KORONA

KORONA
28. PERTANYAAN


__ADS_3

 


“Kita sudah melalui banyak hal tak terduga, hal yang tak menyenangkan, dan hal-hal yang membuat risau. Selama itu pula, ada yang ingin kuketahui darimu,” ujarku langsung demi mempersingkat waktu. Yuva hanya memandangiku dengan raut wajahnya yang dingin. Ia diam saja. Lantas aku melanjutkan ucapanku. “Bagaimana perasaanmu padaku sekarang? Apa masih seperti dulu?”


Dengusan napas Yuva terdengar panjang. “Kau ini benar-benar tak peka dan tak bisa membaca situasi,” jawabnya sambil memutar tubuhnya untuk meninggalkanku.


“Yuva! Tunggu! Kumohon jawab dulu pertanyaanku.”


“Sekarang ini aku tidak sempat untuk memikirkan masalah seperti itu. Yang kupikirkan saat ini hanyalah cara untuk memperpanjang usiaku, membongkar kebusukan sistem kaldier ini ke publik, dan menghancurkan negara ini.”


Udara serasa menjauh dan tak ingin masuk ke dalam paru-paruku. Jawaban pahit sudah kudengar sendiri dari mulut Yuva. Sudah kubayangkan sebelumnya. Aku memang sudah mempersiapkan diri bila jawaban ini yang akan kudengar nantinya. Tetap saja. Hal-hal yang dibayangkan dan yang terjadi sesungguhnya takkan bisa disejajarkan posisinya. Kata-katanya barusan tetap berhasil melumat semua tenaga yang berada pada otot-otot kaki dan tubuhku. Aku lemas. Dalam kondisi ini, aku sadar bahwa aku tak perlu bertanya lebih jauh lagi. Mungkin lebih tepatnya, pikiranku sudah kosong, tak mampu memikirkan pertanyaan apa lagi. Yang tersisa hanyalah tubuhku yang mematung melihat langkahnya berangsur masuk ke dalam mobil.


Tetapi sebelum Yuva benar-benar masuk ke dalam mobil, otakku memberikan visual yang lain. Visual yang sangat penting. Untuk kali ini, otakku bisa bekerja dengan baik. Buru-buru aku meraba sakuku dan menghampiri Yuva. Kuraih tangannya hingga ia terpaksa membalikkan badan. Kuberikan sarung tangan rajutan bermotif Hitameong itu padanya. Aku menatapnya. Aku tersenyum lebar padanya. Kemudian aku berbalik dan berlari pergi meninggalkannya.

__ADS_1


 


Udara malam mendorongku untuk segera menuju rumah. Kakiku langsung terangsang untuk berlari dengan hati-hati sambil memperhatikan sekeliling. Arah mendekati rumah cukup aman. Mungkin karena waktu yang sudah menunjukkan hampir mendekati subuh. Ditambah lagi area perumahanku bukanlah area yang banyak pedagang malamnya. Akhirnya bisa sampai ke rumah dengan mulus. Kugedor-gedor dengan kuat pintu rumahku. Berharap agar ibu segera bangun. Aku bahkan menyampingkan tenggang rasaku pada tetangga.


Pintu segera dibuka bahkan lebih cepat dari dugaanku. Sesosok wanita dengan rambut yang teracak dan kulit bawah mata yang menggantung segera merangkulku saat ia dan bola matanya mendapatiku. Kurasa ia tak bisa tidur memikirkan keadaanku. Aku segera menariknya masuk. Di dalam, aku berbincang dengan ibu mengenai yang sudah terjadi. Kutanya pula perihal keberadaan Kak Alma dan Bang Auron padanya, namun ibu tidak mengetahuinya.


Aku tak bisa berlama-lama diam di rumah. Polisi pasti akan berkunjung ke sini. Kukenakan pakaian dengan kerah longgar yang menutupi leher dengan maksud menyembunyikan kaldierku. Kemudian kubalut dengan jaket. Kuganti celana, dan kupakai beberapa aksesoris berupa topi, kacamata bening serupa lensa namun bukan, dan wig berwarna coklat milik Dawn yang pernah digunakannya dalam acara cosplay lalu dititipkannya di rumahku. Biar bagaimanapun statusku saat ini adalah seorang buronan. Sudah barang tentu wajahku akan segera terpajang di tempat-tempat umum.


Aku tidak bilang pada ibu tempat apa yang ingin kutuju. Bahkan aku juga masih bingung. Untuk sesaat aku memikirkan suatu hal yang masih kurang mengenai penyamaranku. Lalu aku bergegas ke convenient store yang biasanya buka dua puluh empat jam di ujung jalan dari rumahku. Segera kuambil sebotol kecil losion khusus dari rak jualan dan langsung menuju kasir. Losion pengubah warna kulit sementara ini sangat kuperlukan untuk menyempurnakan penyamaranku. Losion yang kupilih ini adalah losion pengubah warna kulit terang menjadi gelap. Aku akan mendapatkan kulit lebih gelap setelah memakainya dan bisa bertahan dalam satu minggu sekali pakai. Tak lupa pula kubeli kartu sim untuk ponselku di tempat ini.


Mulutku membuka lebar sambil mengeluarkan suara mendengung. Kurasa aku sudah benar-benar kelelahan. Waktu sudah tidak bisa dikatakan larut malam karena hampir mendekati pagi. Aku menuju ke sebuah taman kecil yang biasanya terdapat beberapa bangku panjang di situ. Kuolesi terlebih dahulu kulitku dengan losion pengubah warna kulit ini di beberapa bagian tubuh. Losion ini akan bekerja sekitar setengah jam untuk membuat perubahan warna kulit yang sempurna. Kemudian aku tertidur.


*

__ADS_1


Masih di hari yang sama, udara panas menusuk kulitku tanpa ampun hingga aku terbangun. Dengan sebelah tangan, kukucek mata dengan perlahan. Kemudian melepas pandangan ke arah jam besar yang ada di tengah taman setelah mampu beradaptasi dengan cahaya. Untuk ukuran pagi hari menjelang siang, cuaca hari ini cukup menyengat. Dengan mata yang masih seperti digantungi oleh jangkar besi, aku melangkah ke toilet umum untuk membasuh muka.


Hal yang sudah kuduga terlihat setelah mataku terbuka lebar. Wajahku kini sudah terpasang di sebuah lembaran kertas yang di tempal di beberapa bagian di taman. Ada yang di tiang besar, dinding luar toilet, papan informasi, juga bagian-bagian objek hologram publik di sekitarnya. Wajahku, wajah Arfi, wajah Kak Alma, dan wajah Bang Auron terpampang berderetan sebagai orang-orang yang dicari kepolisian. Seharusnya aku tak perlu terkejut melihatnya. Akan tetapi satu wajah lagi yang sangat kukenal juga ikut terpajang di sana.


“Yu ... va?” gumamku reflek dengan mata melotot.


Seingatku, tindakan Yuva masih berupa bayang-bayang. Dia belum pernah melakukan kesalahan saat melakukan aksinya. Barang bukti berupa magnetic scanner yang sering ditinggalkannya di beberapa tempat yang menjadi targetnya takkan cukup kuat untuk melacak penggunanya. Kalau dugaanku benar, Yuva akan selalu memberi program otomatis pada alat miliknya itu untuk mereset semua data yang ia gunakan hingga sulit bagi alat itu untuk menunjukkan riwayat si pengguna. Dia pernah menjelaskan hal dasar itu kalau-kalau dia tak sempat mengambil magnetic scanner-nya kembali. Meski ia harus rela kehilangan itu.


Atau jangan-jangan polisi juga memiliki programmer atau peretas handal yang mampu memunculkan program dan data yang bisa direset? Ah, tiba-tiba aku mendadak pusing.


Layar ponselku kuusap dan segera menekan nomor Dawn yang kuingat. Aku memanggilnya lewat video call. Kemudian layar yang menunjukkan wajahnya muncul dan suara terdengar.


“Dawn, aku butuh bantuanmu.”

__ADS_1


__ADS_2