
Pukul lima sore lebih tiga menit aku dan kedua temanku tiba di kontrakan Arfi. Kontrakannya berada di arah utara kota. Arfi sengaja mengontrak di daerah kota karena ia bekerja di sini dan rumahnya sendiri sangat jauh. Seharusnya jam segini ia sudah kembali dari tempatnya bekerja.
Kutekan bel pintu kontrakannya sambil memberikan salam. Tidak ada jawaban yang terdengar. Kuulangi hingga beberapa kali. Dengan mengeraskan suara pula. Namun tak menunjukkan hasil yang kuinginkan. Dengan inisiatif, aku bertanya pada tetangga yang kulihat. Sebagian menjawab dengan nada ramah, sebagian dengan nada sinis dan jijik. Persamaannya, mereka semua menyatakan bahwa sudah beberapa hari ini tak melihat Arfi pulang ke rumah.
“Sebenarnya siapa yang ingin kita jumpai? Teman SD, SMP, atau SMA-mu?” tanya Dawn ingin tahu.
“Teman yang bernasib sama denganku,” jawabku singkat.
Bebanku seolah bertambah saja. Seperti pekerja dengan jadwal memakai shift di perusahaan. Kali ini adalah shift bagian otak yang memikirkan Arfi yang bertugas, setelah shift yang memikirkan Yuva beristirahat dulu. Shift ini kemudian memikirkan hal seperti apa yang sebenarnya dilakukan oleh si bodoh itu? Kenapa membuat orang lain cemas? Setidaknya bila sangat sibuk, berilah kabar, atau biarkan telepon genggamnya menyala agar mudah dihubungi.
“Apa kau tahu tempat yang biasa dikunjunginya? Mungkin kita bisa cari tahu di sana,” usul Krista.
“Dia itu tipe orang yang kakinya bisa melar ke sana ke mari. Tidak bisa ditebak ke mana arahnya. Yang aku tahu dia akan muncul kalau kami hubungi.”
Iya, kami. Aku, Yuva, Arfi, Kak Alma, Bang Auron. Kami selalu bersama-sama. Kami punya ikatan yang khusus. Meski masih banyak lagi teman-teman pengguna kaldier yang lain, tetapi yang paling dekat denganku hanyalah mereka. Dan sekarang ini, aku tak tahu harus bagaimana menjelaskan ketidakhadiran Arfi.
“Sebaiknya kita pergi ke tempatnya bekerja saja. Kau bilang tadi dia sudah bekerja, kan?” Dawn juga mencoba memberi saran.
Kepalaku mengangguk seperti digenjot saran Dawn. Baru selangkah aku beranjak untuk pergi ke tempat kerja Arfi, ponselku berdering.
__ADS_1
“Sekarang juga cepat lihat berita petang di channel TXT!” seru Kak Alma dari seberang telepon.
Kuusap layar ponsel cerdasku untuk mengaktifkan aplikasi tv mobile yang ada di dalamnya. Layar hologram seukuran sepuluh inci muncul. Mataku membelalak melihat sosok yang sangat kukenal muncul di tv dengan tangan diikat dengan brogol. Suara pembaca berita tak lagi kudengar. Kata-kata yang tertulis di sisi bawah layar untuk menjelaskan berita bahkan tak sanggup untuk kubaca. Darahku mendesir kencang, tubuhku gemetar, dan kurasakan otot-otot tubuhku seolah melemah. Hingga akhirnya kedua lututku pun terhempas mencium tanah.
“Arfi!” ungkapku setengah berteriak. Kemudian pandanganku mulai kabur. Kepalaku terasa ingin jatuh. Lantas gelap.
*
Mataku terbuka dan melihat ruangan yang didominasi oleh warna putih. Ruangannya cukup luas. Ada AC yang diset dengan temperatur kamar. Televisi yang menyala dengan volume rendah tergantung hampir mencapai langit-langit. Juga sebuah meja kecil bundar yang di atasnya terdapat sesuatu bungkusan yang tak kutahu isinya apa.
“Kenapa aku bisa di sini, Bu?”
“Kau pingsan saat keluar bersama Dawn semalam,” jawabnya lekas.
Semalam? Itu artinya aku sudah menginap di sini? Di lihat dari sudut mana pun, ruangan ini semestinya adalah ruangan dengan label VIP. Di bagian punggung telapak tangan kiriku sudah disusupi oleh selang putih berdiameter kecil yang terhubung dengan sebuah kantung plastik yang digantung pada sebuah tiang besi tipis. Aku rasa ini terlalu berlebihan. Bila aku hanya pingsan semalaman, seharusnya tidak perlu perawatan semewah ini. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Hitameong! Bungkusan Hitameong yang kubeli kemarin di mana?”
__ADS_1
Ibu menenangkanku, kemudian bergerak ke arah lemari kecil. Dia mengambil bungkusan plastik dari dalamnya. Kuberikan isyarat pada ibu untuk menyerahkan bungkusan itu padaku. Segera setelah ada di genggamanku, cepat-cepat kubuka dalamnya. Senyumku melukis lega saat kuketahui barang yang kucari ada di dalamnya.
“Arfi! Bagaimana dengannya?”
“Tenanglah dulu. Akan Ibu ceritakan. Tapi bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang kau rasakan, Hami?”
Aku diam membingung dengan pertanyaan Ibu yang terlihat terlalu mengkhawatirkanku. Tetapi kujawab dengan tenang, dengan jawaban yang juga bisa membuat ibu merasa tenang. Perihal Arfi, ibu menyampaikan bahwa ia ditangkap oleh polisi karena berkomplot dengan kawanan perampok bank. Saat kucocokkan dengan ingatanku sebelum aku pingsan, aku melihatnya dengan tangan terborgol di hadapan seorang polisi yang mengikutinya dari belakang.
Kujatuhkan dahiku pada kedua telapak tanganku sambil menyesali yang terjadi. Kenapa Arfi juga ikutan nekat melakukan perbuatan itu? Kalau diingat, life point miliknya tidak dekat dari kekhawatiran. Masih banyak. Lalu motifnya yang mengeruk life point dengan cara seperti Yuva itu menyuntikkan rasa pusing ke dalam kepalaku. Apa pergerakan Yuva yang kuceritakan tempo hari membuat hatinya ikut tergerak pula? Apa dia memang sebegitu serakahnya?
Senin, 30 April 2046. Aku berada di rumah sakit dengan kondisi yang belum kuketahui. Kata ibu, biar aku mendengar langsung dari dokter saja. Kata ibu juga yang mengantarku langsung ke sini adalah Dawn dan Krista. Sementara biaya perawatan di ruangan VIP ini ditanggung sepenuhnya oleh Krista.
“Eldan, kau sudah baikan?” suara merdu seorang Krista tiba-tiba melesat ke telingaku. Kulihat ia baru saja muncul dari balik pintu ruangan ini. Disusul oleh Dawn. Melihat pemandangan ini, entah kenapa aku seperti melihat Yuva dan Arfi.
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Krista. Anggukan ini hanyalah mewakili ketidaktahuanku tentang yang sedang terjadi padaku. Aku tidak merasa demam. Hanya terasa sedikit lemah dan pusing memikirkan kondisi Arfi. Selain dari itu, aku merasa baik-baik saja.
“Orang bodoh seharusnya tidak boleh pingsan begitu saja. Itu di luar logika,” goda Dawn. Aku langsung meraih tangannya namun ia berhasil menghindar.
Mereka membawakan sebuah bungkusan. Agaknya buah-buahan. Ada label merk ternama yang tertera pada kantong plastik itu. Sudah pasti harganya pun mahal. Dan sudah pasti pula ini pemberian dari Krista. Bungkusan itu tak segera kubuka. Yang kubuka adalah kata-kata untuk menyambut kedatangan kedua sahabatku ini. Untuk mencairkan suasana. Agar tidak ada lagi yang khawatir. Di tengah-tengah pembicaraan ingatan mengenai Arfi datang lagi. Aku bungkam. Hening untuk beberapa detik.
“Kita harus bicarakan ini dengan Kak Alma dan Bang Auron,” usulku pada ibu.
__ADS_1
Ruangan yang tadinya masih diiringi tawa berubah menjadi hening. Namun ibu tak segera mengiyakan. Bibirnya terus saja membanjiriku dengan nasehat-nasehat agar aku tidak terburu-buru dan lebih fokus dengan kesehatanku. Tetapi aku tak ingin menunggu. Dan dengan keadaanku yang sekarang kurasa aku baik-baik saja. Ibu juga belum bisa menjelaskan padaku karena dokter belum memberikan hasil diagnosanya.