KORONA

KORONA
3. TRAGEDI DI DEPAN KALDIER CENTER


__ADS_3

“Oh, hei Bang,” sapaku dan Yuva bersamaan.


“Iya, sepertinya ada sedikit masalah dengan kaldier Yuva,” jelasku. Dahi Bang Auron mengerut.


“Begitulah. Hari ini aku sudah tiga kali membantu orang. Tapi aku cuma mendapat satu poin hari dari tiap bantuan yang kulakukan,” tambah Yuva dengan mimik wajah sedih.


“Kayanya lagi nggak mujur. Ya sudah sonoh periksakan ke teknisi itu. Mumpung dia lagi kosong tuh,” saran Bang Auron. Tangannya menunjuk ke arah salah satu teknisi berseragam biru dengan tanda “plus” berwarna merah di bagian lengannya yang sedang duduk di kursi penerima.


Tanganku melesat ke lengan Yuva untuk segera menariknya mendatangi teknisi yang dimaksud Bang Auron. Sang Teknisi menyambut dengan senyum hangat. Dengan penjelasan yang singkat dan padat, pria berseragam biru itu mengajak Yuva ke sebuah kursi khusus di atas sebuah alat elektronik yang di atasnya terdapat pula sebuah kubah kecil dengan lempengan logam di dasarnya. Yuva dipersilakan duduk di sana. Alat itu dinyalakan, lalu disetel angkanya sesuai dengan Life Point yang Yuva miliki sebagai catatan. Alat ini memancarkan gelombang dier juga. Kemudian kaldier Yuva dilepas dari lehernya untuk diperiksa. Fungsi alat ini adalah untuk menjaga pengguna kaldier agar tetap menerima gelombang dier pada seseorang saat kaldiernya diambil untuk diperbaiki. Karena bila kaldier ini dilepas langsung dari pemakainya, bisa mengakibatkan kematian karena pemakainya tak lagi menerima gelombang itu.


Pemeriksaan kaldier Yuva masih berlangsung. Aku kembali menunggu di kursi tunggu sambil tetap bercakap-cakap dengan Yuva melalui sosial media pada smartphone agar Yuva tidak merasa bosan. Sesekali aku mengobrol dengan Bang Auron yang juga turut duduk di sebelahku. Bila aku sedang asyik ngobrol, Yuva akan membuat gadget-ku bergetar. Mataku melirik ke arahnya, wajahnya cemberut. Aku dan Bang Auron tertawa bersamaan melihat sikapnya.

__ADS_1


Setengah jam terlewati hingga kaldier Yuva selesai diperiksa. Teknisi itu mendatangi tempat Yuva menunggu. Aku dan Bang Auron juga ikut – ingin tahu penyebabnya. Menurut sang teknisi, tak ditemukan kerusakan maupun gangguan yang terjadi. Semua komponen yang berada di dalamnya berfungsi normal. Wajah Yuva kembali mengendur. Ia semakin murung. Lantas, teknisi itu kembali memasang kaldier ke leher Yuva. Alat yang diduduki Yuva dinonaktifkan dan Yuva dipersilakan untuk keluar dari alat itu segera setelah kaldiernya terpasang.


“Itu artinya kau harus berjuang lebih keras lagi, Yuva,” ujar Bang Auron tanpa basa-basi.


Yuva melenguh. “Sepanjang hari aku membantu tiga orang dan hanya dapat 1 poin hari tiap orang. 140 ditambah 3. Life Point-ku kembali menjadi 143. Mungkin aku sedang sial hari ini,” keluhnya dengan muka masam. “Aku iri padamu, Eldan. Kau seperti punya keberuntungan yang tinggi.”


Aku tak berkomentar. Kudekap ia dari samping sambil mengelus-elus lengan bagian atasnya dengan tangan kiriku.


“Menyesal juga sih selama ini agak malas mengumpulkan Life Point. Hidup hanya tinggal 143 hari lagi. Wajar kalau aku merasa takut, kan?” lanjut gadis yang masih terkulai dalam dekapanku.


Sedari dulu memang begitu. Kata-kata penenang tidak seampuh uluran tangan yang mampu meraih tangan lain yang hampir jatuh ke dalam jurang. Yuva takkan bebas dari rasa takutnya kalau cuma mendengar kata “sabar”, “semangat”, atau kata-kata lain yang sifatnya cuma sekedar dukungan. Sambil terus mendekapnya dengan sebelah tangan, kubisikkan sesuatu di telinganya. “Jika malaikat maut itu mendatangimu, akan kubunuh dia di depan matamu.”

__ADS_1


“Pfftt ...,” terdengar bunyi singkat dari bibir Yuva. “Memangnya kau ini dewa?” cengiran mendarat di bibir Yuva sambil mencubit ujung hidungku. Suara tawa pun turut mengikuti. Bang Auron juga ikut terkekeh sambil menepuk-nepukan tangannya ke bahuku. Padahal aku sama sekali tak berniat untuk bergurau.


Bam! Suara benturan keras yang berasal dari depan Kaldier Center mendarat cepat di telinga kami. Suara riuh, gaduh, kacau, dari orang-orang yang berada di luar sahut-menyahut. Pandanganku menembus pintu kaca ruangan ini dan mendapati seseorang tergeletak tak berdaya di atas aspal. Aku dan Bang Auron bergegas menuju ke arah depan meninggalkan Yuva tanpa aba-aba. Sosok yang tergeletak itu sudah hampir dikerumuni oleh banyak orang.


“Gio!” teriakku histeris setelah tahu siapa sebenarnya sosok yang terbaring di aspal itu dengan kepala mengeluarkan darah dalam jumlah yang besar.


Dengan refleks, Bang Auron segera mengangkat tubuh Gio. Namun sebelum ia mengangkat tubuh itu keseluruhan, tangan Bang Auron gemetar hebat. Matanya melirik ke arahku dengan raut wajah memucat. Tangan kirinya yang berada di dekat kepala Gio tampak terbasuh oleh darah Gio dalam jumlah yang cukup banyak. Aku ikut melemas seketika. Kedua lututku langsung mencium aspal.


“Kulihat ia melaju kencang tanpa menggunakan helm. Dan tiba-tiba saja truk besar itu juga melaju ke arahnya dari arah berlawanan. Mereka bertubrukan hingga ia terhempas ke mari dari seberang sana,” ujar seseorang dari arah belakangku menjelaskan.


Namun, penjelasan itu takkan bisa melakukan apa-apa. Gio tewas di tempat dengan luka yang sangat parah pada bagian kepala. Bola mataku yang lesu tertuju pada kaldier yang dikenakannya. Life Point yang tertera pada kaldier Gio sebesar 7546 hari. Akan tetapi, Life Point sebesar itu juga tak ada artinya. Kaldier tidak diprogram untuk menyembuhkan luka memar dan kecelakaan.

__ADS_1


Diriku disadarkan oleh isakan seorang gadis yang tiba-tiba berada di sebelahku. Yuva menitikkan air mata sembari melekatkan kedua telapak tangannya di bibir dan hidungnya. Dan rombongan pengguna kaldier lain yang awalnya berada dalam kaldier center berbondong-bondong meramaikan kerumunan. Salah seorang dari mereka memanggil ambulan. Bang Auron ikut dalam mengantarkan jenazah itu ke rumah sakit. Dua orang dari pihak kaldier center mendekati supir truk penabrak yang telah diamankan oleh beberapa orang yang ada di sana. Mereka akan mencoba mengurus permasalahan ini.


Ini sudah kedua kalinya kami kehilangan dua orang yang kami kenal dalam waktu yang relatif dekat. Untuk sebagian manusia, hidup itu berat. Untuk para pengguna kaldier, hidup jauh lebih berat. Meski bisa menunda kematian dari penyakit yang kami idap, kematian tetap bisa menjemput dengan cara lain.


__ADS_2