
Yuva mengambil napas panjang lalu menghembuskannya sekejap. “Aku tak peduli dengan nasib orang-orang sehat kotor seperti mereka. Yang kupedulikan saat ini hanyalah kehidupanku, dan sedikit kehidupan orang-orang yang bernasib sama denganku.”
“Tidak mungkin, Yuva. Kita hanya bisa hidup dengan bergantung pada orang-orang normal seperti mereka. Kaldier kita hanya bisa memindai orang-orang tanpa kaldier.”
“Lihat! Kau sudah keluar dari arah pembicaraanmu sendiri,” ungkap Yuva tiba-tiba. Aku diam dengan tampang bingung. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Yuva tak bisa dicerna dengan baik oleh otakku.
“Maksudmu?” tanyaku penuh heran.
“Sekarang yang kaupedulikan sebenarnya siapa? Keselamatanku? Keselamatan orang\-orang normal itu? Keselamatan para pengguna kaldier yang lain? Atau keselamatanmu sendiri?” Yuva balik bertanya.
Yang pertanyaannya itu menyeret bibirku untuk diam membungkam. Tentu saja, aku memikirkan keselamatan semuanya. Sebagai pengguna kaldier, kita tak boleh kehilangan orang-orang berkesehatan normal. Tidak ada yang salah dengan itu.
Aku mengatakan hal itu untuk menanggapi pertanyaan Yuva barusan. Namun Yuva justru tersenyum menghina. Tatapannya begitu sinis seolah seperti merendahkanku. Yuva yang kutahu selama ini seakan sudah tidak ada dan berganti dengan sosok yang lain.
“Lihat, kau tidak sadar dengan apa yang telah kauucapkan. Kau mengkhawatirkan keselamatan para non pengguna kaldier karena kau takut tak bisa lagi mendulang Life Point dari mereka. Itu wajar karena memang kita membutuhkannya untuk hidup. Tapi alasanmu itu sungguh munafik. Pada akhirnya kau mementingkan kelangsungan hidupmu sendiri. Bukan benar-benar memikirkan siapapun. Kau bahkan tidak jujur pada dirimu sendiri,” papar Yuva dengan nada bicara serius.
__ADS_1
Yang kukatakan itu benar dan memang begitulah sistemnya. Orang-orang berpenyakit mematikan membutuhkan gelombang Dier. Gelombang Dier membutuhkan asupan makanan berupa emosi kepuasan dari orang-orang sehat atau orang-orang yang tidak menggunakan kaldier. Agar gelombang Dier mendapatkan asupannya, sebagai pemakai kadier harus menwarkan bantuan pada orang-orang berkesehatan normal. Bila orang-orang tak berpenyakit itu tidak ada, para pengguna kaldier pun takkan bisa mempertahankan kehidupan mereka. Ini sudah prinsipnya. Lalu kenapa Yuva malah menuduhku munafik?
“Pada akhirnya kita sama, Eldan,” lanjut Yuva lagi. “Dan paradigma para non pengguna kaldier itu juga benar. Kita hanyalah makhluk hina yang membantu karena mengharap balasan. Seperti ikan remora yang sukarela membersihkan gigi dan tubuh ikan hiu, tetapi sebenarnya memakan sisa-sisa makanan ikan hiu yang menempel di giginya. Aku sudah tidak menyangkalnya lagi. Dan oleh karena itu, kuputuskan untuk tidak lagi bergantung pada mereka.”
Kepalaku seolah membangun dinding-dinding tebal untuk menghalau pernyataan Yuva barusan. Namun pernyataan Yuva seolah mesin buldozer yang teramat kuat yang bisa menerobos dinding dengan mudah, dan membuat logikaku tunduk padanya. Dan pernyataan terakhir dari Yuva membuatku bertanya-tanya. “Apa maksudmu?”
“Aku akan memanfaatkan orang-orang bodoh itu untuk mendapatkan life point. Bila angka kehidupanku sudah banyak sepertimu, aku akan membuang mereka. Akan kubiarkan orang-orang berkesehatan normal itu membiakkan diri. Agar mereka tidak musnah seluruhnya.”
“Kau ... menganggap mereka sebagai ternak?” ucapku dengan sangat terkejut. Ini sungguh gila.
Aku terdiam lagi. Ditikam berkali-kali dengan perkataan yang mampu menundukkan pikiranku itu membuat tak berkutik.
“Nah, apa kau masih ingin mencegahku? Kurasa kau perlu memantapkan lagi tekadmu sebelum menghentikanku. Perkataanku yang tak bisa kautampik itu sudah menggoyahkan pikiranmu, kan?”
Jangankan berusaha menyangkalnya. Untuk mengeluarkan suara dari mulut saja rasanya sangat berat. Otakku kaku dihujani pernyataan-pernyataan jahat namun masuk akal dari Yuva. Diam seperti mogok bekerja untuk memerintah anggota tubuhku.
“Iya, kan? Kau memang selalu begitu. Selalu terlihat peduli pada siapa saja tapi sebenarnya kau sendiri tak mengerti apa yang sedang kaulakukan.” Yuva melangkahkan kakinya kembali. Ia mulai bergerak menjauh dariku.
__ADS_1
“Yuva! Tunggu! Bukan begitu. Aku tidak seperti yang kaukatakan,” ucapku kuat. Tetapi Yuva tak berhenti melangkah. Kulangkahkan kakiku cepat untuk mengejarnya. “Aku belum selesai bicara denganmu, Yuva. Dengarkan aku!”
Dia terus melangkah. Semakin cepat sambil mengabaikanku. Pikiranku jadi semakin kacau. Kedua bola mataku menangkap sesuatu dan tiba-tiba saja ada yang terlintas dalam benakku. Kuraih tas sandangnya yang bertali satu itu dengan paksa hingga tubuh Yuva berbalik dan spontan melepaskan tas dari sandang bahunya. Dengan cepat, kubanting kuat-kuat tas itu ke tanah.
Brak! Suara benturan keras terdengar dari dalam tas. Sudah kuduga, isinya pasti adalah laptop yang sering digunakannya untuk meretas.
Sambil mengatur napas yang mendadak kencang, aku berujar, “ Maafkan aku. Kalau aku tak bisa menghentikan perbuatanmu, maka sebaiknya kuhancurkan saja alat yang kaugunakan.”
Mimik wajah Yuva menunjukkan keterkejutannya. Matanya dihunuskan padaku seolah hujan anak panah. Hembusan napasnya terdengar kuat seperti orang yang benar-benar berang. Tetapi tak berlangsung lama. Ia berusaha menenangkan diri. Hembusan napasnya kembali normal dan raut wajahnya sudah terlihat lebih tenang.
“Rendahan. Caramu itu seperti orang yang tak pernah dididik,” ujarnya mencoba memprovokasi.
“Maafkan aku, Yuva. Aku tak keberatan kau menganggapku apa. Yang jelas tekadku untuk menghentikanmu itu nyata,” ujarku pelan. Kali ini aku takkan membiarkannya lagi mencemari tekadku dengan ucapan-ucapannya. Spontan memang, tetapi aku bersyukur bisa langsung menggunakan cara ini.
Wajah Yuva terlihat kesal. Aku memalingkan wajah agar tak membalas tatapannya. Kemudian, kulangkahkan kakiku dengan cepat untuk meninggalkan tempat ini.
__ADS_1