KORONA

KORONA
36. YUVA


__ADS_3

 


Namaku Yuvalika Julias. Biasa dipanggil Yuva. Usia sembilan belas tahun dan sedang berkuliah jurusan IT. Aku mengidap kanker otak sejak tiga tahun lalu. Di belahan dunia mana pun, remaja yang tiba-tiba terkena penyakit ganas pasti trauma. Saat itu, aku sempat kehilangan semangat hidup ketika mengetahui kabar ini dari dokter.


Lantas dokter pun menyarankanku untuk segera beralih menggunakan kaldier. Ah, itu kalung penyambung nyawa yang biasa dipakai oleh orang-orang yang berpenyakit ganas. Yang di bagian depannya terdapat layar kecil berisi angka-angka. Lalu kami akan mulai ditugasi untuk menolong sesama untuk menambah angka-angka yang ada di kalung itu. Aku cukup sering melihatnya. Kalau tidak salah di sekolahku juga ada beberapa yang memakai. Salah satunya adalah Eldan. Mungkin aku bisa berkonsultasi padanya saat aku sudah mengenakan kaldier. Ah, tanpa sadar semangat hidupku kembali lagi. Baik, aku akan segera memakainya.


Tidak lama kemudian aku mulai sering berkonsultasi dengan Eldan. Dia orang yang baik. Tidak hanya menjelaskan banyak hal tentang kaldier dengan caranya, dia juga mau menemaniku untuk mengumpulkan Life Point. Kami sering bekerja sama dan kami jadi semakin sering bersama. Semakin sering bersama, dan aku semakin suka padanya. Siapa sangka dia sudah menjadi pacarku sekarang.


Saat dia berulang tahun, kuberikan ia aksesoris bermotif Hitameong – karakter kesukaanku. Aku tahu dia tak begitu berminat dengan karakter favoritku itu. Tetapi siapa peduli. Aku akan tetap memaksanya. Eldan pasti akan menurut saja karena Eldan orang yang bodoh. Orang bodoh yang paling kusayangi. Meski kami sering mengumpulkan Life Point bersama, tetapi aku sering tidak serius. Bagiku yang penting selalu bersama Eldan. Untuk urusan Life Point, asal masih ada ratusan, aku tak begitu panik. Pasti nanti akan terkumpul juga.


Suatu ketika kami berkencan untuk mengumpulkan Life Point. Eldan sudah menungguku di taman tempat yang kami janjikan. Dia sedang berdendang dengan suaranya yang bau itu. Langsung saja kugoda dia. Kemudian misi mengumpulkan Life Point pun kami lakukan. Hari ini aku tidak berhasil mengumpulkan banyak angka. Berbeda-sekali dengan sebelum-sebelumnya. Mungkin karena aku sudah lama tidak menolong orang lain, jadi kemampuanku dalam menolong berkurang dan membuat orang yang kutolong tidak merasa begitu puas.


Namun Eldan seperti punya ide lain. Ia mengajakku ke Kaldier Center untuk mengecek kalungku apakah ada kerusakan atau tidak. Saat diperiksa di sana, memang tidak ada gangguan pada kaldier milikku. Aku jadi frustrasi.


Kemudian kami beralih pada kenalan kami yang juga mengalami masalah yang sama sepertiku. Tante Viola. Kami berusaha mendapatkan masukan darinya. Namun sepertinya yang diharap tidak sesuai kenyataan. Tante Viola justru sedang pada masa kritisnya. Menurut dia sudah terjadi hal-hal yang berbeda yang dirasakannya. Tetapi dia tak menjelaskan secara rinci. Dia meninggalkan sebuah misteri agar kami sendiri yang mencari tahunya.


Aku berusaha untuk memikirkannya, namun Eldan menasehati agar kami fokus saja mencari Life Point. Aku menyetujuinya. Lalu kegiatan kami untuk menolong sesama pun kami lanjutkan di hari-hari berikutnya. Kami mendapati sepasang pengantin muda – mungkin – yang sedang pindahan. Dia menatap aku dan Eldan dengan jijik. Ini seperti tanda-tanda yang pernah dikatakan Tante Viola saat itu. Di dalam hati aku ingin mencongkel tatapan jijiknya itu.

__ADS_1


Benar saja. Aku tidak mendapatkan Life Point yang pantas dari bantuan dan usaha kerasku. Dan pasangan suami istri itu turut berkata yang tidak mengenakkan. Ingin kuhajar mereka saat itu juga rasanya. Namun aku masih bisa menahan diri. Eldan mengajakku ke tempat lain. Hasilnya sama saja. Bisa kusimpulkan bahwa yang dikatakan Tante Viola tempo hari adalah perihal paradigma masyarakat normal tanpa penyakit terhadap para pengguna kaldier. Mereka sudah menganggap kami sebagai manusia rendahan.


Aku memutar otak saat aku sedang sendiri. Bagaimana caranya aku menolong lagi bila yang ditolong tidak tahu terima kasih? Apa mereka tidak punya keluarga yang mengidap penyakit berbahaya dan menggunakan kaldier? Apa mereka terlalu percaya diri dengan sistem kesehatan modern hingga membuat mereka yakin takkan terkena penyakit berbahaya? Aku masih ingin melangsungkan hidup agar bisa terus bersama Eldan. Tetapi bila begini terus, aku takkan bisa hidup lebih lama lagi. Orang-orang sudah semakin busuk hatinya. Mereka sudah kehilangan empati. Ingin kumembuat mereka semua merasakan hal yang aku rasakan.


Kemudian tiba-tiba saja aku mendapat ide untuk memastikan sesuatu. Dengan keahlianku meretas, kumanfaatkan laptop dan koneksi internet untuk meretas data-data penting dari kaldier. Dugaanku tepat. Nyatanya kaldier hanya menyarankan untuk membantu sesama. Tidak jelas apakah membantu dalam kebaikan atau keburukan. Senyumku saat itu menyeringai. Tetapi ini masih dugaan. Aku harus benar-benar memastikannya terlebih dahulu. Esoknya aku mendekati kumpulan anak-anak yang suka berkumpul di area permainan di mal. Tentunya dengan sedikit penyamaran. Kujanjikan pada mereka untuk mendapatkan banyak kupon bila menempelkan magnetic scanner ke mesin permainan yang mereka mainkan.


Mereka menurut. Saat magnetic scanner itu tertempel, kumulai peretasannya dengan memindai jaringan dan sistem pada mesin itu dan kuubah programnya sesukaku. Anak itu menang banyak kupon dan bisa menukarnya dengan uang. Kudekati ia lagi dengan tampang bahagianya itu. Kaldierku mulai memindai dan aku mendapatkan Life Point dengan jumlah yang sangat banyak. Aku terhenyak sesaat. Teoriku berhasil dan aku tidak menyangka bisa mendapat Life Point yang besar ini.


Aku terus melanjutkan aksi ini dari mulai mencari penjahat dan buronan yang mau bekerja sama. Menentukan target pencurian. Dan perbuatan menolong dalam kejahatan lainnya. Aku mendulang banyak Life Point. Aku bahagia. Tidak lupa pula Tante Viola kuajak ikut bekerja sama dan dia mau. Dengan begini aku masih bisa terus hidup bersama dengan Eldan. Aku kira begitu. Iya. Aku pikir akan seperti itu. Sampai akhirnya Eldan memergokiku dan meluruhkan semua ekspektasiku.


Aku mengerti perbuatanku ini jahat. Tetapi tidak ada cara lain. Dan cara ini seperti cara yang tersirat yang diajakan sistem kaldier itu sendiri. Sudah pasti harus dimanfaatkan. Dan perihal Eldan yang terus-terusan mendesakku agar berhenti membuatku sedih. Apa dia tidak ingin agar aku hidup terus? Dia memang sudah banyak memikirkan cara yang baik. Tapi cara-caranya itu tak ada gunanya di tengah paradigma masyarakat normal yang sudah semakin jijik melihat pengguna kaldier seperti kami. Selain mendulang Life Point, sudah tentu ini adalah tindakan balas dendamku. Karena sudah aku pastikan bahwa yang menjadi target-targetku adalah orang-orang non pengguna kaldier.


Kemudian tiba saatnya aku memikirkan cara yang lebih besar. Arfi menghubungiku tempo hari dan ingin ikut bekerja sama. Maka dari itu, kuperintahkan Arfi untuk membuat kekacauan dan sengaja ditangkap. Saat ia sudah berada dipenjara, kuperintahkan ia memasang magnetic scanner yang dibawanya dalam tubuhnya agar bisa kuretas penjara itu. Penjara berhasil kubuat kacau. Banyak tahanan berhasil kabur. Aku menunggu di sisi lain yang tidak jauh dari penjara dan menunggu kedatangan Arfi. Siapa sangka Eldan juga bersama dengannya.


Aku memasang tampang biasa. Berpura\-pura tidak kaget saat melihat Eldan yang juga tahanan bersama Arfi. Tetapi ia kuberi tumpangan untuk pergi dari sini. Sekaligus menggali informasi darinya. Karena kulihat Life Point Eldan telah hilang setengahnya. Aku kesal mendengar penuturan pacarku ini – di dalam hati aku masih ingin mengakuinya begitu. Karena bisa kusimpulkan bahwa Life Point bisa dibeli dengan uang. Sementara pihak kaldier menyembunyikan hal ini. Baiklah kalau memang begitu mau mereka, aku juga akan semakin memberikan pertunjukan yang lebih buruk dari melepaskan tahanan penjara.


Saat aku menurunkan Eldan, ia bertanya padaku apakah aku masih mancintainya. Aku ingin bilang aku masih. Bahkan aku ingin langsung memeluknya dan menangis dalam pelukannya. Tetapi aku tidak bisa. Ingatan-ingatan saat dia berulang kali menggangguku itu membuatku menahan perasaanku. Kutinggalkan dia dengan perkataan yang dingin. Kemudian dia mengejutkanku dengan menyerahkan sarung tangan Hitameong ke tanganku. Lalu pergi begitu saja. Saat kuterima barang pemberiannya itu, aku menangis dalam diam. Dia masih ingat yang semacam ini. Dia berhasil membolak-balikkan hatiku.

__ADS_1


Meski begitu, dendamku atas perlakuan orang-orang non pengguna kaldier itu tidaklah surut. Aku sudah mengatur rencana jauh-jauh hari apabila keadaan sudah terdesak. Kukumpulkan orang-orang yang memiliki virus penyakit dan membagi virusnya pada sebuah wadah yang sudah kusiapkan. Virus-virus itu akan kusebarkan bila saatnya tiba.


Lalu benar saja. Setelah aku ditetapkan sebagi buronan, Pak Fredi melayangkan ancaman agar aku menyerahkan diri. Kubalas ancamannya itu dengan ancaman akan melepaskan virus-virus penyakit berbahaya ke seluruh kota. Tetapi memang dasar Eldan. Dia masih saja menghalangi rencanaku. Dia datang ke tempatku. Berusaha membujukku dan memberikan dugaan dan kesimpulannya padaku. Dan ternyata dugaan Eldan itu dibenarkan sendiri oleh Pak Fredi yang tiba-tiba muncul dan memberikan penjelasan yang lebih rinci. Bahwa kaldier ada untuk menyelamatkan para pengidap penyakit berbahaya dan membuatnya menjalani kehidupan yang bermanfaat.


Aku luluh dan menyerah. Benar-benar menyerah pada kehidupan ini. Hingga saat aku dipindahkan ke sanatorium 0, aku tak ingin berbuat apa-apa di sana. Aku tak mau bicara pada siapapun, termasuk pada Eldan. Di tengah-tengah keputusasaanku itu, aku berjalan keluar meninggalkan 0. Ini adalah keputusanku yang sudah menyerah dengan kehidupan. Sesaat setelah beberapa langkah di luar, suara teriakan dari orang yang sangat kukenal menerkamku dari belakang. Aku tak menoleh dan tetap abai. Kemudian kumerasakan kepalaku semakin pusing dan seluruh tubuhku melemah. Mataku ta sanggup lagi untuk terus terbuka dan aku tak sadarkan diri.


Kini, aku terbaring di ruangan khusus gawat darurat. Aku masih bisa membuka mataku. Dari arah sebelah, kudengar suara isakan tangis dari beberapa orang. Kucoba menolehkan pandangan ke sana dengan perlahan. Dan kudapati di sebelahku adalah orang yang selalu memanggil namaku. Eldan. Terbaring tak berdaya. Wajahnya sudah tak lagi merona seperti biasa. Pucat seperti kehilangan cahaya.


Suara-suara tangisan itu berasal dari Arfi, Kak Alma, bang Auron, Tante Viola. Dari wajah mereka yang tidak bahagia itu, sepertinya bisa kusimpulkan yang terjadi. Ditambah lagi Kak Alma terbata-bata mengatakan nama Eldan. Aku seperti sadar dengan kenyataan. Dari kelopak mataku ada sesuatu yang mencoba ingin menerobos keluar. Kupaksa tubuhku untuk bangkit, tetapi tidak bisa. Aku terlalu lemah.


Aku ingin segera pergi ke dekatnya. Kuingin segera mendekapnya, memeluknya erat, dan menumpahkan segala penyesalanku padanya. Aku ingin ia mendengarkanku sekali lagi saja. Aku ingin berkata langsung di dekat telinganya. “Maafkan Aku, Eldan.”


PENUTUP


Korona. Adalah atmosfir terluar dari matahari yang hanya bisa dilihat dengan bantuan alat atau saat gerhana matahari total. Terkhusus pada saat gerhana. Lingkaran api yang berbentuk seperti cincin di pinggiran bulatan hitam penuh terlihat indah dan memesona. Namun jangan terlalu lama melihatnya. Karena keindahannya bisa membunuh salah satu inderamu. Juga, karena hal yang indah bisa saja membuatmu menderita.


Pada dasarnya manusia takut pada kematian. Orang-orang berlomba untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Berolahraga, memberi asupan makanan yang bergizi, juga para ilmuwan yang terus melakukan penelitiannya demi kepentingan medis. Semua dilakukan agar manusia bisa tetap hidup dengan sehat, menyembuhkan yang sakit, dan memperkecil angka kematian. Yah, manusia memang takut pada kematian.

__ADS_1


 


__ADS_2