
Aku tak ingin menunggu lebih lama. Kudesak ibu untuk memanggil perawat agar mereka melepas selang infus ini dari tanganku. Tanganku tak memerlukannya. Ibu menekan tombol pemanggil perawat yang tersedia di ruangan. Tetapi dia tak mengizinkanku keluar dulu. Katanya, aku harus menunggu dokter yang lambat itu bicara langsung padaku. Aku sudah tidak sabar. Dawn dan Krista berusaha mengajakku berbicara lagi. Namun pikiranku berlarian tak tentu arah. Aku masih saja memikirkan Arfi dan ingin segera membahasnya pada kedua orang yang selalu kujadikan tumpuan.
Seorang perawat masuk, lalu keluar setelah sedikit berbincang dengan ibuku. Tak lama kemudian seorang pria berkumis dan berjanggut tidak rapi masuk ke ruanganku dengan seragam putihnya. Mungkin dia sangat sibuk sampai ia tak sempat merapikan dirinya sendiri. Ia kembali mengecek kondisiku dengan menyentuhkan jemarinya di beberapa bagian tubuhku.
“Apa kau ingin aku bicara sendiri denganmu atau kau membiarkan mereka mendengar apa yang terjadi padamu?” tanyanya langsung.
Aku mengizinkannya langsung bicara. Yang penting secepatnya saja. Begitu pikirku. Kemudian sang dokter mulai memberi penjelasan. Katanya, virus HIV yang berada di tubuhku perlahan-lahan beradaptasi dengan gelombang DIER. Hal ini menyebabkan adanya mutasi pada virus, hingga virus yang seharusnya lumpuh itu kini sebagian bisa bergerak lagi. Sistem kekebalan tubuhku kembali terancam. Akibatnya, parasit lain mudah menyerang dan kini aku terserang penyakit meningitis kriptokokal. Penyakit yang lazim ditemui oleh para pengidap HIV. Bila tak ditangani secara cepat, aku bisa segera berpindah ke alam lain dalam waktu beberapa minggu saja.
Napasku tercekat mendengarnya. Kepalaku seperti ditimpa lagi dengan beban yang berat. Kejadian seperti ini memang sudah lumrah menurut dokter. Mutasi virus. Dengan sedikit penyesuaian pada kaldier, si pengidap akan kembali seperti biasanya. Tetapi untuk pertama kalinya yang separah ini terjadi padaku. Untuk itu butuh penelitian lebih lanjut. Ini sama seperti peretasan yang dilakukan oleh Yuva. Virus yang ada padaku berhasil meretas sistem keamanan yang dibuat oleh kaldier.
Menurut dokter itu lagi. Ia sudah mengirim sampel pada kaldier center untuk secepatnya diteliti mengenai virus yang sanggup beradaptasi dengan gelombang dier ini. Gelombang dier harus segera diperbaharui lagi. Dan bagian terburuknya, sekarang aku menderita penyakit tambahan. Untuk mengatasi dua penyakit mematikan yang ada di tubuhku ini, kaldier harus memancarkan gelombang elektromagnetik yang lebih kompleks. Untuk itu, dokter menyarankanku untuk tetap berada di sini menunggu hasil kerja para peneliti kaldier untuk memberikan gelombang yang baru. Kemungkinan kalungku akan diganti. Dan untuk itu pula, biasanya sejumlah life point-ku akan digunakan.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, setiap virus atau penyakit yang terkena gelombang dier lama-kelamaan semua akan termutasi. Asal segera ditangani dengan pemberian gelombang yang baru, kita masih bisa melanjutkan hidup,” imbuh sang dokter sedikit menghibur. “Sekarang giliran Ibu yang ikut dengan saya untuk diambil sampel darahnya. Siapa tahu virus yang ada pada Ibu juga ikut bermutasi,” ungkap si dokter lagi dengan wajah datar. Itu wajah orang yang seperti lelah dengan pekerjaannya. Ia tampak tak begitu memedulikan. Namun Ibu menuruti perkataannya dan mengikuti dokter itu menuju tempat yang dikatakannya tadi.
Kemungkinan besar virus yang ada pada ibu juga ikut termutasi. Kemudian ikut merusak sistem kekebalan lagi. Lalu penyakit-penyakit lain juga akan turut bermunculan. Semoga saja yang diderita ibu tidak separah yang kuidap. Ini membuatku frustrasi setengah mati. Kali ini besar harapanku pada pihak penelitian pusat. Agar mereka bisa segera memperbaharui gelombang dier untukku secepatnya. Selain itu aku juga belum mau bergandengan tangan dengan malaikat maut secepat ini.
*
Sekedar mengingatkan kembali, gelombang dier memancarkan gelombang peningkat kekebalan tubuh untuk mencegah semakin parahnya penyakit dan gelombang pelumpuh untuk melumpuhkan aktivitas virus/bakteri atau penyakit. Gelombang dier untuk berbagai penyakit itu berbeda-beda tergantung penyebab penyakitnya. Misal gelombang untuk virus HIV adalah gelombang dier jenis A, maka gelombang dier untuk penyakit TBC adalah jenis D. Untuk beberapa penyakit seperti kanker ada terdapat kesamaan karena kanker tidak disebabkan oleh virus ataupun bakteri.
Mengenai penyakitku yang baru, paramedis itu telah memasang gelombang dier yang lain pada kalungku. Untuk biaya pemasangan gelombang dier yang baru, bisa dilakukan dengan dua cara. Yang pertama adalah membayar langsung dengan menggunakan uang tunai. Namun biayanya sangat mahal mengingat ini penyakit yang bisa merenggut nyawa dalam sekejap. Aku tak punya cukup uang sehingga kuputuskan dengan cara yang kedua. Dengan cara mennukarkan sejumlah Life Point-ku. Dan aku benar-benar tidak beruntung saat ini. Mengingat betapa berbahayanya penyakit meningitis kriptokokal yang tiba-tiba menjangkitku ini, life point-ku berkurang setengahnya. Dari 12743 poin hari menjadi 6371 poin hari.
__ADS_1
Mentalku serasa dibanting dari tempat tinggi ke dataran yang keras. Rasanya usaha kerasku selama ini dalam mengumpulkan angka kehidupan direbut setengahnya tiba-tiba. Syukurlah aku masih memiliki hati. Dan hati ini yang membuatku bersyukur. Setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk melangsungkan hidup dan berusaha mengumpulkannya lagi. Kendati cukup sulit sekarang ini. Juga mengingat bahwa tidak terjadi hal yang sama pada ibu. Virus HIV yang menjangkit ibu memang juga beradaptasi, tetapi belum sempat menggerogotinya sehingga ibu belum terkena penyakit yang lain. Ibu hanya mengganti kaldiernya dengan yang baru tanpa harus kehilangan sejumlah life point-nya.
“Bagaimana keadaanmu, Tuan Eldan?” tanya dokter itu, masih dengan wajahnya yang enggan berekspresi.
“Aku sudah baikan. Bila kaldierku sudah diganti dengan yang baru seperti ini, aku rasa tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan,” jawabku berusaha menyenangkan hati si dokter.
“Senang mendengarnya. Sekarang segeralah berkemas. Kau sudah boleh keluar sekarang.”
Dokter itu keluar ruangan. Tak ingin berlama-lama lagi, kuturuti langsung perintah dokter. Kutanggalkan pakaian yang kukenakan dan kuganti dengan pakaian yang lain yang dibawa ibuku tempo hari. Kemudian aku membantu ibuku berkemas dengan memasukkan beberapa potong pakaianku yang lain ke dalam tas. Bungkusan Hitameong kugenggam.
Lalu saat kami hendak melangkahkan kaki keluar dari ruang inap ini, dua orang pria berseragam dan seorang pria berkemeja dan berdasi tak rapi masuk ke ruanganku dirawat. Seragam itu adalah seragam yang tak asing lagi dilihat. Seragam yang dipakai oleh orang-orang untuk mengamankan suatu tempat dan menangkap pelaku kejahatan. Dua yang berseragam segera mendekatiku dan mengunci gerakanku. Sedang yang berkemeja tanpa mengancingkan kerahnya, tanpa memasukkan ujung bajunya ke dalam celana, dan memakai dasi dengan longgar diam saja di tempat. Aku meronta. Berusaha melepaskan diri tanpa mengerti apa yang dilakukan orang-orang ini. Ibuku panik. Namun salah seorang yang sudah memborgolku segera mengamankannya juga.
“Tuan Eldan Wihami. Anda dituduh melakukan tindakan kejahatan yang membahayakan keselamatan banyak orang."
__ADS_1