KORONA

KORONA
34. KEBENARAN


__ADS_3

 


Kenop pintu kuraih dan kuputar hingga terdengar bunyi khas pintu yang dibuka. Pintu kudorong dan aku melangkah masuk. Ruangan ini persis dengan ruangan monitor yang pernah kulihat di film-film. Luas, besar, dan layar-layar monitor tipis yang tersusun berbaris memenuhi ruangan yang diberi sekat transparan untuk setiap barisan monitor. Di sekat pertama ada sebanyak dua puluh layar monitor yang disusun dalam susunan lima kolom dan empat baris. Dan di sekat berikutnya hingga seterusnya sampai aku tak sempat menghitung berapa jumlah sekatnya juga terdapat jumlah monitor yang sama. Meja-meja dengan layar komputer dan kursi-kursi di hadapannya juga tak sanggup kuhitung jumlahnya dalam waktu singkat. Tetapi satu hal yang kutemukan di situ. Sosok wanita yang sangat kukenal berdiri mengamati salah satu barisan layar monitor. Yuva langsung berbalik melihat ke arahku saat aku sudah berada di dalam ruangan ini.


Wajahnya terlihat murung. Barangkali. Atau mungkin itu wajah yang tampak kecewa, atau mungkin marah, atau mungkin juga benci. Aku tak bisa menafsirkan raut wajahnya yang terekam ke dalam bola mataku. Yuva diam saja. Demikian pula aku yang masih belum bisa berkata-kata. Bila kupikirkan sekali lagi, dengan jumlah monitor sebanyak ini takkan mungkin Yuva bisa memantau seluruh kota seorang diri. Pasti ada sistem yang sudah diprogram ulangnya untuk bisa menjangkau semua sudut kota secara otomatis.


Begitulah aku. Yang mudah terbuai dengan lamunan atau pemikiran yang seharusnya tak begitu kupikirkan sekarang karena saat ini aku sudah berada di hadapan Yuva. Kakiku mulai melangkah mendekat, Kemudian dengan cepat Yuva mengeluarkan sebuah senjata api yang langsung diarahkan ke kepalanya sendiri. Mulutku ternganga dengan leher tercekat, dan spontan langkah kakiku kembali terhenti.


“Jangan melangkah lebih dekat lagi,” ujarnya.


Tubuhku seperti kehilangan dayanya. Sampai di saat terakhir pun aku tidak becus dan tak bisa berbuat apa-apa. Bila Yuva nekat menembak kepalanya sendiri, virus yang sudah dipersiapkan di berbagai penjuru kota akan disebar secara otomatis mengikuti sensor kardiograf. Yuva seperti memang tak peduli lagi dengan dirinya sendiri.


“Pergilah, Eldan. Jangan mengganggu lebih jauh lagi.”


Langsung saja aku berteriak. “Aku datang untukmu! Untuk menyelamatkanmu! Untuk memperbaiki semua kesalahan ini! Untuk memikirkan cara lain yang lebih baik! Untuk menyelesaikan apa-apa yang sudah kita lakukan! Dan ....”

__ADS_1


Ketidakpedulian Yuva membuatku tak sanggup meneruskan kata-kataku lagi. Sinar di bola matanya sudah redup sejak awal aku memasuki ruangan ini dan bertatapan dengannya. Dan kini semakin menggelap. Aku ingin segera merengkuhnya dengan tanganku ini. Membelainya, dengan harapan agar semua kegelisan dan ketakutannya lenyap. Namun itu tak bisa kulakukan karena tertahan dengan adanya kedekatan mulut pistol di kepalanya.


“Yuva,” aku mengucapkan namanya pelan. “Kau ingat saat terakhir kali kita bertemu dengan nenek Reni? Bukankah dia bahagia di saat-saat terakhirnya? Kau masih ingat itu, kan?”


Yuva diam saja. Tak membalas ucapanku. Seolah aku berbicara dengan patung. Seolah aku berbicara seorang diri tanpa ada siapapun. Tiap kali aku melihat arah pistol itu ke kepalanya, aku seperti tidak bisa bernapas. Untuk melanjutkan kata-kata saja rasanya berat.


“Nenek Reni tidak menyesal sebagai pengguna kaldier,” aku mulai melanjutkan kalimatku. “Dia bahagia bisa membantu banyak orang. Dia bahagia, Yuva,” ujarku dengan nada lembut.


“Nenek Reni mungkin merasa sudah bermanfaat bagi sesamanya. Ia terus bisa berbuat baik. Aku pikir ....” Aku mengambil jeda untuk beberapa saat. Tatapan mataku melesat kembali ke arah bola mata Yuva dan menatapnya dengan dalam. Bola matanya tidak lagi menatapku dengan tatapan putus asa seperti tadi. Bola matanya ia lemparkan ke samping bawah. Tatapannya kian sayu. “Aku pikir itulah sebabnya kenapa ada yang disembunyikan di sistem kaldier. Agar kita menikmati indahnya bermanfaat bagi orang lain di sisa-sisa kehidupan kita.”


“Benar apa yang dikatakan Eldan,” sambungnya. “Yuvalika Julias, dengarkan aku.”


Seolah tak menghiraukan posisi Yuva yang sedang mengancam dan keberadaanku, tanpa ragu pria paruh baya itu melangkah mendekati sebuah kursi dan menariknya. Ia duduk. Tubuh disandarkannya pada sandaran kursi. Kakinya ia silangkan dan kedua tangannya menyilangkan jari-jarinya di atas perutnya yang sedikit menonjol. Kemudian ia mulai menjelaskan.


“Ini adalah sistem,” katanya lagi.

__ADS_1


Sembari membuka percakapan, ia pun mulai menjelaskan. Sistem yang dia maksud adalah kaldier itu sendiri. Sistem yang memang sengaja dibuat untuk mempermudah para pengidap penyakit berbahaya untuk terus bisa hidup dan beraktivitas normal layaknya orang-orang sehat. Baik metode pemakaiannya bukan dimaksudkan untuk memperbudak para pengidap penyakit ini. Ini adalah sistem yang sudah dirancang dan didiskusikan secara matang oleh para dewan kesehatan dan kemanusiaan. Yang bertujuan untuk memberikan kehidupan yang lebih bermanfaat bagi para pengidap penyakit itu sendiri.


Untuk pembuatan sistem ini juga sudah melakukan tahap survei pada beberapa orang yang mengidap penyakit berbahaya sebelumnya. Mereka sadar bahwa kaldier sekalipun takkan bisa sepenuhnya menyelamatkan hidup mereka. Maka dari itu, sistem pengumpulan Life Point dengan cara menolong atau membantu sesama akan memberikan kehidupan yang lebih berarti bagi para pengidapnya. Para pengguna kaldier akan merasa lebih bermanfaat selama mereka masih hidup ketimbang harus berbaring di dalam rumah sakit tanpa bisa melakukan apa-apa. Dan ini semua adalah kebenaran dari sistem kaldier itu sendiri. Dan memang sudah sifatnya manusia. Secanggih apapun sistem dibuat, pasti akan ada kecacatan didalamnya.


Suara yang berat namun lembut itu berakhir memberikan penjelasan. Ini adalah kebenaran yang sesungguhnya dari sistem kaldier yang selama ini tertutup rapat. Dugaan yang kusimpulkan sendiri tadi – yang telah kukatakan pada Yuva ternyata memang tidak salah. Aku – dengan pola pikirku yang sederhana ini – menganggap hal ini sudah yang sebenar-benarnya tanpa curiga akan adanya kebohongan. Tetapi tidak demikian bagi Yuva. Dia masih mengarahkan mulut pistol ke kepalanya. Wajahnya itu kembali mengukir kebencian pada pria tua yang tengah duduk itu.


Kedua tangan yang bersilangan jari-jarinya itu kemudian membuka dua kancing kemeja teratas miliknya. Kemudian sebuah benda yang sangat tidak asing – sedikit tua memang – tetapi jelas sekali itu adalah benda yang sama seperti aku dan Yuva pakai di leher.


“Kau lihat angka yang tertera di kalung ini?” tanyanya tenang. Angka yang tercantum di kalung Pak Fredi adalah 57. “Usiaku juga tidak lama lagi. Dan sama sepertimu, aku tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Alih-alih membeli Life Point dengan uang yang kumiliki, aku lebih memilih untuk menggunakan uang itu demi anak-anak dan cucuku nanti,” lanjutnya.


Seperti tangan seorang ibu yang hangat, agaknya kata-kata terakhir Pak Fredi berhasil memeluk hati Yuva. Mulut pistol tak lagi menempel pada tempurung kepalanya. Tatapannya tak lagi garang. Menunduk sayu kehilangan arah.


Pak Fredi bangkit dari duduknya. Beberapa patah kata ia lontarkan kembali, lalu menarik empat orang berseragam formal masuk ke dalam ruangan. Dua mendekatiku, dan dua lainnya mendekati Yuva. Tanpa ada kekerasan. Tanganku diborgol.


 

__ADS_1


__ADS_2