KORONA

KORONA
12. PENYELIDIKAN


__ADS_3

 


11 April 2046, aku menyusun rencana untuk membuntuti Yuva dari sepulang kuliah hingga larut malam. Eksperimen rahasia yang dilakukan Yuva ini bagai bola yang ditendang dan terus memantul-mantul tanpa henti di kepalaku. Belum lagi dengan kabar dari Kak Alma tempo hari. Ia turun dari mobil saat malam hari. Tidakkah ia tahu bahwa belakangan ini sering terjadi tindak kejahatan di kota ini?


“Yuva, aku harus pulang cepat hari ini. Tak apa kan kalau hari ini aku tak mengantarmu? Aku ada urusan mendadak di rumah,” dalihku padanya.


Yuva memberikan kode dengan jarinya dan tersenyum bahwa ia tak keberatan. Sebenarnya aku tidaklah pulang. Aku mempersiapkan diriku untuk membuntutinya hari ini.


Dengan memakai pakaian sedikit tebal, celana panjang, sepatu, serta topi kupluk dan kacamata, aku berpura-pura menjadi seseorang yang tak memiliki pekerjaan. Duduk bersandar pada sebuah dinding pagar yang di sebelahnya terdapat pohon puring yang rindang untuk sedikit menyembunyikan diri. Posisiku berada di seberang rumah Yuva sambil memegang kertas koran bekas untuk sekedar menyempurnakan penyamaranku.


Aku sudah menunggu di sini mulai dari sore hari hingga malam ini. Pukul sebelas malam lebih, kudapati seorang wanita yang tak kukenal penampilannya keluar dari rumahnya. Ia muncul mengenakan pakaian kasual seperti biasa. Tetapi dari tas yang dibawanya, itu adalah tas laptop Yuva yang sering dibawanya. Tinggi tubuh, postur tubuh sama. Yang beda adalah penataan rambut, masker, dan kacamatanya. Aku yakin itu memang dia dan sedang menyamar.


 

__ADS_1


Yuva tinggal di rumah sederhana di pinggir jalan. Tidak berpagar karena tepat di depan teras rumahnya langsung terhubung dengan trotoar jalan. Saat ia sudah berada di depan rumahnya, ia segera menyetop taksi yang lewat. Lalu menaikinya. Spontan saat itu juga aku mengambil sepeda motor yang kuparkirkan di dekat tempatku duduk. Aku sengaja membawa sepeda motor sewaan agar Yuva tidak menyadarinya.


 


Sepeda motor yang kusewa dari tetanggaku melaju serasi menyesuaikan kecepatan taksi yang dinaiki oleh Yuva. Aku mengikutinya dari belakang. Sampai di suatu tempat yang agak sunyi, ia turun. Aku berhenti membelok di sebuah tikungan di sebelah kiri untuk menyembunyikan diri, sedang mataku masih tetap mengawasinya. Selang beberapa menit, sebuah mobil MPV berwarna hitam berhenti di depan Yuva. Saat itu juga Yuva segera hilang dari pandangan.


Mobil MPV yang membawa Yuva itu bergerak lagi menjauh dari tempatku berada. Karena tempat ini cukup sepi, aku menyalakan kembali sepeda motorku tanpa menyalakan lampunya agar tak mengundang kecurigaan. Saat kami sudah mencapai jalanan yang agak ramai, kunyalakan lampu sepeda motorku. Aku berbaur dengan pengendara lain untuk berkamuflase.


Berbagai spekulasi negatif bermunculan di kepala. Apa yang sebenarnya akan mereka lakukan? Kenapa berhenti di sebuah ruko tertutup yang di sepanjang jalanan ini bahkan sedikit orang yang lewat. Apa mereka menjual tubuh mereka untuk memuaskan pria tua itu demi mendapatkan tambahan Life Point? Pikiranku sudah terus tertuju ke arah sana. Dan ini terus membuat jantungku berdegup tak karuan. Emosiku meluap-luap dan aku sangat resah seperti orang gila.


Mereka mengobrol sambil menunggu salah seorang dari mereka yang sedang membuka kunci pintu. Tante Viola juga terlihat sedang bercakap-cakap dengan salah seorang pria itu dengan normal. Tanpa menggoda ataupun bertingkah genit. Mereka seperti sedang berbisnis. Untuk saat ini kupendam kembali pikiran negatifku yang sempat muncul tadi. Aku ingin percaya pada Yuva lebih lama.


Pintu dibuka dan mereka semua masuk ke dalam ruangan dengan meninggalkan pintu ruko sedikit terbuka. Entah apa yang mereka lakukan di dalam aku belum berani menyimpulkan dan mengintipnya. Bila mereka sengaja membuka pintu itu, artinya mereka takkan melakukan tindakan tak senonoh di dalam. Begitu pikirku.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, aku masih mengawasi dari luar dan tak ada tanda-tanda mereka keluar dari dalam. Ingin sekali rasanya datang dan mengintip ke dalam. Namun cahaya lampu yang ada di luar ruko itu terlalu terang. Bisa-bisa aku langsung ketahuan bila aku menyelinap lewat depan. Sementara di sebelah kanan dan kiri ruko itu adalah ruko-ruko lain yang juga tertutup berdempetan.


Kutunggu lagi hingga beberapa saat. Beberapa kali mulutku menguap diserang jam yang makin larut dan dinginnya angin malam. Namun mataku tetap tak merasa berat. Mataku seperti menolak reaksi tubuh yang memberi isyarat untuk segera istirahat. Aku berkali-kali melirik jam tanganku, namun jarum jam seperti sudah lelah mencari angka tiga belas.


Pukul satu dini hari lewat. Angka tanggal pada jam tanganku juga sudah berubah. Kulihat mereka semua keluar bersama-sama dan segera menutup pintu ruko lalu masuk ke dalam mobil. Yuva masih membawa tas laptopnya. Mobil dinyalakan dan mereka bergegas bergerak kembali. Segera kunyalakan kembali sepeda motorku dan kuikuti lagi mobil itu dari belakang. Di tengah jalanan yang sudah sunyi, aku berusaha sebisa mungkin agar tidak dicurigai sebagai penguntit.


Mobil itu berhenti di pinggir jalan yang jauh dari cahaya lampu jalan untuk mengambil posisi gelap. Aku yang berada di belakang melakukan hal yang sama. Tiga orang pria itu beserta Tante Viola keluar dari mobil. Mereka melangkah bergegas memanjat dinding pagar setinggi kurang lebih tiga meter yang terletak agak jauh ke depan dari mobil mereka berhenti. Salah seorang pria menaiki pundak pria satunya untuk meraih batas pagar sambil membawa tali panjat. Saat ia berhasil naik ke pagar, ia mengulurkan tali ke bawah lalu melompat masuk ke dalam area yang dalam pagar. Selanjutnya anggota lain hanya tinggal naik melalui tali yang digunakan karena pria yang masuk di awal tadi pasti akan bertugas sebagai penahan tali dari dalam. Jantungku kembali berdegup dengan kencang. Melompati pagar ke sebuah tempat, sudah bisa dipastikan ini adalah tindakan kriminal. Apalagi, setelah kulihat dengan baik, bangunan yang ada di dalam pagar itu cukup tinggi – mungkin sekitar empat lantai – adalah bank milik swasta.


Dorongan kuat untuk segera menghalaunya meluap-luap dalam benakku. Bila kulakukan, mungkin akan mengundang keributan besar. Pihak keamanan pasti akan langsung bertindak. Kemungkinan Tante Viola yang ikut masuk ke dalam bisa tertangkap. Belum lagi aku yakin salah seorang pria yang tidak keluar sedang menjaga dari dalam mobil. Di saat kebingungan seperti itu, seketika ada suatu hal yang tebersit. Segera kuraba sakuku dan menekan nomor telepon Yuva. Kudekatkan telepon genggamku ke telinga. Akan tetapi yang terdengar hanyalah mesin penjawab bahwa telepon Yuva sedang tidak aktif.


Aku berada di posisi yang tidak menguntungkan. Belum lagi karena kurang matangnya persiapan yang kulakukan. Siapa yang tahu jika Yuva akan melakukan tindakan seekstrim ini? Jika hanya seorang diri aku takkan bisa menghentikan mereka tanpa ketahuan penjaga. Kadang-kadang aku membenci sifatku yang seperti ini. Nyaliku terlalu kecil. Namun apa boleh buat. Untuk malam ini, aku akan pura-pura tak melihat.


 

__ADS_1


__ADS_2