KORONA

KORONA
35. 0


__ADS_3

 


Ini adalah 0. Sebuah penjara, atau sel sekaligus sanatorium tempat penahanan khusus bagi para pengguna kaldier atau pengidap penyakit mematikan yang berbuat kriminal. Letaknya jauh dari kota Kisaran. Atau lebih tepatnya bisa disebut juga terletak di kota yang lebih besar. Orang-orang biasa menyebutnya dengan kota Medan. Di 0, para tahanan akan dilepas kalung yang selama ini menunjang kehidupannya. Tetapi mereka tidak mati. Sebagai gantinya 0 akan memancarkan gelombang Dier langsung kepada para tahanan.


0 tidak begitu besar seperti rumah tahanan pada umumnya. Bila kau pernah berjalan-jalan ke sebuah gerai bank yang berukuran 20 x 20 meter dengan dua lantai, seperti itulah tempatnya. Cukup untuk menampung puluhan orang. Dan mungkin kau berpikir ini tempat yang terlalu kecil. Iya benar. Tetapi 0 tidak hanya satu. Masih banyak 0 lain yang tersebar di penjuru kota Medan.


Selain itu, 0 adalah tempat penahanan yang sangat terbuka. Pintu-pintunya selalu terbuka dan tak pernah dikunci. Para tahanan takkan diikat, takkan dikurung dalam jeruji besi, dan takkan diklasifikasikan menurut golongannya. Semua dipersilakan bebas di dalamnya. Makan dengan makanan yang selalu disiapkan. Tidur di kasur yang empuk. Bersenda gurau dengan tahanan lainnya. Dan menggunakan beragam fasilitas hiburan yang tersedia seperti televisi. Juga adanya beberapa penjaga yang tugasnya hanya menjaga keamanan dari gangguan pihak luar. Akan tetapi, gelombang Dier hanya berada di dalam 0 saja. Iya, bila ada tahanan yang ingin melarikan diri dari tempat ini, para penjaga takkan peduli dan membiarkannya begitu saja. Dunia di luar 0 hanyalah kematian bagi para tahanan yang tak lagi memakai kaldier.


 


Sudah sebulan aku mendekam di tempat ini semenjak penangkapanku tempo hari bersama Yuva. Aku masih bersama dengannya. Juga dengan Arfi, Kak Alma, Tante Viola, dan Bang Auron yang juga berhasil ditangkap. Untuk kasus Bang Auron dan Kak Alma seharusnya mereka tidak ikut berada di sini. Tidak ada cukup bukti untuk menangkap keduanya. Meski begitu mereka seperti bersukarela bergabung di tempat ini, tetapi hanya dalam waktu singkat, sesuai izin pihak berwenang. Khusus aku, Yuva dan Arfi, kami menjalani masa tahanan yang berbeda-beda sesuai dengan perbuatan kami. Meski kami tak bisa kemana-mana, setidaknya kami masih bisa bersama dan tak perlu kesana – kemari mengumpulkan Life Point.

__ADS_1


 


Juga, sudah sebulan pula Yuva tak mau bicara dengan siapapun. 0 seperti benar-benar membuatnya berasa kosong. Yang dilakukannya setiap hari hanyalah makan, minum, tidur, duduk menyendiri dengan tatapan yang kosong, dan pergi ke atap bangunan untuk sekedar bermandi cahaya matahari atau menyaksikan birunya langit. Kalau aku atau orang lain mendekatinya, dia akan buru-buru pergi. Atau bila dia sedang sedikit berbaik hati, dia takkan pergi. Dia akan menjadi pendengar yang baik tanpa diminta.


“Dia hanya butuh waktu,” ujar Kak Alma berkali-kali padaku mengenai ini. Tetapi rasa cemasku tak pernah hilang dibuatnya.


Suatu kali aku pernah bertanya tentang 0 pada salah satu petugas di sini. Kalau 0 bisa menampung semua tahanan dengan berbagai latar belakang penyakit yang diidapnya, sudah pasti sanatorium berkedok penjara ini memancarkan banyak sekali gelombang Dier yang berbeda-beda dalam waktu yang bersamaan. Sistem kerjanya seperti halnya provider selular. Ada beraneka ragam provider ponsel yang beredar dan dipancarkan. Namun kartu SIM yang terpasang hanya bisa menerima sinyal dari provider induknya. Begitu pula sistem kaldier ini. Masing-masing gelombang yang dipancarkan hanya bereaksi pada penyakit yang kami idap. Sedangkan gelombang yang tidak dibutuhkan oleh tubuh akan dibiaskan begitu saja.


Namun keberuntungan memang masih belum mau bertengger di bahuku. Yuva sama sekali tak menggubrisku. Dia hanya diam tanpa ekspresi. Mendengarkan ocehan-ocehanku dan mengabaikan suapan yang kuberikan padanya. Mau tidak mau makanan itu kuhabiskan sendiri. Lagi. Untuk yang kesekian kali.


Biasanya setelah aku menghabiskan makanan ini seorang diri, aku akan kembali ke dapur untuk mengembalikan peralatan yang kumakan. Setelah itu aku akan kembali menemani Yuva di teras itu lagi. Atau kalau sedang di atap, aku juga akan kembali ke atap untuk melakukan hal yang sama sampai Yuva bergerak kembali ke kamarnya. Kali ini aku juga melakukan hal yang sama. Aku mengatakan padanya akan segera kembali setelah meletakkan peralatan makan ini ke dapur.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuk melangkah ke dapur. Meletakkan piring dan gelas kotor yang nantinya akan dicuci oleh narapidana lain yang berpiket – hari ini bukan giliranku – kemudian kembali lagi ke teras depan. Dengan langkah gontai. Dengan langkah santai dan tenang seperti tidak terjadi apa\-apa.


Kakiku segera melangkah dengan sangat cepat begitu aku sudah berada di koridor yang mengarah ke teras depan. Yuva sudah berada di luar teras. Di luar pintu masuk utama. Mulutku terbuka lebar. Berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama Yuva yang masih terus melangkah pelan menjauhi 0. Dan ketika kulihat Yuva mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya, air mataku mulai menetes beserta dengan langkahku yang kupaksa semakin cepat.


Aku berhasil menangkap tubuhnya sebelum ia benar-benar terkulai ke tanah. Aku harus segera membawanya kembali masuk, tetapi akan sangat terlambat bila aku berlari sambil membawanya. Dalam hati kali ini benar-benar memohon pada Tuhan. Aku sadar bahwa selama ini aku tak pernah menjadi orang yang berguna untuk Yuva. Bahkan dalam kisah ini saja aku tak pernah sekalipun mampu berbuat banyak dan berkontribusi bagi Yuva. Aku hanyalah laki-laki yang tak berguna di hidupnya. Karenanya, aku memohon kepada Tuhan dengan sepenuh hatiku untuk sekali ini saja agar aku bisa berguna untuk wanita yang aku cintai ini.


Seperti purnama yang muncul saat malam sangat pekat. Doaku dikabulkan. Kulihat Bang Auron, Arfi, Kak Alma, dan Tante Viola sudah berdiri di bagian dalam pintu masuk sambil berteriak-teriak menatap camas. Langsung saja, dengan sisa-sisa tenagaku, kulemparkan tubuh Yuva sekuat mungkin ke arah mereka. Mujur. Untunglah. Syukurlah. Atau bila ada lagi kata-kata yang bermakna sama, aku ingin mengucapkan semuanya sampai habis. Lemparanku berhasil sampai dan mereka berhasil menangkap Yuva. Dengan beberapa penanganan pertolongan pertama, aku yakin Yuva masih bisa diselamatkan asal gelombang Dier masih bisa diterimanya.


Lalu bagaimana denganku? Untuk melangkahkan kaki saja aku sudah tidak mampu apalagi kembali ke dalam 0. Tenagaku benar-benar terkuras habis saat melempar Yuva sekuat tenaga tadi. Seolah seluruh kekuatanku terserap seluruhnya demi satu gerakan penyelamatan itu. Sepertinya Tuhan memang berkehendak begitu. Ia mengabulkan doaku tapi aku harus menebusnya juga dengan harga yang setimpal. Tidak apa. Aku terima. Bahkan aku merasa bahagia karena pada akhirnya aku bisa juga berguna untuk Yuva.


Kepalaku pun mengalami pusing yang sangat hebat. Tubuhku melemas. Kaki-kakiku tak mampu lagi menahan berat tubuhku. Dan aku terkulai di atas tanah. Satu-satunya yang kuingat sebelum tubuhku benar-benar mencium tanah adalah teriakan-teriakan hiteris dari orang-orang terdekatku yang meratap dari dalam 0. Kemudian dunia ini tak bisa kulihat lagi.

__ADS_1


 


__ADS_2