Sensor kardiograf. Bila jantungku berhenti berdetak, pemicu akan memindai dan bekerja secara otomatis untuk menyebarkan virus penyakit yang sudah kusiapkan. Kalian tak bisa membunuhku.”
“Di zaman yang serba bisa memindai ini menyenangkan ya? Hanya perlu sedikit utak-atik, dan kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Ha!” lanjut Yuva lagi. Tentunya dengan sedikit cengiran di wajahnya.
Positifnya, hal ini bisa membungkam ancaman para petinggi itu. Dan para pengguna kaldier yang sudah ketakutan akan ancaman dinonaktifkannya kaldier bisa bernapas lega kembali. Termasuk aku.
Akan tetapi, bila seperti ini, orang-orang tak bersalah pun akan menjadi korban. Memang benar, orang-orang normal tanpa penyakit sudah banyak yang membenci para pengguna kaldier seperti kami. Tetapi tidak semua. Masih ada orag-orang yang menghargai kami. Mereka yang masih mau hidup berdampingan dengan orang-orang berpenyakit berbahaya seperti kami. Meski jumlahnya kecil. Aku tak sampai hati bila segolongan kecil dari mereka ikut terkena dampaknya. Ini seperti mengkhianati kepercayaan mereka.
__ADS_1
Untuk itu, aku mencoba untuk berpikir lagi. Baik Yuva maupun orang-orang tak bersalah itu harus kulindungi.
“Temui aku di gedung pusat pengawasan keamanan kota. Kita akan membuat kesepakatan di tempat ini,” tutup Yuva yang menghilang dibalik siaran langsung yang diretasnya. Kemudian video tayangan itu berakhir dan layar berubah menjadi kumpulan semut hitam putih yang berisik.
Belum sempat aku melepas ketegangan akibat ulah Yuva, hal yang tadi kutakutkan terwujud dalam sekejap. Benar saja. Tayangan televisi kembali menunjukkan para demonstran yang awalnya berteriak minta keadilan, kini berteriak mengelukan nama Yuva. Seolah dia adalah dewi penyelamat.
“Tidak ada waktu lagi untuk berpikir, Eldan. Kita harus bertindak sekarang atau semua akan terlambat,” ujar Dawn yang sepertinya tahu dengan melihat raut wajahku.
Aku rasa lelaki yang selalu mencemaskanku ini salah mengartikan raut wajahku. Aku memang mencoba untuk berpikir. Bukan. Aku memang berpikir. Tetapi yang kupikirkan hanyalah dampak atau apa-apa yang akan terjadi atas perbuatan Yuva ini. Perihal untuk penyelesaian masalah, aku belum bisa mendapatkan apa pun sedari tadi. Yang ada di otakku saat ini hanyalah ketakutan dan kekhawatiran. Bahkan karena tak tahu harus berbuat apa, aku mengatakan hal di luar perintah otakku. “Aku akan mendatangi Yuva sendirian,” ujarku.
Raut-raut wajah kaget mereka berempat seolah berkumpul pada satu titik. Mungkin di dalam pikiran mereka aku sudah mendapatkan cara untuk menghentikan Yuva.
“Kau sudah tahu apa yang harus kaulakukan, Eldan?” tanya Kak Alma pelan-pelan.
Sudah kuduga akan ada yang bertanya seperti itu. Namun aku tak menjawab. Senyum kusunggingkan hanya untuk menyembunyikan kekosonganku saat ini. Tak ada kata-kata lagi yang bisa kukeluarkan dari bibirku. Karena aku sendiri juga tak memiliki gambaran apa yang harus kukatakan dan kuperbuat pada Yuva untuk menghentikannya. Yang bisa kubawa hanyalah pikiran kosongku ini.
“Kalau kau bisa seoptimis itu, kami akan serahkan padamu. Tetapi, segera hubungi kami bila kau menemukan kendala,” kata Bang Auron. Tampaknya semangatnya sekonyong-konyong pulih.
Auron dan sisanya membagi tugas. Suara mereka bersahut-bergantian menyusun rencana. Berisik sebenarnya, dan aku segera bergerak tanpa bicara apapun dengan bekal pikiranku yang kosong ini. Tiba-tiba pergelangan tangan kananku dijerat oleh kulit hangat yang halus. Aku berhenti dan menoleh. Mata Krista menatapku nanar.
“Aku akan berjuang dengan bagianku,” katanya. Matanya itu seperti berkata-kata. Kata-kata yang belum bisa kuartikan maknanya. Atau mungkin aku sudah tahu maknanya tetapi aku menolak untuk mengerti. Genggaman tangannya itu semakin erat. Seolah tak ingin membiarkanku pergi.
Kemudian ingatanku tiba-tiba menangkap sesuatu. Ingatan itu menampilkan visualisasi. Ingatan itu juga membawa suara yang pernah aku dengar sebelumnya. Bisa kuingat dengan jelas saat itu. Kata-kata terakhir dari seseorang sebelum ia pergi. Darahku serasa mendesir kencang. Mungkin ini jawaban. Dengan perlahan kulepas genggaman Krista dari tanganku. “Aku harus segera menjumpai Yuva.”
__ADS_1