
Lemari, ranjang, sofa, meja, kursi-kursi, mulai berpindah dari dalam kontainer ke dalam rumah. Barang-barang yang berat biasanya dibawa oleh kedua pria itu. Yuva hanya membawa perabotan yang terlihat ringan. Namun bila terpaksa, Yuva juga ikut membantu mengangkat bawaan yang berat bersama dua pria pengangkut itu.
Tak hanya mengangkat, di dalam rumah mereka juga disuruh untuk menata perabotan itu sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh pemilik rumah. Sebagai seorang yang tidak diberikan pekerjaan apa-apa, aku hanya terpaku di halaman sambil memainkan ponsel pintarku. Sesekali aku juga ikut memerhatikan orang-orang yang lewat di jalan dengan kesibukan yang beraneka macam. Hingga waktu terlewati dengan sangat membosankan. Yuva berkutat bersama mereka selama dua jam.
“Tiga puluh menit? Apa ini tidak salah?” Yuva menghardik kuat saat sensor kaldiernya memberitahukan poin penambahan yang didapatnya. Suara Yuva menarikku untuk segera menghampirinya.
“Kenapa? Bukankah ini memang tugas kalian? Sebagai penyandang penyakit berbahaya, sudah tugas kalian untuk menolong orang-orang yang sehat seperti kami, kan?” tanggap Dian dengan nada arogan.
“Usahaku selama dua jam untuk mengangkuti perabotan itu cuma dihargai tiga puluh menit? Kau ini tak punya perasaan?”
“Lalu menurutmu yang melakukan kesalahan di sini adalah aku?” bantah pria itu. “Bukankah prosedurnya sudah kalian pahami? Mesin yang ada pada leher kalianlah yang menilai semuanya. Salahkan mesinnya dong seharusnya,” balas pria yang membawa kami ini lagi.
Tangan Yuva mengepal dengan gemetar karena tampak sangat kesal. Dia berujar lagi kalau ia ingin segera beranjak dan menyuruh kami untuk naik ke dalam truk apabila ingin diantar ke suatu tempat. Yuva menolak dengan tegas. Namun buru-buru kutenangkan dia. Seingatku dia masih bisa memindai hasil kerjanya dari pemilik rumah.
“Mungkin hasilnya malah lebih buruk. Kau tak ingat sorot mata menjijikkan dari pasangan suami isteri itu?” balasnya sambil melangkah meninggalkan halaman rumah ini.
Aku mengejar langkahnya. Beberapa patah kata untuk menyemangatinya kulontarkan demi mengembalikan suasana hatinya yang memburuk. Meski ia sendiri tak menggubris dengan pandangan ke arah depan dan langkah yang cepat. Wajahnya tampak lelah. Tenaga yang ia kerahkan selama dua jam tak mendapatkan hasil yang setimpal pasti benar-benar mengaduk emosinya. Kuhentikan celoteh bibirku dan segera membeli dua botol minuman di kios pinggir jalan.
__ADS_1
Setelah meneguk minuman yang kubeli, langkah kami masih terus berlanjut. Mataku tetap liar memparkan pandangan ke sana-sini untuk mencari seseorang yang mungkin sedang membutuhkan bantuan. Tak berangsur lama, kami sampai pada sebuah pasar tradisional di area itu. Pasar tradisional di tahun 2046 cukup jauh berbeda dari pasar tradisional tiga puluh tahun lalu menurut ibuku. Tempatnya lebih bersih dan tertata rapi meski dalam bangunan terbuka yang hanya beratap dan berpilar. Di dalamnya terdapat beraneka ragam penjual dari pedagang pakaian, bahan makanan, perabotan dan sebagainya. Sistem pembayarannya biasa hanya menggunakan mobile transfer melalui ponsel cerdas yang dipakai baik pembeli maupun penjual. Serta sistem penyimpanan barang-barang pada masing-masing stand penjual yang lebih terjamin.
Seorang wanita muda yang berstelan rapi – mungkin pekerja pemasaran – sedang membagi-bagikan brosur hologram melalui tablet yang digenggamnya pada orang-orang yang lewat untuk mempromosikan produk yang ada di stand terbukanya. Dengan memanfaatkan tablet dan jaringan internet, brosur hologram itu bisa dipindahkan secara langsung dan mudah ke smartphone orang yang lewat asal. Kubujuk-bujuk Yuva agar mau membantu wanita itu demi mendapatkan lagi tambahan Life Point. Otot-otot wajah Yuva masih tegang dengan pandangan yang selalu dilemparkannya ke arah lain. Hilang semangat barangkali. Namun setelah terus\-terusan kudesak, ia luluh juga.
“Ada yang bisa kami bantu?” sapaku pada wanita yang berdiri membagikan selebaran itu. Bahuku kugerakkan untuk menyenggol tubuh kekasihku ini agar ia juga turut bersemangat.
Wanita itu tak segera menjawab. Sorot matanya tertuju pada leher kami berdua. “Oh, ada. Boleh kalau memang mau niat membantu,” ujarnya sambil tersenyum.
Wanita itu segera mentransfer selebaran hologram yang sama ke ponsel cerdas kami dan segera berpencar ke tempat terpisah. Tiap-tiap brosur holo kami bagikan pada pejalan kaki dan pengunjung pasar tersebut seperti melempar angin. Ada yang menerimanya dengan senyum di wajah. Adapula yang menerima dengan gaya yang cool. Wajah Yuva yang masih terlihat lelah itu menggangguku. Rasa bersalah karena terlalu memaksanya lantas menarikku untuk kembali mendekatinya. Kukatakan padanya untuk beristirahat sejenak. Ia menolak dan mengatakan baik-baik saja.
Selang beberapa waktu – mungkin sekitar satu jam – brosur holo sudah banyak kami bagikan ke orang-orang. Mataku menangkap wanita berstelan rapi itu kini menuju ke sebuah mobil mini yang diparkirkannya di pinggir jalan. Aku merespon cepat. Kutarik lengan Yuva dengan cepat untuk mengejar perempuan itu sebelum ia benar-benar pergi. Tanganku menepuk bahunya setelah aku berhasil mendekatinya. Perempuan itu membalikkan badan dengan tampang heran.
“Apa kalian tak bisa sekali saja menolong orang dengan ikhlas? Seingatku tadi kalian menawarkan dengan sukarela,” hardiknya dengan tampang tak suka.
Poin penambahan yang dipindai sebesar sepuluh menit. Akan segera dijumlahkan dengan Life Point yang anda miliki. Suara operator kaldier memberikan pemberitahuannya seusai memindai.
“Sepuluh menit?” Yuva berkomentar.
“Maaf, tapi memang beginilah sistem yang kami lakukan. Kami ikhlas membantu, hanya saja kami juga ingin tetap hidup,” jelasku cepat untuk meredam wajah kesalnya.
__ADS_1
“Untuk menyambung hidup? Huh, pantas kalau begitu,” balasnya dengan nada melecehkan.
“Apa maksudmu?” raut wajah Yuva ikut berubah tak menyenangkan. Kurasakan tekanan udara seperti berubah menjadi berat.
“Bukan hal yang penting. Menurutku kalian hanyalah sekumpulan orang-orang yang hidup karena belas kasihan orang lain. Kasihan,” jawabnya sambil berlalu meninggalkan.
Wajah Yuva berubah merah seperti tomat matang. “Kau yang tidak perlu membayar upah kepada kami seharusnya bersyukur! Uangmu utuh tanpa keluar satu koin pun! Kami hanya perlu memindai emosi kepuasanmu, dan menjadikannya penambah usia kami! Itu saja! Tapi kenapa kau bertingkah seolah-olah kami mengemis meminta uang padamu? Apa kau berpikir melalui dengkulmu?!”
Yuva berteriak sambil mengikuti arah wanita itu berjalan menjauh. Aku menyusul dan tanganku cepat-cepat bergerak memegang lengan bagian atas Yuva untuk menahannya melakukan suatu perlawanan. Lalu emosi yang tadi terlihat seperti air mendidih seketika berubah menjadi uap-uap yang perlahan membumbung.
“Apa yang kaulakukan, Eldan? Aku tak akan melakukan apapun padanya. Aku hanya ingin meluapkan kekesalanku saja,” gumam Yuva pelan. Meski wajahnya masih belum terlihat santai.
Tangan kulepas darinya. “Oh, begitu ya? Kupikir ....”
Kaki Yuva mulai melangkah meninggalkan pasar tradisional ini. Aku bergegas mengikutinya. Yuva terlihat berusaha menahan sisa emosinya yang tidak stabil. Makanya aku mendiamkannya saja.
“Dengan begini yang dikatakan Tante Viola tempo hari sudah jelas,” Yuva membuka percakapan kembali. Dahiku berkerut tak paham mendengar perkataannya. “Tante Viola sudah mengalaminya. Iya, mengalami perlakuan buruk akibat paradigma masyarakat yang sudah berubah mengenai keberadaan kita, para pengguna kaldier.”
__ADS_1